
🍁Pernah mendengar sebuah suara yang terdengar biasa, tapi bisa membuat pikiran dan perasaan menjadi tenang? Bisa jadi saat itu, Alloh berhendak menyentuh hatimu.🍁
Hara.
Mata terasa perih dan kepala sedikit pusing, rasanya ingin tidur seharian. Malas sekali beraktivitas, karena tenaga seolah habis terkuras oleh kesibukan. Tidak ingin Cecilia merasa kesepian, beberapa hari ini, aku menemaninya pemotretan dari pagi hingga sore. Malamnya aku pun masih harus melaksanakan tanggung jawab pekerjaan-sebagai sopir Kyai Ali. Nyaris tidak punya waktu untuk istirahat, bahkan sampai lupa harus mengawasi pekerjaan renovasi rumah Aneesha.
Semalam Mas Faiz mengirim chat, ada hal penting yang harus kami bicarakan. Oleh karena itu, pagi ini aku langsung menuju ke Magelang. Setelah memastikan keadaan Cecilia baik-baik saja dan sudah menuntaskan pekerjaan dari Kyai Ali.
Apa hendak dikata, sebagai seorang pesuruh sepertiku memang harus melaksanakan titah, tanpa bisa membantah.
Matahari pagi bersinar cerah, hangat perlahan mengusir dinginnya pagi. Menembus celah-celah dedaunan, menguapkan titik-titik embun pada rerumputan. Rumah Aneesha masih sepi ketika aku datang, hanya ada Mbak Sayumi yang nampak sedang menyapu halaman belakang. Sepertinya aku datang terlalu awal, sehingga para tukang bangunan belum kelihatan batang hidungnya.
Keadaan sekeliling rumah sangat kacau. Bangunan baru di sisi kanan, baru setengah jadi. Sementara itu bahan-bahan bangunan tersimpan di pendopo dan sebagian memenuhi teras depan. Sisa-sisa bongkaran dinding dan ubin berserakan di mana-mana. Hanya kamar, toilet dan dapur, bagian dari bangunan yang belum tersentuh renovasi.
Aku memilih untuk duduk di sisi rumah yang dindingnya masih utuh. Tepatnya, di depan kamar Aneesha yang berhadapan dengan kolam ikan. Kebetulan ada kursi rotan di sana, seperti sengaja disiapkan untukku saja.
Aku menghela napas, meluruskan kaki sambil menyandarkan punggung pada sandaran kursi. Sunyi, membuat rasa lelah tak terasa menghampiri. Aku membuka tutup botol yang sejak tadi kupegang. Dalam keadaan seperti ini, aku sangat butuh sesuatu agar tetap terjaga.
Mumpung sepi, tidak akan ada yang melihatku minum wis-ky di sini. Sebenarnya bukan karena takut ketahuan orang lain aki minum, tapi aku hanya menghormati nasehat Kyai Ali dan Mbak Nabila saja. Mereka selalu melarangku minum. Menurut mereka, kalau lelah dan mengantuk, lebih baik tidur dari pada minum alkohol. Mereka tidak tahu saja, kalau orang sepertiku kadang tidak punya waktu untuk sekedar menikmati istirahat dengan tidur. Aku justru membutuhkan minuman seperti ini, agar tidak tidur.
Aku memejamkan mata, setelah meneguk isi dalam botol. Sayup-sayup terdengar suara perempuan. Aku harus menajamkan pendengaran, karena suara itu terlalu lirih, nyaris tak terdengar. Sepi membuatku bisa menerka bahwa suara itu berasal dari dalam kamar. Dinding kayu yang menjadi pembatas, gak cukup menghalangi pendengaran.
Suara ini … nada dan irama yang indah, terdengar syahdu berpadu dengan suara sapu lidi bergesekan dengan tanah, gemericik air kolam dimainkan ikan dan nyanyian burung yang bertengger di ranting pohon. Ini seperti yang sering kudengar di rumah Pak Wawan, tapi nadanya lebih pelan dan indah. Siapa yang mengaji pagi-pagi begini? Tidak mungkin Mbak Sayumi, karena dia masih sibuk menyapu daun-daun kering.
Siapa pun pemilik suara itu, telah berhasil menelusup relung hati dan menenangkan pikiran. Angin yang bertiup pelan, sinar matahari sepenggalah, perpaduan yang serasi menambah syahdu suasana. Lelah kini amat terasa dan kantuk pun datang tanpa bisa dicegah. Aku terbuai akan suasana.Tidak ada salahnya, kan, kalau aku tidur sebentar sebelum para tukang bangunan datang?
Entah berapa menit aku tertidur, sampai tak terdengar lagi suara orang mengaji. Lelapku terusik dengan suara kunci jendela dibuka. Dalam keadaan setengah sadar, bahkan mata pun masih terpejam, aku sedang berusaha mengumpulkan nyawa yang berkelana di alam mimpi. Tiba-tiba merasakan keningku terhantam sebuah benda.
“Aduh!” Reflek aku memekik, karena terkejut sekaligus menahan rasa sakit.
Begitu berhasil membuka mata, aku mendapati daun jendela tepat berada di depan mata. Aku mengelus kening yang berdenyut dan perih, dalam hati memaki siapa pun yang membuka jendela sembarangan hingga ujungnya mengenai keningku.
“Astagfirullohal’adzim!”
Aku menoleh ke samping kiri, saat daun jendela bergerak menjauh dari hadapan. Nampak Jenar menutup mulut dengan telapak tangan, melongok dari balik daun jendela. Matanya membola, layaknya orang yang sedang terkejut.
“Pak Hara ngapain di situ?”
Mendengar pertanyaan itu, sontan aku meradang. “Kamu ngapain buka jendela sembarangan? Nggak lihat ada orang di sini?”
“Ya, mana saya tahu bapak duduk di situ? Biasanya juga kosong nggak ada kursi, apalagi manusia!”
Keningku makin terasa perih berdenyut mendengar Jenar menggerutu. Siapa yang salah, siapa yang sakit? Malah dia yang menyolot, seolah tidak punya rasa bersalah sama sekali.
“Hei!” aku memekik lagi. Gegas berdiri, melihat Jenar hendak memanjat jendela.
“Mau apa kamu?” seketika lupa dengan rasa sakit di kening, sebab tingkah laku gadis itu membuatku khawatir.
“Mau keluar, Pak. Saya harus ke kampus.” jawab Jenar dengan santai. Dia ini kurang kerjaan atau apa? Memangnya tidak bisa keluar lewat pintu seperti biasanya? Mengapa harus memanjat jendela, seperti maling saja?
“Jalan keluar dari kamar banyak materialnya, Pak. Buat naruh tegel motif yang mau dipasang juga, jadi susah lewat. Biar cepet lewat sini saja.” ucap Jenar seraya membuka daun jendela lebih lebar.
“Maaf … permisi, ya, Pak!” Jenar melempar tas ke lantai begitu saja.
Ia benar-benar memanjat jendela. Padahal memakai baju gamis dengan jilbab yang lebar, tapi tidak mengganggu gerakan lincahnya sama sekali. Seperti sudah biasa memanjat jendela saja. Aku menggeleng, tidak habis pikir dengan tingkah bocah itu. Dia ini kadang terlihat pemalu, tapi makin sering bertemu malah seperti tidak punya malu.
“Ya Alloh, Pak Hara!” Jenar memekik, saat baru saja turun dari jendela. Dia menutup mulut dengan telapak tangan lagi, entah apa kali ini yang membuatnya terkejut.
“Kenapa?” tanyaku tidak mengerti.
“Kening bapak!” Jari telunjuk Jenar mengarah ke keningku, “Berdarah, Pak.”
Sontan aku memegang kening, terasa perih. Lalu mengecek telapak tangan, memang ada noda berwarna merah, bisa kupastikan itu adalah darah.
Tanpa menunggu jawaban, Jenar berlari menuju dapur. Sementara aku memilih duduk kembali, seraya menutup jendela agar tidak mengenaiku lagi. Tak berselang lama, Jenar sudah kembali dengan membawa sebuah kotak.
Aku membuka telapak tangan, meminta kotak obat yang dibawa Jenar. Segera kucegah gerakan tangannya yang hendak membuka kotak.
“Saya obati sendiri saja,” pintaku.
“Saya saja, nggak apa. Pak Hara, kan, terluka karena saya.”
Namun, aku jelas menolak bantuannya, “Saya bisa sendiri, dari pada kamu pingsan nanti.”
Dari ekor mata, aku bisa melihat Jenar menggeleng. Ia masih belum ingin menyerahkan kotak obat padaku.
“Hanya membersihkan dan mengobati luka kecil seperti itu, saya tidak mungkin sampai pingsan, Pak.” kilah Jenar.
Aku membuang napas. Berbicara dengan gadis lugu ini, memang harus memberi penjelasan secara detail. Kalau tidak, maka dia akan salah paham seperti ini.
“Bukan karena kamu takut luka atau darah, tapi itu-” aku mengarahkan dagu ke botol kosong yang terletak di dekat kursi.
“Saya habis minum alkohol, kamu bisa pingsan kalau dekat-dekat saya.” jelasku, sengaja menekankan kalimat terakhir.
“Tapi, Pak-”
Aku mendongak, mendapati wajah penuh rasa sesal yang tampak di hadapan. Memangkas ucapan Jenar, “Pergi saja! Nanti kamu kesiangan sampai kampus.
“Luka bapak bagaimana?” Dia masih saja keberatan, mungkin karena sudah merasa bersalah.
“Sudah kubilang, akan mengobatinya sendiri!” Aku paling tidak suka disanggah, apalagi oleh anak ingusan seperti Jenar.
“Bagaimana caranya? Memangnya bapak bisa lihat kening sendiri?” Sekarang kepalaku tambah berdenyut lagi, bukan hanya karena sakit, tapi kata-kata Jenar yang terdengar meremehkan.
Malas sekali berdebat dengan anak kecil. Kurebut kotak obat dari tangan Jenar, tanpa ingin menanggapi apa pun yang dia ucapkan. Beberapa jenak dia hanya berdiri, sedangkan aku sudah membuka kotak obat guna mencari cairan pembersih luka, obat merah dan plester.
“Pakai ini, Pak!” Jenar mengulurkan sebuah benda kecil berbentuk bulat, persis seperti sebuah bedak.
Aku mengernyit menatapnya, meminta penjelasan. Jenar membuka benda itu, dengan tangan terulur tepat di depan wajahku.
“Barang kali bisa membantu, agar bapak tidak kerepotan melihat lukanya.” Jenar seperti tahu apa yang sedang kupikirkan. Memang sulit mengobati luka, tanpa bisa melihat sendiri. Dengan menggunakan cermin pemberian Jenar, aku jadi bisa membersihkan luka dengan tepat.
“Terima kasih,” gumamku, tetap dengan nada ketus. Sebab, rasa kesalku padanya belum hilang sepenuhnya.
Jenar mengangguk. Tampak dia mengambil tas yang tadi tergeletak di lantai, lalu segera memakainya.
“Maafkan saya, ya, Pak. Gara-gara saya Pak Hara jadi luka. Besok lagi kalau duduk di bawah jendela, ngomong, dong! Biar saya tahu, jadi nggak buka jendela sembarangan."
Aku tidak menjawab, karena tengah sibuk membersihkan luka dan mengobatinya. Hari masih pagi, tapi aku sudah sesial ini. Sudah sakit, masih kena omel juga.
Kalau yang di depanku ini bukan adiknya Aneesha, sudah sejak tadi aku meluapkan amarah. Bukan karena luka kecil yang tidak seberapa, tapi penyebabnya yang tidak biasa. Reyfan dan Hamzah pasti tertawa jika tahu keningku terluka karena terpentuk jendela.
.
.
.
Bersambung....
Pak Hara terluka, nih, teman-teman. Kira-kira ini yang kesengsem duluan, Jenar atau Hara, ya? Jenar ternyata nggak jauh beda sama kakaknya, ya? Suka nekat gitu. 😂 Namanya juga baru beranjak dewasa, kadang memang perilakunya masih sedikit kekanak-kanakan, kan? Jadi sebenarnya bukan Jenar nggak tahu malu, sih. Iya nggak, sih?
Oya! Maaf, ya teman-teman. Untuk komentar di bab sebelumnya, saya tidak bisa membalas satu per satu. Terima kasih banyak yang sudah bersedia merelakan votenya untuk Jenar, dan meninggalkan komentar yang banyak. Saya teeharu.
Tetap ditunggu next bab, ya. Insyaalloh lebih sering kok, walau tidak tiap hari.😉💕❤