
🌹Pribadi seseorang tidak bisa dinilai hanya dari penampilannya saja. Yang bersikap ketus, justru punya hati selembut salju.🌹
Jenar
Aku pikir konsultasi dengan seorang ahli kejiwaan akan menyeramkan. Membayangkan berada dalam satu ruangan tertutup yang sunyi dan bau disinfektan. Namun, ternyata jauh dari perkiraan, karena ruangan yang dipakai untuk konseling lebih mirip ruang kelas anak TK. Dinding penuh gambar, tirai jendela yang terbuka sehingga sirkulasi udara segar bisa masuk, dan suara alunan musik pelan menenangkan.
Sejak konseling pertama dengan dr. Halimah dan Mbak Tiara, aku cukup menikmatinya. Sesi konseling rasanya seperti sedang bercerita dengan sahabat. Dr. Halimah yang mempunyai sifat keibuan, menentramkan dengan tatapan mata yang teduh. Sementara Mbak Tiara, cantik, energik dan ramah. Itu penilaian tentang dua ahli terapisku.
“Maaf, ya. Karena dr Halimah prakteknya siang, jadi hanya bisa ketemu saya dulu,” ucap gadis cantik berambut lurus panjang yang duduk di hadapanku. Terapis muda dan menyenangkan, Mbak Tiara.
“Nggak pa-pa, Mbak.” jawabku sembari tersenyum, nyatanya konsultasi dengan Mbak Tiara sungguh menyenangkan.
“Pertemuan pertama kemarin, jadwal Rinjani siang, ya? Hari ini pindah pagi, jadi tidak bisa bertemu dr. Halimah.” Mbak Tiara mengambil tempe tepung, sempat menawarkan padaku sebelum memakannya.
Sesi konsultasiku telah selesai beberapa menit yang lalu, bersamaan dengan berakhirnya jam praktek Mbak Tiara. Ia mengajakku sarapan di warung soto yang terletak di sebelah klinik. Karena memang belum sarapan dan perutku sudah lapar, aku tidak menolak.
“Iya, Mbak. Biar tidak harus bolos kuliah, jadi saya minta jadwal pagi.” aku menjawab jujur.
Mbak Tiara mengangguk, “Rinjani kuliah di mana? Ambil apa?”
“Akademi kebidanan di …,” aku menyebutkan nama sebuah kampus ternama di Yogyakarta.
“Wah! Senang pasti bisa kuliah di sana, ya? Itu kampus impian saya dulu. Sayang nggak kesampaian, karena saya terpaksa harus ikut ayah pindah ke Jakarta.” cerita Mbak Tiara.
“Mbak Tiara kuliah di Jakarta?” sepertinya menarik mendengarkan cerita Mbak Tiara.
Mbak Tiara mengangguk, “Saya sekolah SMA sampai lulus sarjana di Jakarta. Nggak perlu saya ceritakan, ya, bagaimana bisa sampai kerja di sini? Nanti malah jadi kebalik saya yang curhat sama kamu.”
Kami berdua tertawa. Tak pernah kusangka akan bertemu dengan terapis se-asyik Mbak Tiara. Satu setengah jam konseling pun tidak terasa, bahkan masih ditambah dengan ngobrol sambil sarapan.
“Mbak Tiara ada rencana melanjutkan pendidikan master?” aku bertanya, sebab di pertemuan pertama dr. Halimah mengatakan jika Mbak Tiara sedang mempersiapkan pendidikan masternya.
“Ada,” Mbak Tiara mengangguk tegas sebelum melanjutkan kalimat seraya menerawang, “Saya harus ngumpulin duit dulu yang banyak, bawa pulang dua adik saya dari Jakarta, setelah itu baru mikirin cita-cita.”
Aku tersenyum, meski tidak begitu paham dengan jalan ceritanya. Ingin bertanya, tapi takut dianggap ikut campur urusan orang lain. Obrolan kami terjeda karena pemilik warung mengantarkan dua mangkuk soto dan dua gelas teh panas. Aroma gurih soto berpadu dengan teh melati yang menenangkan; sempurna untuk menggugah selera. Kami menyantap sarapan sederhana di warung pinggir jalan sambil mengobrol santai.
“Nanti dijemput, kan? Langsung berangkat ke kampus atau mau mampir ke mana dulu, nih?” tanya Mbak Tiara.
“Nggak, Mbak. Saya mau langsung ke kampus naik bus saja.” jawabku.
“Nggak takut telat? Jauh, lho, dari sini ke kampus kamu. Sudah jam segini, pasti angkutan umum lama.” Mbak Tiara seperti tahu yang sedang kupikirkan.
Sebenarnya aku juga khawatir akan terlambat sampai kampus. Walau sudah memperkirakan waktu dan jarak yang harus ditempuh, tapi kenyataan berjalan tidak sesuai dengan rencana. Saking asyiknya ngobrol dengan Mbak Tiara, sampai lupa waktu. Hingga makanan tandas pun kami masih lanjut berbincang. Jika bukan karena panggilan di ponsel Mbak Tiara, mungkin kami belum ingin menyudahi pertemuan.
“Kalau Mbak Tiara mau kembali ke klinik, tidak apa-apa, kok. Saya biasa nunggu bus sendirian.” Sudah lima menint kami berdiri di pinggir jalan, menunggu bus jurusan Semarang-Yogya yang belum terlihat melintas.
“Saya tunggu sampai kamu dapat bus. Gadis cantik seperti kamu, mana boleh nunggu di pinggir jalan sendirian, kalau diculik bagaimana?” jawab Mbak Tiara, aku tersenyum mendengar jawaban sarat guyonan itu.
Setelah beberapa menit, dari kejauhan terlihat kepala bus dengan tulisan Yogya. Seketika, menghilangkan resah yang sempat berkecamuk di kepala. Aku menoleh ke samping kiri, hendak memberi tahu Mbak Tiara. Namun, ia seperti sedang memerhatikan sesuatu yang menyita perhatian dari arah klinik.
“Mbak?” Mbak Tiara sampai tergeragap ketika aku memanggil.
“Ng-gak ada apa-apa, saya tadi kayaknya melihat-” Mbak Tiara nampak mengernyit, seperti sedang berpikir.
“Ah! Pasti salah orang,” ucapnya kemudian sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum, lalu menunjuk bus yang tinggal beberapa meter lagi sampai di depan kami. Segera kuangkat tangan kiri untuk menghentikan bus yang melaju cepat itu.
“Hati-hati, Rinjani! Sampai bertemu minggu depan, jangan lupa save nomor saya!” Kami bersalaman, cipika-cipiki lalu berpelukan sebentar, sebelum aku naik ke bus. Sempat aku melongok dari jendela dan membalas lambaian tangan Mbak Tiara. Kami sudah seperti sahabat karib saja, padahal baru dua kali bertemu.
Bersyukur bus tidak terisi penuh, masih ada beberapa kursi kosong. Aku memilih duduk di tepi jendela bagian kiri, tempat favorite setiap kali naik bus. Melihat aktivitas di pinggir jalan, mampu menjadi pemandangan yang mengalihkan jenuh selama perjalanan.
Laju bus melambat, karena lalu lintas di perempatan kebon polo agak padat. Aku mengeluarkan ponsel dari tas, hendak mengecek mungkin ada pesan atau panggilan masuk. Baru membuka aplikasi berkirim pesan singkat, terdengar klakson sangat kencang. Bisa kutebak jika sopir bus hendak mendahului. Naik bus antar kota seperti ini memang kadang harus menyiapkan jantung yang kuat. Karena sopir terbiasa berpacu dengan kendaraan lain demi mengejar penumpang pembawa rejeki.
Pintu masuk terminal Soekarno-Hatta sudah terlihat di depan, tapi lagi-lagi bus harus berhenti karena lampu rambu lalu-lintas berwarna merah. Aku menggeleng, sungguh luar biasa rasanya berpacu dengan waktu. Dalam hati, sudah mereka alasan dan rencana jika terlambat sampai di kampus nanti.
‘Nggak usah ikut kelas sekalian, dari pada kamu dihukum sama Bu Early.’
Isi pesan yang kuterima dari Aina, balasan chatku beberapa menit yang lalu. Bu Early terkenal disiplin, kalau ada mahasiswi terlambat pasti dihukum dengan hukuman yang aneh-aneh. Pernah temanku disuruh memperkirakan usia janin hanya dengan meraba perut ibu hamil muda. Padahal itu hanya bisa dilakukan oleh seorang bidan profesional.
‘Asal jangan dihukum suruh meraba placenta orang hamil dua minggu saja.’
Aku mengirimkan balasan disertai gambar emoticon mengikik, membayangkan hukuman yang mungkin akan diberikan oleh Bu Early. Pandanganku beralih dari ponsel, menatap deretan mobil dan motor yang berhenti di sebelah bus. Lalu terhenti pada sebuah mobil hitam yang bersebelahan dengan bus, mobil itu persis seperti yang biasa dikendarai Pak Hara. Sejenak aku membayangkan jika tiba-tiba kaca mobil itu terbuka dan Pak Hara memintaku turun dari bus. Lalu dia mengantarku, biar cepat sampai kampus.
Aku menggeleng lagi sambil mengusap wajah kasar. Dasar! Bisa-bisanya membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi. Memangnya siapa aku? Mana mungking Pak Hara rela meninggalkan urusan penting demi mengantarku ke kampus. Tadi saja dia hanya menurunkanku di depan klinik karena buru-buru pergi. Lagi pula urusan membuat sertifikat tanah biasanya lama, pasti belum selesai.
Ponsel dalam genggaman bergetar, sebuah notifikasi pesan masuk lagi dari Aina. Lebih baik membunuh waktu dengan berbalas pesan, dari pada bosan. Ingin membaca al-qur'an tapi tidak bisa karena wudluku sudah batal saat konsultasi tadi.
‘Berdo’a saja ada pasien partus, saat Bu Early mau berangkat. Jadi kamu tiba lebih dulu, sebelum beliau.’
Dalam hati aku mengaamiinkan do’a dalam chat Aina. Do’a tulus dari seorang putri kyai, semoga Alloh kabulkan. Aku membetulkan letak tas di pangkuan, tak sengaja meraba suatu benda. Begitu membuka tas, sebuah botol minum terlihat di antara barang-barangku.
Semoga Pak Hara tidak marah karena botol minumnya tidak sengaja kubawa. Di kantor pertanahan ada yang jual air minum tidak, ya? Kalau dia kehausan karena mengantri lama bagaimana?
.
.
.
Bersambung ....
The power of do'a dalam hati. Pernah nggak teman-teman berada dalam situasi seperti Jenar? Sadar sudah hampir telambat berangkat ke sekolah, kampus atau tempat kerja, tapi tidak bisa berpacu dengan waktu karena banyak hal. Misalnya angkutan umum yang datang lama, jalanan macet, atau hambatan perjalanan lainnya.
Apa yang bisa dilakukan saat seperti itu? Yes, hanya memperbanyak berdo'a. Sadar atau tidak, saat dalam keadaan terhimpit seperti itu, bisa jadi kita justru melangitkan do'a tulus dari dalam hati. Namun, tetap saja Alloh mengabulkan do'a sesuai jatah waktu dan yang terbaik menurutNya.
Di bab ini, saya hanya sedikit membahas proses konselingnya Jenar, ya? Kalau saya bahas secara detail, nanti justru banyak cerita tentang Tiara. Padahal cerita ini, kan, panggungnya buat Hara. hehe. 😉 (Alibi saja sebenarnya, biar tidak kelamaan riset aja, sih.)
Maaf, baru bisa up karena saya sedang sibuk mencari suara yang hilang sejak beberapa hari yang lalu. Entah siapa sebenarnya yang ambil suara saya nggak bilang-bilang. 😂
Kira-kira Hara selesai ngurus sertifikat tanahnya kapan, ya? Tunggu bab selanjutnya, ya.😉