
Menemukan Sesuatu yang Hilang.
☀Jika merasa telah memiliki apapun, cobalah tengok ke dalam hatimu. Apakah jauh di dasar sana, sudah ada ketentraman?☀
Immanuel Kagendra Hara.
Kehadiran mantan suami mama di hadapanku tak kuperkirakan sebelumnya. Tadinya kupikir hanya akan mampir ke makam sebentar lalu pergi menemui Noura di kantor cabang Jogja.
Sepertinya ini adalah bukti bahwa kita tidak bisa mengatur takdir. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika aku akan berbincang dengan pak Wawan di makam mama. Hernawan namanya, tapi lebih dikenal dengan sebutan Wawan. Beliau adalah orang yang seharusnya membenciku dan mama, tapi malah sebaliknya.
“Bapak disini untuk membersihkan makam mama?” Tanyaku tadi, saat kulihat pak Wawan mencabuti rumput yang tumbuh di sekitar makam mama. Menggugurkan daun kamboja yang menguning, lalu menyapunya ke tepi. Pak Wawan menyempurnakan pekerjaannya dengan mengubur sampah daun kering dan rumput tersebut. Pantas saja makam mama selalu terlihat bersih, ternyata pak Wawan rajin membersihkannya.
“Biasanya tiap jum’at sore, Nabila dan Akmal yang bersihkan. Atau Nadia kalau sedang berkunjung. Kebetulan kemarin hari jum’at hujan, jadi tidak ada yang datang.”
“Ini kebetulan bapak bisa kemari, sekalian dari kebun.” Pak Wawan menunjuk kebun salak tak jauh dari makam.
Ku perhatikan wajah pak Wawan. Teduh, tenang tanpa rasa dendam atau kebencian. Apa yang ia pikirkan atau rasakan sekarang? Setelah mama menyakiti dengan meninggalkan dia bersama dua anak, pak Wawan tetap merawat makam mama. Sebaik itukah dia?
Aku menunggu pak Wawan sampai selesai, tanpa sedikitpun ingin membantu. Justeru aku tertegun memandangnya yang begitu ikhlas, tanpa beban membersihkan makam mama sampai tak ada satupun rumput ataupun daun kering disana.
Aku mengantar pak Wawan pulang, kupikir karena tujuan kami searah. Tapi tak kuperkirakan lagi, sebab ditengah jalan, pak Wawan memintaku singgah.
"Ini tengah hari, udara panas sekali. Jalan nanti saja kalau sudah tidak terlalu panas." Ucap pak Wawan ketika kami baru saja sampai depan rumah kecil tanpa halaman.
“Belum makan siang, kan?” Pak Wawan meletakkan secangkir kopi di hadapanku lalu membawa satu cangkir lain sembari duduk berseberangan denganku.
Aku menggeleng. Pak wawan menggerakkan tangan, mempersilakan aku minum. Suara bassnya terdengar tenang, “sebentar lagi kita makan, bapak sedang menanak nasi.”
“Bapak tidak perlu repot-repot, saya tidak lama disini.” Tak enak rasanya merepotkan pak Wawan. Siapa aku ini berani merepotkan orang baik seperti pak Wawan.
“Tidak repot, Hara. Bapak senang kamu datang. Sudah lama sejak terakhir kamu kemari, bapak pikir kamu tidak akan datang lagi.” Pak Wawan melongok ke luar rumah melalui pintu yang sengaja dibiarkan terbuka, “apa kamu akan bepergian?”
Pasti karena koper dan vespa yang kubawa. Terakhir kali aku berkunjung ke rumah ini menggunakan mobil, pak Wawan pasti heran mengapa kini aku hanya memakai vespa, membawa koper pula. Paket lengkap terlihat seperti orang yang akan bepergian.
“Oh! Itu … saya dipindah tugaskan di Jogja untuk sementara. Tadi pagi baru sampai, mampir Magelang dulu ambil vespa.” Tidak mungkin kukatakan yang sebenarnya kepada bapak. Toh, beliau tidak paham tentang pekerjaanku, kan?
"Kamu punya rumah di Magelang?" Pak Wawan mengernyit, aku lupa menjelaskan dengan rinci.
"Bukan, Pak. Bos saya punya rumah di Magelang, vespa itu juga punya dia. Boleh saya pakai untuk mobilitas selama disini."
“Begitu, ya? Artinya kamu akan tinggal di Jogja untuk sementara, ya? Tinggal di daerah mana?”
“Kantor tempat kerja saya di daerah Gedong kuning, Pak. Kalau mau tinggal dimana, saya belum tahu. Teman saya sedang cari rumah kontrakan untuk saya.”
“Oh! Sebenarnya tidak terlalu jauh dari sini. Kenapa kamu tidak tinggal disini saja?”
Tawaran tak terduga dari bapak membuat tubuhku menegang. Sungguh aku tak pernah mengira akan ada orang yang memintaku tinggal bersama. Selama ini aku tinggal sendiri, belum pernah ada yang ingin tinggal bersamaku. Kecuali Cecilia, sepupuku. Dan bapak, tawaran itu … sungguh membuatku merasa dianggap.
Aku tak segera menerima tawaran bapak. Kupertimbangkan semuanya dengan matang, sebab aku tidak pernah mengambil keputusan tanpa pertimbangan. Apalagi nantinya aku pasti akan merepotkan bapak dan keluarganya.
Maka ketika kutelepon Noura dan dia bilang belum dapat rumah kontrakan untukku. Baru aku menerima tawaran pak Wawan. Tinggal di rumahnya untuk sementara, sambil mencari rumah kontrakan.
Aku memerlukan rumah kontrakan sebab aku tidak tahu sampai kapan pekerjaanku selesai. Tidak mudah mencari tahu tentang seseorang, perlu waktu yang mungkin lama. Ditambah aku harus hati-hati melakukan pekerjaanku yang tidak lazim ini.
Saat hampir sore, mbak Nabila dan suaminya pulang. Mobil bak terbuka terparkir rapi di sebelah rumah. Tapatnya di halaman rumah tetangga yang disewa oleh mbak Nabila untuk memarkir mobilnya. Mbak Nabila sempat menyapaku, sebelum ia pergi entah kemana dan pulang bersama seorang anak kecil laki-laki. Kira-kira berusia empat tahun.
Rumah pak Wawan yang kecil jadi terasa lebih sempit karena kehadiranku. Entahlah. Atau mungkin hanya perasaanku saja. Mungkin juga karena anak laki-laki yang sejak datang tadi berisik sekali.
“Om iki sopo to, Buk?” (Om ini siapa, Buk?) Aku tahu anak itu sedang bertanya kepada mbak Nabila, ibunya. Ingin tahu semua tentang orang asing yang tiba-tiba saja ada di dalam rumahnya. Aku. Meskipun aku tidak begitu paham apa yang ditanyakan.
“Om wes pakpung urung?” (Om sudah mandi belum?)
“Om omahe ngendi?” (Om rumahnya mana?)
“Om kok ora sholat? Ibuk sanjang, nek mboten sholat doso, lho.” (Om, kok, tidak sholat. Kata ibuk kalau tidak sholat dosa, lho.)
“Om rung supit, po? Kok, ora sholat?” (Om belum disunat, ya? Kok tidak sholat.)
"Jare pak ustadz nek wes supit kudu sregep sholat." (Kata pak ustadz kalau sudah sunat harus rajin sholat.)
Sungguh membuat telingaku gatal mendengar keriuhannya. Seolah dia punya stock pertanyaan segunung dan kosa kata seluas samudra. Anak kecil yang berisik dan tinggi rasa ingin tahunya.
Malam itu kuhabiskan dengan menjawab semua pertanyaan anak laki-laki bernama Naufal Ibrahim itu. Meski dengan jawaban sebisaku dan harus diterjemahkan oleh pak Wawan dan mas Akmal karena aku tidak terlalu mengerti bahasa jawa.
Malam beranjak larut, kupandangi langit-langit kamar yang warna catnya sudah memudar. Ada bekas tanda air disana-sini, mungkin bekas bocor saat hujan. Suara binatang malam menjadi melodi pengusir sunyi. Dingin terasa sampai menembus tulang, tapi sedikit demi sedikit berangsur berkurang. Baru kusadari ternyata udara disini lebih dingin dari pada di Magelang.
Kualihkan pandangan kepada dua pria beda generasi di sebelahku yang telah terlelap. Rumah ini hanya punya dua kamar, jadi kami terpaksa tidur berhimpitan di ranjang yang sempit. Naufal ngeyel minta tidur bersamaku. Jadi beginilah, satu ranjang diisi tiga orang. Sempit, aku hampir tidak bisa bergerak.
Aku terbiasa tidur di ranjang king size sendirian. Ketika sekarang aku harus tidur berhimpitan seperti ini, tentu saja aku sulit memejamkan mata. Hanya saja ada perasaan lain yang menyeruak dari dalam hati. Hangat.
Aku kesempitan dan tidak bisa bergerak, tapi entah mengapa aku merasa nyaman. Apalagi ketika Naufal tanpa sadar menaruh kakinya diatas perutku dan satu tangannya yang berada diatas dadaku. Harusnya aku merasa tidak nyaman, kan? Tapi yang kurasakan justru sebuah perasaan asing. Seperti habis minum air putih hangat, seketika kehangatan menyeruak sampai ke dalam sana tanpa permisi.
Pagi hari aku pun kembali merasakan perasaan asing yang belum bisa kudefinisikan. Perasaan yang membuatku ingin tersenyum bahkan tertawa. Saat Naufal bercerita tentang temannya yang baru saja disunat.
“Mbah, Mbah! Wingi Dani supit. Jarene le nyupiti nganggo bendo, Mbah?” semua orang tertawa kecuali aku. (Mbah, Mbah! Kemarin Dani disunat. Katanya disunat pakai pisau besar, Mbah?)
“Opo nek supit ki diiris, Mbah? Dadi cendik nek ngono.” Semua orang tertawa kecuali aku. (Memangnya kalau disunat itu diiris, Mbah? Jadi pendek, dong.)
“Naufal emoh supit, ah. Mengko dadi cilik, hiii!” Semua orang tertawa lagi, kecuali aku tentunya. (Naufan tidak mau disunat, ah. Nanti jadi pendek. hhii!)
Aku baru tertawa ketika mas Akmal menerjemahkan cerita Naufal dari awal sampai akhir. Tunggu! Aku tertawa? Bagaimana bisa aku tertawa selepas ini?
Apa-apaan ini? Anak kecil itu bisa membuatku tertawa? Satu hal yang jarang terjadi padaku, atau justeru mungkin aku belum pernah tertawa selepas ini. Naufal berhasil membuatku tertawa, padahal anak kecil itu bercerita tanpa ekspresi lucu sedikitpun.
Setelah sarapan aku duduk bersama pak Wawan dan mas Akmal sembari menikmati secangkir kopi panas. Lagi-lagi satu hal yang tak pernah kulakukan dalam hidup, yaitu berbincang basa-basi.
Awal aku bertemu mas Akmal, kukira dia pria yang kaku. Sorot matanya yang tajam seperti pedang terhunus di hadapanku. Tapi berbanding terbalik setelah kami bicara. Mas Akmal ternyata pria yang menyenangkan walau tidak pandai berkelakar.
Pak Wawan juga begitu. Kupikir akan membosankan berbincang dengan pria paruh baya seperti beliau. Ternyata sejak kemarin obrolan kami cukup nyambung, walau sekedar basa-basi.
Baru semalam aku berada di tengah keluarga sederhana ini, sudah banyak yang kudapatkan. Terutama kehangatan sebuah keluarga ….
Aku yang tadinya merasa rumah pak Wawan kecil dan sempit, kini yang kurasakan adalah kelapangan hati dan kehangatan. Disini, aku merasa dibutuhkan, dianggap ada sekaligus dihargai.
“Semalam tidurnya tidak nyenyak, ya, Hara? Pasti keganggu sama usilnya Naufal.” Tutur mas Akmal menjelang akhir perbincangan kami pagi ini.
“Nggak, kok, Mas. Naufal anteng.” Kuperhatikan pak Wawan yang tertawa. Beliau pasti tahu jika semalaman Noufal tidur sembari terus memelukku, bahkan melingkarkan sebelah kakinya di perutku.
Aku bukan tipe orang yang suka berbasa-basi demi menyenangkan orang lain. Apalagi berbohong untuk membuat orang lain merasa senang. Tapi tingkah Noufal membuatku mengubah pendirian, tidak ada salahnya berbohong, jika bisa membuat kita nyaman. Lagi pula bukan bohong yang melanggar aturan, kan?
“Rumah ini kecil, kamu pasti merasa tidak nyaman. Walau begitu, kamu boleh tinggal disini selama kamu mau.”
Kalimat yang diucapkan oleh pak Wawan membuatku mengusap tengkuk. Dia seperti tahu isi hatiku saja. Dan kemunculan mbak Nabila sembari menggandeng Naufal menambah keyakinan akan keputusan yang harus kuambil,
“Naufal sudah siap? Ayo Mbah antar!” Pak Wawan berdiri, meninggalkan kopinya yang masih tersisa setengah.
“Naufal mau kemana?” Tanyaku sebab setahuku bocah usia empat tahun itu belum sekolah.
“Naufal harus kami titipkan di pesantren.” Mas Akmal yang menjawab, “kami harus pergi cari dagangan, sorenya jualan. Jadi lebih aman Naufal disana, dari pada bapak repot jagain. Nanti sore baru dijemput, selesai kami jualan.”
Entah kenapa aku terdorong untuk mengambil alih tugas pak Wawan mengantar Naufal. Bocah itu sepertinya punya sesuatu yang membuatku tertarik.
“Bagaimana kalau bareng saya saja? Pesantrennya yang di depan itu, kan? Saya juga mau berangkat, sekalian lewat.”
“Ah! Nggak ngrepotin, nih?” Seloroh mbak Nabila.
“Tidak, Mbak. Sekalian berangkat, kok. Sejalan, kan? Ayo, Naufal!” Aku berdiri, setelah menggerus batang rokok yang sebenarnya masih panjang, “om ambil tas dulu di kamar, ya?”
Saat aku kembali dengan membawa tas kecil menggantung di bahuku, Naufal segera meraih tangan ibu, ayah dan kakeknya, mencium punggung tangan mereka dengan sopan.
Aku meraih bahu bocah laki-laki bertubuh kurus itu, hendak membimbingnya keluar rumah. Tapi Naufal bergeming, sembari menarik ujung kemejaku. Aku harus menunduk, mengerutkan dahi karena tak tahu apa yang diinginkan Naufal.
“Om belum salim sama mereka.” Ucap Naufal polos sambil menunjuk tiga orang di belakangku, “kata ustadz, kalau mau pergi harus pamit salim sama orang tua. Biar dapat ridho dan berkah.”
Aku mengusap tengkuk, merasa malu. ‘Dasar bocah’, batinku.
Kusalami pak Wawan juga mbak Nabila dan mas Akmal. Ternyata Naufal masih tidak terima, “dicium, Om! Biar berkah.”
Baiklah! Kuakui sekarang aku seperti kerbau dicocok hidungnya, menuruti perintah bocah kecil yang baru sehari kukenal.
“Maafkan Naufal, ya, Hara!” mbak Nabila berbisik, ketika kau mencium punggung tangannya, seperti perintah Naufal.
“Minta tolong, ya, Hara! Maaf merepotkan harus mengantar Naufal.” Mas Akmal mengusap bahuku.
Tak tahu ini perasaan apa, aku merasa seperti ingin menangis dan tersenyum sekaligus dalam satu waktu. Mungkin ini yang dinamakan terharu. Merasakan tangan mas Akmal yang mengusap bahuku. Tangan mas Akmal yang dingin justeru terasa hangat, bagaimana bisa?
Aku mengantar Naufal sampai pesantren yang terletak di jalan masuk rumah pak Wawan. Naufal disambut oleh seoang pria. Baju koko, sarung dan peci, sekilas penampilan pria itu persis seperti mas Faiz. Penampilan pria muslim yang jarang kulihat di Jakarta.
“Sopo, Fal?” (Siapa, Fal?) kudengar pria itu bertanya pada Naufal. Mungkin karena asing melihatku.
“Om e aku. Ngganteng, to?” Aku menggelengkan kepala mendengar celoteh Naufal walau hanya samar. Dasar bocah.
Aku sempat menganggukkan kepala kepada pria yang menyambut Naufal. Itu pasti pak ustadznya. Kulihat beberapa anak seusia Naufal berlarian kesana-kemari di halaman pesantren. Ini pesantren atau tempat penitipan anak?
Tapi suasana ini membuatku berpikir sejenak ….
Kubuka tas, mengambil ponsel dari dalam sana. Kembali kutatap suasana halaman pesantren yang masih riuh oleh beberapa anak kecil. Tak kusangka Naufal melambaikan tangan ke arahku.
“Om! Ati-ati!”
Aku tersenyum, membalas lambaian tangan Naufal. Tunggu!
;’/Aku tersenyum? Ya Tuhan! Mengapa lagi-lagi aku melakukan hal yang mustahil terjadi. Senyumku terhitung mahal, tapi mengapa kubuang percuma sejak kemarin.
Aku memutus pandangan dari halaman pesantren. Kembali fokus pada ponsel di tangan. Kuketik jajaran huruf disana hingga membentuk satu kalimat.
[Aku sudah dapat tempat tinggal.]
Sent
Kukirim pesan tersebut kepada Noura. Lalu kumasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Aku melajukan vespa meninggalkan kawasan pesantren, keluar dari gapura bertuliskan nama sebuah desa.
Melewati jalan Magelang-Jogja, aku memacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Menuju ke suatu tempat yang akan sering kukunjungi beberapa waktu ke depan. Sepertinya aku mulai menemukan sesuatu yang hilang ....
.
.
.
Bersambung....
Teman-teman ...
Stay save and healthy ya. Jaga imun dan iman, jangan sepelekan virus yang sedang menyebar. Prokes ketat, pakai masker kalau keluar rumah, wajib dobel ya. Kalian yang sedang sakit semoga lekas sembuh. Yang sedang dalam masa isolasi, semoga selalu sehat dan dimudahkan segala urusan. aamiiin.