Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
67. Pergi Berdua tanpa Rencana


🌹Tidak ada takdir yang kebetulan, semua sesuai dengan rencana-Nya. Tidak akan bisa menghindar jika Alloh sudah berkehendak.🌹


Jenar


Aku membuang pandangan keluar melalui jendela samping. Sesekali memandang lurus ke depan lalu menunduk sambil meremas jemari yang saling tertaut. Entah sudah berapa kali aku melepas pertautan jari, memainkan ujung jilbab, pura-pura membetulkan jilbab, lalu kembali meremas jemari.


Jika sedang gelisah, jemariku memang tidak bisa diam. Ada saja yang harus dimainkan. Entah ponsel, jilbab, gamis, bahkan dengan saling meremas telapak tangan. Gerakan spontan itu kulakukan untuk mengusir rasa tidak nyaman dan berusaha meredam gundah.


Bagaimana tidak merasa resah? Sebab, perjalanan yang kami lalui sudah cukup jauh, tapi belum ada tanda-tanda akan sampai. Dari tempat produksi tegel motif, Pak Hara mengarahkan kemudi ke selatan. Menyusuri jalan pedesaan yang menuju ke arah Borobudur. Sukses aku merasa khawatir, karena Pak Hara membawaku pergi sangat jauh dari rumah.


Semula aku mengira teman Pak Hara mungkin sedang berwisata di candi Borobudur, ternyata salah. Sebab, arah navigasi yang terpasang pada ponsel Pak Hara tidak mengarah ke sana. Melainkan ke arah perbukitan menoreh.


Aku sempat melirik nama tempat yang tertera di peta navigasi, sebuah restoran yang terletak di desa Ngargogondo kecamatan Borobudur. Dari jalan raya Pak Hara membelokkan kemudi masuk melalui jalan sempit dan menanjak karena lokasi restoran terletak di atas bukit.


Tempat yang baru-baru ini sedang menjadi perbincangan hangat di Magelang. Restoran dan lounge yang tidak hanya menyediakan makanan tapi juga venue dan view. Sangat cocok digunakan sebagai tempat acara atau hanya sekedar nongkrong menikmati pemandagan.


Sebagai seorang yang aktif berselancar di media sosial, aku sangat mengetahui berita tentang tempat ini. Foto-foto yang bertebaran di timeline, sedikit mematik keinginan untuk berkunjung. Namun, mengunjungi tempat dengan pemandangan alam yang indah bersama seorang pria asing dan tanpa rencana, tentu tidak menyenangkan.


Pak Hara menghentikan mobil di halaman parkir yang cukup luas, setelah melewati jalan sempit, menanjak dan berliku. Dia bergegas keluar dari mobil tanpa memedulikan aku yang sedang berusaha menghalau rasa tidak tenang. Aku melihat dari kaca mobil depan, dia sedang memandang sekeliling. Angin yang bertiup kencang berhasil membuat rambutnya berantakan.



Sumber : fankymedia.com


Kalau dipikir, sekarang Pak Hara terlihat berbeda. Rambut yang dulu setiap saat rapi dan berpomade, kini lebih sering dibiarkan begitu saja. Kalau dulu aku sering melihat dia memakai setelan jas tiga potong lengkap dengan dasi dan sepatu fantofel, kini dia kerap memakai setelan kaos dan celana chinos. Sepatu yang dipakai bukan lagi sepatu resmi kantoran, melainkan sepatu kets. Bahkan pernah aku melihatnya memakai sandal jepit bermerk sama yang biasa kupakai saat di rumah.


Aku menoleh ke samping kanan, sebab Pak Hara membuka pintu mobil. Kukira dia hendak mengambil sesuatu, ternyata malah bertanya padaku, “Nggak keluar?”


Aku menggeleng keras. Jemari belum bisa diam, pikiran pun masih tidak tenang. Kujawab pertanyaan Pak Hara meski dengan pertanyaan yang menyiratkan keraguan, “Saya boleh tunggu di mobil saja tidak?”


“Saya mungkin akan lama. Yakin kamu mau nunggu di sini?” Dia menggerakkan alis memastikan pertanyaanku.


Aku menjadi makin ragu. Satu sisi aku ingin sekali naik ke restoran untuk melihat pemandangan alam dari atas sana. Namun, perasaan tidak enak meminta untuk tinggal di mobil saja. Sebab, aku belum tahu teman seperti apa yang akan ditemui oleh Pak Hara, laki-laki atau perempuan? Teman bisnis atau teman main? Berbagai prasangka berputar dalam otak, membuatku kian sulit mengambil keputusan.


“Ya, sudah. Kalau nggak mau turun terserah kamu, tapi saya nggak janji bisa selesai cepat. Jangan salahkan saya kalau nanti kamu bosan, atau bahkan kelaparan di sini.” ucap Pak Hara seraya menarik badan, lalu menutup pintu mobil.


Dia berjalan pelan menjauh dari mobil. Aku menimbang dalam hati, tentang tetap berada di mobil atau mengikuti Pak Hara sambil melihat sekeliling tempat parkir. Sepi. Ada beberapa mobil, tapi tidak ada siapa-siapa yang terlihat di sekitar. Bahkan tidak ada orang meski hanya sekedar melintas, sontan membuat bulu kudukku berdiri.


Segera kuputuskan untuk keluar dari mobil. Setengah berlari aku menyusul Pak Hara yang sudah hendak menaiki anak tangga menuju restoran. Kuusap kedua lengan dengan telapak tangan, mengusir hawa dingin dan angker yang tadi menyapa.


“Pak Hara, tunggu!” teriakku sambil setengah berlari mengejarnya.


“Tidak jadi menunggu di mobil?” tanya Pak Hara dengan nada yang terdengar remeh.


Aku menggeleng, meski tahu Pak Hara tidak melihat sebab pria itu berjalan didepanku tanpa menoleh sedikit pun.


“Di sana sepi, saya takut ada hantu.” jawabku asal seraya menengok ke tempat parkir sebentar lalu mengangkat bahu, bergidik ngeri.


Pak Hara terlihat menggelengkan kepala, sambil terus berjalan menaiki anak tangga yang cukup panjang. Aku yakin, dia pasti sedang menertawakan tingkahku dalam hati.


“Kalau ikut saya tidak takut ditagih janji?” tanya Pak Hara lagi.


“Janji?” aku mengulang pertanyaan dengan dahi berkerut, tidak paham dengan yang ditanyakan olehnya.


Pak Hara menghentikan langkah tepat saat sampai di anak tangga paling atas. Sontan aku pun ikut berhenti. Di hadapan terpampang nyata bangunan rumah joglo yang cukup besar dengan halaman yang luas. Ada beberapa kursi dan meja dengan payung-payung besar. Ada juga yang berbentuk setengah lingkaran seperti meja bar yang tepat menghadap ke tebing. Perjalanan jauh dengan medan yang sulit terbayar sudah ketika sampai di restoran yang di bangun puncak bukit ini. Seketika rasa takut, khawatir dan tidak nyaman hilang, seperti embun yang menguap karena terkena sinar matahari.


Aku diam selama beberapa saat. Entah apa yang digumamkan oleh Pak Hara, tidak sepenuhnya terdengar, sebab aku sedang mengagumi keunikan layout restoran. Setengah sadar, aku melangkah, melewati Pak Hara sembari memandang ke segala arah. Aku benar-benar terpesona dengan keindahan bangunan restoran yang sederhana, tapi terkesan mewah karena nuansa etnik berpadu dengan tata letak yang bergaya modern.


Aku memutar badan, kali ini pemandangan alam yang tampak dari atas bukit berhasil menghipnotis mata. Sejauh mata melihat, hamparan hijau luas tampak seperti karpet yang digelar di bawah gunung-gunung. Kabut tipis yang menyelimuti, menambah syahdu pemandangan, rasanya seperti sedang berada di negeri atas awan.


Panorama enam gunung terlihat dari tempatku berdiri. Gunung Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Sumbing dan Prau terlihat samar, karena sedang mendung. Tidak hanya itu, candi borobudur juga terlihat meski kecil dan tidak begitu jelas karena tertutup kabut. Jika cuaca sedang cerah, pemandangan pasti lebih bagus dan memesona.



Sumber : Kompas.com


Cukup lama terlena dengan pemandangan indah yang baru kali ini kulihat, nyaman tenggelam dalam buai keindahan. Sampai seorang pria tiba-tiba sudah berdiri di sampingku, menyadarkan dari lamunan.


“Maaf, Mbak. Sudah booking tempat?” tanya waiters yang memakai seragam kemeja warna merah bata.


“Eh? Sa-” aku menjeda kalimat sambil celingukan. Baru sadar kalau Pak Hara tidak ada di dekatku. Kemana orang itu? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?


“Kalau belum booking, biar saya tunjukkan tempat yang masih kosong,” kata waiters lagi.


Aku masih celingukan mencari keberadaan Pak Hara, belum bisa menjawab pertanyaan waiters. Sambil menggaruk kepala yang tentu saja tidak gatal, membuatku bergumam tidak jelas. Menggerutu karena Pak Hara meninggalkanku tanpa kata-kata. Sungguh tidak sopan sekali pria itu.


“Bagaimana, Mbak?”


Tepat saat waiters bertanya lagi, aku melihat Pak Hara muncul dari bagunan rumah joglo. Tanpa menatap ke arahku, pria itu berjalan begitu saja ke arah kursi yang dinaungi payung besar.


Melihat itu aku segera menjawab pertanyaan waiters dengan cepat sambil menunjuk ke arah Pak Hara, “Maaf, Mas. Saya datang bareng dia.”


Dengan sopan waiters itu mengangguk, lalu mempersilakan aku menyusul Pak Hara.


Aku mengambil tempat duduk di depan Pak Hara yang telah lebih dulu duduk. Melihatnya tanpa rasa bersalah mengambil sebatang rokok lalu menyalakannya, tentu saja aku bersungut-sungut.


“Pak Hara kenapa tadi pergi tidak bilang? Saya sampai bingung ditanya waiters.”


“Saya bilang pun kamu tidak akan dengar,” jawab Pak Hara santai. Ia menghisap rokok, mendesis untuk menahan asap di tenggorokan kemudian mengembuskannya secara perlahan.


“Memangnya tadi Pak Hara ngomong sama saya?” tanyaku penasaran, sebab seingatku Pak Hara tidak mengatakan apa-apa.


Dia mengangguk, tanpa jawaban. Pria ini memang kaku sekali, sangat irit bicara, kalau ditanya pun menjawab dengan singkat, jelas dan terlalu padat.


“Pak Hara ngomong apa tadi? Kok, saya tidak tahu?” aku mengerutkan dahi, tanda sedang berpikir.


“Banyak.” jawab Pak Hara singkat.


Dia membuang pandangan ke samping, tapi badan condong ke depan dengan menekuk siku. Tangan kanannya terulur, mengetukkan rokok ke asbak untuk membuang abu di ujungnya.


“Karena kamu sedang bengong, jadi tidak tahu saya ngomong apa,” jawab Pak Hara ketus sambil terus merokok.


“Bisa diulangi lagi tidak, tadi Pak Hara bicara apa sama saya?” aku penasaran dengan apa yang dikatakan Pak Hara tadi, jangan-jangan ada sesuatu yang penting.


Dia mendesis lagi, menahan asap rokok yang baru saja ia hisap di tenggorokan sejenak. Kemudian, kepulan asap putih keluar dari mulut dan hidungnya.


“Nanti kamu yang bayar pesanan saya.” jawabnya serius. Tidak ada nada bercanda dalam ucapannya.


Sontan mataku membola karena terkejut. Tanpa sadar aku berseru keras, “Apa?”


“Masih nggak dengar juga yang saya katakan?” Pak Hara menatap remeh ke arahku.


Tatapan itu membuatku menjawab dengan terbata karena merasa kikuk, “Bu-kan tidak dengar, ta-pi-”


“Tempo hari kamu janji mau menraktir saya, kan? Kenapa sekarang jadi kaget?” aku melihat Pak Hara menjentikkan jari, membuang abu yang terkumpul di ujung puntung rokoknya ke dalam asbak.


“Iya, sih. Tapi tidak sekarang juga kali, Pak.” jawabku lesu.


“Kalau lain kali belum tentu saya ada waktu, sekarang mumpung kita di sini, kamu bisa bayarin pesanan saya nanti,” jawab Pak Hara enteng. Ia mengambil buku menu yang tergeletak di meja, membuka lalu membacanya.


“Sekarang saya belum bisa penuhi janji, nggak bisa bayarin pesanan bapak,” jawabku jujur. Dari pada susah pada akhirnya nanti, lebih baik jujur di awal.


“Kenapa tidak bisa?” tanya Pak Hara, entah dia benar-benar tidak tahu, atau hanya sedang pura-pura saja. Tadi aku pergi tanpa membawa apa-apa. Karena kami langsung berangkat begitu Mas Faiz mengajak. Tanpa sempat mengambil tas, dompet bahkan ponsel. Aku benar-benar pergi dengan tangan kosong.


Aku merogoh saku gamis guna mengambil sesuatu, menunjukkan selembar uang berwarna ungu kepada Pak Hara, “Saya cuma punya segini, mana bisa bayarin pesanan bapak? Buat bayar secangkir kopi di sini juga tidak cukup.”


Pak Hara melihat uang yang kutunjukkan. Walau dia hanya diam, tapi aku menebak dia sedang tertawa meremehkanku dalam hati.


“Oke!” seru Pak Hara. Dia menjeda kalimat untuk membuang asap rokok ke udara, “Saya yang bayar dulu, tapi nanti kamu ganti kalau sudah sampai rumah.”


Ya Alloh! Ini manusia mau memanfaatkan janjiku atau bagaimana, sih? Ngotot banget minta ditraktir. Padahal aku yakin dia punya uang lebih banyak dari pada aku. Mahasiswa yang hanya mengandalkan kiriman uang dari orang tua, tentu tidak bisa dibandingkan dengan Pak Hara yang tidur saja dapat gaji dari Kak Neesha dan Kak Reyfan.


“Ehm-” ragu-ragu aku ingin menyanggah. Meski sebenarnya tidak berani aku menyanggah ucapan Pak Hara, tapi untuk setuju begitu saja, rasanya berat.


“Tidak bisa diganti saja, Pak Hara?” tanyaku dengan sangat hati-hati.


“Apanya yang diganti?” Pak Hara mengembalikan pertanyaanku yang mungkin kurang jelas baginya.


“Tempatnya … bisa tidak kita makan di tempat lain saja? Jangan di sini, maksud saya,” aku mencoba bernegosiasi. Rasanya tidak rela jika harus merogoh tabungan hasil jualan online, hanya untuk menraktir Pak Hara makan di tempat ini.


“Tidak bisa! Teman saya nginep di hotel sini, sebentar lagi dia kemari. Lagi pula saya tidak tahu tempat lain,” jawab Pak Hara ketus.


Aku membuang napas. Dalam hati mengeluh dan menyesal karena sudah turun dari mobil. Kalau saja tadi aku tetap diam di mobil, menunggu Pak Hara sampai selesai bertemu temannya, pasti tidak akan kena sial harus mentraktirnya. Bukannya mau mengingkari janji, hanya saja benar-benar tidak ada rencana akan mentraktir Pak Hara di tempat mahal seperti ini.


Aku tahu harga makanan dan minuman di tempat-tempat wisata seperti ini cukup menguras kantong. Sebab, selain menjual venue mereka juga menjual view. Tempat makan dengan konsep tata ruang yang instagramable, menyajikan pemandangan alam yang indah tidak mungkin memberi tarif harga makanan sama seperti restoran biasa. Bahkan untuk datang ke tempat ini saja, harus melakukan reservasi dulu. Sebab, selalu penuh dengan pengunjung.


Meski logika dan jiwa ekonomis meronta, aku hanya bisa pasrah memenuhi keinginan Pak Hara. Pria itu pasti tidak peduli dengan apa yang sedang kupikirkan. Salahku mengapa harus membuat janji dengannya.


“Nah! Itu mereka datang,” ujar Pak Hara tiba-tiba. Ia melambaikan tangan ke atas sambil berseru, “Woi! Right here.”


Aku yang penasaran siapa teman yang akan ditemui oleh Pak Hara sontan menoleh ke belakang. Memicingkan mata demi melihat dua pria yang berjalan dari kejauhan. Salah seorang diantara dua pria itu membalas lambaian tangan Pak Hara.


Aku melebarkan mata ketika melihat dengan jelas dua pria jangkung melempar senyum sambil berjalan mendekat. Reflek aku berdiri tergesa sampai kursiku hampir jatuh. Beruntung bisa cepat meraih sandaran kursi, sehingga hanya bergoyang saja.


Pandanganku tak lepas dari menatap dua orang pria berwajah blasteran itu. Sampai dua pria itu telah berdiri di hadapan dan saling bersalaman dengan Pak Hara, aku sampai tidak berkedip melihat mereka. Sebab, tidak percaya bisa bertemu dengan mereka di tempat ini.


“Whatshap, Bro?” sapa salah seorang diantara dua pria berwajah hampir mirip itu kepada Pak Hara.


“Kukira kamu sendirian, Dan. Ternyata bersama adik kesayangan,” jawab Pak Hara. Mereka mengepalkan tangan dan melakukan gerakan tos dengan saling meninju.


“Sekarang dia rajin mengekorku, sudah pengin jadi anak baik katanya.” jawab Kak Danish. Putra sulung pemilik yayasan tempat sekolahku bernaung, juga ahli waris kerajaan bisnis terbesar di Surabaya.


Pak Hara tertawa. Kemudian beralih melakukan tos dengan pria di samping Danish, “Gitu, dong! Penerus Wijaya Grup harus belajar mengurus bisnis. Jangan main saja kerjaannya.”


“Sebenarnya males, sih, Kak. Tapi kalau saya tidak mau turun tangan dari sekarang, takut dicoret dari kartu keluarga.” jawab pria bermata biru itu diakhiri dengan tawa.


Aku mengedipkan mata, sebab Kak Danish dan adiknya kompak melirikku. Senyum ramah tersungging di bibir Kak Danish, tapi adiknya memperlihatkan senyum smirk yang membuatku sontan menunduk. Tatapannya tidak berubah sejak dulu hingga kini. Tajam dan menghakimi. Siapa pun pasti ingin menghindari tatapannya.


“Kak Hara, kok bisa bareng Jenar?” Pertanyaan itu terdengar sumbang di telingaku. Dia pasti menduga yang tidak-tidak mengapa aku bisa bersama Pak Hara di sini.


“Tentu saja bisa, kamu lupa kalau Hara kerja sama Kakaknya Jenar?” Bukan Pak Hara yang menjawab, tapi Kak Danish.


Dia berkata sambil mengambil tempat duduk, terdengar dari derit bangku yang ditarik. Sementara aku masih berdiri dengan terus menghindar dari tatapan pria yang sudah begitu lama kuhindari. Aku mengira kami tidak mungkin bertemu setelah dia lulus sekolah menengah atas, ternyata takdir berkata lain.


“How are you, Swetie? Long time no see ….”


Mendengar sapaan itu, jantungku berdegup kencang. Tanpa sadar tanganku meremas gamis dengan kuat. Tidak menyangka akan berada dalam situasi ini, di tempat yang juga tidak pernah kuperkirakan. Takdir memang tidak ada yang kebetulan, tidak bisa kita menghindar jika Alloh telah berkehendak.


Namun, bolehkah aku berharap takdir yang sedang berjalan ini bukan sebuah kenyataan? Andai ini hanya mimpi, aku ingin segera bangun.


.


.


.


Selamat pagi!


Apa kabar teman-teman, semoga selalu diberi kesehatan, keselamatan dan rejeki berlimpah, aamiin.


Bab selanjutnya awal puasa, ya. Jadi melalui ini saya minta maaf lahir batin, semoga kita semua diberi kelancaran menjalankan ibadah puasa. aamiin.


.


Tempat yang didatangi Hara dan Jenar, bagi orang Magelang pasti sudah familiar, ya. Sengaja tidak saya sebutkan namanya, karena saya belum diendors sama Danish, lho? 🤣 Tapi dari fotonya sudah bisa ditebak, ya, tempatnya. Selanjutnya saya mau bikin scene tempat-tempat indah di sekitar Magelang. Harap maklum, biar cepet risetnya. Kalau pergi jauh-jauh belum bisa, soalnya Jenar belum vaksin booster. (Alesan!)🤣🤣


Eh! itu siapa cowok yang pake panggilan mesra ke Jenar? Tunggu selanjutnya, ya.😊