
*Aura kecantikan alami seseorang gadis terlihat saat ia sedang tidur lelap dan ketika baru saja bangun.*
Hara
“Makanannya belum datang, Pak?” tanya Jenar setelah menarik kutsi, lalu duduk di depanku.
“Belum,” jawabku singkat, sambil menggerus rokok. Pertanyaan basa-basi yang sudah jelas jawabannya. Apa dia tidak lihat baru ada secangkir kopi dan sebotol air mineral di atas meja? Masih saja tanya makanan belum datang.
“Pelayanan di sini memang terkenal lama, soalnya nggak nyetok. Jadi semua pesanan dimasak dadakan.” tutur Jenar.
“Hafal banget, sering makan di sini?” tanyaku asal.
Aku melihat Jenar mengeluarkan ponsel sambil menjawab, “Beberapa kali Mas Ghufron ajak saya ke rumah makan seperti ini di Jogja. Meski tempatnya beda, tapi menu, harga dan pelayanannya sama. Sama-sama lama.”
Jenar memainkan jemari di atas layar ponsel, tersenyum sambil menggeleng. Nampak cekungan kecil di kedua pipinya, menampilkan kesan manis pada wajah oval kecoklatan itu.
“Pak Hara keburu lapar pasti, ya?” Jenar celingukan seperti sedang mencari sesuatu.
“Perlu dikomplain ini kayaknya.” ia menggerutu sendiri, padahal aku tidak mempersoalkan pesanan makanan yang belum dihidangkan.
Gadis itu sudah beranjak, tapi belum sempat melayangkan komplain, pramusaji sudah datang membawa pesanan. Laki-laki bertubuh tinggi kurus itu menyebutkan satu per satu jenis makanan yang kupesan sambil memindahkannya dari nampan ke atas meja, lalu ia membaca nota pesanan.
“Ayam goreng, sayur asem, jamur goreng tepung, trancam, dan nasi putih … kopi hitam dan air mineral. Pesanannya sudah lengkap semua, ya?” aku meneliti makanan yang tersaji, ada satu yang menurutku aneh.
“Ini apa, ya, Mas? Sepertinya saya tidak pesan ini,” aku menunjuk sayuran mentah yang ditaburi kelapa parut warna kecoklatan di atasnya.
“Ini trancam, Pak. Di sini ada pesanan trancam satu,” pramusaji menunjukkan nota pesanan padaku. Benar ada tulisan angka satu pada kolom di sebelah nama makanan itu. Sepertinya aku salah menulis pesanan.
“Pak Hara salah pesan, ya?” Jenar bisa menebak isi pikiranku.
Tentu saja aku tidak menjawab, malas mengakui kesalahan. Memilih berterima kasih kepada pramusaji, agar segera pergi. Lebih baik segera makan, dari pada memperpanjang urusan yang tidak terlalu penting.
“Pak Hara nggak pesan sambal? Ayam goreng dimakan tanpa sambal memangnya enak?” Sejak kapan Jenar jadi banyak bicara? Setelah tadi mengoceh tentang terapisnya yang baik dan ramah, kini ia mengomentari makanan yang kupesan.
“Sambal di sini macam-macam, lho, Pak. Dari yang biasa sampai level terpedas, semua enak dan murah. Saya sudah mencobanya.” Dia seperti seorang sales promotor girl yang sedang mendemonstrasikan produk jualannya.
Membuatku tergerak ingin menimpali, “Sama Ghufron?”
Aku bisa melihat air muka Jenar berubah. Ia mengambil ponsel yang tadi sempat diletakkan di atas meja, lalu memainkannya.
“Saking seringnya makan sama Ghufron, jadi kamu sudah coba semua sambal di rumah makan seperti ini?” aku mengulangi pertanyaan yang belum terjawab. Entah dorongan dari mana yang membuatku haus oleh rasa ingin tahu.
“Nggak selalu, sih, Pak. Lebih sering pergi sama keluarganya Om Dito.” jawab Jenar pelan, hampir tidak terdengar jelas di telingaku.
“Sudah lama jalan sama Ghufron?” Jenar sudah sibuk dengan ponselnya, tapi aku masih ingin mengorek keterangan darinya.
“Jalan?” Ia mengalihkan fokus dari ponsel. Hanya sejenak, jelas terlihat dahinya berkerut. Apa mungkin aku harus memperjelas pertanyaan?
“Kalian pacaran sudah berapa lama?”
Jenar kembali memainkan ponsel seraya menjawab singkat, “Kami tidak pacaran.”
“Sering pergi berdua, apa namanya kalau tidak pacaran?” Sebuah pertanyaan bodoh yang kusesali, karena terkesan menghakimi.
“Mas Ghufron selalu mengajak Nalini saat kami bertemu, saya juga sering sama keluarga Om Dito atau Aina. Jadi jarang kami pergi hanya berdua,” ungkap Jenar dengan nada yang terdengar sendu.
“Ini kenapa Pak Hara jadi banyak tanya tentang saya dan Mas Ghufron, ya? Seperti sedang wawancara saja.” Jenar jadi terlihat malas, padahal aku masih ingin tahu ceritanya dengan Ghufron.
“Dimakan, Pak! Nanti keburu dingin, nggak enak, loh!” ucap Jenar, menepis niatku untuk bertanya hal lain lagi.
Aku mengambil sendok dan garpu. Sempat meminta persetujuan sebelum mulai makan, “Nggak pa-pa ini saya makan di depan kamu?”
Jenar menutup mulut, mungkin sedang menahan tawa. Lalu bertanya padaku, “Memangnya kenapa? Pak Hara takut saya minta makanannya?”
Aku menghela napas, “Nanti saya dikira tidak mengamalkan sila ke tiga pancasila, tidak menghormati pemeluk agama lain yang sedang beribadah. Lancang makan di depan orang yang sedang puasa.” jawabku setengah menggerutu, tapi Jenar justru tertawa. Padahal tidak ada kata-kata yang lucu.
“Saya bukan bendera, Pak. Jadi tidak perlu dihormati!” Receh sekali gurauannya, tapi benar juga, sih. Tak ayal, aku pun ingin tertawa, tapi kutahan.
“Kalau sudah tertanam niat dalam hati, meski digoda dengan rayuan setan paling provokatif sekali pun, insyaalloh tidak akan goyah.” Jenar melanjutkan jawaban.
“Eh! Maaf, Pak Hara. Itu hanya perumpamaan, saya tidak bermaksud menyebut bapak setan, loh.” Hampir saja aku murka, kalau dia tidak segera meralat ucapannya.
“Lagi pula saya sudah terbiasa puasa sunah sejak sekolah, jadi tidak masalah mau di dekat saya ada orang makan, minum, bahkan jika harus masak pun insyaalloh tidak ada tergoda untuk mencicipi.” jelasnya.
“Bisa, dong! Tumis sayur, udang asam manis, sambel goreng, pepes nila, lesah, soto, kari ayam, bahkan masak rendang juga saya bisa.” Jenar menyebutkan banyak nama masakan dengan penuh percaya diri.
Aku jadi ingat pernah makan mie instant buatan Jenar yang rasanya seperti masih tertinggal di lidah. Mungkin karena aku tidak biasa makan mie instant jadi rasanya lain dari pada yang lain.
“Dalam bentuk mie instant?” tebakku meremehkan ucapan Jenar.
“Ih! Pak Hara, kok, gitu. Saya beneran bisa masak, bukan hanya mie instant!” Aku mengangkat bahu, tanda tidak yakin dengan jawabannya.
“Ya, sudah kalau Pak Hara nggak percaya.” gerutu Jenar.
Dia mengambil earphone dari tas, lalu memakainya. Sejenak kemudian dia meletakkan ponsel di atas meja, menggunakan tempat tissue sebagai penyangga agar ponsel bisa tegak. Sementara itu, aku belum mulai makan, melihat wajah cemberut Jenar yang menarik perhatian.
“Makan saja yang tenang, Pak. Saya juga akan nonton dengan tenang,” nada bicara Jenar masih menggerutu.
Untuk pertama kali ada seorang gadis yang berani merajuk padaku. Bahkan Cecilia-yang paling dekat denganku-pun tidak pernah merajuk. Anehnya aku tidak marah, malah ingin tertawa rasanya. Sebab, gerakan bibir Jenar-menggerutu tanpa suara-terlihat lucu, menggemaskan.
Jenar sudah tenggelam menonton entah video apa yang dia putar di ponsel, aku pun mulai mengisi perut yang kosong karena terlambat makan siang. Suasana rumah makan makin ramai, pengunjung silih berganti, ada yang datang dan pergi. Beberapa pramusaji sibuk beraktivitas, ada yang mengantar pesanan, membersihkan meja bekas pengunjung, juga menerima pesanan baru.
Terbiasa makan dengan cepat, aku jadi tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan. Kata Pak Reza, kualitas kecepatan kinerja seseorang bisa dilihat dari lamanya makan. Semakin cepat dia makan, maka waktu menyelesaikan pekerjaan pun akan cepat juga. Aku menanamkan hal itu dalam pikiran, makan tidak perlu dilama-lamakan.
Aku membasahi kerongkongan dengan air mineral, setelah semua makanan habis-kecuali trancam. Sempat kucicipi sedikit sayuran mentah itu, tapi rasanya aneh. Lidahku menolak untuk memakannya.
Kemudian, aku melongok ke arah Jenar yang duduk di hadapan. Dia menyandarkan kepala di atas meja, bertumpu pada tangan yang terlipat. Aku harus memajukan badan, untuk melihat wajahnya. Mata Jenar tertutup rapat dengan mulut sedikit terbuka. Pantas saja dari tadi tidak bersuara atau bergerak, ternyata dia tertidur.
Ya, Tuhan! Gadis ini terlalu cuek atau bagaimana? Bisa-bisanya tidur dalam keadaan ramai, di depan laki-laki pula. Benar-benar tidak menjaga image seorang perempuan.
Ponsel dalam saku bergetar lama, tanda ada panggilan masuk. Segera kuambil, ingin tahu siapa gerangan yang menelpon. Nama Cecilia yang tertera pada layar lengkap dengan foto centilnya. Belum sempat aku menerima, panggilan sudah berakhir. Biarlah! Kalau penting, nanti juga dia telepon lagi.
Pandanganku kembali tertuju pada Jenar. Wajah tidurnya nampak teduh, dengan bulu mata yang lebat dan panjang. Aku tergerak untuk mengabadikan moment langka ini. Jarang-jarang, kan, bisa melihat wajah asli seorang gadis saat sedang tidur? Mungkin ini alasan mengapa pangeran dalam cerita dongeng sleeping beauty, bersedia mencium putri yang sedang dikutuk itu. Ternyata gadis yang sedang tidur terlihat lebih cantik natural.
Ponsel kuletakkan di atas meja, menumpu dagu dengan tangan kiri. Memanfaatkan kesempatan untuk menikmati wajah gadis yang begitu tenang lelap di hadapan. Kurasakan silir angin berembus dari samping kiri dan suara gemuruh aliran sungai terdengar seperti nyanyian melodi alam. Terik sinar matahari menembus celah pepohonan, membuai raga.
Rumah makan berlantai dua ini terletak di pinggir jalan utama kota Magelang, berhadapan dengan rumah sakit paling terkenal seantero kota. Bagian belakang rumah makan berbatasan dengan sebuah sungai besar. Memang pas aku memilih tempat duduk paling tepi, jadi bisa menikmati suasana alam, bukan lalu-lalang kendaraan.
Getar ponsel di atas meja membuyarkan lamunan. Berhasil mengusik tidur Jenar, terlihat tubuhnya bergerak. Aku mengambil ponsel, melihat siapa yang menelpon. Namun, gerakan Jenar menggeliat lebih menarik dari pada ponsel yang terus bergetar. Dia merentangkan tangan di atas meja, menggeliat sambil berusaha menegakkan badan. Bibirnya mengerucut, lengkap dengan alis yang hampir menyatu. Sungguh! Itu terlihat … sangat seksi.
“Pak Hara sudah selesai?” Jenar bertanya sambil mengusap wajahnya.
Entah kenapa suara paraunya membuatku kesulitan menelan ludah. Tanganku terulur hendak mengambil botol untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba terasa sangat kering. Namun, justru yang kuambil adalah cangkir berisi kopi yang hampir tandas. Bukannya lega, malah pahit sekali yang terasa. Sontan membuatku terbatuk, ini kenapa aku jadi salah tingkah, ya? Jenar terlihat membereskan barang-barang, sedangkan aku hendak mengalihkan kegugupan dengan mengangkat panggilan telepon.
“Mau ke mana?” kutarik tangan Jenar yang tergesa hendak beranjak.
“Pak Hara terima telepon saja dulu, saya mau bayar ke kasir.” jawabnya menunjuk ponsel yang terus bergetar di tanganku.
“Jangan!” Aku tidak setuju dengan jawabannya, “Nggak usah! Saya bayar sendiri saja.”
“Nggak apa, kok, Pak. Makanan segini nggak akan sampai lima puluh ribu bayarnya.” Jenar seperti hafal sekali jumlah harga makanan yang kumakan.
Namun, aku benar-benar tidak setuju dia pergi ke kasir. Bukan karena harga makanan yang tak seberapa, tapi tidak ingin wajah kusut Jenar dilihat oleh orang banyak.
“Cuci muka dulu, sana! Tidur sampai ileran!” ucapku asal, sambil berlalu, mendahului Jenar menuju kasir. Aku yakin dia pasti percaya dengan tipuanku, sebab tak secepat kilat dia pergi menuju anak tangga, pasti hendak mencari toilet. Menyenangkan juga bisa mengerjai gadis lugu itu.
.
.
.
Bersambung....
Hai, teman-teman! Apa kabar? Long, long, long time no see, ya? 😉
Semoga teman-teman semua dalam keadaan baik, sehat wal afiat dan bahagia, aamiin. Dari hati terdalam, saya minta maaf sekali baru bisa melanjutkan cerita ini sekarang, setelah bertapa sekian purnama 😂. Terima kasih banyak, untuk kalian yang tetap setia menanti kelanjutan cerita mbak Jenar dan Abang Hara, padahal lama sekali terabaikan. 😁
Sebenarnya bukan maksud saya mendiamkan mereka, tapi memang karena kesibukan yang tidak bisa diwakilkan, hehe. Walau bagaimana pun, insyaalloh saya tetap akan bertanggung jawab menuntaskan cerita ini sampai akhir. Pelan-pelan, ya. Karena saya masih dalam fase menghidupkan kembali feel terhadap mereka, setelah tersita oleh Naufal dan Seroja. hehe.
Untuk kabar lainnya, bisa ikuti sosial media saya, ya. Insyaalloh pelan-pelan mulai aktif lagi. Terima kasih sekali lagi atas perhatian,, do'a dan penghargaan terbaik yang teman-teman berikan. Semoga dibalas dengan kebaikan pula, aamiin. 💕💕
Eh, sudah terlihat percik-percik cinta dari Pak Hara, nih. Kira-kira akan berlanjut, jalan di tempat, atau malah pupus begitu saja, ya? Stay tune episode selanjutnya, ya. Kapan, mbak? Ehm ... belum bisa jawab. 😁