
...🌵Mungkin semua luka bisa sembuh hanya dengan melupakan. Namun, kenyataannya ... sebagian orang justru kesulitan hanya untuk sekedar lupa.🌵...
“Ehem ehem!” Suara berdehem dari belakang, berhasil memecah suasana beku di ruang tamu.
Jenar segera menarik tangannya dengan sedikit kasar. Membuat Varen sadar dan segera meminta maaf dengan suara yang sangat pelan, sampai hampir tidak terdengar. Sementara Hara dan Danish sama-sama menatap ke arah sumber suara.
Mbak Sayumi muncul dari balik sintru. Ia berjalan pelan dengan membawa nampan berisi sepiring pisang goreng yang menguarkan aroma khas, manis ... menggelitik indra penciuman.
“Maaf, nggih. Camilannya telat datang,” ujar Mbak Sayumi seraya meletakkan sepiring pisang goreng berwarna kecoklatan dengan taburan gula palm di atasnya.
Varen mengusap tengkuknya sendiri, seraya membenarkan posisi duduk. Jenar mendadak merasa salah tingkah, karena sempat membiarkan seorang pria menyentuh tangannya. Tingkah dua orang itu tidak luput dari pandangan Hara dan Danish. Keduanya mendefinisikan sikap Varen dan Jenar dalam pemikiran yang berbeda.
“Silakan dicicipi! Asli buatan saya, lho, ini. Kalau kopinya habis, bisa saya buatkan lagi.” tutur Mbak Sayumi dengan ramah.
Perempuan berjilbab hitam itu melihat ke arah Jenar yang sedang menunduk sambil mengusap-usap tangan. Hal itu membuat Mbak Sayumi heran, sebab Jenar terlihat seperti sedang tidak nyaman.
“Mbak Jenar kenapa? Mau saya bikinkan kopi atau apa?” tanya Mbak Sayumi dengan memiringkan kepala, mencari wajah Jenar yang menunduk dalam.
Jenar menggeleng cepat, dengan telapak tangan masih terus saling mengusap. Nampaknya dia sedang menyesal tidak bisa menolak sentuhan Varen tadi.
Sangat terlihat jika gadis itu tidak bisa duduk dengan tenang, dilanda gelisah. Varen merasa bersalah, sebab dia tahu Jenar tidak suka disentuh sembarangan. Malah dia terbawa perasaan, mengambil tangan Jenar tanpa ijin.
“Mbak Sayumi bisa duduk di sini?” Hara berdiri, memberikan tempat duduknya kepada Mbak Sayumi.
Pria itu seolah bisa menebak kalau Jenar sedang tidak nyaman. Pikirnya, kehadiran Mbak Sayumi bisa menetralkan suasana. Jenar tidak harus gelisah berbincang dengan tamu yang semuanya pria.
“Mungkin Jenar minta ditemani,” ungkap Hara menjawab kegelisahan Jenar.
Mbak Sayumi sudah hendak mengiyakan, tapi Jenar menolak dengan nada tinggi, “Tidak! Tidak perlu!” Lalu suaranya memelan saat melanjutkan kalimat, “Mbak Sayumi tidak seharusnya mendengar pembicaraan ini.”
“Lho ono opo to iki jane?” (Ada apa ini sebenarnya). tanya Mbak Sayumi ingin tahu kenapa Jenar tiba-tiba marah.
Semua orang menatap Jenar, gadis itu tampak sedang berusaha menguasai diri. Menghalau gelisah dan rasa tidak nyaman yang merajai. Dia menarik napas panjang, sebelum melihat ke arah Mbak Sayumi.
“Mbak bisa masuk saja dan tolong jangan nguping!” ucap Jenar dengan pandangan memperingatkan.
Mbak Sayumi sudah hendak menyanggah, tapi urung karena melihat Jenar memberi kode dengan menggeleng. Paham jika majikan mudanya ini sedang tidak ingin dibantah. Dia tahu, sebagai asisten rumah tangga tidak seharusnya ikut campur urusan majikan kalau tidak diijinkan.
Mbak Sayumi lantas berlalu dengan membawa nampan kosong, walau rasa ingin tahu berkelindan dalam benak. Hara kembali duduk, sedangkan Danish dan Varen saling berpandangan.
“Sampai saat ini, keluarga saya termasuk Mbak Sayumi, tidak ada yang tahu tentang keadaan saya. Saya tidak ingin mereka tahu …,” ungkap Jenar ketika merasa Mbak Sayumi sudah jauh dari jangkauan pendengaran.
Varen memajukan badan dengan pandangan fokus pada gadis di sampingnya, “Kenapa?”
Jenar diam, tidak menjawab pertanyaan Varen. Hal itu membuat Varen bertanya lagi, “Kamu tidak seharusnya menanggung beban sendirian, Sweety. Ada keluarga yang sangat sayang sama kamu. Harusnya kamu cerita ke mereka.”
“Varen benar, kenapa kamu tidak ingin mereka tahu?” Danish ikut bertanya.
Jenar menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Rasa sesak datang tanpa diundang. Tiba-tiba dia ingat saat pertama kali merasa ada yang salah dengan dirinya dan dia tidak tahu harus bercerita kepada siapa. Waktu itu kakaknya juga sedang tertimpa masalah, jadi dia tidak ingin menambah beban ayah dan bundanya.
“Saat kita satu sekolah, kamu tidak pernah lepas dari pengawasanku.” ucap Varen. Ia masih sangat ingat saat mengawasi Jenar adalah pekerjaannya setiap jam, bahkan setiap menit.
“Bagaimana aku sampai tidak tahu, kalau kamu memiliki trauma seperti itu?” tanya Varen ingin tahu.
Jenar membuang napas kasar sebelum menjawab dengan nada kesal, “Karena dulu saya jarang berkumpul dengan laki-laki dan di sekolah kita tidak ada yang minum alkohol. Jadi saya hampir tidak sadar jika kejadian itu menyisakan trauma yang membuat saya takut akan hal-hal yang sebenarnya sepele bagi orang lain.”
Varen mengangguk, membenarkan jawaban Jenar. Pria itu kembali bertanya, “Jadi sudah berapa lama sejak kejadian itu?”
Jenar melihat Varen, meneguhkan hati untuk bercerita. Mungkin dengan menceritakan kepada orang yang juga berada di tempat yang sama saat itu, bisa mengurangi sedikit beban mental yang dipikulnya.
“Kakak ingat waktu acara kelulusan angkatan kakak?” tanya Jenar.
Varen diam sejenak, mengingat-ingat. Hingga kini sudah dua tahun berlalu sejak dia lulus sekolah menengah, tapi tidak ada yang luput dari ingatan.
“Semua siswa berkumpul di acara itu, tapi ada sekelompok siswa laki-laki yang malah menyendiri di sebuah koridor kelas yang sepi. Kebetulan pas saya lewat, tidak sengaja mencium bau alkohol. Saya pikir hanya karena aroma itu asing dan saya tidak suka. Ternyata, di lain hari saat tidak sengaja saya menghirup aroma parfum laki-laki, ingatan menyakitkan itu kembali.” Setelah meneguhkan hati, Jenar dengan lancar menceritakan pengalaman yang membuatnya ingin lupa, tapi tak bisa.
“Astaga!” Varen menghempaskan punggung ke sandaran kursi.
“Lalu kamu menyimpan semua itu sampai sekarang?” tanya Danish. Jenar mengangguk.
“Seingatku dulu kami sudah mendatangkan psikiater, apakah waktu itu kamu tidak menceritakan semuanya?” tanya Danish lagi, mengingatkan bahwa keluarganya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mengantisipasi efek dari kejadian tidak menyenangkan yang menimpa Varen dan Jenar dulu.
Jenar menggeleng, “Karena waktu itu saya tidak tahu akan mengalami hal seperti ini. Sulit melupakan, bahkan bayangan itu seperti terus mengikuti saya.”
“Ya, Tuhan!” Kini Danish merasa prihatin.
“Why, Sweety? Bagaimana bisa kamu masih terus mengingat kejadian itu, padahal sudah lama berlalu?” Varen ikut mendesak dengan nada menyalahkan.
“Ya, bagaimana, Kak? Saya di sana, melihat langsung apa yang mereka lakukan. Coba katakan! Kalau kakak jadi saya, apa kakak bisa lupa begitu saja?” jawab Jenar dengan mata sudah berkaca-kaca dan dada naik turun menahan isak.
Bagian terburuk dari kesakitan yang selama ini dia alami, adalah bercerita kepada orang lain.
“Saya juga di sana, kalau kamu lupa!” Seru Varen, “Saya di sana dan yang menjadi korban adalah sepupu saya, tapi saya sudah tidak ingin mengingat kejadian itu lagi.” ucap Varen.
“Tidak semua orang seperti kakak. Kalau bisa saya juga ingin melupakan, tapi kenyataan yang terjadi justru ingatan itu sering kembali.” tutur Jenar sambil menunduk. Menyanggah kalimat Varen.
Danish mengusap bahu Varen agar adiknya itu sedikit lebih tenang dan tidak mengkonfrontasi Jenar. Sebab gadis itu sudah terlihat akan menangis.
“Jenar?” Panggil Danish mencoba menetralkan suasana yang sempat tegang, “Maafkan kami, jika masih kurang sempurna saat menangani masalah yang terjadi di sekolah. Saya jadi merasa bertanggung jawab atas kejadian yang kamu alami.”
Varen ikut menimpali, “Saya minta maaf secara pribadi sama kamu. Maaf, karena gagal menjaga kalian. Kalau saja waktu itu saya tidak pergi, kalau saja waktu itu saya bisa melawan mereka.”
Jenar mendongak sejenak. Dia berbicara dengan nada lirih, penuh frustasi, “Kalian tidak salah, mungkin saya saja yang terlalu berlebihan.”
Varen sudah hendak mengambil tangan Jenar lagi, tapi gadis itu sudah lebih dulu menarik diri. Membuat Varen sadar akan kekeliruan sikap impulsifnya, “Sorry ….”
“Sebenarnya wajar jika kamu memiliki trauma, karena peristiwa itu memang sangat memilukan. Perbuatan penjahat-penjahat itu tidak bisa dimaafkan,” ungkap Danish dengan nada geram yang ditahan.
Gadis itu memberanikan diri mendongak, mengungkapkan apa yang ada di dalam hati dengan suara lirih, “Sebenarnya saya hanya takut kalau suatu saat bertemu dengan orang-orang itu. Sungguh saya masih sangat ingat dengan wajah mereka. Apalagi kalau sampai orangtua korban menyalahkan saya...."
Dia kembali meremas jemari, ketika rasa takut datang menghampiri. Berat memang, hanya dengan menceritakan apa yang dirasa saja mampu membuat bulu kuduknya berdiri. Ketakukan menghampiri tanpa permisi, gelisah melanda tanpa bisa dihindari.
Varen membuang napas kasar sambil berseru, “Tidak masuk akal!”
Jenar mengernyit, memberi tatapan tajam kepada Varen. Lihatlah pria yang tadi meminta maaf, kini justru menganggap sepele perasaannya.
Danish tersenyum kecil, sedikit merasa lega karena menemukan akar masalah yang terjadi pada Jenar. Dia mengambil sebungkus rokok yang terletak di atas meja, mengeluarkan sebatang isinya, kemudian mengapit diantara telunjuk dan jari tengah.
“Kalau tentang itu, kamu tidak perlu khawatir. Karena sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bertemu dengan mereka.” ungkap Danish remeh.
Jenar mengernyitkan dahi, menatap Varen dan Danish bergantian. Terakhir dia menoleh ke arah Hara yang sejak tadi hanya diam, seolah hanya menjadi penonton saja.
Padahal yang memulai semua ini adalah Hara, dia yang sudah menceritakan tentang keadaan Jenar kepada Varen dan Danish. Namun, kini dia adalah orang yang tidak mau melakukan apa-apa untuk membantu gadis itu.
“Mereka tidak akan muncul di hadapan kamu atau siapa pun,” ungkap Danish setelah menyalakan rokok. Pria itu melanjutkan kalimat sambil tersenyum, “Karena mereka sudah ada di penjara yang tidak mungkin tersentuh manusia.”
Kerutan di dahi Jenar tambah berlipat-lipat, “Maksud kak Danish?”
Sekali lagi Danish tersenyum remeh setelah mengisap rokoknya, “Kamu pikir kami akan diam saja, setelah salah satu anggota keluarga kami diperlakukan secara biadap? Hukuman mati saja tidak akan cukup untuk membayar sakit hati kami.”
Sedikit demi sedikit Jenar bisa meraba maksud Danish. Juga setelah Varen berkata, “Mereka sudah diadili oleh pengadilan versi keluarga Wijaya. Iya, kan, Kak?”
Danish mengangguk, lalu berkata dengan nada bercanda kepada Jenar, “Mau kuceritakan apa yang terjadi pada mereka? Mengapa sampai sekarang status mereka masih buronan polisi?”
“Jangan, Kak! Nanti Jenar tidak bisa tidur dan nggak doyan makan,” seloroh Varen.
Jenar masih merasa ragu, padahal Danish sudah mengatakan yang sebenarnya. Gadis itu takut kalau Danish dan Varen hanya ingin menghiburnya saja. Namun, dari sorot mata keduanya, Jenar tidak menemukan kebohongan.
"Orangtua korban bagaimana? Mereka pasti menyalahkan saya karena tidak bisa mencegah kejadian itu." Jenar ingin memastikan dengan sejelas-jelasnya.
"Mereka shock, sama seperti kamu. Tapi sekarang sudah bisa menerima, bahwa yang terjadi adalah takdir Tuhan." tutur Danish dengan bijaksana.
Kelegaan menjalari hati Jenar, meski belum sepenuhnya perasaan tidak menyenangkan hilang. Setidaknya dia sudah mendapat jawaban atas ketakutan tak berasalannya selama ini. Sedikit menyesal, mengapa tidak dari dulu dia bercerita kepada Varen. Atau bertanya tentang nasib para penjahat itu.
“Jadi, Jen. Sebaiknya sekarang kamu belajar melupakan, obati phobia kamu itu. Karena sekarang kamu sudah tahu apa yang terjadi dengan mereka.” pinta Danish.
“Apa bisa, Kak?” Jenar merasa tidak yakin.
“Ke mana Jenar yang kukenal? Kamu, kok, jadi pesimis gitu?” Varen bermaksud memberi semangat kepada Jenar, “Padahal dulu kamu bisa banget nggak peduli sama aku, harusnya sekarang juga bisa nggak peduli sama masa lalu, dong.”
Jenar tertawa kecil, mengingat sikapnya yang tak acuh kepada Varen. Dulu, apa pun yang pria itu lakukan untuknya, dia tidak akan peduli.
“Apa dulu saya seperti itu, Kak?” tanya Jenar seolah tidak percaya kalau dirinya pernah bersikap sangat menyebalkan kepada Varen.
“Lebih dari itu, sebenarnya. Sumpah kamu nyebelin banget, heran kok aku bisa ngejar kamu terus, ya?” Varen menggelengkan kepala.
Seketika ruang tamu riuh oleh tawa Danish, sedangkan Hara hanya tersenyum simpul. Dua pria dewasa itu hampir tidak percaya kalau Jenar bisa membuat Varen mengemis cinta padanya.
“Maaf, ya, Kak. Kalau saya pernah nyebelin, habisnya Kak Varen juga ngeselin. Nggak ada kapoknya deketin saya, padahal tahu saya tidak menanggapi.” tutur Jenar yang sudah bisa sedikit menetralkan perasaan.
Kini Varen yang tertawa. Suasana beku dipenuhi keharuan, seketika mencair. Obrolan yang semula berat, kini menjadi ringan mengalir.
Varen dan Jenar berbicara seperti layaknya dua orang teman. Sementara itu Hara dan Danish membicarakan persoalan yang lain. Sesekali mereka saling menimpali, sambil menikmati kudapan manis, semanis senyum yang mengembang di wajah gadis berkulit sawo matang dengan lesung di kedua pipinya.
Jika pertemuan kemarin dengan Varen telah membuka luka lamanya, maka pertemuan mereka hari ini mungkin bisa menyembuhkan batinnya. Meskipun sebenarnya Jenar masih menyimpan rasa bersalah kepada keluarga korban, tapi ucapan Danish yang bijaksana mampu sedikit mengurangi beban prasangkanya.
“Om dan tante saya sudah ikhlas. Memang awalnya terasa sangat berat, bahkan om saya sampai koleps dan harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Setelah kejadian itu, tante juga jarang keluar rumah. Mereka sangat terpukul, tapi sama sekali tidak ada yang menyalahkan kamu, Jen.” jelas Danish panjang lebar.
“Jadi kamu tidak perlu merasa bersalah,” Danish menutup kalimatnya dengan senyum merekah. Tanda bahwa dia sangat yakin akan apa yang dikatakan.
“Alhamdulillah kalau begitu, saya lega.” ujar Jenar jujur.
“berarti kalau sudah lega, kamu bisa cari cara agar phobia kamu itu sembuh, dong?” usul Varen.
“Insyaalloh, akan saya usahakan, Kak.” jawab Jenar ragu-ragu.
“Semangat, dong.” seru Varen.
Jenar tersenyum lagi, tak ayal lesung di kedua pipinya terlihat. Meski sudah menunduk, tapi kesan manis yang ditampilkan wajahnya tidak luput dari penglihatan tiga pria di sekitarnya.
Danish merasa terbebas dari rasa bersalah, Varen masih bisa merasakan getar dalam hati saat melihat senyum itu. Sementara Hara, mendadak tidak ingin melepas pandangan dari wajah manis yang makin menunduk itu. Untuk pertama kalinya, Hara merasa ada yang menggelitik perasaan, entah apa dia tidak tahu.
***
Hari beranjak makin sore, Varen dan Danish harus pergi. Sebab, mereka mempunyai agenda penting yang harus dihadiri. Hara yang mengantar mereka, tapi sebelum pergi dia sempat berbicara dengan Jenar. Saat Jenar mengajak mereka melihat-lihat koleksi foto Aneesha di ruang galeri.
“Saya harus minta maaf sama kamu, atau kamu yang akan berterima kasih kepada saya?” tanya Hara.
Jenar mendongak, melihat pria yang berdiri di sampingnya dengan dahi berkerut. Sementara, Hara menatap Jenar sebelum gadis itu sempat mengutarakan pertanyaan.
“Saya yang cerita tentang kamu sama mereka,” Hara menunjuk dengan dagu ke arah Danish dan Varen yang berdiri beberapa langkah di depan mereka berdua, “Saya juga yang bawa mereka ke sini. Sekarang kamu jadi sudah tahu tentang nasib penjahat-penjahat itu, kan? Kamu juga tahu kalau orang tua korban sudah ikhlas.”
Jenar tertawa remeh, memalingkan wajah dari Hara. Dia menjawab dengan lirih tapi bernada ketus, “Saya rasa, saya tidak perlu berterima kasih sama Pak Hara.”
Hara melihat Jenar sambil berkata remeh, “Sebenarnya saya tidak perlu ucapan terima kasih dari kamu. Karena saya hanya melakukan apa yang saya inginkan. Kalau keinginan saya berlawanan dengan apa yang kamu pikirkan, saya rasa tidak perlu minta maaf sama kamu.”
Jenar tersenyum miris. Laki-laki di sampingnya ini, sungguh tidak punya perasaan. Padahal maksud dari jawabannya adalah agar Hara meminta maaf, karena telah lancang bercerita tentang keadaan yang dirahasiakan kepada orang lain. Namun, yang Hara katakan justru seperti ingin menunjukkan bahwa yang dia lakukan sangat bermanfaat untuk Jenar.
“Coba pikirkan lagi! Saya tidak yakin kalau kamu tidak ingin berterima kasih kepada saya.” ucap Hara sambil lalu melangkah, menghampiri Danish dan Varen.
Jenar mengecimus, lalu tersenyum miring sambil menggelengkan kepala. Bergumam menggerutu, “Maksudnya apa, sih? Dia yang salah kenapa justru aku yang harus berterima kasih? Dasar papan tulis aneh.”
Jenar masih terus menggerutu sampai tiga pria itu keluar dari galeri, " Heran kenapa Kak Aneesha sama Kak Reyfan masih percaya sama orang menyebalkan itu?"