Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
33. No Time To Take A Rest


🍁 Aku merasa sedang tersesat di padang ilalang. Sepanjang yang kulihat, hanya hamparan ladang gersang, kosong tak berpenghuni. Tak ingin aku menetap dalam hamparan gersang ini, jiwaku merasa aku harus mencari jalan pulang. Walaupun aku tahu, jalan yang akan kulalui tidak semudah perkiraanku.🍁


Hara.


Semakin lama aku tinggal di rumah pak Wawan, aku makin tidak bisa memahami tentang perasaanku sendiri. Aku sering tiba-tiba bangun pada dini hari yang sepi, ketika semua orang masih bergelung selimut. Seperti ada yang membangunkanku, padahal seluruh penghuni rumah masih tertidur.


Ketika mendengar suara teriakan dari pengeras suara masjid, entah mengapa dadaku selalu berdesir hebat. Ada perasaan asing yang menyelinap dan aku tak tahu itu apa. Perasaan itu seperti mendorongku untuk menajamkan telinga demi menghayati seruan.


Aku tak bisa lagi berkilah ketika mbak Nabila dan mas Akmal memergokiku sedang menghalau gejolak setiap kali aku mendengar Naufal membaca rangkaian do’a sebelum tidur. Aku tidak lagi bisa berbohong kepada mereka tentang apa yang kurasakan, tentang apa yang membuatku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku di Jakarta, demi mencari ketenangan.


Baik pak Wawan, mbak Nabila maupun mas Akmal tidak serta-merta memberi kesimpulan mengenai ceritaku. Mereka cukup bijaksana, memintaku merapah rasa sekaligus asa. Mereka bersedia membantu, tapi tetap keputusan akhir ada di tanganku.


“Kalau mbak boleh bilang, mungkin jauh di dasar hatimu ingin menjadi seperti kami. Tapi kami tidak bisa memaksa, Hara. Karena keyakinan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.” Itu kata mbak Nabila saat aku bercerita tentang rasaku padanya.


“Jika saya berpindah keyakinan menjadi seperti kalian, apa mungkin do’a saya sampai ke mama di sana?” Tanyaku waktu itu.


“Tidak semudah itu, Hara.” Mas Akmal menggeleng, “Alloh mengabulkan do’a orang-orang yang berdo’a dengan yakin kepadaNya.”


“Itu artinya, hanya do’a dari orang-orang yang beriman kepadaNya lah yang Alloh dengar. Mana mungkin Alloh mengabulkan do’amu, sedangkan kamu tidak memercayai kehadiranNya.” Pak Wawan menambakan penjelasan mas Akmal.


“Lalu apa yang harus saya lakukan?”


“Yakini dulu dalam hatimu, cintai dulu islam sampai ke dasar hatimu, rasakan kehadiran Alloh meskipun kamu tidak bisa melihatNya, seperti kamu merasakan adanya udara yang tidak berbentuk, tidak berwarna dan tidak berupa.”


“Islam bukan hanya tentang mengucap dua kalimat syahadat, tapi ada yang harus diyakini, yakni 6 hal. Alloh, malaikat Alloh, kitab Alloh, Nabi dan Rosul, hari akhir serta qodlo dan qodar."


“Jika itu semua sudah kamu yakini dan cintai, maka tanpa kami minta pun kamu pasti dengan senang hati mengucapkan dua kalimat syahadat.”


“Dimana saya bisa mendapat keyakinan tentang itu semua, Pak?”


“Belajarlah, Hara! Cari tahu tentang islam, bukan hanya dari membaca buku atau aplikasi pencarian paling mutakhir abad ini. Tapi belajarlah dari guru yang bisa menuntunmu.”


Aku telah melalui hari-hari dalam masa pencarian dengan banyak berdiskusi dan membaca buku. Aku rela mengeluarkan uang lebih banyak hanya untuk membeli buku-buku berhalaman tebal yang sekiranya bisa menghilangkan dahagaku.


Bukan hanya itu, aku juga sering mendengarkan ceramah para kyai-kyai melalui aplikasi me-tube. Apapun kulakukan demi memuaskan rasa ingin tahuku tentang agama yang dianut mama dan keluarga pak Wawan.


Tapi ternyata itu bukan hal yang mudah. Benar kata pak Wawan, mencari tahu tentang islam, tak bisa hanya kulakukan dengan membaca buku, berdiskusi atau nonton ceramah para kyai. Kata mbak Nabila, aku membutuhkan seorang guru yang punya pengetahuan luas dan bisa membimbingku. Ia memintaku tinggal di pesantren kyai Ali agar bisa lebih konsentrasi mencari tahu dan belajar tentang islam.


Namun, ketika baru sedikit aku mereguk suasana damai pesantren. Ketika aku hampir bisa beradaptasi dengan kegiatan di sana yang seolah tiada henti. Justru Reyfan memberiku perintah mengejutkan.


Sepertinya aku belum ditakdirkan untuk memikirkan hidupku sendiri. Sebab disaat aku sedang menepi dari hiruk pikuk gemerlapnya dunia yang justru membuatku sepi pun, aku masih belum bisa mendapat ketenangan. Rupanya aku masih harus mengurus masalah orang lain, tepatnya masalah Reyfan.


Sore itu aku sedang membantu mbak Nabila mengupas singkong untuk dibuat cemplon. Hari ini, pesantren sedang ada acara ziarah makam bersama, jadi aku memilih pulang ke rumah pak Wawan dari pada sendirian di pesantren.


Ketika Naufal berlarian dari dalam rumah seraya menunjukkan ponsel yang berbunyi nyaring. Aku tersadar bahwa aku belum bisa meninggalkan pekerjaanku demi mencari ketenangan.


“Om! Om! Hpne muni.” (Hpnya bunyi.)


Aku hanya melihat sekilas. Nama Reyfan terpampang jelas pada layar, tapi karena tanganku kotor jadi kuabaikan. Lagi pula, aku sudah bilang padanya tempo hari, tidak ingin diganggu pada masa cuti.


“Oh! Biarin aja, nggak penting,”


Naufal urung memberikan hp, bocah itu mengambil bangku pendek lalu duduk tak jauh dariku. Suara dering panggilan sudah berhenti, ia melanjutkan menonton pagelaran wayang kesukaannya. Sejenak kemudian, bocah itu kembali menunjukkan layar ponsel padaku, “Om! Muni meneh.” (Bunyi lagi.)


Aku ingin mengabaikan lagi panggilan itu, tapi mbak Nabila memintaku mengangkatnya, “siapa tahu penting, Hara.” begitu kata mbak Nabila.


Kutinggalkan kegiatan mengupas ubi, mencuci tangan sebelum meminta hp yang masih dibawa Naufal. Ponselku telah berhenti berdering, menampilkan ratusan pemberitahuan pesan dan panggilan masuk. Anak kecil itu sempat memprotes saat memberikan ponsel padaku, “mengko nonton meneh, lho, Om.” (Nanti nonton lagi, lho, Om.)


“Iya, nanti.” Kuusap kepalanya sebelum aku mendudukan diri di lantai.


Aku membuka aplikasi berkirim pesan paling populer saat ini, mengabaikan beberapa pesan yang masuk. Hanya ingin membuka puluhan chat dari Reyfan saja. Mbak Nabila benar, pasti ada hal penting kalau sampai Reyfan berkali-kali mengirim pesan yang sekilas intinya sama.


[Hara! Angkat telponku, penting!]


[Please Hara! Angkat sebentar saja.]


[Hara, please! Ini menyangkut nyawa seseorang.]


Awalnya pesan Reyfan masih biasa walau terkesan buru-buru, tapi lama-lama ia seperti tidak sabar karena aku tak kunjung mengangkat telepon.


[Aku akan membunuhmu sekarang juga, kalau kamu masih mengabaikan panggilanku!]


Aku tidak melanjutkan membaca pesan sampai akhir, segera kusentuh ikon telepon di bagian atas room chatku dengan Reyfan. Tak kusangka suara Reyfan terdengar kalut seperti sedang diburu sesuatu.


“Alhamdulillah! Akhirnya kamu sadar juga, Hara. Kukira kamu sudah tidak sayang nyawa sampai berani mengabaikan panggilanku.”


“Ada apa?”


“Ini penting, Hara! Tolong! Carikan donor trombosit untuk pasien di ruang VVIP nomor 1A rumah sakit akademik Jogja. Hamzah tidak bisa langsung ke sana, tapi dia sudah minta bantuan dokter Hadyan.”


“Siapa yang sakit?”


“Jangan banyak tanya! Cepat berangkat! Sekalian kamu urus semua administrasinya. Kamu paham, kan, maksudku?”


“Tapi aku harus tahu-,” aku tidak jadi melanjutkan kalimat, karena terdengar nada sambungan telepon terputus dari seberang sana, “Rey! Rey!” Reyfan memutus sambungan telepon secara sepihak. Membuatku bingung harus melakukan apa.


“Tidak apa-apa, Hara.” aku merasa ada nada khawatir pada jawaban mbak Nabila, tapi aku tidak punya waktu memikirkannya.


Tanpa banyak pertimbangan, aku masuk ke dalam kamar untuk ganti baju. Sebentar kemudian aku keluar lagi. Satu hal yang melintas di otakku adalah Aneesha, dia satu-satunya orang yang bisa membuat Reyfan sepanik ini sampai menghubungiku yang jelas-jelas sudah minta ijin cuti padanya. Apa telah terjadi sesuatu dengan Aneesha? Tapi kenapa di Jogja? bukanka mereka berada di Jakarta?


Ah! Entahlah, sebaiknya aku segera pergi ke rumah sakit seperti yang diperitahkan oleh Reyfan. Satu-satunya cara agar aku bisa sampai dengan cepat adalah meminjam motor milik mbak Nabila. Tidak mungkin aku menunggu taksi, kan? Waktu akan terbuang percuma.


“Mbak? Boleh saya pinjam motor?”


“Ya. Pakai saja, Hara. Sebentar mbak ambilkan kunci dan suratnya.”


Aku menerima kunci dan surat kendaraan yang diberikan oleh mbak Nabila seraya berpesan, “hati-hati, ya, Hara. Jangan lupa kabari mbak kalau kamu butuh sesuatu.”


Tanpa menjawab ucapan mbak Nabila, aku mengambil helm, lalu segera keluar rumah. Kupacu motor matic sejuta umat warna hitam itu dengan kecepatan penuh. Menyusuri jalan jogja-magelang yang ramai lancar. Aku sempat memasang petunjuk arah di ponsel, saat berhenti di lampu rambu lalulintas yang berwarna merah. Berharap Tuhan melindungiku dalam perjalanan yang tergesa ini.


Ketika aku sampai di rumah sakit, baru aku tahu mengapa suara Reyfan terdengar begitu panik tadi. Kulihat seorang gadis berdiri menyandarkan punggung pada dinding. Ia menatap nanar pintu kamar VVIP di depannya, seperti sedang meratapi sesuatu.


Tak jauh dari tempatnya berdiri, aku melihat sepasang pria dan wanita duduk di kursi tunggu. Keduanya tampak sedang berbicara serius, sambil sesekali melihat ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Ayolah! Ada apa ini sebenarnya?


“Pak Hara?”


Aku menoleh ketika merasakan sebuah tepukan di bahu. Anggukan ramah dr. Hadyan Dananjaya menyambutku, kubalas juga dengan anggukan yang sama. Dokter spesialis yang beberapa tahun yang lalu menangani pak Reza, kini kami bertemu kembali untuk urusan kesehatan orang lain.


“Saya sudah menunggu anda dari tadi, mari kita bicara di ruangan saya.”


 Sempat aku menoleh ke arah depan kamar VVIP, sebelum mengikuti langkah dr. Hadyan. Gadis dan sepasang paruh baya sudah tidak ada di sana. Kemungkinan mereka sudah masuk ke dalam kamar, menjenguk entah siapa yang sedang dirawat.


“Saya tidak tahu kalau pasien punya hubungan dengan dr. Hamzah dan Pak Reyfan.” Ucap dr Hadyan setelah mempersilakanku duduk berhadapan dengannya.


“Dua hari yang lalu, ia melakukan pemeriksaan laboratorium di sini. Saya juga baru tahu hasilnya tadi, setelah membaca rekam medis pasien.” dr Hadyan menyerahkan sebuah map berisi beberapa lembar kertas kepadaku.


Aku membukanya, membaca lembar pertama rekam medis itu. Namun, yang bisa kupahami hanya identitas pasien saja. Sedangkan ketikan huruf-huruf di bawahnya tidak bisa kumengerti. Nama-nama asing seperti haemoglobin, trombosit, leukosit, eritrosit, hematrokrit, dan sederet istilah lain yang tidak begitu familier bagiku membuat mataku mengabur.


“Ini maksudnya bagaimana?” Aku menyerahkan kembali map kepada dr. Hadyan, sebab isi kertas itu malah membuat kepalaku pusing.


“Biar dr. Chandra yang menjelaskan.” Ucap dr. Hadyan bersamaan dengan pintu ruangan terbuka dan muncul seorang pria berpakaian khas dokter, lengkap dengan kaca mata bertengger di hidungnya.


“Selamat siang? Saya Chandra.”


Pria itu mengulurkan tangan padaku, segera kusambut menjabat tangannya, “Siang, saya Hara.”


“Saya yang menangani pasien ini,” dr. Chandra mengambil rekam medis yang baru saja kuletakkan di atas meja. Ia kemudian mulai menjelaskan, “menurut hasil laboratorium, kandungan trombosit dalam darah pasien berada di bawah nilai rujukan. Sedangkan kandungan leukositnya melebihi jumlah yang seharusnya. Ini bisa menyebabkan lamanya proses penyembuhan jika terjadi luka, pendarahan sampai pembekuan darah hing-”


Mendengarkan penjelasan dr. Chandra justru kepalaku menjadi tambah pening. Seperti ada benang kusut di dalam otakku yang makin ruwet karena tidak bisa mencerna penjelasan tersebut. Jadi kupotong saja kalimat dr. Chandra, “maaf, dok. Bisa lebih sederhana saja, kira-kira apa yang terjadi dan apa yang harus saya lakukan.”


“Begini, pak Hara … diagnosa awal saya, pasien mengalami kerusakan sel darah. Jadi jumlah leukosit diproduksi secara berlebihan, sedangkan produksi trombosit atau sel darah merah sangat kecil. Anda harus tahu, leukosit atau sel darah putih dibutuhkan untuk membentuk sistem kekebalan tubuh yang berfungsi untuk melawan bakteri, virus, jamur dan parasit penyebab penyakit lainnya. Namun, jika jumlahnya berlebihan, justru akan menimbulkan dampak negatif.”


“Tadi Reyfan meminta saya mencari donor trombosit … apa karena hal itu?”


“Itu second opinion jika persediaan trombosit di rumah sakit ini tidak cukup untuk transfusi nanti, semoga bisa memenuhi. Setidaknya butuh enam kantung sampai jumlah trombosit memenuhi standart rujukan.”


“Apa berbeda dengan transfusi darah biasa?” Aku harus mengurai sedikit demi sedikit benang kusut di kepalaku, agar tahu apa yang harus kulakukan setelah ini.


“Beda, Pak Hara. Yang dibutuhkan pasien hanya sel darah merahnya saja, kalau transfusi biasa semua komponen darah termasuk sel darah putih akan ikut masuk. Sedangkan jumlah sel darah putih dalam tubuh pasien sudah berlebihan. Dibutuhkan kira-kira 5-6 pendonor untuk satu kantung trombosit.”


“Lalu apa yang harus saya lakukan?”


“Transfusi trombosit memerlukan waktu yang lebih lama dibanding transfusi darah biasa, jadi pasien harus menginap beberapa hari di sini. Kami juga perlu melakukan observasi terhadap keadaaan pasien, jadi diperlukan biaya yang-”


Aku memangkas kalimat dr. Chandra, harusnya biaya bukan menjadi masalah bagi Reyfan dan Aneesha. Jika itu yang dikhawatirkan, “biaya bukan masalah bagi kami.”


“Bukan hanya masalah biaya, Pak Hara. Tapi kami harus melakukan pemeriksaan sum-sum tulang belakang, agar bisa melakukan pengobatan lanjutan. Kebetulan fasilitas di rumah sakit ini belum memadai untuk melakukan pemeriksaan sum-sum tulang.”


“Saya sudah bicara dengan Hamzah, saya rekomendasikan pasien untuk melakukan pemeriksaan sum-sum tulang belakang di rumah sakit umum pusat. Nanti Hamzah juga bisa mengusahakan pendonor jika memang diperlukan.” Ucap dr. Hadyan menambah penjelasan dr. Chandra.


“Apa separah itu sampai harus mencari donor sum-sum tulang belakang?”


“Hal itu baru bisa kami putuskan setelah memperoleh hasil pemeriksaan lanjutan. Untuk sementara yang bisa kami lakukan hanya berupa transfusi trombosit ….”


Aku menghempaskan punggung pada sandaran kursi, bahuku luruh sempurna. Apa-apaan ini? Apakah aku harus kembali berurusan dengan dokter dan rumah sakit seperti beberapa tahun yang lalu? Tidak. Jangan sekarang! Aku sedang dalam masa pencarian jati diri dan keyakinan mengapa tragedi ini datang di saat yang tidak tepat?


Tunggu! Tiba-tiba aku ingat perkataan kyai Ali tempo hari, saat aku mengantarnya mengisi acara pengajian di daerah Klaten. Beliau berkata, “setiap peristiwa yang terjadi di bumi ini, sudah tertulis dalam kitab lauhul mahfudz. Takdir yang Alloh ciptakan bukan tanpa alasan, pasti ada hikmah dalam setiap peristiwa. Pasti ada rencana yang Alloh rahasiakan, semata-mata agar kita selalu beriman dan bertaqwa kepadaNya.”


Sepertinya aku memang belum ditakdirkan mengakhiri perjalan dalam rangka pencarianku ini. Sepertinya jalan yang kutempuh masih jauh, rintangan pun masih akan terus menghalangi. Benar-benar tidak ada waktu bagiku untuk istirahat, aku harus terus berjalan. Mencari jalan keluar dari padang ilalang yang gersang. Sebab, tidak ada takdir yang sedang bercanda, semua terjadi atas ketetapanNya.


.


.


.


Bersambung....


Maaf, alurnya seperti loncat dan ada misteri hehe. Semua itu adalah rencana saya, jadi nikmatin aja, ya.😍😍😊