Merapah Asa, Menjemput Hidayah

Merapah Asa, Menjemput Hidayah
117. Buah sebuah Kesalahan


...🌵Sebuah kesalahan tidak akan selesai hanya dengan maaf dan penyesalan🌵...


Hara


Kupandangi layar ponsel yang menampilkan sebuah roomchat, berharap ada yang berubah pada isi pesan di dalamnya. Puluhan pesan tak terbalas dan belasan panggilan tidak dijawab. Beberapa menit berlalu, tetap tidak ada yang berubah. Bahkan, deretan chat terakhir hanya bertanda centang satu.


Embusan napas berat keluar dari hidung, satu hal yang kukhawatirkan benar-benar terjadi. Jenar memblokir nomer ponselku, membuat aku tidak bisa menghubunginya. Sepertinya kali ini kemarahannya telah memuncak, pasti sulit diredakan. Memang salahku, telah bertindak spontan dan tanpa pikir panjang. Karena terlalu terbawa suasana, aku sampai lupa bahwa Jenar bukan gadis yang mudah disentuh oleh sembarang laki-laki.


Apa yang harus kulakukan sekarang? Nomer telepon telah diblokir, pasti dia juga tidak mau bertemu denganku.


Kutarik napas panjang sambil memejamkan mata. Dada ini terasa sesak sekali, seperti ada batu besar yang menghimpit. Baru kali ini aku merasakan menjadi manusia yang begitu bodoh, seolah tidak bisa melakukan apa-apa.


“Mbak pikir kamu sudah pergi, ternyata masih di sini.”


Suara dari arah belakang, membuatku menoleh cepat. Mbak Nabila berjalan pelan keluar dari pintu rumah. Ia menatapku sekilas, kemudian berhenti tepat di sebelah tiang. Bunga anggrek yang sedang mekar menjadi sasaran sentuhan jemari lentiknya.


“Malah bengong? Sudah sarapan?” tanya Mbak Nabila karena aku hanya diam sambil terus menatapnya.


“Mbak perhatikan dari semalam kamu gelisah, apa sedang ada masalah?” tanya Mbak Nabila tanpa melepas pandangan dari bunga warna ungu di hadapannya.


Aku hanya diam, tidak sanggup menjawab pertanyaan itu.


“Memang bukan urusan mbak, sih. Hanya karena kamu tinggal di sini, tidak semuanya harus kamu ceritakan pada mbak.” terdengar Mbak Nabila mendesah lalu melanjutkan kalimat, “Tapi mbak tidak ingin kamu memendam masalah sendiri, apalagi kalau berhubungan dengan keluarga ini.”


Aku tersenyum masam, lalu menggeleng paham dengan ucapannya. Kulihat Mbak Nabila menoleh ke arahku, melipat tangan lalu mendekat. Sorot matanya yang teduh menatapku intens.


“Alhamdulillah kalau kamu tidak punya masalah dengan salah satu dari kami, karena Mbak yakin tinggal satu atap dengan orang-orang yang berbeda karakter itu tidak mudah. Saya dan bapak yang sudah lama tinggal bersama saja, kadang-kadang cek-cok. Apalagi kamu yang baru beberapa bulan, mungkin ada sikap kami yang tidak berkenan di hatimu.”


Kalimat panjang yang diucapkan oleh Mbak Nabila membuatku terenyuh. Sungguh halus perasaan perempuan ini, sehingga diam dan gelisahku justru membuatnya merasa khawatir.


“Mbak ini ngomong apa? Saya tidak ada masalah dengan keluarga ini, saya sangat nyaman tinggal di sini.” tukasku sambil berjalan pelan melewati kakak perempuanku itu.


“Alhamdulillah kalau begitu, mbak juga senang kamu tinggal di sini. Rumah ini jadi ramai dan yang pasti Naufal jadi ada teman jika kami semua sedang pergi bekerja. Maaf jika kami sering merepotkanmu” aku menghentikan langkah, ketika mendengar ucapan Mbak Nabila.


Sekilas aku menarik napas lalu menoleh, “Saya tidak merasa direpotkan, Mbak. Justru karena tinggal di sini, saya jadi merasa mempunyai keluarga.”


“Kita memang keluarga, kan?” Mbak Nabila tersenyum menatapku dengan tatapan lembut yang membuatku terharu.


Terbersit sebuah pemikiran dalam benak, mungkin kakakku ini punya jawaban atas kegelisahanku. Mungkin aku bisa bertanya padanya, tentang apa yang harus kulakukan untuk membujuk Jenar yang sedang marah.


“Mbak?” kupanggil dia yang masih terpaku di teras rumah.


Mbak Nabila menggerakkan alis, menunggu aku melanjutkan ucapan. Aku yang tadinya sudah berada di ambang pintu, melangkah lagi keluar.


“Bagaimana caranya membujuk perempuan yang sedang marah?” aku memberanikan diri bertanya, walau sebenarnya ada rasa canggung dan malu berterus terang.


Kulihat Mbak Nabila mengerutkan alis, mungkin tidak paham dengan pertanyaanku.


“Begini, aku-kami-dia … ehm--” tiba-tiba lidahku kelu untuk menjelaskan tentang permasalahan yang sedang kualami.


Mbak Nabila menutup mulut, dia tersenyum, bukan! Lebih tepatnya dia sedang menahan tawa, membuatku makin malu saja. Aku yakin pasti wajah ini sudah berubah warna menjadi merah, udara pun tiba-tiba terasa panas padahal matahari belum bergerak sepenggalah.


“Cewekmu sedang marah?” tanya Mbak Nabila setelah berhasil meredakan tawa tertahan.


“Bukan cewek! Eh, maksudnya, dia-ehm-” tiba-tiba tanganku bergerak tak beraturan seperti orang yang sedang diserang panik karena khawatir Mbak Nabila salah paham.


“Hara, hara ….” Mbak Nabila menggeleng, “Baru didiemin cewek sudah seperti dunia mau kiamat saja.” ungkapnya yang membuatku malu.


“Marahnya karena apa? Kamu tahu tidak penyebabnya?” Kali ini nada bicara Mbak Nabila sedikit serius, meski masih ada sisa tawa di wajahnya.


“Aku yang salah,” jawabku lirih.


Mbak Nabila manggut-manggut, “ berarti harusnya kamu tahu caranya biar dia nggak marah lagi. Sudah minta maaf?” Mbak Nabila menjeda sebentar kalimatnya, “Kadang laki-laki itu sudah paham kalau salah tapi tidak mau minta maaf duluan. Harga dirinya terlalu tinggi, lebih mendekati egois, sih. Padahal bagi kami para perempuan, kata maaf itu sangat berharga.”


Aku membuang napas kasar sebelum menjawab, “Saya sudah minta maaf, tapi tidak ada jawaban. Mungkin saat itu dia terlalu marah. Sekarang bagaimana bisa mengulangi minta maaf, sedangkan nomor saya diblokir.”


Mbak Nabila kembali menutup mulut, menahan tawa. Aku tidak tersinggung, karena sedang sibuk menyesali diri.


“Sudah coba temui dia langsung?” tanya Mbak Nabila yang hanya kujawab dengan menggeleng.


“Kalau tidak bisa menghubungi lewat telepon, coba saja datangi dia secara langsung. Perempuan biasanya senang kalau dikasih perhatian seperti itu. Kamu datang langsung untuk minta maaf merupakan wujud kalau kamu perhatian sama dia. Bisa jadi langsung dikasih maaf, deh.” jelas Mbak Nabila.


“Semudah itu, Mbak? Kalau dia tidak mau ketemu saya bagaimana?” tanyaku frustasi.


“Kan, belum dicoba. Namanya juga usaha, kemungkinannya ada dua, gagal dan berhasil. Kalau berhasil alhamdulillah, kalau gagal bisa dicoba pakai cara lain.” Mbak Nabila tersenyum menatapku.


Walau pesimis, tapi aku jadi ingin mencoba idenya. Apa salahnya mencoba, semoga berhasil.


“Pasti cewek ini istimewa sekali sampai kamu bingung dia marah.” tebak Mbak Nabila.


Aku menerawang, tanpa sadar tersenyum membayangkan wajah polos Jenar yang akhir-akhir ini selalu mewarnai hari. Apa istimewanya gadis itu? Sampai aku sebingung ini hanya karena dia marah, seperti dunia mau berakhir saja. Tunggu! Mbak Nabila benar, hanya karena memikirkan Jenar marah, rasanya duniaku akan berakhir. Se-istimewa itukah Jenar di hidupku.


“Seperti apa orangnya?” Pertanyaan Mbak Nabila menyadarkanku dari lamunan, “Pasti cantik? Dia teman kantor kamu?”


Aku menggeleng.


Mbak Nabila kembali bertanya, “Kenal di mana? Mbak pernah ketemu atau belum?”


Kali ini aku mengangguk, memang Mbak Nabila dan Jenar sudah saling kenal.


“Ketemu di mana? Memangnya dia pernah datang ke sini?” Mbak Nabila bertanya ragu.


“Iya,” jawabku jujur.


Dahi Mbak Nabila berkerut dalam, “Siapa? Apa mungkin Mbak sudah kenal?”


Aku mengangguk, “Ya, Mbak sudah kenal.”


Dahi Mbak Nabila makin berkerut sampai alisnya hampir menyatu. Saat aku menyebut nama Jenar untuk menjawab pertanyaannya, Mbak Nabila bahkan sampai membelalakkan mata, tanpa mengatakan sepatah kata pun. Aku tahu ia pasti terkejut. Dia pasti tidak menyangka jika gadis yang sedang marah padaku adalah Jenar.


***


Jenar


Hidupku baik-baik saja selama ini, meski dengan mendekap trauma masa lalu. Namun, semuanya berubah sejak kehadiran Pak Hara. Dia yang merangsek masuk dalam kehidupanku dengan dalih ingin membantu berobat. Memang benar dia membantu dan membuatku nyaman berada di sisinya. Aku pun percaya bahwa niatnya tulus, sampai aku lupa jika tidak ada seorangpun yang benar-benar tulus di dunia ini. Pasti ada maksud tersirat dari semua perilaku yang tersurat.


Kejadian malam itu memperjelas semuanya. Apa yang laki-laki itu lakukan padaku cukup menjadi bukti, bahwa ketulusannya adalah kedok belaka. Aku sungguh kecewa juga terluka. Hingga rasanya tak sanggup membuka mata, menangis semalaman pun tak ada artinya. Raga yang kujaga setengah mati, terjamah begitu saja tanpa permisi. Aku merasa menjadi gadis hina yang tidak pandai menjaga diri.


Marah, tentu saja. Namun, aku tak kuasa melampiaskannya, hanya bisa menangis dan meratap. Kecewa ini sungguh besar, aku berada di titik marah yang paling parah. Orang yang kuanggap sebagai pahlawan ternyata tidak ubahnya seperti musang berbulu domba.


Bukannya aku tidak tahu kalau Pak Hara mencariku, hanya saja rasa marah ini telah merajai hati. Dia datang ke rumah, kampus, kostan Aina, juga tempat yang biasa kukunjungi. Mengirim ratusan chat ungkapan permintaan maaf yang semuanya kuabaikan, sebab hati terlampau marah. Jangankan bertemu, melihat bayangannya saja aku tak mau.


Aku menutup semua akses komunikasi dengan Pak Hara. Sengaja aku memblokir nomor ponselnya dan pergi dari rumah Kak Aneesha. Aku menghindar dari semua kemungkinan bertatap muka dengannya. Rasanya sungguh muak.


Rumah Mbah Uti menjadi tempatku bersembunyi, lebih tepatnya menepi dari peristiwa yang membuat sakit hati. Kakakku pernah bilang, dari semua tempat yang pernah dia kunjungi, rumah Mbak Uti adalah tempat paling nyaman untuk beristirahat.


Kurasa kakak benar, karena di sini suasananya asri, tenang dan sejuk. Di tambah pemandangan alam yang indah berupa hamparan sawah luas dengan background Gunung Merapi dan Merbabu, bisa kulihat jelas saat membuka jendela kamar. Aku paling suka duduk di teras belakang yang berhadapan langsung dengan kolam ikan dan kebun yang ditanami apotek hidup. Menatap ikan-ikan berebut makanan yang sengaja kusebar ke kolam, selalu berhasil mengurai pikiran yang kusut. Suara gemericik air yang mengalir dari pipa bambu mampu menjadi obat ketenangan hati.


Setiap sore hari menjelang, beberapa anak kecil biasanya mandi di kolam itu. Lebih tepatnya bermain sampai air kolam keruh. Suara heboh mereka selalu berhasil membuat senyumku mengembang. Aku akan tertawa terbahak jika para ibu dari anak-anak itu datang, berteriak sambil mengacungkan sapu lidi. Sebab, sudah hampir maghrib, tapi mereka belum juga selesai bermain di kolam. Kalau sudah seperti itu kadang-kadang Pakdhe Teguh pun ikut bertindak.


“Leren, leren! Wes maghrib, banyune luwer, mengko iwak e do mati!” (Berhenti. Sudah hampir maghrib. Airnya keruh, nanti ikannya pada mati.)


Mendengar yang punya kolam berteriak, anak-anak yang semuanya laki-laki itu kompak melarikan diri. Walau kelihatan takut, tapi sebenarnya mereka tidak pernah kapok. Besok pasti datang lagi dan kejadian yang sama akan terulang lagi.


Dasar anak-anak!


Angin dingin menerpa halus, membuatku tersadar dari lamunan panjang. Langit sore berwarna kekuningan, suara azan maghrib berkumandang saling sahut-menyahut. Kuhela napas panjang sambil memejamkan mata. Saatnya masuk ke rumah, karena pemandangan alam sebentar lagi tertutup gelap.


Saat menutup pintu sambil membaca basmalah, kulihat Bude Sari sedang membuat minuman di dapur. Sebuah pertanyaan berkelebat dalam benak, karena tidak biasanya Bude Sari membuat minuman saat maghrib begini.


“Ada tamu, Bude?” tanyaku sambil mendekat ke arah Bude Sari.


Bude Sari yang sedang mengaduk teh mengangguk. Dahiku spontan berkerut, siapa yang bertamu sore-sore begini?


‘Ah, mungkin temannya pakde,’ batinku bermonolog.


“Jenar, tolong bawakan ke depan, ya! Bude sudah wudlu, khawatir keburu batal kalau tidak segera salat.” perintah Bude Sari.


Aku mengangguk, segera mengambil nampan berisi dua gelas teh yang masih mengepulkan uap panas. Aku membawa nampan itu ke ruang tamu, sambil menerka siapa kiranya tamu yang datang.


Sayup-sayup terdengar suara orang mengobrol, tapi hanya sebentar. Saat sampai di ruang tamu, ternyata tidak ada siapa-siapa. Aku melongok ke luar melalui pintu yang terbuka, nampak Pakde Teguh sedang berdiri di teras. Segera aku menghampirinya.


“Mana tamunya, Pakde?” tanyaku celingukan, menyapukan pandangan ke segala arah, karena hanya ada pakde seorang di teras.


“Wes bali (Sudah pulang).” jawab Pakde Teguh setelah menyesap rokok, menjatuhkan puntungnya ke lantai, lalu menginjaknya.


“Lah! Ini saya disuruh bude antarkan minuman, malah tamunya sudah pergi.” aku mengangkat nampan, memberi informasi kepada Pakde Teguh.


“Wonge kesusu. Lagian wes maghrib, pakde arep jama’ah ning masjid.” jawab Pakde Teguh. (Orangnya buru-buru. Lagi pula sudah maghrib, pakde mau salat jama’ah di masjid.)


Pakde Teguh berjalan masuk ke rumah, aku pun mengekor di belakangnya. Kuletakkan dua gelas teh di atas meja makan, nanti pasti ada yang minum setelah salat maghrib. Nampak Pakde Teguh datang menghampiriku dengan membawa sesuatu entah apa di tangannya.


“Apa itu Pakde?” tanyaku penasaran.


“Kunci cadangan rumah Aneesha yang dibawa Hara.” jawab Pakde Teguh menyerahkan beberapa kunci yang diikat menjadi satu dengan sebuah tali.


Aku menerima benda itu dengan dahi berkerut. Pakde Teguh yang bisa membaca raut wajahku, segera melanjutkan kalimat, “Renovasi sudah selesai, jadi Hara mau pulang ke Jakarta. Dia ke sini menyerahkan kunci itu, karena tadi di sana tidak ada siapa-siapa.”


Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Pakde Teguh. Ada rasa aneh menelusup dari aliran darah, masuk ke dalam hati. Entah perasaan apa, hanya karena mengetahui jika Pak Hara yang mendadak akan pergi.


Tunggu! Bukankah aku membencinya? Bahkan sedang menghindar darinya sekarang, harusnya aku senang dia pergi. Dengan demikian, aku tidak perlu lagi bersembunyi. Ya, harusnya aku lega, karena tidak akan bertemu dengannya lagi.


Tidak! Bukan ini yang kuinginkan, bukan begini caranya!


Dia tidak boleh pergi begitu saja setelah menorehkan kecewa di hati ini.


“Pak Hara bilang mau berangkat ke Jakarta kapan, Pakde?” tanyaku cepat sebelum Pakde Teguh pergi ke masjid.


Pakde Teguh mengangguk, “Malam ini dia berangkat, katanya besok pagi harus menemani Reyfan meeting dengan klien dari luar negri. Memangnya kenapa?”


Aku menggeleng, segera melesat masuk kamar setelah memastikan Pakde Teguh pergi. Kuambil ponsel dan mencari kontak dengan nama ‘Papan Tulis’. Berharap ada sesuatu yang bisa kutemukan sebagai penjelasan. Namun, ternyata tidak ada chat apapun. Oh, aku lupa telah memblokir nomornya, pantas saja tidak ada chat atau panggilan yang masuk.


Aku memutuskan untuk membuka blokir pada nomor Pak Hara. Beberapa saat menunggu, tidak ada notifikasi pesan masuk. jadi begini cara dia melarikan diri dari tanggung jawab telah menyakitiku? Aku merutuki diri sendiri, begitu naif berharap Pak Hara datang minta maaf dan memberi penjelasan.


Memangnya siapa aku? Bukankah aku sendiri yang sengaja menghindar darinya? Mengapa sekarang aku berharap dia datang untuk bertemu.


Rumit sekali jadi aku. Berlagak marah, dengan harapan ingin dibujuk. Padahal rata-rata kaum lelaki tidak punya kepekaan hati. Bukannya membujuk, malah ikut merajuk. Seperti Pak Hara ini, bukannya berusaha membuka akses komunikasi, tapi malah pergi tanpa kata permisi.


.


.


.


Bersambung ....


Assalamu'alaikum ....


Alhamdulillah setelah sekian tahun pergi tanpa pamit, akhirnya malam ini bisa melanjutkan cerita ini. 😁


Teman2 apa kabar? Semoga selalu diberi kesehatan dan kelancaran rejeki, aamiin. Terima kasih untuk yang sudah setia menunggu, maaf terlalu lama didiamkan tanpa kejelasan😁


Nggak usah panjang lebar, kali tinggi, ya. Cuma mau bilang, insyaalloh saya akan up bab baru seminggu sekali sampai tamat. Harinya nggak pasti, bisa senin, selasa, rabu, kamis, jum'at, sabtu, minggu. (Nggak usah pake nada bacanya, iya itu nama2 hari)😀


Gitu, aja, ya. Terima kasih.


salam sayang😍😍