Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
49. Diantar Pulang.


...🌹Satu hal yang terlalu sulit adalah menceritakan tentang keadaanku kepada orang lain.🌹...


Titik-titik kecil air setia turun dari langit. Belum ada tanda-tanda akan berhenti, padahal sejak sore hujan deras sudah mengguyur bumi. Jalan aspal masih basah oleh air hujan, mengakibatkan percikan kecil saat kendaraan melintas dengan cepat.


Aku berjongkok sambil merapal do’a, menundukkan wajah dengan kedua tangan menutup telinga. Menghalau suara rintihan menyayat hati dan uluran tangan meminta tolong yang kembali hadir seolah nyata di hadapan.


Terlintas dalam ingatan, tatapan orang-orang tertuju padaku. Jeritan, rintihan, teriakan histeris penuh frustasi. Kemudian darah segar yang mengalir karena tikaman benda tajam, tubuh lemah yang limbung tanpa sempat mengucapkan sepatah kata pun.


Semua kejadian itu seperti sedang berputar-putar di sekitarku. Ingatan peristiwa yang telah lalu itu hadir kembali, padahal sudah sekuat tenaga aku ingin melupakannya.


Deru napas memburu, berkali-kali kusebut nama Alloh agar potongan kejadian itu hilang dari ingatan. Meyakinkan diri bahwa semua itu sudah berlalu, tapi bayangan itu masih saja setia menghantui.


“Kamu kenapa?”


“Jangan mendekat! Saya mohon jangan dekati saya!”


Aku berteriak dengan nada tinggi, sebab merasa pak Hara sedang membungkuk di depanku.


“Jenar! Kamu kenapa?”


“Tolong, jangan dekati saya!” terpaksa aku membentaknya, sebab pak Hara malah makin mendekat.


Jika aku sampai mencium aroma itu lagi, sudah pasti aku tidak akan bisa menahan gejolak. Kalau tadi aku hanya pingsan, bisa jadi kali ini lebih parah. Sebab kondisi tubuhku sedang sangat lemah.


“Ok!” dari ekor mata, aku melihat pak Hara mundur beberapa langkah, “kamu masuk saja ke mobil. Gerimis sepertinya makin lebat, kamu bisa basah.”


Aku menengadahkan kepala, merasakan gerimis membasahi wajah. Tanganku meraba badan mobil, berusaha berdiri dengan berpegangan sebab keningku terasa pusing. Menarik handle pintu dan membukanya dengan cepat.


Begitu sudah duduk di dalam mobil, aku mencari kantong plastik kecil berisi bunga melati pemberian mbak Nabila. Mataku awas dengan tangan meraba sekitar untuk mencari. Ternyata barang itu ada di bawah, dekat pedas gas.


Segera aku mengambil segenggam bunga melati, kemudian menghirupnya dalam-dalam. Seraya memejamkan mata, mengirimkan aroma wangi menenangkan itu merasuki syaraf otak. Berusaha mengembalikan deru napas yang berkejaran, seperti habis berlari cepat keliling lapangan.


Ada apa dengan tubuhku ini sebenarnya? Reaksi yang timbul akibat mencium aroma menyebalkan itu sekarang makin menjadi, seingatku dulu tidak separah ini. Apa mungkin karena kini aku bertemu banyak orang? Atau karena dulu jarang aku mencium bau parfum bercampur alkohol yang menyengat?


Kuhempaskan punggung pada sandaran kursi mobil, saat sudah bisa bernapas satu-satu. Meremas bunga melati dengan kedua tangan saling menggenggam untuk meredakan tremor.


Ya, Alloh! Jika ini adalah caraMu agar aku selalu ingat akan dosa dan kesalahan yang dulu, aku ikhlas menjalaninya. Namun, jika keadaan ini bisa berakhir … kumohon tunjukkan cara bagaimana aku bisa mengakhirinya.


Kembali aku mencium wangi bunga melati, supaya tenang melingkupi. Perlahan tremor di tangan mulai mereda dan aku bisa mengendalikan pikiran. Memejamkan mata sejenak, melirik ke luar jendela. Sepertinya gerimis makin lebat, hujan kecil-kecil tapi rapat.


Aku membuang napas berat, saat pandangan mata melihat pantulan wajah pak Hara dari kaca spion. Dia berdiri bersandar pada bak mobil sambil merokok. Terlihat tenang sekali, seperti tidak sedang memikirkan apa-apa.


Ya, Alloh! Aku telah membiarkan dia berdiri di bawah gerimis sejak tadi.


Dengan tanpa melepas tangan yang saling menggenggam, aku melongokkan kepala dari jendela. Memanggil pak Hara agar masuk ke dalam mobil, “kita bisa jalan sekarang, Pak.”


Pak Hara mengitari mobil, lalu masuk tanpa mematikan rokoknya. Ia menurunkan kaca jendela, sebelum menutup pintu. Kemudian menyalakan mesin dengan satu tangan mengacak rambut yang terlihat sangat basah. Ia membuka jaket, melipatnya begitu saja, lalu meletakkan di pangkuan. Pasti karena terlalu lama berdiri di bawah gerimis, sampai rambut dan jaketnya basah.


“Maafkan saya.”


Pak Hara melajukan mobil sambil menghisap rokok. Asap putih mengepul memenuhi mobil saat ia berkata tanpa menoleh ke arahku, “kamu mau minum?”


Aku mengangguk, mengalihkan pandangan ke arah luar melewati jendela samping, “sepertinya saya butuh kopi.”


Selama beberapa jenak, kami saling diam. Aku tidak tahu apa yang sedang ada dalam pikiran pak Hara, sedangkan untuk memulai bicara rasanya sungkan. Setelah seharian ini aku membuatnya sangat repot.


Hanya terdengar suara mendesis, berdehem lalu terbatuk berpadu dengan suara mesin mobil. Menjadi hiasan pengusir sepi. Sampai pak Hara membuang puntung rokok yang telah pendek.


Tanpa mengalihkan fokus dari jalan raya, ia bertanya padaku, “kamu ada masalah sama saya?”


Seketika aku memutus pandangan dari menatap keluar jendela.


Menoleh kepada pak Hara yang masih melanjutkan ucapan, “ini ketiga kalinya terjadi, kamu ketakutan saat sedang bersama saya. Yang pertama saya pikir karena kamu takut darah, yang kedua … tadi sore, saya pikir karena kamu masih terbawa perasaan sedih setelah Ghufron meninggal. Yang baru saja terjadi, menegaskan kalau kamu takut sama saya.”


Aku menghela napas panjang, menegakkan badan sembari menatap ke depan, “saya tidak takut sama bapak.”


“Lalu? Kamu kenapa? Bisa jelaskan ke saya, agar saya tidak menduga-duga.”


“Sebelum saya jelaskan, saya ingin bertanya … saya minta pak Hara menjawab jujur.”


“Tentang?”


“Pada semua pertemuan kita, yang pertama, yang kedua … tadi sore, dan baru saja. Apakah pak Hara habis minum alkohol?”


Pak Hara menoleh cepat ke arahku. Hanya sekilas, lalu ia kembali fokus ke jalan raya.


“Ada hubungan apa antara saya habis minum alkohol dengan kamu ketakutan?”


“Karena saya takut dengan bau alkohol dan parfum laki-laki.”


Susah payah aku mengatakan kalimat itu, tapi pak Hara sepertinya tidak percaya. Dia terlihat menutup mulut dengan punggung tangan yang terkepal, mungkin sedang menahan tawa.


“Pak Hara tertawa?” aku memiringkan kepala, ingin melihat ekspresi pria di sampingku, tapi ia malah membuang wajah ke samping sambil menipiskan bibir. Tega sekali ia menertawakan kejujuranku. Apa dia tahu hanya untuk mengatakan sebaris kalimat itu saja, aku harus menahan perasaan tidak nyaman?


"Saya punya trauma, ehm ... tepatnya phobia, pada bau parfum laki-laki dan alkohol."


“Pak Hara pasti merasa trauma saya aneh. Memang, untuk kebanyakan perempuan aroma parfum laki-laki yang menyengat itu memikat. Tapi bagi saya menakutkan.” jelasku dengan nada penuh kecewa. Sepertinya aku tidak harus menceritakan keadaanku yang sebenarnya kepada pak Hara. Toh, dia tidak akan mengerti tentang perasaanku.


“Saya baru dengar kamu memiliki trauma seperti itu? Sejak kapan?”


“Saya tidak mau cerita, nanti pak Hara hanya akan menertawakan saya lagi.”


“Ck!” pak Hara mendecak lalu membuang napas.


Ia tidak mengatakan apapun lagi, sampai aku sadar mobil berpindah haluan. Pak Hara memutar kemudi, berbelok ke stasiun pengisian bahan bakar kendaraan yang terletak di jalur yang berbeda dengan arah jalan pulang.


Baru saja aku hendak membuka mulut untuk memprotes, sebab ia menghentikan mobil begitu saja di tempat parkir minimarket yang ada di area SPBU. Pak Hara sudah lebih dulu bicara sembari mengambil sesuatu dari dashboard, “tunggu di sini! Jangan ke mana-mana!”


Memangnya aku bisa ke mana? Apa sekarang dia sedang khawatir aku akan membawa kabur mobil ini? Kalau begitu ngapain dia berhenti di sini? Dia tidak lupa kalau aku harus segera sampai di rumah, kan?


Kuambil hp dari dalam tas, melihat penunjuk waktu tanpa membuka kunci layar. Pukul 22.20 dan aku masih berada jauh dari rumah. Bagaimana aku akan menjelaskan kepada mbak Sayumi atau pakde Teguh nanti? Biasanya jam segini aku sudah berada di dalam kamar. Semoga tidak ada yang melapor kepada ayah dan bunda perihal aku pulang larut malam ini.


Hapir saja ponselku jatuh, tiba-tiba saja pak Hara mengulurkan dua botol minuman dari jendela mobil. Satu botol berisi air mineral dengan merk terkenal, satu lagi minuman kopi dingin. Aku menerima keduanya tanpa banyak bertanya. Setelah itu pak Hara pergi lagi, terlihat dia menuju arah toilet.


Aku menimbang botol mana yang akan kubuka lebih dulu, akhirnya aku memutuskan untuk membuka segel pada tutup botol kopi dingin. Meminum sedikit, lalu membaui aroma kopi yang membuat pikiranku sedikit lebih tenang. Membunuh waktu dengan memainkan ponsel selama menunggu pak Hara yang entah sedang melakukan apa.


Cukup lama aku menunggunya, hingga ia muncul dengan pakaian yang membuatku ingin tertawa. Pak Hara memakai baju koko yang sangat pas di badannya, cenderung kekecilan. Sudah pasti karena baju tersebut bukan miliknya.


“Pak Hara pakai baju siapa?”


Bukannya menjawab, tapi pak Hara malah mengembalikan pertanyaan padaku, “kenapa? Saya tidak pantas pakai baju seperti ini?”


“Bukan nggak pantes, sih. Hanya pak Hara seperti tersiksa pakai baju itu, kekecilan gitu.”


“Terpaksa. Dari pada kamu pingsan lagi karena bau parfum saya.” ucap pak Hara sembari memasukkan sepatu ke dalam kantong plastik yang kutebak sudah berisi bajunya. Kemudian ia melempar kantong plastik itu ke bak mobil.


“Asal kamu tahu, yang tercium baunya itu bukan parfum, tapi deodorant yang kupakai langsung di badan. Nggak bisa ilang walau sudah ganti baju. Jadi tadi aku harus mandi, biar bau deodorant itu hilang.”


Aku menatap tak percaya kepada pak Hara. Dengan santai, seperti tanpa beban ia membuka bungkus permen karet lalu memakannya. Sejenak kemudian ia melajukan mobil dengan pelan keluar dari area SPBU. Gerimis makin deras, lama kelamaan menjadi hujan besar. Aku harus menutup kaca agar air tidak masuk dan membasahi dalam mobil. Beruntung aroma itu sudah tidak tercium lagi, jadi aku tidak perlu khawatir.


Namun, aku jadi merasa tidak enak dengan pak Hara. Lagi-lagi dia kerepotan demi aku. Harusnya dia tidak perlu mandi, ganti baju dan makan permen karet agar aroma menyebalkan itu hilang. Kalau saja aku tidak mengatakan tentang keadaanku yang sebenarnya.


“Maaf. Gara-gara saya, pak Hara jadi repot lagi.” ucapku lirih dengan nada menyesal.


“Sejak kapan?” lagi-lagi pak Hara mengembalikan pertanyaan, “bagaimana kamu bisa mengalami trauma itu? Tidak masalah kalau kamu tidak ingin cerita, tapi kalau ada hubungannya dengan saya … saya berhak tahu.”


Aku menarik napas panjang, dalam hati membenarkan ucapan pak Hara. Dia memang berhak mengetahui penyebab aku mengalami trauma. Dia pasti ingin tahu, kenapa tubuhku hanya bereaksi saat berada di dekatnya. Sedangkan, jika berdekatan dengan orang lain, tidak terjadi apa-apa.


“Saya akan cerita, tapi saya minta pak Hara janji untuk menyimpan sendiri cerita saya. Orang lain tidak perlu tahu.”


"Saya baru sadar punya phobia itu sejak masuk kuliah. Dulu tidak separah ini, mungkin karena saya jarang mencium aroma yang mirip dengan kejadian saat saya SMA."


Aku harus mengumpulkan keberanian, menceritakan tentang peristiwa yang terjadi di masa lalu. Jika sebelumnya hanya mas Ghufron dan Aina yang mengetahui, kini aku memutuskan untuk berbagi cerita dengan pak Hara. Aku tidak tahu dorongan dari mana, tapi aku merasa nyaman bercerita dengannya.


“Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya pak Hara setelah aku menyelesaikan cerita.


“Saya tidak tau dari mana dia mendapatkan gunting. Saya terlambat mencegah dia menusuk perutnya sendiri. Tepat saat petugas datang, dia jatuh dengan perut terkoyak dan darah segar mengalir.”


“Dia bunuh diri?” pak Hara bertanya sambil mengernyitkan dahi.


Aku mengangguk membenarkan, “kalau saja jarak dari bumi perkemahan dengan rumah sakit dekat, mungkin nyawanya masih tertolong. Karena saya ... dia diperkosa sampai bunuh diri.”


“Perampoknya bagaimana?”


“Mereka sampai sekarang masih menjadi buronan. Polisi tidak bisa menemukan mereka di mana pun. Padahal mereka bukan kelompok sindikat yang licin. Harusnya polisi bisa cepat menangkap mereka, tapi mereka justeru seperti hilang ditelan bumi.”


Aku bukannya tidak tahu, siapa pemilik yayasan tempat sekolahku bernaung. Peristiwa itu telah melukai putra bungsu dan kemenakannya, sudah pasti orang tua kak Varen tidak akan tinggal diam. Orang-orang jahat itu, meski bersembunyi di dalam lubang semut sekalipun, pasti akan ditemukan.


Aku sempat mendengar kabar kalau orang-orang itu telah dibinasakan oleh suruhan orang tua kak Varen. Entah apa yang terjadi dengan mereka, hingga jasadnya pun tidak ditemukan.


Malam itu aku merasa bisa bernapas dengan lega. Mungkin karena telah bercerita tentang peristiwa yang menyesakkan dada, sekaligus menjadi penyebab aku mempunyai phobia terhadap bau parfum laki-laki bercampur alkohol yang menyengat.


Hujan deras mengiringi sepanjang perjalanan. Sampai di rumah, pakde Teguh dan mbak Sayumi sudah menunggu dengan raut khawatir. Pak Hara yang menjelaskan kepada pakde Teguh perihal aku pulang malam dan diantar olehnya. Seperti janjinya padaku, ia hanya mengatakan jika aku pingsan karena lapar bercampur sedih. Tidak mengatakan kepada siapa pun mengenai hal yang baru saja kuceritakan.


Pak Hara meninggalkan rumah, setelah memastikan aku aman bersama mbak Sayumi dan pakde Teguh. Aku sangat berterima kasih, kalau saja bukan dia yang menjelaskan, pakde Teguh pasti sudah sangat marah padaku. Sebab baru kali ini aku pulang larut, tanpa memberi kabar sebelumnya.


Tengah malam menjelang, aku masuk ke dalam kamar. Mengingat banyak hal yang kualami hari ini, membuatku sangat lelah. Kuhempaskan tubuh di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar.


Sekilas wajah mas Ghufron hadir dalam ingatan. Membuatku merogoh isi tas, guna mengambil secarik kertas yang menjadi alasan aku mengalami kejadian tak terduga hari ini.


Kubaca sekali lagi surat pertama sekaligus terakhir darinya. Kudekap kertas itu di dada, dengan mata berkaca-kaca, tapi bibir menyunggingkan sebuah senyuman.


'Sedang apa kamu di sana, Mas? Apakah sedang menungguku di perempatan surga? Apa mungkin Alloh menakdirkan bersama selamanya di surga nanti, Mas? Sebab kita tidak ditakdirkan berjodoh di dunia.'


'Apakah kita benar-benar tidak berjodoh? Apakah kalau jodoh itu belum tentu menikah, sedangkan yang menikah belum tentu dengan jodohnya?'


Saat aku sudah yakin kamulah jodohku, justeru Alloh merenggutmu dengan cepat. Saat kuncup di hati sedang mulai berkembang.


Kini aku hanya bisa menjadi batu karang yang harus siap menerima garis takdir yang telah Alloh skenariokan.


.


.


.


Note :


Bagian akhir bab ini, terinspirasi dari lagu 'Orkes sopo ngiro by Wirama jati project' judulnya Prapatan suargo


Halo teman-teman, maaf baru bisa menyapa lagi😁


Alhamdulillah satu per satu kelas menulis yang saya ikuti selesai, masih ada 2 kelas lagi yang insyaalloh baru mulai pertengahan bulan ini. Jadi selagi bisa saya lanjutkan cerita ini ya. masih nunggu kan? masih dong, ya?😁


Oya, insyaalloh ada satu cerita yang sedang proses naik cetak. Kalau ada yang bersedia meminang bisa ikuti informasi di fb atau ig saya, ya. sudah tau, kan di mana?


Yes, Fb sama ig saya namanya sama : Desi desma


Salam sayang😁


Eh, satu lagi ketinggalan. Maaf beribu maaf, ada beberapa permintaan masuk gc yang belum saya terima. Perlu menjadi perhatian, bahwa saya tidak menerima anggota gc laki2😁


iihh mbak des gt, deh.


iya gimana dong, ya. Memang aturan awal gc begitu, jadi kalau ada yang merasa perempuan ketuk pintu gc dan blm saya ACC mungkin krna pake nama laki2😁


boleh ditegaskan ya, dinote : saya perempuan gt😁


terima kasih atas pengertiannya.😁