Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
109. Sandiwara Amatiran


🍁Cinta memang sulit dimengerti, hanya dengan memegang tangannya saja hati bisa jumpalitan tak terkendali.🍁


Hara


Karena mengejar Jenar, aku meninggalkan barang-barang belanjaan begitu saja. Baru ingat setelah berhasil membawa Jenar menuju mobil. Bahkan tidak sempat mengatakan apa pun kepada Cecilia tadi. Beruntung adik sepupuku itu menyusul dengan membawakan barang-barang, jadi aku tidak harus kembali ke food court untuk mengambilnya. Cecilia memang selalu tahu apa yang harus dia lakukan untuk membantuku.


Aku masuk mobil setelah memastikan semua barang tertata rapi di bagasi dan tidak ada yang tertinggal. Dari sudut mata, kulihat Jenar memalingkan wajah dengan sesekali menggunakan ujung jilbab untuk mengusap mata. Terdengar pula dia menyusut hidung, lalu jemarinya saling meremas tanda jika keadaannya sedang tidak baik-baik saja.


Apa Jenar sedang menangis? Kenapa dia menangis? Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Bertemu dengan siapa dia saat salat tadi? Apakah terjadi sesuatu di musola mall tadi? Pertanyaan itu terus berputar dalam benak, tapi tidak sanggup kuungkapkan. Diam adalah pilihan terbaik, membiarkan Jenar tenggelam dalam pikirannya sendiri, sampai bisa menenangkan diri.


Sepanjang perjalanan kami lalui dalam diam, seperti biasanya. Namun, kali ini terasa sangat hambar. Ketika tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut Jenar dan aku pun kesulitan membuka obrolan. Audio mobil yang sengaja tidak kuputar, menambah keheningan suasana. Kontras dengan kondisi jalan raya yang cukup ramai sore menjelang malam ini.


Beberapa kali aku melirik ke samping kiri, memindai kondisi Jenar. Tampaknya dia sudah berhenti menangis, walau masih khusyuk menatap jendela samping dan enggan mengubah posisi. Sepertinya dia sudah sedikit tenang, sebab jemarinya tidak lagi saling meremas. Justru kini dia nampak seperti sedang menghitung ruas jarinya sendiri. Mungkin begitu caranya menenangkan diri.


Rasanya ingin sekali mengambil telapak tangan itu, menggenggamnya, kemudian bertanya, ‘What wrong with you? Please tell me.’ Tentu saja segera kuhalau pikiran-pikiran aneh itu dari otak, sebelum berkelana terlalu liar.


Semburat kekuningan terlihat di langit, pertanda senja telah tiba. Perlahan, tapi pasti sinar matahari meredup diiringi hembusan angin kencang menerbangkan daun-daun kering. Jalan raya ramai lancar dengan kendaraan yang saling berpacu, berburu dengan waktu.


Lampu rambu lalu lintas berwarna merah, sontan aku melepas pedal gas dan memperdalammenginjak pedal rem. Kutengok kanan dan kiri, berbagai kendaraan roda dua dan empat berhenti menataati peraturan lalu-lintas. Cukup lama menunggu, membuat pikiranku melayang begitu saja.


Beberapa meter lagi akan melewati tugu selamat jalan Yogyakarta, artinya akan memasuki daerah Magelang. Apakah kami akan terus diam seperti ini hingga sampai rumah nanti? Lalu bagaimana dengan pertanyaan yang terus berputar dalam benak? Apakah tetap tidak akan terjawab?


Tidak! Aku harus tahu apa yang terjadi dengan Jenar sebenarnya.


Sebuah ide terlintas di dalam benak, bertepatan dengan suara klakson bus malam yang memekakkan telinga. Aku menoleh sejenak ke kiri, sebelum menjalankan mobil, mengikuti laju kendaraan di depan.


“Aduh!” rintihku sambil memegang perut dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lain tetap memegang kemudi.


Lima detik aku menunggu, tidak ada reaksi dari Jenar. Kupelankan laju kendaraan, lalu tangan kiri kuulurkan untuk membuka dash board.


“Argghh!” seruku agak kencang untuk menarik perhatian Jenar.


Dari ekor mata bisa kulihat, Jenar menoleh. Kulancarkan drama dengan mengobrak-abrik isidash board, menyebabkan beberapa kertas berserakan. Aku pura-pura merintih dengan tangan menggapai apa pun, seperti sedang mencari sesuatu.


“Pak Hara cari apa?” tanya Jenar setelah beberapa detik kemudian.


Aku tidak menjawab, hanya terus merintih dengan tangan kiri memegang perut. Sengaja kubiarkan dashboard terbuka dengan isinya keluar semua.


“Kamu bisa nyetir, nggak? Bisa gantiin saya? Sepertinya saya tidak kuat.” ucapku lirih dengan nada bergetar yang tentu saja dibuat-buat.


“Pak Hara kenapa?” tanya Jenar dengan dahi berkerut. Sepertinya aku berhasil menarik perhatiannya, hanya perlu drama lebih melankolis lagi untuk membuatnya panik.


“Perut saya sakit sekali ... aduh!” aku menunduk, lalu mendongak. Pura-pura berusaha menahan sakit sambil memfokuskan konsentrasi menyetir.


“Ya Alloh, Pak! Minggir dulu, apa ya? Berhenti di sana!” Jenar memegang bahu dan lenganku, lalu menunjuk arah asal.


Kuamati spion kanan dan kiri, memastikan kondisi aman untuk menepi. Aku menghentikan mobil di bahu jalan yang sepi tanpa mematikan mesinnya. Dengan terburu-buru kulepas sabuk pengaman, lalu berpindah tempat ke belakang. Seperti layaknya orang yang sudah tidak bisa menahan sakit, aku berbaring di jok belakang dengan tangan terus memegang perut.


Aku yakin Jenar pasti panik. Dengan mata setengah terpejam, aku memindainya. Dia bergegas keluar dari mobil, entah mau pergi ke mana. Kutengok ke luar jendela, dia sedang berlari, mungkin mencari pertolongan. Aku tidak bisa menahan senyum geli, sandiwara amatir ini telah berhasil mengelabuhi Jenar.


Karena penasaran aku terus mengamati arah Jenar pergi. Tak berselang lama, gadis itu keluar dari warung tenda, tak jauh dari tempat mobil berhenti. Kuperkirakan langkah dan jaraknya, sebentar lagi dia pasti sampai di mobil. Segera aku berbaring lagi, menggunakan lengan untuk menutup mata, sedang tangan yang satu meremas perut. Sandiwara ini harus berlanjut, sampai aku bisa sepenuhnya mendapatkan perhatian Jenar.


Terdengar suara pintu mobil terbuka dari luar, Jenar masuk lalu mengambil tempat duduk di sebelah kakiku. Tempat yang sempit, membuat jarak kami sangat dekat, aku bahkan bisa mendengar suara deru napasnya yang memburu. Dalam hati aku minta maaf, karena telah membuat panik dengan kepura-puraan ini.


“Bisa bangun, Pak? Saya bawa teh manis panas untuk bapak.” ucap Jenar lembut.


Kusingkirkan lengan, sambil meringis pura-pura berat membuka mata.


“Apa itu?” tanyaku menunjuk minuman dalam plastik yang dibawa Jenar.


“Ini teh manis panas, barang kali bisa meredakan sakit perut bapak.” jawab Jenar.


“Itu bisa diminum? Bukankah tidak higienis dan sehat?” tanyaku sangsi setelah melihat plastik yang berembun, pasti karena teh di dalamnya masih sangat panas.


“Minum saja, nggak perlu mikir ini higienis atau tidak!” ketus Jenar.


Aku melirik teh itu, masih enggan untuk minum. Membayangkan rasa teh panas dalam plastik dengan sedotan warna hijau. Itu plastik dan sedotan mungkin hasil daur ulang barang bekas. Teh panas di dalamnya pasti sudah terkontaminasi zat kimia berbahaya dari plastik dan sedotan itu. Kalau aku minum, bisa jadi zat-zat berbahaya itu masuk ke tubuh, kan?


“Saya bantu Pak Hara duduk, biar tidak tersedak.” aku masih belum selesai berpikir, ketika tiba-tiba Jenar menelusupkan lengannya pada leherku.


Mau tidak mau, aku pun menegakkan badan. Dalam posisi seperti ini, aku dan Jenar hanya berjarak sejengkal saja. Samar-samar tercium wangi yang sangat kukenal. Aroma bunga-bunga yang tidak terlalu menyengat, tapi sangat menyenangkan.


“Minum, Pak. Biar perutnya anget.” Jenar mengulurkan teh dalam plastik padaku.


Terpaksa aku menyesap minuman yang tidak sehat itu, karena Jenar terus menatap tajam dan menahan sedotan agar tetap di tempatnya.


“Pelan-pelan, panas!” seru Jenar.


Sontan aku minum dengan pelan, tapi tetap saja teh yang masih sangat panas itu terasa membakar lidah. Namun, setelah melewati tenggorokan dan sampai ke perut rasa hangat itu sungguh menenangkan. Ditambah dengan melihat senyum Jenar, rasanya jadi tambah manis.


“Dipegang, Pak! Minumnya pelan-pelan saja, sambil berbaring juga boleh.” Jenar menggerakkan tanganku agar memegang plastik.


Lalu dia mengambil sesuatu dari tasnya, sedangkan aku kembali berbaring dengan sesekali minum teh yang ternyata rasanya cukup enak.


“Kamu mau apa?” reflek aku bangun dan memegang tangan Jenar yang hendak menyingkap kemejaku.


Jenar membuang napas seraya menghempas tanganku, “Katanya bapak sakit, saya mau bantu kasih obat.”


“Obat apa? Memangnya kamu tahu saya sakit apa?” tanyaku sedikit ragu, khawatir kepura-puraanku ketahuan.


Jenar kembali membuang napas sebelum bertanya dengan nada ketus, “Dari tadi pak Hara merintih sambil memegang perut. Apa Pak Hara sedang sakit gigi atau sakit kepala?”


Aku hampir saja tertawa mendengar jawaban itu, ternyata Jenar bisa melucu juga. Gadis ini sungguh unik dan menarik.


“Tiduran lagi, Pak. Susah olesin ini kalau bapak duduk begitu.” perintah Jenar sambil menunjukkan sebuah botol kecil.


Aku berbaring perlahan, tanpa melepas mata dari memandang wajah gadis itu. Jenar tampak tenang, tidak panik seperti yang kubayangkan. Walau masih sedikit nampak sisa kesedihan di matanya. Kini justru irama detak jantungku yang berubah tidak beraturan, hanya karena melihat wajah manis ini dengan jarak yang terlalu dekat.


Kupejamkan mata, merasakan telapak tangan Jenar mengoleskan minyak kayu putih pada perut. Perpaduan teh panas yang kuminum dan minyak kayu putih di permukaan perut, terasa hangat menjalar ke seluruh badan. Kubuka mata perlahan, mengamati lagi wajah Jenar yang masih tetap tenang. Apa dia tidak sadar bahwa sentuhan tangannya telah membuat hatiku jumpalitan?


Terdengar suara botol ditutup, reflek kupegang tangan Jenar yang sedang membetulkan kemejaku. Kugenggam dengan lembut tangan sehalus sutra itu, lalu mengusapnya beberapa kali.


Kueratkan genggaman, karena Jenar hendak menarik tangannya. Dalam hati aku mengumpat, bahkan hanya memegang tangannya saja sudah berhasil membuat dadaku berdesir dan detak jantung makin kehilangan irama. Sial! Ini pertama kali aku merasakan sentuhan seorang gadis yang tulus, tapi justru berhasil mematik gejolak rasa aneh dari dalam sana.


“Saya hanya ingin memastikan, tanganmu, minyak kayu putih itu atau teh panas ini yang membuat perut saya hangat. Hingga sakitnya hilang, sudah tak terasa sama sekali.” ucapku seraya lurus menatap wajah Jenar yang tertunduk.


“Tanganmu halus sekali, ini pertama kali saya memegang tangan perempuan yang sangat halus.” ucapku jujur.


Pandanganku beralih dari wajah ke tangan Jenar. Sekilas tampak bekas kemerahan di pergelangannya. Mungkinkah itu akibat aku menariknya terlalu kasar saat di mall tadi? Ah! Dia pasti kesakitan.


Kuusap lembut bekas kemerahan itu, rasa bersalah pun menjalari hati. Seandainya aku tidak tersulut emosi tadi, pasti tidak akan memegang tangan Jenar terlalu kuat.


“Pasti sakit, ya? Maafkan saya...,” aku berucap tulus.


Jenar menggeleng cepat, kembali berusaha menarik tangan. Sungguh, aku tidak rela apa yang telah berada di genggaman, lepas begitu saja. Namun, melihat perubahan air muka Jenar, membuatku mau tidak mau harus mengendurkan genggaman.


“Kalau Pak Hara sudah baikan, saya sebaiknya keluar!” cetus Jenar, seraya menarik tangan. Tanpa menunggu jawabanku, dia keluar dan menutup pintu dengan kasar.


Aku tersenyum kecil, menatap tangan kosong yang sebenarnya belum ingin melepas genggaman. Perlahan aku bangun dari berbaring. Bayangan Jenar yang tampak dari balik jendela mobil, membuat senyumku makin lebar.


‘Dasar gila, apa yang kulakukan tadi? Apa aku sedang merayu anak ingusan? Sungguh tak masuk di akal.’


Potongan peristiwa yang baru saja terjadi berputar di kepala. Mengingatnya, tiba-tiba perutku terasa aneh dan dadaku berdebar kencang. Bulu kuduk pun berdiri tanpa permisi, membuatku reflek mengusap tengkuk.


Jenar! Anak ingusan yang berhasil membuatku hampir gila. Apa yang harus kulakukan sekarang? Pura-pura masih sakit, atau menyudahi sandiwara? Bagaimana kalau nanti dia jadi tidak perhatian lagi karena mengetahui aku hanya pura-pura sakit? Rasanya tidak rela kehilangan perhatian dari gadis ini. Haruskah aku keluar dan bilang kalau sakitku belum hilang, agar dia mengobatiku lagi?


.


.


.


Bersambung....


Eh, eh, eh ... ada yang mulai nakal, nih, teman-teman. Wah, Hara makin keseringan pegangg-pegang tanpa permisi, tuh? Jenar bakal marah atau tidak, ya, kalau dipegang-pegang tanpa ijin gitu? Selanjutnya mereka mau ngapain, ya? Pulang, lanjut belanja, atau salat? Eh, kok, salat lagi, sih? Boleh tebak-menebak, ya. Kalau ada yang benar 5 orang saja, hadiahnya up lagi. Hehe ....


.


Maaf, sebelumnya ... karena saya tidak bisa membalas komentar teman-teman satu/satu. Hanya beberapa komentar teratas saja yang bisa saya balas, karena keterbatasan waktu dan jaringan yang kadang tidak bersahabat. Mohon dimengerti, ya, teman-teman. hehe ...


.


Selamat bermalam jum'at, jangan lupa baca surat Yaasin dan Al-kahfi ya. Saya, sih, belum baca, jangan ditiru hehe ...