Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
65. Jalan Takdir


🍁Sering kali perjalanan hidup sampai pada peristiwa yang terjadi di luar nalar kita, tapi itulah takdir ... selalu berjalan sesuai dengan rencana-Nya.🍁


Hara.


“Ini rumah atau keraton, sih? Luas banget, ada pendopo, gazebo, taman, kolam ikan. Ya, Alloh! Bos kamu kaya raya, ya, Hara?” ucap Mas Akmal takjub, sambil memandang sekeliling rumah Aneesha.


“Begitulah, Mas. Ini hanya salah satu rumahnya, masih ada vila, apartemen dan rumah yang ditempati sendiri di Jakarta sana.” jelasku.


“Jadi bos kamu tinggal di Jakarta? Tempat seluas ini kosong, dong?” tanya Mas Akmal.


“Nggak, Mas. Ada adiknya yang tinggal di sini,” jawabku.


“Oh, cewek yang pernah pingsan terus kamu bawa pulang itu, ya? Berani dia tinggal di tempat sebesar ini sendirian?” tanya Mas Akmal seolah tidak percaya.


“Beranilah, Mas. Ada asisten rumah tangga yang nemenin, kok. Ada yang jaga malam juga, pakde sama sepupunya juga sering ke sini. Sekarang malah tiap hari ramai orang karena sedang ada pekerjaan renovasi.”


Mas Akmal berdecak sambil menggelengkan kepala, kagum. Padahal rumah Aneesha ini tidak terlalu besar, hanya tanahnya memang luas. Masih banyak rumah yang lebih besar dan lebih mewah dari pada ini, tapi sukses membuat Mas Akmal terpana. Dia bahkan sampai turun dari motor agar bisa melihat lebih jelas ke sekeliling.


“Sedang ada acara, ya? Banyak orang di sana?” tanya Mas Akmal seraya menunjuk dengan dagu ke arah gazebo, nampak beberapa ibu-ibu duduk berbincang di sana. Sementara di pendopo ada beberapa anak yang sedang berlatik menggambar.


“Biasa, Mas. Setiap minggu dipakai untuk latihan seni anak berkebutuhan khusus. Ada yang sedang belajar ngaji juga di sana,” jawabku menunjuk arah mushola.


“Masyaalloh! Bos kamu keren, Hara!”


Belum selesai Mas Akmal mengagumi rumah Aneesha, sebuah mobil jeep warna hijau masuk ke halaman. Pengemudinya melempar senyum ramah saat menghentikan mobil di depan kami. Patut diapresiasi semangat Lion, setelah kemarin tidak punya kesempatan banyak ngobrol dengan Jenar, siang ini dia datang lagi. Gigih sekali perjuangan untuk mendapatkan perhatian Jenar.


“Selamat siang, Pak Hara? Ketemu lagi kita.” sapa Lion ramah, setelah turun dari mobil dan melepas kaca mata hitamnya.


Aku mengangguk, membalas sapaannya. Dia berlalu setelah berjabat tangan denganku dan Mas Akmal, mungkin sudah sangat ingin bertemu dengan pujaan hatinya.


“Ayo, bali (pulang), Pak!” seru Naufal menginterupsi Mas Akmal yang masih memandang halaman luas di depan pendopo.


Tanpa menjawab, Mas Akmal menghentikan rasa takjupnya dan segera naik ke motor. Selama beberapa detik, dia diam dengan pandangan mata tertuju pada satu arah. Bahkan sampai menghentikan gerakan tangan yang hendak memakai helm.


“Mas kayak kenal vespa itu, deh, Hara.” ucapnya menunjuk vespa warna kelabu yang terparkir di bawah pohon kersen dekat mushola.


“Oh, itu punya Mas Faiz, sepupunya bos.” jawabku.


“Faiz?” Mas Akmal melihatku dengan dahi berkerut, membuatku mengangguk ragu.


“Abdullah Faizul Muhan, bukan?”


“Wah! Kalau nama lengkapnya saya tidak tahu, Mas. Cuma tahu nama panggilannya saja.”


Mas Akmal menggaruk kepala sambil menyengir. Lalu dia menunjuk stiker yang tertempel di helmnya, “Stiker di bagian belakang vespa itu, sama dengan ini, kan?”


Aku memerhatikan stiker yang ditunjuk oleh Mas Akmal, benar warnanya sama dengan yang tertempel di bagian belakang vespa. Namun, aku tidak tahu apakah tulisan dan gambarnya sama atau tidak, sebab tidak bisa melihat dengan jelas stiker yang tertempel di vespa milik Mas Faiz.


“Ayo, to, Pak!” Naufal kembali menginterupsi. Anak itu pasti sudah lelah dan kekenyangan jadi ingin cepat pulang. Dia bahkan menolak saat aku menawarkan pulang bersama naik mobil, ingin tetap pulang dengan bapaknya naik motor. Katanya dia pusing kalau naik mobil pakai AC, dasar bocah!


“Yang punya stiker seperti ini pasti satu angkatan dengan saya di pondok dulu. Saya punya teman, namanya Faizul, sudah lama sekali kami tidak bertemu. Kalau benar itu vespa punya dia, titip salam, ya!” jelas Mas Akmal sembari memakai helm kemudian menyalakan mesin motor.


“Nanti coba saya tanyakan, Mas.” ucapku.


“Ya, sudah. Saya pulang, ya.” pamit Mas Akmal.


“Makasih, ya, Mas. Sudah nganter saya sampai sini. Hati-hati, Naufal ngantuk sepertinya.” Aku mencubit pelan pipi Naufal, gemas.


“Sing ngantuk buang dalan! (Yang ngantuk, buang saja di jalan)” ucap Mas Akmal diakhiri tawa.


“Bapak!” seru Naufal dengan nada merengek.


Tawa Mas Akmal dan gerutu Naufal masih terdengar samar, ketika motor mulai melaju keluar dari halaman rumah. Aku menggelengkan kepala, menatap kepergian mereka hingga menghilang di balik pagar. Baru menghampiri mobil yang terparkir di samping mushola.


Tidak berubah sejak kemarin aku meninggalkannya, hanya mobil itu tertutup cover agar terlindung dari air hujan. Jelas saja tidak ada yang bisa menepikan mobil itu, atau memasukkannya ke dalam garasi. Sebab, kuncinya kubawa dan aku tidak meninggalkan pesan apa-apa terkait mobil itu. Kemarin, aku mengajak Lion pergi begitu saja, tanpa memikirkan masalah mobil, sikap impulsif yang absurd memang. Beruntung ada yang berinisiatif menutup mobil itu, jadi aman terkena hujan.


Setelah membuka cover, aku menghidupkan mesinnya, mengambil lap untuk mengelap bagian-bagian yang kotor dan sedikit basah. Samar-samar terdengar suara orang membaca ayat suci. Reflek aku melongok ke dalam mushola kecil melalui jendela kayu yang terbuka. Nampak Mas Faiz sedang memberi contoh cara melantunkan bacaan ayat suci kepada anak-anak kecil yang duduk tenang di hadapannya.


Suara merdu mas Faiz terdengar nyaring, indah sekali sampai merasuk ke dalam kalbu. Apalagi ketika sekelompok anak-anak menirukan bacaan Mas Faiz, sukses menggetarkan hati.


Aku merasakan denyut aneh di dalam sana, seperti ada yang menggelitik dan mendorongku menajamkan pendengaran. Tak mengerti tentang perasaan apa ini. Ketika bersamaan dengan semilir angin yang menerpa, ada getar yang terasa di dalam dada. Sontan aku mengusap lengan dan tengkuk, merebahkan bulu roma yang berdiri tanpa permisi.


Berulang kali kucoba tidak menghiraukan, tapi dorongan kuat dari dalam sana memaksa untuk menghentikan aktivitas. Aku berjalan beberapa langkah, lalu duduk di atas batu besar dekat dengan tempat wudlu. Dari sini, suara merdu itu terdengar lebih jelas, getar dalam hati pun makin menggebu. Ya, Tuhan! Dadaku sesak, tapi aku tidak ingin berhenti mendengarkannya.


Kuremas kemeja bagian dada sambil memejamkan mata, menahan sesak yang hadir begitu saja. Keringat dingin keluar dari punggung dan keningku, terasa sangat dingin karena diterpa angin; merinding. Meski sudah biasa mendengar orang mengaji, tapi rasa sesak dalam dada tak kunjung hilang atau sekedar berkurang. Selalu seperti ini … bahkan hingga suara itu berhenti; aku seolah masih berada di dalam pusaran angin topan. Semua benda di sekitarku mengabur dan aku sendirian.


Detak jantung yang tidak beraturan lambat laun menemukan ritmenya, sesak di dalam dada pun kian berkurang. Suara merdu itu sudah berhenti sejak beberapa saat yang lalu, berganti dengan gumam-gumam orang keluar dari mushola.


Satu per satu orang-orang meninggalkan pendopo, karena kegiatan mereka telah selesai. Suara deru mesin motor terdengar gemuruh, tapi hanya sesaat. Seketika keadaan rumah joglo yang semula ramai, menjadi sepi.


Sensasi asap dari rokok yang dibakar terasa masuk ke aliran pernapasan, menggelitik syaraf yang menghubungkan dengan otak. Pikiranku menerawang, membayangkan banyak hal. Hingga sekelebat wajah mama terlintas dalam benak tanpa bisa dicegah, membuatku otomatis tersenyum masam.


Mama … yang selalu punya jawaban dari setiap pertanyaanku. Yang paling paham tentang keinginanku, bahkan sebelum aku mengutarakannya. Bahkan mama sering menebak dengan tepat apa yang sedang kupikirkan. Jika mama ada di sini sekarang, mungkin dia tahu tentang kegelisaan batinku.


‘How are you, Ma? Aku ingin bertemu denganmu, sesering aku memikirkanmu,’ batinku dalam hati.


Jika ada rindu yang paling menyakitkan, itulah yang kurasakan saat ini. Merindukan orang yang telah tiada, ingin bertemu dengan dia yang sudah hidup di alam berbeda. Jika Mbak Nabila dan Mbak Nadia bisa menitipkan rindu mereka melalui do’a, maka aku hanya bisa menangis tanpa airmata.


Angin berembus kencang menerpa tubuh, membuat rambutku yang sedikit memanjang jadi berantakan. Kurapikan dengan jemari tangan kiri, sambil mengisap rokok yang tinggal separuh. Entah mengapa rokok pun terasa pahit, seperti ikut larut dalam suasana hatiku yang sedang tidak menentu.


“Hara!”


Aku menoleh ke belakang, saat mendengar suara berteriak memanggil. Dari arah pendopo, nampak Mas Faiz melambaikan tangan sambil berteriak lagi, “Sini! Ngeteh bareng!”


Sontan aku mengangguk, meski tak lekas beranjak. Ada putra-putri Mas Faiz di sana, jadi aku harus mematikan rokok dulu. Tidak baik merokok di dekat anak kecil, apalagi putri kedua Mas Faiz masih sangat kecil. Tentunya aku tidak boleh jadi perokok yang egois.


Aku baru beranjak, setelah tuntas merokok dan Mas Faiz sudah memanggil untuk kedua kali. Nampak beberapa orang duduk lesehan di atas tikar, dengan berbagai macam suguhan dan teh yang mengepulkan asap panas. Lion sudah sok akrab mengobrol santai dengan istri Mas Faiz dan Jenar, sedangkan Mas Faiz sedang bercanda dengan anak-anaknya.


“Kemarin saya ke sini, tapi njenengan (anda) sudah pulang. Tumben pulang cepat, ada acara lain, ya?” tanya Mas Faiz setelah aku duduk di dekatnya.


“Iya, Mas. Sudah mendung sekali, jadi saya pulang cepat.” jawabku beralasan.


“Gara-gara Pak Hara pengen pulang cepat kemarin, saya jadi belum puas ngobrol sama Jenar.” sela Lion bersungut-sungut. Namun, tidak ada yang menanggapi.


“Oya, mobil kenapa ditinggal? Rusak, ya?” tanya Mas Faiz.


“Nggak-,” aku menjeda kalimat, berpikir cepat mencari alasan yang logis baru melanjutkan, “kemarin Reyfan bilang Tara mau datang ngecek mesin mobil-mobil yang di garasi. Saya pikir kalau mobil itu mau dipakai Tara, ternyata dia tidak jadi datang.”


Mas Faiz mengangguk, Jenar menunduk, Mbak Nanda melirik ke arahku dan Lion mencibir. Membuatku merasa sedikit canggung karena alasan yang kuutarakan sangat ganjil.


“Saya pengen ngobrolin masalah lantai rumah yang mau diganti itu, lho.” kata Mas Faiz menginterupsi kecanggunganku.


“Oh, iya, Mas. Aneesha ingin lantai rumah kecuali kamar diganti semua. Yang tadinya pakai lantai kayu, ingin diganti tegel motif katanya.” jawabku menjelaskan tentang obrolan dengan Aneesha dan Reyfan beberapa hari yang lalu melalui sambungan telepon.


“Tegel motif yang seperti ini?” Mas Faiz menunjuk lantai pendopo, tempat kami duduk.


Aku mengangguk membenarkan, “Iya, tapi saya tidak tahu di mana pesan tegel yang seperti ini. Dulu yang pesan ini siapa, ya, Mas?”


“Aneesha sendiri yang pesan. Dia cari produsennya, datang ke tempat produksi, pilih motif sampai ukur luas lantai ini sendiri.” jawab Mas Faiz.


Aku tidak mengetahui tentang pembangunan tempat ini, Aneesha sendiri yang mengurus semuanya. Setelah menikah dengan Reyfan, dia menyerahkan kepada Mas Faiz dan Mbak Nanda untuk mengurus tempat ini. Jadi saat renovasi ini aku banyak berdiskusi dengan mereka, juga Pak Teguh.


“Kamu pernah ikut ke pabrik tegel motif itu, kan, Jen?” Mas Faiz bertanya kepada Jenar disela diskusi kami.


Jenar yang sedang mendengarkan Lion bicara, terkejut. Sontan mendongak lalu bertanya, “Pabrik tegel motif milik Pak Haji Baihaqi, bukan, Mas?”


Mas Faiz mengangguk, “Iya. Yang kita pesan westafel di sana juga.”


“Oh! Iya, saya pernah antar Kak Neesha ke sana,” tutur Jenar


“Berarti kamu bisa antar kami ke sana, dong?,” tanya Mas Faiz.


“Insyaalloh bisa,” jawab Jenar singkat.


“Alhamdulillah … beres soal tegel motif,” ucap Mas Faiz penuh kelegaan.


Aku belum mengatakan apa-apa, sebenarnya masih ada yang ingin kudiskusikan dengan Mas Faiz. Namun, tiba-tiba Jenar beranjak seraya bertanya, “Kita pergi sekarang, Mas?”


Aku mendongak, melihat Jenar yang berdiri. Belum sempat aku bicara, Lion sudah mendahului, “Nggak bisa, dong, Jen! Masa kamu mau pergi begitu saja, aku masih di sini, lho. Barusan rencananya aku mau ajak kamu jalan, lho.”


Jenar terlihat salah tingkah, “Maaf, Kak. Saya harus pergi sekarang,mumpung hari minggu, kalau besok saya ada jadwal kuliah.”


Aku masih belum bisa membaca situasi. Bingung melihat Mas Faiz dan Mbak Nanda yang mengangguk dan ikut beranjak. Bahkan Mas Faiz menyerahkan putri kecilnya kepada Mbak Nanda, kemudian dia membereskan suguhan. Aku sampai harus menggaruk kepala yang tentu saja tidak gatal, karena tidak paham dengan yang terjadi secara tiba-tiba ini. Kadang takdir memang berjalan di luar nalar kita.


Kami semua pergi meninggalkan Lion begitu saja. Sempat aku menawarkan kepadanya untuk ikut, meski hanya sekedar basa-basi. Namun, dia tidak mau dan memilih pulang ke Wonosobo. Kali ini bukan aku yang menggagalkan kencannya dengan Jenar, tapi Mas Faiz. Sepertinya Mas Faiz dan Mbak Nanda tidak suka Lion berlama-lama di sini. Tentu saja mereka harus bertindak hati-hati terhadap setiap tamu yang datang, apalagi untuk bertemu Jenar. Karena Jenar ada dalam tanggung jawab mereka, selama tinggal jauh dari orang tuanya.


.


.


.


Bersambung ....


Tetap setia, ya, teman-teman ....😊