
🌹Perpisaham paling tragis adalah ditinggal tanpa kata pamit🌹
Jenar.
Aku tidak menyalahkan om Dito yang tak mengizinkanku pergi ke rumah sakit menggunakan taksi. Aku mengerti di sini om Dito adalah waliku, sudah sewajarnya ia berhak mengatur gerakku. Sebab ia yang akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padaku.
Aku tidak marah karena harus lama menunggu om Dito datang menjemput. Aku cukup mengerti kesibukan om Dito yang sedang menghadiri acara serah terima jabatan dengan kepala divisi baru yang akan menggantikan posisinya, saat aku menelpon tadi. Meskipun om Dito segera meninggalkan tempat acara saat itu juga, meskipun ia sudah memacu kendaraan dengan kecepatan maksimal, tapi jika Alloh sudah berkehendak maka manusia tidak akan bisa mengelak.
Begitu mendapat kabar dari Nalini kalau mas Ghufron sedang dalam keadaan kritis, aku segera menghubungi orang tuaku yang baru kemarin pulang ke Surabaya. Aku juga meminta kepada kak Aneesha dan seluruh keluarga besar untuk mendo’akan tunanganku itu.
Perasaan tidak enak, seperti akan terjadi sesuatu kuhempaskan. Kuhalau pikiran negatif dengan merapal do’a di sepanjang perjalanan, seperti yang om Dito katakan, “kita harus memperbanyak berdo’a, pasrah sama Alloh.”
Jarak antara kantor om Dito, kampus dan rumah sakit sebenarnya tidak terlalu jauh karena masih berada dalam satu kota. Namun, harus menempuh perjalanan memutar dengan kondisi lalu lintas yang padat, menyebabkan jarak yang tidak terlalu jauh itu menyita banyak waktu.
Begitu sampai di rumah sakit yang terletak di jalan kesehatan no 1 kecamatan Mlati kabupaten Sleman Yogyakarta ini, kami segera mencari ruang Instalasi Gawat Darurat. Tempat di mana mas Ghufron sedang mendapat perawatan.
Aku mendengar suara azan ashar berkumandang, ketika langkah kakiku dan om Dito sampai di depan ruang IGD. Kami kompak menghentikan langkah, bersamaan dengan munculnya pak Hara keluar dari pintu kaca besar, tertegun melihat kedatangan kami.
Pak Hara tidak mengatakan apapun, hanya menggelengkan kepala dengan raut wajah datar tanpa menunjukkan emosi apapun. Namun, hal itu cukup menjawab semua pertanyaan yang berkelebat dalam benak. Cukup bisa menggambarkan situasi yang sedang kami hadapi.
Aku merasa dunia di sekelilingku berputar dengan gerakan yang sangat cepat. Lututku terasa lemas hampir tidak bisa menopang tubuhku untuk tegak berdiri. Seandainya om Dito tidak cepat meraih bahuku, mungkin aku sudah terjatuh seriring dengan cairan bening keluar dari pelupuk mata tanpa bisa kucegah lagi.
Atap rumah sakit seperti runtuh menimpa kepalaku dan lantai di sekitarku luluh lantak. Dadaku sesak tak tertahankan, hatiku terkoyak, patah kemudian hancur berkeping-keping. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain merintih … ya Alloh! Harus seperti inikah takdirMu?
Om Dito membimbingku duduk di kursi tunggu depan ruang IGD dengan tanpa melepas rengkuhan. Kuhabiskan tangis dengan menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan. Tangisku makin menjadi meski berulang kali om Dito berusaha menenangkan seraya mengusap bahuku.
“Sabar ….”
“Ikhlas ….”
“Sudah jalannya Ghufron harus seperti ini.”
“Kamu yang ikhlas, jangan menjadi penghambat jalan buat Ghufron menghadap Alloh. Ikhlaskan, ya.”
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh om Dito perlahan menarik kesadaranku. Aku berusaha menghentikan tangis, kuusap wajahku yang basah dengan punggung tangan. Kutarik napas panjang, berusaha menghentikan isak.
“Apa boleh saya melihat jenazahnya, Om?”
“Yakin kamu kuat?”
“Insya Alloh, Om.”
Aku merapikan jilbab yang basah oleh airmata, kuusap sekali lagi wajahku sebelum beranjak. Pak Hara mengantar kami masuk ke ruang IGD. Ia sempat bersitegang dengan petugas yang tak mengizinkan kami masuk. Beberapa saat kami menunggu sampai akhirnya petugas memperbolehkan aku dan om Dito masuk ke ruang IGD. Entah apa yang dikatakan oleh pak Hara sampai petugas yang kelihatannya saklek itu luluh.
Begitu masuk ke ruang IGD aku disuguhi pemandangan yang membuat dadaku yang sesak makin terasa terhimpit. Beberapa brankar tertutup tirai putih menandakan ada pasien yang sedang ditangani. Berjalan lurus melewati brankar-brankar itu, aku menuju ke salah satu brankar yang tirainya terbuka. Beberapa tenaga kesehatan baru saja selesai melepas alat bantu medis lalu pergi meninggalkan pasien dengan wajah penuh sesal. Menjalani profesi seperti mereka yang terbiasa dekat dengan kelahiran dan kematian, menyebabkan mereka harus siap untuk menghadapi keduanya. Ikut senang saat menyambut kelahiran, tapi akan merasa sangat menyesal jika harus melihat pasien menjemput maut.
Aku hanya bisa memejamkan mata, ketika Nalini berhambur memelukku sambil terisak. Meski sekeras mungkin aku berusaha menguatkan hati, tapi kenyataan yang kuhadapi tak bisa kupungkiri. Tak bisa aku menyembunyikan kesedihan yang menyeruak dari dasar hati. Pipi yang belum kering sempurna kini basah lagi oleh airmata.
Pak Haryo membuka selimut yang menutup wajah putranya, saat Nalini membawaku mendekati brankar. Aku melihat wajah teduh mas Ghufron memucat dengan mata tertutup rapat. Dia terlihat sangat tenang, seperti hanya sedang tertidur saja. Sungguh aku masih belum percaya jika raga mas Ghufron yang kulihat di hadapanku ini sudah tidak bernyawa.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiu’un ….”
Sesungguhnya kami milik Alloh dan hanya kepadaNyalah kami kembali.
Aku sangat mengerti makna dari kalimat yang baru saja kugumamkan, tapi rasanya masih sulit menerima kenyataan yang begitu menyesakkan ini. Mas Ghufron terlihat sehat, ia masih bugar tidak seperti orang sakit pada umumnya. Kemarin kami masih berbincang di telepon, pagi tadi bahkan kami masih saling berbalas chat.
Mengapa secepat ini? Apakah penyakit yang mas Ghufron derita memang sudah terlalu parah, hingga tidak bisa bertahan lebih lama lagi? Pemeriksaan menyeluruh bahkan belum dilakukan, bukan?
“Leukimia akut,” aku menoleh saat Nalini berkata dengan nada bergetar diantara isak, “dokter bilang, penderita akan mengalami sakit yang sangat cepat hanya dalam hitungan minggu.”
“Tapi mas Ghufron tidak terlihat seperti orang sakit, Lin.”
“Tadi pagi mas Ghufron masih kirim chat ke saya, Lin.”
“Kami sudah punya firasat sejak beberapa hari yang lalu, Mbak. Setiap ibu masak nasi pagi, siangnya sudah basi. Kami sekeluarga melakukan do’a bersama buat mas. Tapi firasat itu tidak membuat Lini siap menerima keadaan ini, Mbak.”
“Rasanya seperti mimpi, Lin. Katakan kalau ini hanya mimpi buruk, Lin!”
“Kita harus ikhlas, Mbak. Walaupun Lini nggak tahu, apa bisa Lini menghadapi hari esok tanpa mas. Mbak tahu sendiri Lini sudah biasa melakukan apa pun, pergi kemana pun bersama mas.”
Jika aku yang baru beberapa bulan dekat dengan mas Ghufron saja sesedih ini, bagaimana dengan Nalini yang seumur hidupnya selalu dekat dengan sang kakak? Dia pasti sangat sedih kehilangan pahlawan hidupnya.
Ya, Alloh … Mas! Kenapa secepat ini kamu pergi, padahal kita baru akan merangkai masa depan bersama. Aku baru saja bisa membuat peta masa depan yang kamu ajarkan, aku baru punya semangat untuk menggapai cita-cita, tapi kamu justeru meninggalkanku. Bagaimana bisa aku meraih asa sendiri, padahal kamu yang membimbingku merapahnya?
‘Kenapa kamu pergi tanpa pamit, Mas? Kamu tahu apa yang kurasakan saat ini? Berharap matamu terbuka dan kamu hanya sedang tidur.’
Pak Haryo menarik selimut, kembali menutup wajah mas Ghufron. Aku diam dalam tangis, terisak dalam pedih. Sungguh tragis kisahku dengan mas Ghufron. Perasaan cinta yang baru beberapa saat bersemayam dalam hati, kini berubah menjadi lara karena ia pergi tanpa kata pamit.
“Insya Alloh husnul khotimah predikatmu, Mas.”
Nalini mengambil tanganku, kami saling menggenggam seraya mundur beberapa langkah. Om Dito mengusap kepala dan punggungku, berusaha menenangkan.
“Kami belum memberi kabar kepada siapa pun.” ucap pak Haryo setelah aku dan Nalini berangsur tenang.
“Jangan memberi kabar kepada yang lain dulu, sebelum bu Nuning tahu. Sebaiknya ada yang pulang untuk memberi tahu bu Nuning secara langsung. Tidak baik kalau hanya melalui telepon.”
Pak Haryo mengangguk membenarkan ucapan om Dito, “istri saya pasti sangat terpukul. Walaupun kami sudah memikirkan kemungkinan terburuk, tapi saya tidak pernah menyangka akan secepat ini.”
“Kita bagi tugas saja,” kata om Dito. “Ada yang tetap di sini mengurus pemulangan jenazah, ada yang pulang memberi kabar kepada bu Nuning sekaligus menyiapkan pemakaman.”
“Saya di sini,” jawab pak Haryo.
“Saya juga di sini untuk mengurus semua administrasi,” kata pak Hara.
“Kalau begitu saya yang pulang, Jenar dan Nalini ikut saya pulang. Nanti Nalini bicara pelan-pelan sama bu Nuning, biar tidak terlalu shock. Tidak dipungkiri ini adalah berita mengejutkan bagi kita semua.”
Om Dito, pak Haryo dan pak Hara sibuk membicarakan semua hal terkait pemulangan jenazah mas Ghufron dan pemakaman. Pak Haryo minta pemakaman harus dilaksanakan hari ini juga, “pemakaman harus disegerakan,” begitu kata pak Haryo.
“Saya kirim orang ke rumah duka untuk membantu, agar keluarga pak Haryo tidak terbebani.” pak Hara adalah orang paling sibuk diantara kami semua. Dia tidak hanya memikirkan masalah administrasi rumah sakit, tapi juga persiapan pemakaman.
“Saya akan menelpon istri saya biar langsung datang ke rumah duka, kelamaan kalau saya harus pulang dulu menjemputnya. Sesama perempuan insyaalloh bisa berbicara dari hati ke hati dengan bu Nuning.” ujar om Dito.
Setelah paham apa saja yang harus kami lakukan masing-masing, om Dito mengajak aku dan Nalini pulang. Sebab kami harus memberi kabar kepada bu Nuning dan mempersiapkan rumah duka untuk menerima kedatangan jenazah. Entah bagaimana nanti kami harus memberi tahukan kabar duka ini kepada bu Nuning. Beliau pasti sangat sedih, pasti sangat menyesal tidak bisa mendampingi putranya di saat-saat terakhir.
Walau semua sudah digariskan oleh Alloh, meskipun takdir ini adalah kehendak Alloh. Namun, sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju rumah duka, aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Masih berharap jika semua ini hanyalah mimpi dan aku segera terbangun dengan keadaan yang berbeda.
Namun, yang kudapatkan justeru pesan singkat dari kak Aneesha di Jakarta.
[Dek, kamu yang sabar, ya. Insya Alloh Ghufron husnul khotimah. Kak Reyfan sedang siap-siap berangkat ke Jogja secepatnya.]
Menjelaskan bahwa apa yang terjadi begitu cepat ini adalah kenyataan, bukan sebuah mimpi buruk. Inikah perpisahan yang paling tragis, patah hati paling sakit yang kualami. Aku harus menerima kenyataan dan takdir Alloh. Harus berlapang dada, karena ditinggal tanpa kata pamit ... meskipun sangat sulit rasanya aku menerimanya.
.
.
.
Bersambung....