
"Makasih Azmi, nggak usah udah pesan taksi kok, nggak usah khawatir aku udah pamit kok tadi," ujar gadis itu lalu. Meninggalkan halaman pesantren dengan sendu.
Masuk ke mobil dengan mata mengembun, entahlah, namun hatinya terasa sendiri dan sakit. Ia segera mengusap buliran kristal yang lancang jatuh ke pipi. Tangis macam apa ini, seharusnya ia tidak harus menerima situasi rumit ini kalau bukan seseorang telah menjebaknya, kebenciannya dengan Morgan bertambah saja kalau mengingat semuanya.
Di sisi lain, Azmi paham dengan perasaan istri dari kakaknya itu, sesungguhnya ia tak pandai menutupi darinya, pasti terjadi sesuatu di antara mereka, mana mungkin Bang Aka membiarkan istrinya pulang sendirian malam-malam begini.
"Shali, tunggu Shal!" Azmi mengikuti sampai luar gerbang, terlihat gadis itu sudah menaiki taksi.
"Pak, tunggu sebentar Pak, jangan jalan dulu ada yang tertinggal," cegah Azmi.
Pria itu sama sekali tidak tega membiarkan Shalin pulang sendiri, kejadian tempo lalu membuat pria itu takut terjadi sesuatu dengan kakak iparnya itu. Alhasil Azmi juga ikut masuk ke dalam taksi itu dan akan mengantarnya sampai rumah.
"Mi, kamu ngapain?" tanya Shalin tak percaya, melihat Azmi ikut masuk duduk di samping kemudi, sementara membiarkan Shalin menguasai kursi di jok belakang.
"Kamu tenang ya, aku nggak mungkin biarin kamu pulang malam kaya gini sendirian, aku cuma ngantar habis ini langsung pulang," ujarnya menenangkan perempuan yang nampak gelisah itu.
"Kamu turun aja ya, nanti abang kamu salah paham, kamu bisa ikut terlibat dalam masalah yang seharusnya kamu tidak ada."
"Justru aku hanya ingin bertugas sebagai adik ipar yang menjaga nama baik Bang Aka, bagaimana kalau ada apa-apa dengan kamu di jalan, sudah pasti Bang Aka yang bertanggung jawab, biarlah aku mengantarmu, toh juga ini tidak berdua, ada Pak Supir juga, jadi tenang aja ya?" Azmi terus menyakinkan kakak iparnya.
Dengan perasaannya yang entah, akhirnya Shalin pun menurut, benar juga kalau ada apa-apa di jalan, mendadak taksinya mogok atau ada orang jahat yang menghadang mobilnya, setidaknya dengan Azmi dia tenang.
"Jalan Pak, kawasan Senopati Jakarta Selatan," ujar pria itu mengarahkan alamat yang dituju.
Dalam perjalanan, Shalin terus merenungi akan pernikahannya yang entah. Selama perjalanan pula, baik Azmi dan Shalin tidak ada yang membuka suara, mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing.
Sementara Aka yang baru saja selesai mengajar, mendapati dua petugas santri yang tengah berjalan dari gerbang utama, sepertinya mereka tengah bergosip.
"Malam-malam gini kok pulang, untung ada gus Azmi yang nganterin, apa nggak takut sendirian, orang cantik 'kan biasanya banyak yang ngincer."
"Walah Sep, kamu mikirnya jauh pisan, namanya juga nekat ya endingnya pikir nanti. Kenapa jadi kita yang bingung sih."
"Bukan bingung Jo, aku tuh lagi heran, kenapa nggak diantar Ustadz Aka saja," ujarnya menerka-nerka.
"Eh, Pak Ustadz, baru ngajar Gus?" tanya dua santri tersebut kikuk.
"Mari saya duluan, Ustadz," ujarnya membungkukkan badannya seraya berjalan.
Aka yang masih menimang-nimang obrolan mereka, berusaha menepis perasaannya. Ia segera menuju kamarnya dan akan berbicara dari hati ke hati dengan istrinya, ia sadar tadi sudah mendiamkannya dan membuat gadis itu bingung tentunya. Apalagi mengingat istrinya tadi absen makan malam, mendadak pria itu cemas dan kasihan. Memikirkan istri kecilnya seandainya merasa lapar dan tidak berani mengambilnya sendiri lantaran malu.
"Astaghfirullah ... kasihan sekali kamu, Dek, aku akan membangunkanmu," ujarnya berjalan cepat.
Sesampainya di kamar, Aka seperti biasa mengucapkan salam, karena tidak ada sahutan, pria itu pikir, Shalin sudah tertidur. Seiring langkahnya mendekati ranjang, netranya tidak menemukan sosok orang yang selama seminggu lebih ini menemani tidurnya.
Aka clingukan, mencari-cari keberadaan istrinya, di kamar mandi kosong, wardrobe juga kosong, belakang rumah kosong. Entah mengapa pikirannya langsung tertuju pada kamar Azmi, pria itu sedikit berlari menuju kamar adiknya dan mengetuk beberapa kali, ternyata kosong juga setelah Aka menekan handle pintu dan melongok tak ada orang di dalamnya.
Deg
"Jangan-jangan mereka berdua kabur dari pesantren, astaghfirullah ... Azmi!" geram Aka murka. Dadanya mendadak bergemuruh hebat menekan rasa yang hampir tumpah.
Pria itu kembali ke kamar, mencari ponselnya, hendak menelepon. Beberapa deringan tersambung namun tidak ada jawaban. Sebuah memo yang teronggok di atas meja belajar mencuri atensinya. Pria itu membaca dengan rasa kesal yang dalam. Ia kembali menghubungi dengan ponselnya, seraya mengeluarkan motor miliknya, suasana sudah malam, namun ia mengabaikannya.
"Shali, ponsel kamu bunyi terus, angkat gih siapa tahu penting."
"Biarin aja, nanti juga diem sendiri," jawab Shali santai. Ia hanya melirik saja, begitu suaminya yang meneleponnya, gadis itu merasa tak minat mengangkat.
"Shal, pinjam ponsel kamu boleh, punyaku ketinggalan," ujar Azmi tiba-tiba.
"Owh ... ini Mi." Gadis itu menyodorkan benda pipih itu tanpa curiga.
Diam-diam Azmi mengirimkan pesan untuk Aka dan meminta menyusulnya, Azmi mengatakan dirinya masih di dalam taksi. Karena ia tadi khawatir dan tidak punya pilihan lain, akhirnya mengantarkan istrinya dengan taksi yang sama.
Aka membaca pesan dengan sedikit lega, setidaknya praduganya tentang adik dan juga istrinya salah. Pria itu mengendarai motor dengan kecepatan penuh, berusaha mengejar taksi yang sudah tertinggal jauh.