
🍁Dalam jarak dan waktu yang membentang, ada sebuah harap temu pelepas rindu terpasang.🍁
Hara.
Masalah yang terjadi di kantor cabang, telah menyita waktu dan pikiran. Sebuah vendor memutus kerja sama karena pimpinan departemen pemasaran dianggap tidak konsekwen dengan perjanjian yang telah disepakati. Kerugian besar mengancam, kalau tidak segera diatasi.
Aku membuka ponsel guna mengalihkan penat, setelah bersitegang di ruang rapat. Kubuka salah satu aplikasi sosial media, barang kali bisa merefresh otak dengan berselancar di dunia maya. Sebenarnya aku adalah orang yang hampir tidak pernah membagikan moment di sosial media. Hanya sekedar scroll time line, apa kiranya yang sedang hangat dibicarakan oleh warganet.
Kualihkan pandangan ke luar jendela kaca, Suasana gelap membuat ingatanku otomatis tertuju pada seseorang. Gadis yang sok jaga image tidak mau diantar-jemput, Jenar. Sedang di mana dia sekarang? Masih di kampus, atau sudah pulang? Dalam cuaca mendung begini, dia pasti tidak aman jika sedang berada di luar sendirian.
Aku tersenyum masam pada bayangan samar yang terpantul pada kaca, mengejek diri sendiri. Tiga hari berselang setelah kami mengobrol di warung nasi goreng. Malam itu terpaksa aku menggendong Jenar ke kamar, karena dia sangat sulit dibangunkan. Sejak saat itu, kami belum pernah bertemu lagi. Jenar masih di kampus, setiap kali aku datang mengecek pekerjaan renovasi.
Masih teringat jelas malam itu, nada bicara Jenar yang tidak tenang saat meminta berhenti diantar-jemput. Dia pasti merasa tidak enak jika permintaan itu menyinggungku. Malam yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidup. Untuk pertama kalinya, aku bisa bicara dari hati ke hati dengan seseorang. Mendengarkan cerita dan mengabulkan permintaan Jenar, telah membuat hidupku terasa berguna.
Meski jarang bertemu, tapi intensitas kami berkirim kabar lewat pesan menjadi bertambah. Aku tak bisa menahan rasa penasaran sepanjang waktu, tentang apa yang sedang dia lakukan.
Termasuk saat ini, jemariku tergerak untuk mengirimkan chat padanya. Hanya sekedar ingin tahu dan berharap dia baik-baik saja dalam keadaan cuaca yang sedang buruk.
Tak perlu waktu lama, balasan pesan darinya datang. Dalam perjalanan pulang dari kampus. Capek banget, deh.
Aku tersenyum melihat gambar emoticon yang Jenar kirimkan. Gadis itu sekarang sudah berani mengeluh padaku, meski hanya lewat pesan singkat. Segera aku mengirimkan pesan lagi.
Tawaran jemput masih berlaku, kalau kamu berubah pikiran.
Jenar mengirimkan stiker gambar kartun tertawa, disusul kemudian sebuah kalimat.
Pak Hara tidak perlu repot-repot, saya diantar Aina sampai terminal tadi. Juga sudah ada Mas Rama yang setia menunggu, kok.
Aku tertawa kecil demi membaca balasan pesan dari Jenar. Teringat pernah cemburu dengan mas-mas nama bus yang dia sebutkan itu. Aku segera menanggapi chatnya.
Tapi tidak diantar sampai masuk halaman rumah, kan? Pasti tidak diajak mampir makan dulu, kasihan kamu harus menahan lapar selama perjalanan.
Jenar mengirimkan stiker gambar orang sedih, selang beberapa detik kemudian baru ia membalas pesan.
Pak Hara di mana? Apa tidak sedang sibuk?
Hanya pertanyaan sederhana, tapi mampu menghadirkan perasaan asing dalam hati. Rasa yang belum bisa terdefinisikan, antara senang dan terharu karena merasa diperhatikan. Segera kuketik balasan, agar Jenar tidak menunggu lama. Barang kali dia berubah pikiran minta dijemput.
Di kantor, sedang istirahat setelah meeting dengan departemen pemasaran.
Jenar mengirimkan balasan lagi, Pak Hara pasti lapar setelah meeting, kasihan …
Tidak juga, tadi sudah makan siang sebelum meeting.
Aku merasa harus memberi informasi kepadanya. Obrolan kami, hanya seputar hal-hal sepele, mengalir begitu saja layaknya dua orang teman akrab. Namun, sudah cukup membuatku merasa lega, bisa selalu mengetahui kabarnya.
Sudah dulu, ya, Pak. Sebentar lagi saya harus turun, nggak mau ikut Mas Rama sampai Semarang.
Aku hampir tertawa membaca balasan pesan yang kuterima. Sebuah pikiran terlintas, membuatku segera mengetikkan pesan.
Mendung di sini, sepertinya mau hujan. Kamu bawa payung, tidak?
Beberapa detik, hingga berganti menit, tidak ada jawaban yang datang. Mungkin Jenar sudah memasukkan ponsel ke tas, dan bersiap turun dari bus, sehingga tidak mengindahkan pesan singkatku.
Tanpa sadar aku menggerutu, “Sudah tahu musim hujan tapi tidak pernah kepikiran bawa payung kalau pergi, dasar ceroboh!”
Aku memasukkan ponsel ke saku jas, sambil membuang napas. Bersamaan dengan itu sebuah suara terdengar di telinga, “Siapa yang ceroboh?”
“Jenar,” jawabku spontan dan aku segera menyesali jawaban tanpa pertimbangan itu. Kuputar badan, demi melihat pemilik suara yang sangat kukenal.
Seorang gadis masuk ruangan dengan dahi berkerut, “Jenar?” Noura mengulangi ucapanku.
Segera kukuasai diri, menetralkan perasaan yang baru saja menghampiri. Otakku berpikir cepat, mencari kalimat penjelasan.
“Jenar adiknya Aneesha, atau orang lain yang namanya sama?” Noura menatapku dengan pandangan menyelidik, sambil melipat tangan dan menyandarkan pantat pada sisi meja.
Aku harus berdehem sebelum menjawab, mengatur nada suara sedatar mungkin.
“Adiknya Aneesha, kamu tentu sudah tahu sifat gadis itu, kan? Selalu ceroboh.”
Noura mengangguk, melepas lipatan tangan lalu beranjak. Ia berkata sambil duduk di kursinya, “Itu sebabnya setiap hari kamu menjemputnya akhir-akhir ini? Apa Mbak Aneesha yang memintamu melakukan itu?”
Aku menggeleng, Noura terlalu jeli mengamati sesuatu. Berbohong padanya hanya akan mempermalukan diri, karena ia sangat peka.
“Sejak kapan seorang Hara berinisiatif melakukan sesuatu di luar konteks pekerjaan tanpa diminta? Aku yakin kamu tidak mendapat bayaran, justru waktumu terbuang percuma. Kecuali, kamu mendapat keuntungan lain dari menjemput Jenar. Kenapa dia jadi sangat penting buatmu?”
Aku menghela napas, mendengar rentetan kalimat yang diucapkan Noura. Meski sudah memprediksi bahwa cepat atau lambat pasti akan ada yang curiga, tapi aku masih belum menemukan alasan yang tepat untuk menjawabnya.
"Something happend?” tanya Noura. Aku bisa membaca keingin tahuan yang besar dari sorot matanya. Kuputuskan untuk tidak memberi jawaban apa pun.
“Sejak kapan seorang Noura ingin tahu urusanku?” aku melangkah mendekati Noura, memberi ucapan penuh penekanan padanya, “Urus saja masalahmu sendiri!”
Noura tersenyum sinis, “Aku tidak akan ikut campur urusanmu. Hanya ingin mengingatkan, siapa kamu dan di mana posisimu! Jangan bermain api, kecuali kamu sudah menyiapkan pemadam kebakarannya.”
Aku mendengkus, dalam hati membenarkan ucapan Noura. Aku membalikkan badan, melangkah mendekati sofa yang terletak di sudut ruangan, lalu menghempaskan tubuh di sana. Wajah Jenar berkelebat dalam benak, wangi lembut bunga-bunga menari di ingatan. Jenar yang nampak pendiam, tapi ternyata banyak bicara. Senyum manisnya yang mampu meredakan segala emosi, dalam waktu bersamaan juga menghadirkan kehangatan hati.
“Mbak Aneesha tahu kalau kamu sering menjemput Jenar?”
Aku mengangguk menjawab pertanyaan Noura, “Aku sengaja memberi tahu Aneesha dan Reyfan.”
“Wow! Kamu cukup berani untuk tidak main belakang rupanya.” ucap Noura sambil manggut-manggut. Lalu melontarkan pertanyaan yang tidak bisa kujawab, “Apa kau menyukainya, Hara?”
Aku sama sekali tidak bermaksud sembunyi-sembunyi mengajak Jenar pergi. Namun, Jenar tentu punya hak untuk tidak menceritakan tentang terapi traumanya kepada keluarganya. Aku harus menghormati pilihannya untuk menyembunyikan rapat-rapat masalah ini.
“Bukan aku ingin menggurui, tapi kalau boleh memberi saran. Entah pikiran kita sama atau berbeda. Sebagai teman aku hanya ingin memberitahumu, bahwa jatuh cinta dengan orang yang berbeda keyakinan dengan kita, tidak akan pernah berhasil.” ucap Noura sarkas, seperti bisa menebak jawaban atas pertanyaan sebelumnya.
Aku diam, mencerna kalimat yang Noura katakan. Sepenuhnya aku sadar telah jatuh cinta pada Jenar, juga tidak ingin mengabaikan perasaan ini. Namun, sepertinya semesta menentang, bahkan sebelum perjuangan yang sebenarnya dimulai. Apakah aku tidak pantas menemukan cinta?
***
Halaman rumah Aneesha tampak lengang, saat aku memasuki pagar yang sedikit terbuka. Tidak ada aktivitas apa pun di pendopo maupun di musola kecil pada hari minggu yang biasanya ramai. Pintu belakang rumah utama tampak terbuka, menandakan bahwa ada orang di dalam.
“Kok sepi, Om?” Pertanyaan Naufal sama seperti yang sedang kupikirkan.
“Mungkin latihannya sudah selesai,” jawabku, menyimpulkan sendiri.
Aku memarkirkan motor tepat di depan musola, lalu mengajak Naufal turun. Setelah menggantungkan helm pada spion, kutuntun Naufal melintasi pendopo menuju rumah utama. Suara pintu terbuka dari dalam, ketika kami sampai di gazebo kecil samping kanan pendopo.
Mas Faiz muncul, tersenyum ramah menyambut kami. Kuarahkan Naufal untuk bersalaman dengannya, lalu kami duduk di gazebo.
“Tumben sepi, Mas?” tanyaku bukan sekedar basa-basi, tapi memang ingin tahu di mana penghuni rumah yang lain.
“Kegiatan dialihkan ke pondok pesantren, ada acara dalam rangka memperingati hari santri.” jawab Mas Faiz.
Aku mengangguk, kemudian bertanya lagi, “Mas Faiz tidak ikut?”
“Tadi di sana sebentar, yang kecil rewel, terpaksa pulang duluan. Nggak mungkin saya suruh Nanda pulang sendiri, kan?” jelas Mas Faiz.
“Arkaan tidak kelihatan, Mas?” aku menanyakan anak sulung Mas Faiz yang tidak kelihatan di sekitar rumah.
“Tadi ikut ke acara, tidak mau diajak pulang. Jadi masih di sana dengan Jenar dan Irkham. Mendampingi anak-anak yang tampil di pentas.” jawaban Mas Faiz sekaligus menjawab rasa ingin tahuku tentang keberadaan Jenar.
“Sengaja dari rumah ke sini, atau hanya mampir?” Mas Faiz balas bertanya padaku.
Aku berpikir sejenak untuk menjawab pertanyaan Mas Faiz. Sering berinteraksi dengan berbagai macam tipe orang, tidak membuatku pintar berbasa-basi.
“Naufal yang ngajak ke sini tadi,” kugunakan anak berusia 4 tahun di sebelahku sebagai alasan.
Mas Faiz manggut-manggut, seperti tidak peduli dengan jawabanku. Ia mengalihkan pandangan kepada Naufal, “Sebentar lagi sepertinya Arkaan pulang, tunggu saja! Biasanya acara di pesantren, dzuhur sudah selesai.”
Naufal tidak terlalu mendengarkan ucapan Mas Faiz, pandangannya mengarah pada kolam yang terletak di ujung halaman. Tempat favorite semua orang yang berkunjung ke rumah ini.
“Om! Makani iwak, yo!” Seperti yang sudah kuduga, Naufal pasti tidak sabar ingin memberi makan ikan.
Aku meminta ijin kepada Mas Faiz untuk menuruti permintaan Naufal. Kami beranjak, setelah Mas Faiz mengiyakan. Dalam hati aku bersyukur, mengajak Naufal ke mari. Anak kecil cerewet ini, selain dijadikan sebagai alasan, juga bisa menemani mengisi waktu selama menunggu Jenar pulang.
Ya, alasan utamaku datang, tak lain karena ingin bertemu dengannya. Gadis yang berhasil merajai pikiran dan perasaanku. Seminggu tidak saling sapa secara langsung, tak kupungkiri, rindu pun hadir tanpa permisi.
Tengah hari yang cukup terik, terdengar suara deru mesin kendaraan masuk dari pintu gerbang. Sontan aku menoleh ke sumber suara, dengan rasa ingin tahu. Seorang yang membonceng sepeda motor turun untuk membuka pintu pagar lebih lebar. Terlihat dua buah mobil dan beberapa motor masuk ke halaman. Aku mendengkus, mengetahui dengan pasti pengendara salah satu mobil yang baru saja berhenti tepat di depan pendopo.
Gumam-gumam orang terdengar samar-samar, disusul suara pintu mobil dibuka lalu ditutup kembali. Nampak beberapa orang yang baru saja turun dari mobil, saling berbincang sambil tertawa. Pemandangan biasa, tapi berhasil menghadirkan rasa yang tidak biasa dalam hati. Seperti ada hawa panas merasuk dalam aliran darah, membuat tubuhku terasa gerah.
“Arkaan!” seru Naufal memanggil seorang anak kecil yang sedang dituntun oleh Jenar.
Sontan semua orang yang baru datang, memandang ke arah kami. Arkaan bergeming, sejenak kemudian dia berlari menghampiri. Terlihat binar gembira pada wajah kecil yang penuh keringat itu.
Mataku tak lepas dari menatap Jenar. Dia berdiri terpaku di samping mobil, mungkin terkejut melihatku. Sejenak pandangan kami bertemu. Walau dari jarak yang lumayan jauh, bisa kulihat lengkung tipis di bibirnya sebelum dia menunduk. Beberapa saat kemudian, dia tampak sibuk menurunkan barang-barang dari mobil bersama orang-orang.
“Om! Oleh mancing ora?” Aku menggeleng, tanpa mengalihkan pandangan. Tidak mengijinkan Naufal memancing ikan, juga tidak ingin melepas tatapan dari gadis yang sedang kewalahan membawa beberapa kantong kresek.
Kakiku sudah hendak melangkah, tergerak ingin membantu Jenar. Namun, pada saat yang sama pula, kulihat Lion dengan cepat mengambil alih barang bawaan dari tangan gadis itu. Seketika kuurungkan niat, kecewa pun merayap menghinggapi perasaan.
Celoteh riang Naufal dan Arkaan terdengar lantang di telinga. Tidak kugubris, sebab pikiran dan hatiku sedang sibuk berkecamuk. Darah terasa mendidih, gerah makin terasa di sekujur tubuh hingga kepala. Tanganku terkepal, menahan luapan rasa yang hadir begitu saja.
Aku marah mengetahui ternyata Jenar pergi bersama Lion, sekaligus iri karena pria itu bisa cepat berbaur dengan orang-orang di sekitar Jenar. Sekuat tenaga aku melawan rasa yang berkelindan. Meski sudah terlatih untuk mengontrol emosi di depan orang banyak, tapi kali ini kuakui aku kesulitan untuk melakukannya.
Bukan perkara mudah menerima segala emosi yang menghinggapi hati. Sungguh, aku menyesal telah datang ke mari hari ini. Seseorang yang kehadirannya selalu kurindukan setiap malam, berharap bisa bertemu dalam mimpi maupun kenyataan. Namun, justru rindu ini hanya berbalas cemburu. Bukan pertemuan seperti ini yang sejatinya kuharapkan.
.
.
.
Bersambung....
Hai teman-teman, ada yang benar-benar sedang cemburu, nih. Kira-kira seperti apa jadinya kalau Hara yang sudah menyadari perasaannya berhadapan dengan Lion yang tak gentar mencari perhatian Jenar dan keluarganya? Bakal ada kejadian apa di rumahnya Aneesha, ya? Perang Bharatayudha atau Perang dunia ketiga, nih? Hara sudah kepanasan, nih. hawanya seperti terkena abu vulkanik letusan Gunung Merapi kayaknya dia. hehe ....