
“Ini enaknya kita pesan makanan saja, ya? Hujannya deres banget, kayaknya bakal lama reda. Nggak mungkin kalian pulang dalam cuaca seperti ini, bahaya. Tunggu sampai hujan reda sambil makan, cocok, kan?” seloroh Danish mencairkan suasana hati adiknya yang hampir ikut mendung seperti langit sore itu, hanya gara-gara sikap Jenar.
“Mau makan apa kamu, Ren?” tanya Danish mulai membuka buku.
“Ada apa saja?” Varen balik bertanya, sambil melongok buku menu yang dibawa kakaknya.
Danish meletakkan buku menu di atas meja, agar semua orang bisa melihatnya. Jenar sempat melirik sebentar, gambar yang tertera dalam daftar menu cukup menarik perhatian dan menggugah selera. Dia belum makan siang, padahal hari sudah menjelang sore, wajar jika lambungnya kosong dan sudah minta diisi. Namun, tidak elok jika dia memesan lebih dulu, sedangkan yang lain belum.
“Pesan apa kamu?” Danish melirik Hara.
Yang ditanya tidak lantas menjawab malah mengeluarkan sebatang rokok dari kemasannya. Dia menjepit rokok dengan bibir sambil menjawab sebelum menyalakannya dengan korek api, “Kamu saja dulu.”
“Jenar mau makan apa?” Danish ganti bertanya kepada Jenar yang sedang melepas jaket.
Sembari mengusap lengannya sendiri Jenar menjawab lirih dengan nada sungkan, “Saya tidak lapar, Kak.”
Dia bukan tidak lapar, hanya merasa tidak sopan memesan lebih dulu. Sudah menjadi sifat dasar perempuan, sulit berterus terang, justru mengedepankan gengsi dan rasa tidak enakan.
“Sudah lewat jam makan siang, masa kamu tidak lapar? Memangnya tadi kalian sudah makan sebelum ke sini?” Varen menatap Hara tidak percaya dengan ucapan Jenar. Jika dugaannya benar, Jenar pasti hanya merasa tidak enak memilih menu makanan lebih dulu. Hara yang ditatap menggeleng sembari mendesis menahan asap rokok di tenggorokannya.
“Sini, Kak! Aku saja yang pesan.” Varen mengulurkan tangan, meminta buku menu pada kakaknya sambil menggerutu, “Nunggu air hujan sampai berubah jadi air kran juga Jenar tidak akan mau pesan sendiri. Dasar keras kepala! Kamu nggak akan kenyang kalau cuma makan rasa sungkan.”
"Varen, stop!" Danish menghardik adiknya. Mencegah mulut Varen agar berhenti mencerocos seperti bebek jantan kelaparan.
Dia memberikan buku menu kepada adiknya dengan tatapan mata menghardik. Danish maklum, kalau Varenlah yang paling mengerti Jenar karena mereka berdua pernah dekat waktu sekolah. Namun, dia tidak setuju dengan sikap Varen yang bicara dengan nada menggerutu. Khawatir Jenar tersinggung dengan ucapan atau sikap Varen.
"Maafkan adik saya, ya, Jen. Dia memang kurang mendapat pendidikan sopan santun." tutur Danish, meminta maaf dengan tulus.
Jenar hanya menanggapi dengan senyum tipis, sedangkan Varen tidak peduli. Hara tidak mengatakan apa pun, meski dia juga tidak suka dengan sikap Varen yang sok tahu.
Varen telah selesai memesankan makanan untuk Jenar, sedangkan Danish dan Hara memilih menu sendiri. Hujan di luar sangat deras, suara gemuruh masih terdengar dengan intensitas makin sering. Disertai kilatan petir menyambar, membuat suasana di dalam restoran mencekam. Audio ruangan dimatikan, agar tidak menambah kebisingan.
Danish sedang sibuk dengan ponselnya, Hara menikmati rokok, sedangkan Varen berusaha mengajak Jenar ngobrol. Mereka berempat duduk mengelilingi meja yang sama, tetapi dengan kegiatan yang masing-masing.
Kilatan petir menyambar seperti lampu flash kamera, disusul oleh suara menggelegar keras, membuat semua orang waspada. Ada yang memegang dada, tersentak, tanpa sadar berteriak, sampai memegang dada karena terkejut. Seperti Jenar yang secara spontan menutup telinga sambil menggumamkan istighfar.
Varen tersenyum melihat Jenar terkejut. Dia jadi ingat semasa mereka sekolah dulu, saat setiap hari tujuan utamanya berangkat ke sekolah adalah untuk melihat wajah manis gadis berlesung di kedua pipi itu. Harinya terasa kurang jika belum bertemu Jenar. Meski gadis itu selalu menghindar, tapi Varen tidak patah semangat mendekati. Sampai suatu peristiwa membuatnya harus memupus harapan untuk bisa menjalin hubungan serius dengan Jenar.
Setelah kejadian dia bertengkar dengan Aneesha di restoran milik ayahnya, Varen sadar jika mereka berdua tidak ditakdirkan berjodoh. Jika Jenar membalas perasaannya pun mereka sulit bersatu, sebab sebagai penerus bisnis keluarga, jodoh sudah ditentukan oleh orang tuanya.
“Kamu ingat waktu kita sekolah dulu? Kamu paling senang kalau hujan waktu jam pelajaran olahraga, karena tidak ada praktek di lapangan. Dulu aku merasa kamu itu aneh. Kebanyakan anak sekolah paling semangat kalau pelajaran olahraga, tapi kamu malah paling males.” cerita Varen panjang lebar, tanpa memedulikan keberadaan Hara dan Danish di antara mereka. Dia seolah ingin mengenang masa lalu bersama Jenar.
Jenar mendongak sebentar, memaksakan senyum tipis lalu kembali menunduk. Gadis itu seperti setengah hati mendengarkan cerita Varen. Tangannya saling meremas di pangkuan, waspada jika petir terlalu keras menyambar dia akan menutup telinga.
"Mungkin Jenar nggak suka sama gurunya jadi tidak suka pelajaran olahraga, ya, Jen?" Danish mencoba menanggapi cerita adiknya. Sekali lagi Jenar hanya tersenyum sekilas.
"Bukan, Kak. Bukan karena dia tidak suka sama gurunya, tapi Jenar nggak suka pelajaran olahraga karena bikin capek. Dia lebih suka pelajaran yang mengasah otak, duduk diam sambil mikir. Iya, kan, Jen?" jelas Varen dengan memiringkan kepala mencari wajah Jenar yang khusyuk dalam tundukan.
Kilatan petir kembali datang, kali ini menyambar sangat kencang. Seperti ada drum besi yang sengaja dilempar tepat di atas atap. Semua orang terkejut, lalu keributan terjadi saat tiba-tiba seluruh ruangan menjadi gelap karena semua lampu padam. Beruntung ada secercah cahaya, berasal dari emergency lamp yang dipasang di sudut ruangan dekat kasir. Paling tidak, ruangan tidak sepenuhnya gelap gulita.
Dalam keremangan, Jenar berusaha menghalau gelisah. Tidak bisa dipungkiri bahwa cerita Varen membuat masa lalunya terpanggil. Listrik padam, hujan lebat, gemuruh guntur dan petir yang menyambar, berpadu sempurna membangunkan ingatan lama. Memori tentang goresan luka tak kasat mata yang sampai kini masih terasa menyakitkan.
Gadit itu menutup telinga, saat kilatan petir kembali datang untuk yang kesekian kali. Suara menggelegar keras seolah memecah telinga, membuatnya tanpa sadar berteriak.
"Tenang! Kalau mati listrik seperti ini, justru aman." Varen mencoba menenangkan Jenar. Dia tidak tahu kalau Jenar berteriak bukan karena listrik mati, tapi ada sebab yang lain.
Jantung Jenar berdetak cepat, adrenalin terpacu hingga terasa menghentak di dada. Dia seperti melihat bayangan hitam datang menghampiri di dalam kegelapan. Seringai kejam, tatapan hampa penuh kesakitan, dan suara gelak tawa menggema, berkelebat di dalam otak. Seperti sebuah dejavu. Seolah dia sedang berada di tempat mengerikan dengan suasana yang sama persis seperti saat ini. Melihat cairan warna merah pekat yang mengalir menodai seragam coklat muda dan indera penciumannya pun seperti menghirup bau anyir darah segar.
Tatapan mata kosong, frustasi dan penuh kesakitan sedang menatapnya penuh penghakiman. Ketakutan menghinggapi, sontan dia memejamkan mata sambil terus menutup kedua telinga. Tidak ada yang tahu apa yang sedang Jenar rasakan. Dia berusaha menghalau bayangan-bayangan yang terus berputar-putar dalam ingatan. Sampai harus menundukkan kepada di atas meja, seraya merapal do’a.
Karyawan restoran berhasil menghidupkan listrik dengan bantuan generator set (genset). Lampu-lampu kembali menyala, mengubah gelap seketika menjadi terang. Mata yang baru saja beradaptasi dalam gelap, membuat terang terasa menyilaukan. Hara mengerutkan dahi, menyesuaikan pandangan mata dengan cahaya lampu yang silau. Dia menatap sekeliling, orang-orang ramai bersyukur karena tidak lagi terjebak dalam gelap.
Varen menjadi orang yang pertama kali sadar, jika Jenar sedang tidak baik-baik saja. Dia heran kenapa Jenar terus menelungkupkan kepala dengan kedua tangan menutup telinga. Apa Jenar takut gelap? Sepanjang mereka saling mengenal, setahu Varen Jenar hanya takut pada kucing, bukan gelap, petir atau bahkan hujan.
“Kamu kenapa, Jen? Lampunya sudah menyala,” ucap Varen seraya menyentuh kepala Jenar.
Jenar mendongak, tersentak. Gadis itu seperti orang yang baru saja dibangunkan secara kasar dari tidur. Pandangan matanya nyalang, membelalak dengan bola mata yang terus bergerak-gerak.
“Jenar?” Varen memanggil lagi karena Jenar tidak menjawab. Justru dia samar-samar mendengar gadis itu meracau tidak jelas, seperti orang bingung dan ketakutan
“Are you ok, Sweety?” Varen memegang punggung Jenar pelan.
Saat itu dia merasa punggung Jenar bergetar, hangat dan lembab. Padahal udara sedang sangat dingin karena hujan disertai angin kencang. Dia hendak memeriksa keadaan Jenar, dengan mengusap pelan punggung gadis itu. Namun, gerakan tangan Varen justru membuat Jenar makin terkejut.
“Jangan sentuh saya!” teriak Jenar seraya menjauhkan diri dari Varen.
Sontan Varen menarik tangannya. Kini dia yang terkejut karena melihat kilatan penuh emosi tertahan di mata Jenar. Wajah Jenar memucat, deru napasnya memburu terlihat karena bahu naik turun. Baru kali ini dia melihat Jenar seperti orang yang sedang ketakutan.
"What happend with you?" Varen hendak mengambil tangan Jenar, tapi gadis itu buru-buru berdiri dengan kasar. Menimbulkan suara gaduh karena gerakannya mendorong kursi secara serampangan.
“Astaga!” Hara segera membaca situasi. Dia membuang rokok begitu saja, bergegas menghampiri Jenar yang menatap Varen dengan pandangan nyalang.
Hara yang hanya tinggal berjarak satu meter dari Jenar, terpaksa mundur karena gadis itu kembali berteriak, “Jangan mendekat!”
Danish berdiri, mendekati adiknya yang terpaku dengan tatapan mata penuh tanya. Dia berbisik di depan telinga adiknya, "Apa yang kamu katakan padanya?"
"Nothing! Kakak dengar sendiri aku cuma bicara hal sepele waktu kami sekolah dulu." jawab Varen juga dengan berbisik.
"Apa ada kalimatmu yang menyinggungnya?" tanya Danish lagi.
Keduanya saling pandang, lalu Varen mengangkat bahu. Dia tidak yakin, mungkin ada kalimatnya yang membuat Jenar marah. Gadis itu bisa jadi tersinggung saat dia bercerita tentang masa lalu.
Danish menggeleng, saat Varen hendak mendekati Jenar. Gadis itu kini kembali menutup telinga dengan kedua tangan, menggeleng sambil terus meracau.
“Saya pembunuh, dia mati karena saya.”
“Tidak! Harusnya dia tidak mati!”
“Mereka datang lagi, orang jahat itu datang lagi!”
“Mereka mencari saya!”
"Bukan dia, harusnya saya yang mati!"
"Tolong! Tolong!"
Varen hendak maju, tapi Hara mengangkat tangan, memberi kode agar dia berhenti dan diam. Bukan pertama kalinya Hara melihat Jenar seperti ini. Dia cukup tahu, apa yang harus dilakukan. Tidak perlu gegabah jika ingin menenangkan Jenar. Sebab, gadis itu sedang berada di luar kesadaran, tidak bisa mengendalikan diri sendiri.
Dengan langkah pelan, bahkan nyaris tanpa suara ... Hara mendekati Jenar. Gadis itu masih meracau dan memaki dirinya sendiri. Hara tidak melakukan apa pun, hanya berjaga-jaga sampai Jenar menemukan sedikit ketenangan. Dia membiarkan Jenar terjatuh, luruh dengan tangan masih menutup telinga dan menggeleng keras. Tangis gadis itu pecah, histeris memilukan.
“Saya membunuhnya … harusnya dia tidak mati karena saya. Saya yang salah ...," racau Jenar disela tangis.
Hara menekuk lutut, berjongkok di hadapan Jenar. Pelan-pelan sekali dia mengambil tangan Jenar yang menutup telinga. Namun, karena tangan Jenar terlalu kuat, Hara tidak bisa meraihnya. Dia hanya bisa memegang tangan yang menutup telinga, menangkup wajah Jenar, lalu menengadahkannya. Gadis itu hendak berontak, tapi Hara makin mengeratkan genggaman. Sebisa mungkin dia memegang erat kepala Jenar, tapi tidak sampai menyakiti.
“Lepaskan saya! Jangan dekati saya, lepas!” teriak Jenar histeris.
“Sstt! Jenar!" seru Hara. Dia berusaha memfokuskan pandangan Jenar, "Lihat saya!”
Jenar hendak menggeleng, menghindari tatapan Hara. Akan tetapi Hara justru makin mengeratkan pegangan agar Jenar tidak bisa menggerakkan kepala. Dia mendekatkan wajah, memaksa agar Jenar menatap matanya.
“Jenar! Lihat saya!” perintahnya tegas.
Mendengar namanya dipanggil, Jenar berhenti meracau. Bola matanya yang sejak tadi terus bergerak, perlahan mencari fokus. Dia menatap wajah pria berkaca yang hanya berjarak beberapa centimeter saja di hadapannya. Bahunya yang naik turun, lambat laun menemukan irama satu-satu.
“Saya ini pembunuh! Dia mati karena saya, mereka datang ingin membunuh saya.” lirih Jenar dengan mata basah menyebabkan pandangannya kabur.
Hara menggeleng tanpa mengubah arah tatapan matanya, “Tidak ada yang akan datang, kamu bukan pembunuh.”
“Dia mati karena saya! Mereka datang lagi, lihat!” Jenar kembali berseru dan mulai berontak.
Hara menahan kepala Jenar yang terus bergerak, sekali lagi dia berusaha mengembalikan kesadaran gadis itu, “Lihat saya!”
Setelah pandangan Jenar bisa fokus menatapnya lagi, Hara memaksa untuk terus beradu tatap dengannya. Dia seperti ingin masuk ke alam bawah sadar Jenar, guna mengambil kendali. Pria itu lalu memutar kepala Jenar ke samping kiri sambil berkata, “Sekarang coba lihat sekeliling kamu!”
Gadis itu menurut, seperti terkena hipnotis. Rupanya Hara berhasil mengambil kendali pada alam bawah sadar Jenar, hingga gadis itu mau melihat sekeliling. Suasana ramai, dengan semua orang sedang menatapnya. Jara berhasil membuat Jenar berangsur bisa mengendalikan diri. Pria itu mengambil kedua tangan Jenar yang masih berada di telinga, tapi telah pegangannya telah melemah. Dia menggenggam telapak tangan yang terasa sedingin es itu dengan lembut. Hara tidak bermaksud apa-apa selain ingin Jenar sadar dan bisa mengendalikan diri.
Sekarang lihat saya!” perintah Hara pelan seraya menarik tangan Jenar agar melihat ke arahnya.
“Siapa saya?” tanya Hara setelah memastikan kesadaran Jenar berangsur kembali.
“Kamu tidak sedang di tempat itu. Sekarang kamu berada di Magelang, bukan Surabaya. Kamu bersama saya, bukan orang-orang itu.” jelas Hara, berusaha membuat gadis bersimbah airmata itu tenang.
Jenar mengedarkan pandangan sekali lagi. Dia sudah bisa mengendalikan diri, walau belum sepenuhnya. Namun, tatapan orang-orang di sekitar yang nampak seperti mengintimidasi membuatnya kembali tidak nyaman. Gadis itu menarik tangan dari genggaman Hara dengan kasar, kemudian menelungkupkan kepala diantara dua lutut. Antara takut, marah, kecewa dan malu … emosinya bertarung menjadi satu.
Dia merasa sedang dihakimi oleh semua orang. Sontan airmata yang sempat berhenti kembali mengalir, membasahi wajah yang belum mengering. Jenar menangis, tersedu sambil memeluk lutut dengan erat. Hara merasa iba, sikap impulsif mendorongnya untuk menarik gadis itu kedalam pelukan. Mengabaikan tatapan mata penuh tanya semua pengunjung restoran dan karyawan, termasuk Danish dan Varen.
Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Hara. Pria itu hanya terus memeluk Jenar, membiarkannya menghabiskan tangis dalam dekapan. Menghindar dari tatapan semua orang, yang tidak tahu derita apa yang gadis itu rasakan.
"Kopi! Saya perlu kopi bubuk, sekarang!" teriak Hara setelah beberapa menit Jenar menangis.
.
.
.
Hayo, siapa yang deg-degan, tapi terus senyum-senyum? 😊
Staytune, ya, Teman-teman!😊