Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
31. Ghufron Al-Ghazali S. Ked.


🌹Hal paling membanggakan adalah bisa mendampingi sang pujaan hati berhasil melalui satu jenjang prestasi.🌹


Jenar.


Sebagai perempuan yang mempunyai kekasih seorang mahasiswa kedokteran tahap akhir, tentu hal paling mendebarkan adalah saat menunggu dia yang sedang menjalani sidang skripsi. Duduk tidak tenang dengan perasaan khawatir, menunggu sang kekasih keluar dari ruang sidang.


Ketika yang ditemui adalah wajah murung menunduk lemas, seketika rasa ingin tahu menggelayuti. Namun, yang bisa aku lakukan hanyalah diam, menunggu mas Ghufron sendiri yang mengatakan hasil sidang skripsinya.


“Mas mau minum?” Kuangsurkan botol air mineral yang masih tersegel rapat padanya.


Dia menggeleng dalam tundukkan, membuat pertanyaan demi pertanyaan berputar di otakku. ‘Apa ini tentang hasil sidang? Atau ada apakah?’


“Kita makan siang dulu, Mas?” Aku berusaha memancing reaksinya dan berhasil. Mas Ghufron mengangkat wajah, membuang napas sampai bahunya luruh. Hasil penilaian sidang ia letakkan di pangkuanku begitu saja, lalu ia beranjak.


“Kamu mau makan apa? Mas traktir, kita makan bareng teman-teman.”


Aku bingung harus bagaimana. Serampangan kukemasi barang-barang karena mas Ghufron sudah melangkah panjang tanpa menungguku. Membuatku harus berlari kecil menyusulnya.


“Maksud mas bagaimana? Kita-”


“Mau makan dimana? Mau makan apa? Nasi padang, seafood, chiness food, japanese food? Kamu mau makan apa? Di restorant mahal sekali pun, mas bayarin.”


Kutarik bagian lengan jas yang dipakai mas Ghufron, “tunggu, Mas! Tunggu!” kucoba menghentikan langkahnya.


Sungguh aku tidak mengerti apa maksud mas Ghufron ini. Tadi dia terlihat murung, sekarang tiba-tiba energik dan antusias seperti baru saja memenangkan undian.


“Mas ini kenapa, sih? Ta-”


Belum sempat aku menyelesaikan pertanyaan, mas Ghufron sudah memberiku senyum paling lebar dan paling manis. Tapi sejurus kemudian dia memasang wajah sedih dengan pandangan lurus menatapku, “aku gagal, Nduk.”


Mulutku sudah terbuka hendak menjawab, tapi rupanya mas Ghufron belum menyelesaikan kalimatnya, “aku gagal dapat nilai B, sepertinya pertunangan kita juga harus batal.”


“Mak-sudnya?” Aku sudah tidak sabar mendengar kalimat Mas Ghufron yang berbelit-belit. Apalagi saat pikiranku penuh dengan pertanyaan, dia malah terbahak.


“Serius banget wajah kamu, Nduk?” Dia menarik hasil penilaian sidang dari tanganku. Lalu membukanya di depan wajahku, “mas gagal dapat nilai B, karena mas dapat nilai sempurna. Mas batalin pertunangan kita, karena kita akan segera menikah.”


Aku ternganga mendengar kata demi kata yang diucapkan oleh mas Ghufron, otakku seperti kesulitan mencerna. Aku mengaduh ketika dia menarik ujung jilbab sampai kepalaku ikut tertarik, membuatku tersadar kalau mas Ghufron sedang menggodaku.


“Kaget, ya? Takut nggak jadi nikah, ya?”


“Apa, sih, Mas?”


“Wajahmu khawatir gitu.”


“Ihh! Dasar!” kupukul punggungnya dengan botol air mineral yang tinggal sedikit isinya. Kuluapkan kesal, menunjukkan bahwa dia berhasil menggodaku, “aku takut beneran tau, Mas. Kukira mas nggak lulus, lho. Ternyata aku dikerjain, ya Alloh!”


Mas Ghufron tergelak, memukul kepalaku dengan kertas hasil penilaian sidangnya, “sudah selama ini kenal mas, tapi masih bisa aja dikerjain.”


“Ihh! Mas nyebelin!” Sungutku sambil mengelus kepala.


“Kamu gemesin kalau lagi ketakutan.”


“Tau, ah! Nggak lucu, Mas.”


“Nggak usah ngambek! Nggak jadi mas traktir, lho.”


“Aluweh!” (luapan kekesalan dalam bahasa jawa yang kurang lebih sama dengan, bo-do amat.)


Kuambil langkah panjang, meninggalkan mas Ghufron yang terus tergelak di belakang. Merasa kesal karena mas Ghufron benar-benar membuat irama jantungku berkejaran tadi, bahkan hampir berhenti berdetak. Ini lelucon paling tidak lucu selama aku kenal dengannya, godaan paling menyebalkan yang pernah mas Ghufron lakukan dan sukses membuatku sebal.


“Jenar! Tunggu, Nduk!” aku tidak menggubris teriakan mas Ghufron, terus saja berjalan cepat menyusuri selasar. Tak bisa kucegah cairan bening yang mulai memupuk di pelupuk mata. Terlambat kuhalau karena satu per satu butiran itu sudah jatuh duluan.


“Nduk, Sayang! Tunggu mas, dong!”


Aku mendengar langkah kaki menyejajari jalanku, aku terpaksa berhenti karena kini badan tegap itu telah berdiri tepat di depanku. Menghadang jalanku dengan sempurna.


“Ngambek beneran, nih?” Mas Ghufron menunduk, mencari wajahku yang juga sedang tertunduk.


“Nduk? Aku, kan, hanya bercanda.”


“Mas tahu saya tidak suka bercanda.” Kuusap pipiku yang basah dengan punggung tangan, kucegah ingus yang hampir keluar. Tak bisa kusembunyikan lagi tangisku dari mas Ghufron, sebab kini ia menemukan wajahku yang basah.


“Aduh, nangis beneran. Mas hanya bercanda, Nduk.”


“Saya dari tadi cemas nungguin mas, begitu mas keluar, mas nggak bilang apapun malah kasih wajah sedih. Saya jadi ingin tahu, mas bukannya kasih tahu malah godain,” aku meluapkan kekesalan, meskipun dengan suara lirih tanpa menghakimi. Sebab aku tahu mas Ghufron tidak bermaksud mempermainkan perasaanku. Namun, tetap saja aku ingin merajuk.


“Iya, maaf. Mas minta maaf, ya? Mas pengen bercanda, tapi rupanya kamu sedang pengin serius.”


“Iya, iya. Mas salah! Dimaafin, nggak?”


Aku mengangkat wajah, menatap mas Ghufron yang memasang wajah penuh harap. Seketika rasa kesalku hilang, ah! Aku memang paling lemah jika sudah mendapat senyum itu. Senyum mas Ghufron yang selalu membuatku meleleh.


“Muter!”


Mas Ghufron menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk seraya menggoyangkan telunjuk membentuk lingkaran, “muter, Mas!” aku memintanya memutar badan.


Aku menipiskan bibir karena hampir tersenyum ketika ia menuruti perintahku. Memutar badan 180 derajat memunggungiku. Aku meletakkan wajahku yang masih basah pada punggungnya, sengaja kuusapkan sisa airmata pada jasnya yang wangi. Aku tahu mas Ghufron tertawa, karena punggungnya berguncang.


“Ya Alloh! Jasku kamu buat lap ingus.”


“Biarin! Ini hukuman karena sudah buat saya kesal.”


Dia belum menghentikan tawa sampai aku selesai menghapus jejak rasa kesal menggunakan jasnya. Beberapa detik aku berdiri di belakang mas Ghufron, melihat punggung calon suamiku itu. Rasa kesal sudah hilang sempurna, berganti rasa kagum dan bangga.


“Sudah selesai?” Aku mengangguk begitu mengangkat kepala dari punggungnya.


“Jadi mau makan apa?”


“Ehm … makan apa, ya? Pikir sambil jalan, Mas?”


“Oke. Salat dulu, ya? Sebentar lagi azan dzuhur.”


Aku mengangguk setuju. Baru saja kami hendak melangkah, tapi urung karena sebuah teriakan yang membuat kami berdua menoleh.


“Woi! Ghufron!”


Aku harus menyingkir karena teman-teman mas Ghufron yang semuanya laki-laki datang berkerumun. Mencerca tunanganku itu dengan pertanyaan yang sama, “piye hasile?” (Bagaimana hasilnya?)


“A, dong.” Jawab mas Ghufron mantap. Seketika riuh suara tepuk tangan dan teriakan menggema seantero selasar. Menarik perhatian mahasiswa lain yang sedang beraktivitas.


“Wah! Ghufron sido rabi!” (Jadi nikah)


“Lulusan terbaik tahun ini pasti!”


“Alhamdulillah!”


“Ghufron al Ghazali, S.Ked. Soon to be dr. Ghufron Al-Ghazali!”


Teriakan-teriakan sejenis itu yang diucapkan oleh teman-teman mas Ghufron. Tanda ikut bahagia karena rekan sejawat mereka bisa lolos ke jenjang berikutnya. Luapan suka-cita karena keberhasilan salah satu dari mereka, teman berjuang bersama.


“Nuwun, nuwun! Alhamdulillah ….” (Makasih, makasih.)


Mas Ghufron hanya mampu membalas semua ucapan teman-temannya dengan berterima kasih. Memberikan do’a dan semangat kepada rekan-rekannya, “Kalian segera menyusul, insyaalloh biar kita bisa co-asst bareng.” (sebutan untuk dokter yang sedang menempuh pendidikan profesi. Co-assistant dokter residen.)


Aku menunggu sampai mas Ghufron bisa terlepas dari teman-temannya. Namun ternyata sampai salat dzuhur pun mereka semua ikut berjama’ah di masjid kampus. Aku tidak keberatan, sebab keberhasilan yang diraih oleh mas Ghufron sekarang ini salah satunya karena andil para sahabat dan temannya. Tidak mungkin dia berhasil mencapai nilai sempurnya tanpa bantuan orang lain, kan? Entah secara langsung atau tidak.


Aku juga tidak keberatan saat mas Ghufron mengajak semua temannya makan siang bareng di sebuah rumah makan padang. Dia sempat berbisik padaku setelah keluar dari masjid tadi, “makan bareng-bareng dulu tidak apa-apa, ya? Insyaalloh nanti ada jadwal kita makan berdua.”


Sempat khawatir aku akan makan diantara teman-teman mas Ghufron yang semuanya laki-laki. Beruntung tunanganku itu menyiapkan kursi dan meja sendiri untuk kami berdua. Sengaja memisahkan diri dari teman-temannya, jadi aku tidak harus menahan gejolak perasaan tidak nyaman setiap kali aroma khas para pria itu menghampiri indra penciumanku.


“Nggak apa, kan?” Tanya mas Ghufron menunjukkan kekhawatirannya padaku. Aku mengangguk seraya menunjukkan cangkir berisi kopi andalan setiap kali aku harus terpaksa berkumpul dengan para pria.


“Aman.” Jawabku.


“Mas janji, setelah berkas co-asst selesai kita konsultasi ke spikiatri.”


Kuberikan senyum terbaik untuk mas Ghufron, sebagai penghargaan karena dia selalu mengerti akan kondisiku. Dia yang selalu ada untukku dan bersedia menjadi pendengar terbaik saat aku berkeluh kesah. Memberi motivasi saat aku hampir menyerah, tapi tak sungkan menegur jika aku dirasa salah. Membuatku nyaman berada di sisinya walau kami tidak pernah bersentuhan sekali pun.


Mas Ghufron mengantarku pulang setelah kami selesai merayakan keberhasilannya. Seperti biasa dia berbincang sebentar dengan om Dito. Ia memang sosok pemuda sopan tapi bisa bergaul dengan siapa saja, menjadi teman bicara yang menyenangkan.


Calon suamiku yang sekarang sudah resmi menjadi sarjana kedokteran. Pria supel yang dicintai banyak orang, semoga aku tidak salah memilihnya menjadi imam mengarungi bahtera kehidupan yang sesungguhnya, nanti.


.


.


.


Bersambung....


Hari ini aku up 2 bab tapi tidak dalam satu waktu. Minta dukungan terbaiknya, ya. Pada sayang sama saya, kan? Eh, sayang mas Ghufron dan Pak Hara tentunya. 😍😍