
...🍁Maka apabila kamu telah selesai (dengan suatu urusan), tetap bekerja keraslah (untuk urusan yang lain).🍁...
Immanuel Kagendra Hara.
Kalau saja Nalini tidak menelpon, mungkin aku sudah pergi mencari Jenar ke kampus atau ke rumah pak Dito. Nalini bilang sedang berada di pesantren kyai Ali bersama Jenar dan teman-temannya. Dia minta diantar pulang karena tidak membawa motor.
“Maaf … biasanya kemana-mana diantar mas, jadi saya tidak punya ide mau minta tolong siapa. Tiba-tiba inget sama pak Hara, makanya saya telepon tadi. Nggak apa, kan, pak Hara?” itu yang Nalini katakan saat aku menemuinya di ruang tamu pesantren.
Gadis manja, beda banget sama Ghufron yang dewasa dan bijaksana. Mungkin karena terbiasa dimanja oleh kakaknya. Kalau saja bukan karena Ghufron yang sudah terlanjur baik padaku, enggan rasanya aku menanggapi gadis kekanak-kanakan ini.
“Karena kamu sudah ada yang mengantar pulang, saya sama Aina pamit, ya.” ucap Jenar sambil mengemasi barang-barang, lalu setengah berbisik ia bicara dengan teman-teman yang lain.
Namun pak kyai belum memperbolehkan Jenar pulang, “nanti saja, pulang setelah ashar. Perjalanan kamu jauh, lebih tenang kalau sudah salat.”
Sepertinya acara sowan yang dilakukan oleh Nalini, Jenar dan teman-temannya belum selesai. Sebab kyai Ali masih berbicara di depan para tamu. Bu Nyai dan gus Hafidz juga ada di sana, memberi sedikit ceramah. Aku baru tahu ternyata tamu yang dimaksud oleh kyai Ali tadi pagi adalah mereka.
Aku undur diri dari ruang tamu pesantren, tidak nyaman rasanya berada di sekitar orang yang tidak tahu sedang membicarakan apa. Memilih menunggu di luar, tidak tega juga membiarkan Nalini pulang sendiri nanti.
Mereka semua keluar dari ruang tamu saat seorang santri berteriak melalui pengeras suara masjid, tanda waktu ibadah orang islam tiba. Seperti sudah menjadi kebiasaan yang kulihat sejak tinggal di pesantren, setiap ada yang sowan pasti mereka menyempatkan diri untuk berfoto bersama.
Tidak terkecuali dengan rombongan Jenar, Nalini dan teman-temannya. Mereka meminta kyai Ali, bu Nyai dan gus Hafidz untuk mengabadikan pertemuan mereka dalam bentuk gambar digital.
“Biar Hara yang ambil foto, jadi semua bisa ikut.” ucap kyai Ali yang seperti sebuah perintah bagiku.
Beberapa gambar sudah diambil, masing-masing orang ingin menggunakan ponselnya sendiri untuk berfoto. Ramai sekali mereka, sepertinya mengunjungi pak kyai adalah hal yang menyenangkan. Padahal bagiku biasa saja, atau mungkin karena mereka habis menerima nasehat dari pak kyai jadi lebih bersemangat?
“Jenar pulang sama siapa?” pertanyaan bu nyai setelah acara foto bersama selesai, terdengar jelas di telinga, karena beliau berdiri tepat di depanku.
“Nanti diantar Aina sampai halte depan, Umik. Dari sana naik bis ke Magelang.” jawab Jenar.
“Naik bis?” bu nyai sepertinya terkejut dengan jawaban Jenar. Jangankan bu nyai, aku saja terkejut. Tidak biasanya gadis itu naik bis, lagi pula ini bukan akhir pekan, untuk apa dia pulang ke Magelang?
“Iya, Umik. Sudah tiga hari saya berangkat dari Magelang, pulang-pergi naik bis.”
“Lho, nang opo? Biasane bali ning paklikmu, to?” (Lho, kenapa? Biasanya pulang ke rumah om kamu, kan?)
“Nggih, Umik. Om Dito sampun pindah dateng Ternate, sakniki kulo wangsul Magelang.” (Iya, Umik. Om Dito sudah pindah ke Ternate, sekarang saya pulang ke Magelang.)
“Oalah, ngunu. Ati-ati, ya, Nduk. Dijogo awakmu.” (Oalah, begitu. Hati-hati, ya, Nduk. Jaga diri.)
“Nggih. Insya Alloh, Umik.”
Aku tidak terlalu mengerti apa yang dibicarakan oleh bu nyai dan Jenar. Namun bisa kutarik kesimpulan bahwa sekarang Jenar tinggal di Magelang karena pak Dito sudah pindah ke Ternate.
Nggak ngerti sama jalan pikiran pak Fares, kenapa Jenar nggak boleh ngekost? Malah disuruh pulang pergi dengan jarak yang lumayan jauh setiap hari, naik kendaraan umum pula. Orang tua yang aneh, tidak memikirkan efiensi waktu dan tenaga.
Hampir saja aku lupa tentang surat yang dititipkan Ghufron. Beruntung saat Jenar berjalan melewatiku, ingatan tentang amanah itu terpanggil.
“Jenar, tunggu!” kutahan langkahnya hendak menuju ke masjid.
“Ada apa, pak Hara?”
Aku merogoh saku jaket, mengambil sebuah amplop putih yang terlipat kecil. Memberikan titipan terakhir Ghufron kepada Jenar, “maaf, saya lupa. Jadi baru sempat ngasih, ini titipan dari Ghufron buat kamu.”
“Oh!” Jenar menerima surat itu dengan lesu, raut wajahnya terlihat seperti ragu-ragu. Tapi dia tetap menggenggamnya dan tersenyum padaku, “terima kasih, pak Hara. Saya ke masjid dulu, takut ketinggalan jama’ah.”
Aku belum menjawab ucapannya, tapi Jenar sudah lebih dulu berlalu. Dia berjalan cepat bersama teman-temannya menuju masjid. Tampak seorang teman merangkul bahunya, entah mereka sedang membicarakan apa. Aku tidak bisa mendengar, sebab mereka makin menjauh.
Satu per satu orang datang ke masjid, aku melihat mas Akmal dan Naufal dari kejauhan. Kompak dua anak dan bapak itu melambaikan tangan yang kubalas dengan anggukan. Kemudian kyai Ali menepuk bahuku tanpa mengucapkan sepatah kata pun sebelum pergi ke masjid.
Aku mengira harus menunggu Nalini sampai selesai salat, ternyata dia langsung ingin diantar pulang. Kebetulan karena aku tidak harus menunggu lebih lama lagi.
“Saya sedang udzur,” katanya. Entah apa artinya yang jelas aku bisa segera mengantarnya pulang segera.
Perjalanan dari pesantren ke rumah Nalini tidak terlalu jauh, lalu lintas juga tidak terlalu ramai, cenderung sepi. Aku langsung pulang setelah Nalini sampai di rumahnya. Tidak perlu singgah karena aku tidak punya urusan selain mengantarnya pulang.
Entah mengapa saat melewati makam, aku tergerak untuk memarkirkan motor lalu masuk ke area pemakaman khusus muslim itu. Mungkin karena rasa bersalah yang masih saja membayang, aku jadi ingin mengunjungi makam Ghufron.
Lama aku diam berdiri menatap gundukan tanah dengan nisan kayu yang di tanam di salah satu sisinya. Permukaan tanah makam masih berwarna merah dan penuh kelopak bunga mawar dan kenanga yang sudah mengering.
Seminggu yang lalu, makam ini ramai orang dan penuh dengan karangan bunga. Seperti itu rupanya jika orang baik yang dicintai banyak orang meninggal dunia, banyak yang mengantar dan mendo’akan.
Aku memejamkan mata, merasakan hembusan angin dingin menerpa tubuh, menyisir rambut, menelusup ke dalam pori-pori kulit. Terasa sampai ke dalam jiwa, tenang sekali. Yang terdengar hanya gemerisik ranting pohon menggoyangkan dedaunan.
Namun ketenangan yang kurasakan hanya sebentar, sebab detik berikutnya suara seorang gadis membuyarkan lamunan. Aku membuka mata, menoleh ke belakang. Jenar sudah berdiri dengan dahi berkerut dalam bertanya padaku, “pak Hara, kok, di sini?”
“Kamu ngapain di sini?”
Jenar tersenyum seraya menggelengkan kepala, membuatku sadar jika kami saling menanyakan hal yang sama. Pasti karena kami sama-sama terkejut dan tidak mengira akan bertemu di tempat ini. Padahal beberapa menit yang lalu kami masih berada di pesantren.
“Kalau tahu pak Hara mau ke sini, tadi saya yang minta bareng, biar Nalini pulang sama Aina saja.”
“Saya tidak punya rencana mau kesini tadi. Tiba-tiba saja pengin mampir waktu lewat, habis nganter Nalini.”
“Sama, dong. Saya juga nggak kepikiran mau kesini tadi.”
“Bukannya tadi kamu mau pulang ke Magelang? Kok malah jadi ke makam.”
“Tadi habis baca surat yang pak Hara kasih, saya jadi kangen sama mas Ghufron. Terus minta diantar Aina sampai sini."
Langit gelap, awan hitam pekat menggantung menaungi bumi. Tinggal menunggu waktu sampai awan tidak lagi bisa menampung uap air, maka hujan dipastikan akan turun. Suasana pemakaman sepi, hanya ada kami berdua ditemani suara gemerisik dedaunan ditiup angin.
Jenar berjongkok di depan makam, bergumam pelan tapi terdengar jelas di telingaku, “assalamu’alaikum, Mas. Saya datang, ada pak Hara juga di sini. Saya kirim do’a buat mas, ya.”
Aku tidak lagi mendengar suara Jenar, karena angin bertiup makin kencang dan awan mendung makin pekat. Dua tangan gadis itu menengadah, bibirnya komat-kamit seperti sedang membaca mantra. Sesekali ia memegang ujung jilbab yang melambai-lambai diterbangkan angin.
Perlahan angin mulai tenang, suara ranting pohon menggoyang dedaunan yang berisik mulai berkurang. Satu per satu tetesan air mulai turun dari langit. Semula kecil dan jarang-jarang, tapi seketika berubah menjadi gerimis rapat.
Aku menengadah, wajahku basah oleh tetesan hujan. Kulihat Jenar masih khusyuk dalam do’a, begitu merasakan gerimis menetes di kepalanya yang tertutup jilbab, ia berdiri. Otomatis menengadahkan tangan dan kepala.
“Hujan, pak Hara.”
Aku menoleh kanan-kiri, mencari tempat yang sekiranya bisa dijadikan tempat untuk kami berteduh. Ada sebuah bangunan beratap sederhana, seperti sebuah makam yang diberi atap.
“Di sana, pak Hara!” teriak Jenar sembari berlari mendahului, menuju bangunan di tengah makam itu.
Aku menyusulnya dengan langkah panjang tapi penuh kehati-hatian agar jangan sampai melangkahi atau menginjak makam. Mbok Jum pernah bilang, bisa kena sial kalau sampai melangkahi makam. Memang tidak elok melangkahi gundukan tanah yang dibawahnya bersemayam jasad manusia.
Kami sama-sama mengatur napas setelah sampai di teras bangunan makam beratap. Beruntung jaket yang kupakai berbahan parasut, jadi tidak basah sampai ke dalam. Bisa kedinginan aku kalau sampai bajuku ikut basah.
“Alhamdulillah ada cungkup di sini, bisa untuk berteduh. Perkiraanku salah ternyata. Aku pikir bisa pulang sebelum hujan turun, ternyata baru saja sampai hujan sudah menyambut.” gerutu Jenar sambil mengusap baju dan jilbab yag basah terkena hujan.
Aku melepas kacamata, mengambil sapu tangan yang selalu ada di saku celana untuk mengelapnya. Menyisir rambut yang berantakan sekaligus basah dengan jemari, lalu kupakai lagi kacamata yang sudah bersih dari air agar pandanganku tidak kabur.
“Kita sedang menghindari rahmat Tuhan, pak Hara.” aku mengernyit, tidak mengerti ucapan Jenar. Dia menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali melihat derasnya air hujan yang sedang turun, “hujan itu rahmat, berkah yang diturunkan oleh Tuhan, kita malah berteduh. Itu namanya menghindari rahmat dan berkah Tuhan, kan?” Jenar tertawa kecil, seperti sedang menertawakan dirinya sendiri.
“Allohumma soyiban nafi’an … saat hujan menjadi waktu mustajab untuk berdo’a. Pak Hara mau berdo’a tidak?” Tiba-tiba Jenar berbalik badan sambil menutup mulut dengan telapak tangan, “ups! Maaf, pak Hara. Saya lupa kalau Tuhan kita beda.”
Baru saja aku hendak menjawab, tapi Jenar sudah lebih dulu melanjutkan ucapannya, “eh! Tapi tidak apa-apa, barang kali Tuhannya pak Hara juga akan mengabulkan do’a yang dipanjatkan saat turun hujan. Iya, kan?”
“Kamu banyak bicara, Jenar. Kita sedang terjebak, kehujanan di tengah makam, lho.”
“Terus? Kita harus diem-dieman seperti orang yang tidak saling kenal gitu? Tambah serem suasananya nanti, pak Hara.”
Aku menggelengkan kepala. Jenar ini sebelas dua belas dengan kakaknya, banyak bicara dalam kondisi dan situasi apapun. Mungkin keluarga mereka punya simpanan kosa kata dan kecerisan yang tidak pernah habis seumur hidup.
Padahal gadis ini baru saja ditinggal pergi kekasihnya, sama sekali tidak terlihat sedih atau kehilangan. Membuatku penasaran dan bertanya, “kamu tidak seperti orang yang baru saja ditinggal pergi calon suami.”
“Memangnya saya harus bagaimana? Nangis tujuh hati tujuh malam, nggak mau makan, ngurung diri di kamar sampai sakit terus masuk rumah sakit?”
Kalimat yang diucapkan Jenar hampir membuatku tertawa, dia seperti sedang membicarakan seseorang di masa lalu. Sebab aku pernah dibuat kelabakan dengan sikap gadis yang baru saja ditinggal mantan pacarnya menikah, persis seperti yang baru saja Jenar katakan.
“Saya bukan kak Neesha yang susah move on. Buat apa saya terus-terusan sedih? Bisa jadi sekarang mas Ghufron sedang dikelilingi bidadari surga yang lebih cantik dari pada saya. Untuk apa saya terus meratap kalau dia sudah bahagia di sana?"
“Ya, paling tidak kamu kelihatan sedih gitu. Apalagi tadi habis dapet surat terakhir, kan?”
“Sedih itu sudah pasti, pak Hara. Saya sangat sedih mas Ghufron meninggal, tapi bukan berarti kesedihan saya harus berlarut-larut, kan? Alloh sudah memerintahkan umatNya untuk segera move on dari suatu masalah. Faidza faroghta fanshob … maka apabila kita sudah selesai atas satu perkara, tetap bekerja keraslah untuk perkara yang lain.”
Aku mengangguk, meski tidak begitu paham ayat yang diucapkan oleh Jenar. Bisa kutangkap kalau dia sedang berusaha menaati perintah Tuhan untuk segera melupakan masalah yang telah selesai.
“Lagi pula dalam surat yang tadi pak Hara kasih, mas Ghufron juga meminta saya untuk tidak terlalu bersedih.”
“Oya?”
“Pak Hara tidak percaya?” Jenar membuka tas ranselnya, mengambil sesuatu dari bagian tas paling depan, “pak Hara boleh baca kalau tidak percaya.”
Aku hampir tidak percaya Jenar mengulurkan surat yang ditulis oleh Ghufron dibalik kertas hasil pemeriksaan laboratoriumnya yang terakhir. Aku membuka kertas yang dilipat kecil itu, membaca deretan kalimat sederhana tapi berkesan itu.
Aku melipat kembali surat yang sudah tidak beramplop itu, mengembalikannya kepada Jenar. Ghufron memang seoramg pria yang bijaksana, pantas Jenar sudah mrngikhlaskannya.
Hujan deras belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Aku merogoh saku celana, mengambil rokok kemudian menyulutnya. Menikmati rokok sambil menunggu hujan reda. Sedikit heran dengan Jenar, saat ia menghirup dalam-dalam asap rokok yang melewatinya. Padahal perempuan pada umumnya tidak suka dengan asap rokok.
Iseng aku bertanya, “kamu suka dengan asap rokok?”
“Tidak juga, pak Hara. Hanya karena saya tidak bawa kopi jadi lebih baik saya menghirup asap rokok dari pada saya pingsan di sini.”
“Maksud kamu apa?”
“Mas Ghufron yang ngajarin saya. Kalau saya mulai gelisah dan tidak bisa menemukan kopi di sekitar, hirup apa saja yang bisa menghalau gelisah. Nah, hanya ada asap rokok pak Hara di sini, kan?”
“Memangnya kenapa kamu harus gelisah?”
“Rumit kalau diceritakan,” jenar memalingkan wajah, tanda bahwa ia tidak ingin menjawab pertanyaanku.
Setelah lama menunggu, hujan akhirnya berangsur mereda. Meskipun gerimis masih setia menemani, kami keluar dari makam sebab petang telah menjelang. Aku menghampiri motor yang terparkir di depan makam, sementara Jenar merogoh tas seperti sedang mencari sesuatu.
“Kamu mau pulang naik apa?” tanyaku.
Jenar menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari memeriksa semua bagian tas ranselnya, “mau pesan taksi online, pak Hara. Tapi saya tidak bisa menemukan ponsel saya. Dimana, ya? Masa jatuh di jalan? Aduh … bagaimana ini?”
“Coba cari lagi, siapa tahu terselip diantara buku dan barang-barang yang lain.”
“Nggak ada, pak Hara.” jawabnya seraya mengeluarkan beberapa barang dari dalam tas, tapi tidak juga menemukan ponselnya.
“Beneran nggak ada.”
Jenar mengangguk pasrah, “bagaimana ini? Sudah hampir maghrib lagi.”
Aku mengambil ponsel dari saku celana. Beruntung ponselku masih menyala walau baterainya tinggal sedikit, jadi Jenar bisa memesan taksi online segera.
“Saya tunggu kamu sampai taksi online nya datang.” ucapku setelah Jenar mengembalikan ponsel.
Angin berhembus terlalu lembab dan dingin, hujan menyebabkan jalanan basah dan genangan dimana-mana. Jenar memeluk dirinya sendiri, mungkin dia merasa kedinginan karena bajunya basah oleh gerimis.
Aku melepas jaket, lalu memberikan kepada Jenar, “pakai ini, biar kamu nggak kedinginan.”
“Tidak usah, pak Hara.” entah karena kendaraan yang lalu lalang, atau karena dia kedinginan, suara Jenar terdengar terlalu lirih hampir bergetar.
“Ini bersih, kok. Baru saya pakai hari ini.” aku tetap mengulurkan jaket, sedikit memaksa agar Jenar memakainya, “saya tidak mau disalahkan kalau nanti kamu sakit dan kakak kamu tahu saya membiarkanmu kedinginan dengan pakaian basah.”
“Ti-dak, pak Hara. Sa-ya tidak apa-apa.”
Tanpa memedulikan ucapan Jenar yang terbata, aku membentangkan jaket untuk menutup punggungnya. Dia menatapku dengan tatapan sendu. Tidak tahu kenapa, padahal beberapa saat yang lalu dia baik-baik saja dan ceria. Apa karena …
“Pak Hara?”
Belum sempat aku mengerucutkan perkiraan, Jenar terlihat sedang mengatur napas. Tangannya pun saling meremas seperti orang yang sedang panik. Tiba-tiba aku teringat beberapa waktu yang lalu, saat Jenar membantu membersihkan luka di tanganku.
“Kamu kenapa, Jen?” Aku mengguncang bahunya, sebab Jenar terlihat makin panik dengan napas tidak teratur.
“Ma-af, sa-”
Jenar tidak bisa melanjutkan kalimat, sebab dia mendadak terkulai lemas dengan mata tertutup. Aku menepuk pipinya pelan, memanggil namanya berkali-kali, tapi tidak ada respon. Tubuh Jenar terasa sangat dingin, wajahnya pun memucat. Ini untuk kedua kalinya, Jenar pingsan saat berdekatan denganku. Apa yang terjadi padanya?
Lampu yang sangat terang menyorot kami, sebuah mobil berhenti di depan makam. Pengemudinya keluar dari mobil sambil melihat layar ponsel, bertanya padaku, “atas nama mas Immanuel?”
Ternyata taksi online yang dipesan oleh Jenar datang. Bagaimana ini? Tidak mungkin aku membiarkan Jenar pulang ke Magelang dalam keadaan seperti ini, kan? Apa kata orang-orang rumahnya nanti, bagaimana juga kalau sampai terjadi apa-apa di jalan dengan Jenar? Ya, Tuhan … kenapa jadi rumit seperti ini?
.
.
.
Bersambung ....
Bab selanjutnya diperkirakan seminggu lagi😁
Note :
*Q.S Al-insyirah ayat 7.
Maaf tidak ada gambar cungkup, cari di mesin pencarian tidak ada yang cocok. semoga bisa menggambarkan dengan imajinasi masing-masing😁