
"Ghem!!"
Suara deheman yang menyapa sontak mencuri atensi gadis itu yang saat ini sudah nangkring di atas tembok yang cukup tinggi.
"Katanya sakit? Kok lancar manjat-manjat!" tegur Azmi kesal sekaligus gemas sendiri.
"Hehe. Bagus, kamu kok ada di mana-mana?" Nashwa nyengir sembari menyapa grogi.
"Turun!" titahnya galak.
"Bagus, ini susah aku nggak bisa," rengeknya menego.
"Kamu bener-bener ya Na, besok orang tua kamu harus kami panggil," gertak Azmi serius.
"Eh, jangan, iya iya saya turun, tapi saya jangan dihukum ya?" nego gadis itu mendrama.
"Jawabannya udah tahu pastinya, kamu dikenai point berlapis dan sanksi yang lebih besar," tekan Azmi tanpa basa basi.
"Ya udah kalau gitu aku nggak mau turun, terserah, aku mau di sini saja," ujarnya menantang.
"Terserah, ini hari semakin larut malam, dan sepertinya mau turun hujan, kalau mau di sini semalaman ya boleh saja, ini lumayan ngeri lho."
Astaga! Bagus lucknut, untung ganteng, coba jelek, gue musiumin, terus gue gelundungin ke sungai gelunggungan. batin Nashwa gondok sekali.
"Bagus! Tolongin, please ambilin tangga!" rengek gadis itu sembari mencari cara untuk turun. Pagar lumayan tinggi, gadis itu entah mengapa menjadi takut melompat.
Suara geledek yang menyapa menambah waswas perasaan Nashwa. Ia benar-benar merutuki kebodohannya yang bertindak impulsif. Karena merasa kasihan dan takut keburu hujan juga, Azmi akhirnya mencari tangga di sudut ruangan.
Pria itu setengah menggerutu malam-malam dibuat repot sendiri karena kelakuan santri barunya itu. Azmi berjalan cepat mengambil tangga, mengamati tembok sekitar Nashwa memanjat, ia mencari tempat menyenderkan tangga yang paling tepat yang agak pendek dan gampang di sesuaikan dengan tangga kecil yang ia temukan. Bukan seperti tangga lebih mirip seperti pijakan papan.
Karena tempatnya miring, dan ada tumbuhan taman yang menjalar di titik terdekat gadis itu nangkring, akhirnya Azmi membuka gerbang belakang dan memilih mengambil jalan dari luar. Suasana lumayan sepi karena letaknya ada di jalan belakang, kendati demikian langsung terhubung dengan jalan raya dan rumah warga sekitar.
"Ayo Na turun, keburu hujan!" titahnya gemas. Azmi juga khawatir aksinya kepergok orang dan membuat salah paham.
"Susah Gus, gimana dong, kakiku licin, ini tembok kenapa tinggi amad sih." Shali manjat dengan lancar melewati celah celah gerbang, lalu mlipir diundakan tembok yang lumayan tinggi itu, saat ia mencoba alternatif seperti saat ia memanjat, nyatanya ia tak cukup berani.
"Ya usaha dong, atau saya tinggalin nih!" ancam Azmi gemas sendiri.
"Pegangin tangganya ya, licin tuh pasti, kalau aku jatuh gimana?" ujarnya mendrama hal-hal yang bahkan belum terjadi.
"Iya, cepetan dong Na, dingin, banyak nyamuk, mau hujan!" omel Azmi cerewet sekali.
"Kamu berisik banget, aku lagi mikir nih," sela Nashwa membela diri. Dirinya mulai memijakkan kakinya pada undakan papan yang paling atas.
"Alhamdulillah ....!" gumamnya lega saat tubuh itu sudah berpindah ke papan tangga.
Gadis itu pun membungkuk, mulai menyusuri pijakan pertama yang cukup licin. Pas diundakan pertama hujan mengguyur tubuh mereka, anehnya Azmi sama sekali tidak beranjak dan menanti Nashwa turun sampai pijakan terakhir. Azmi merasa kasihan sekaligus kesal bukan main.
Suara petir malam yang mengudara membuat Nashwa kaget, seketika ia oleng dari pijakan dan tergelincir. Azmi yang berada di sekitar tangga pun ikut kaget melihat Nashwa terjerembab ke jalan.
"Nana kamu nggak pa-pa?" tanya Azmi mendekat dalam jarak aman. Mereka diterjang derasnya hujan yang sudah membasahi keduanya.
"Nggak pa-pa, aman. Hehe." Nashwa nyengir tanpa dosa. Ia mencoba berdiri dengan percaya diri walau sebenarnya ada sedikit sakit pada pergelangan kakinya.
Nashwa masih melongo dengan mata berkedip lembut di depan Azmi. Pria itu terlalu tampan dalam jarak lebih dekat. Seketika Nashwa menjadi salah fokus.
"Astaghfirullah ... mau masuk nggak? Hujan Na!"
"Eh, iya sorry, sorry," ujarnya mendadak salah tingkah.
"Awww ....!" desis Nashwa saat beranjak melangkah, usut punya usut kaki Nashwa sepertinya terkilir.
"Kenapa Na?" tanyanya mencoba berdamai dengan hati yang sungguh tak tenang.
"Kakiku sakit Gus, sepertinya kesleo pas jatuh," adunya sembari menahan sakit.
"Jalan bisa nggak? Aku minta tolong Shali dulu ya, kamu tunggu di sini," ujarnya merasa tak aman pada seonggok daging yang bernama hati dan jantung yang mulai rancak saat berdekatan dengan remaja itu.
"Bagus! Takut! Nggak mau jangan ditinggal," rengek Nashwa menarik sedikit ujung pakaian Azmi.
"Duh ... ribet!" Azmi benar-benar gemas sendiri, andai gadis itu halal sudah pasti Azmi akan menggendongnya.
"Ya udah, jalan pelan-pelan ayo masuk kamu duluan, ini deket kok," ujarnya menggampangkan.
"Astaghfirullah ... kalian mau kabur ya?" tegur seorang warga yang kebetulan melintas di sana.