
"Nggak pa-pa, cepat sembuh ya?" ujar Aka meninggalkan satu ciuman sedikit lama pada bibirnya. Setelahnya pria itu memberi jarak, menatapnya lembut penuh cinta.
Astaga! Ini orang senang banget bikin kejutan, untung gue nggak punya penyakit jantung.
"Mas, aku 'kan lagi sakit, kamu nggak takut ketularan?"
"Pengen cepat nularin virus cinta dan kasih sayang, biar hati ini cepat terukir nama aku yang kamu sebut selalu dalam doamu, seperti garis takdir yang menyatukan kita," tunjuk Aka tepat pada dada istrinya. Seketika gadis itu melotot disertai tegang dan haru.
"Ya Tuhan ... bisa nggak sih nggak buat jantungan," gumamnya seraya menahan malu dan bingung.
Tak berselang lama suster membawakan jatah makan siang, namun jelas Shali tidak berselera dengan menu sehat di sana.
"Makan dulu, Dek, sini biar Mas suapin?" ujar Aka perhatian.
"Aku bisa makan sendiri Mas, nggak pa-pa," tolaknya kikuk.
"Nggak pa-pa sayang, Mas aja," ujarnya yang membuat Shali diam seketika.
'Sayang' batin Shali bertanya.
Akhirnya perempuan itu menurut, Aka menyuapinya dengan telaten, sembari makan, terjadilah obrolan kecil di sana, tanpa terasa membuat keduanya semakin dekat dan mencair, bahkan berkali Aka mendaratkan kecupan itu di kening, Shali nampak tidak menolak dan mulai terbiasa.
Perempuan itu cuma sedikit heran, kenapa Aka jadi sering sekali menciumnya, apakah pria itu benar-benar sudah mulai jatuh cinta, atau karena merasa tanggung jawab saja melakukan semua itu.
"Mas, kamu maksain diri kamu nggak?" tanya Shali benar-benar penasaran dengan perasaan suaminya saat ini.
"Maksain apa, Dek?" Aka balik bertanya dengan bingung.
"Ya maksain hati kamu buat deket sama aku, terus buat nerima aku, atau bahkan berusaha cinta sama aku?" jelas Shali.
"Pertanyaan itu kayaknya lebih cocok diajukan ke kamu deh, ketimbang sama aku, coba lihat sini, apa dari diriku ada yang terlihat olehmu kalau aku sedang bersandiwara." Aka menangkup kedua wajahnya mata mereka saling bertemu cukup lama.
"Nggak," jawab Shali pada akhirnya.
"Sejak aku berikrar pada Allah di hadapan semua orang yang menjadi saksi, disitulah aku telah mengambil tanggung jawab itu dari ayahmu dan berjanji untuk menjadikan mu istriku yang harus aku jaga dan sayangi, berdosa sekali kalau aku bersandiwara untuk ini. Aku memutuskan untuk jatuh cinta padamu, alhamdulillah Allah memudahkan itu, dalam hitungan hari saja, perasaan ini telah hadir, dan aku mencintaimu Shalin," ucap Aka sungguh-sungguh.
Shali tertegun mendengar pengakuan suaminya, mungkin memang benar ini terlalu singkat, namun begitulah kenyataanya. Allah lah sang pemilik hati manusia, sangat mudah menjadikan orang itu jatuh cinta, atau sebaliknya. Bersyukurlah yang masih diberi kesempatan itu, dan meraih cinta yang halal dengan pasangannya.
"Bagaimana dengan hatimu? Apa—nama aku belum masuk ke dalam daftar list hatimu?" ujarnya tersenyum.
"Aku?" Shali gelagapan sendiri ditanya hal seperti itu.
"Iya," Aka mengangguk.
"Mas marah ya, kalau aku bahkan baru saja mau mulai, tetapi aku bahkan nggak tahu bagaimana caranya?"
Aka mengikis jarak, lalu berbisik, membuat gadis itu sudah suudzon saja.
Setelahnya Aka menarik tubuhnya memberi jarak, lalu tersenyum menggoda.
"Dek, kamu pasti ngira aku mau cium kamu lagi ya, jangan kagetan, kaya gini 'kan?"
Cup cup
Dua kecupan terjeda mendarat pada bibir istrinya, membuat Shali melayangkan protes gemas tak terhingga.
"Mas, kamu jangan godain aku terus dong, sebel ih ...."
Shali memukul kecil bahu suaminya, namun Aka malah terkekeh pelan.
"Jangan merajuk, nanti cantiknya bertambah, 'kan udah dibilangin jangan kaget, harus mulai terbiasa, mungkin besok bukan hanya ciuman yang membuat aku candu, tetapi bisa jadi yang lainnya," ujarnya mengerling.
"Astaghfirullah ... kamu genit banget Mas ternyata, aku ini mahasiswa kamu lho, apa nggak malu bersifat kaya gitu sama aku."
"Nggak bakalan lah, malu ku buat yang lain saja, kalau sama istri sendiri ya seharusnya polos tanpa busana pun normalnya nggak malu, malah maju," jawab Aka cukup absurd.
"Astaga! Mas, kamu mesum banget!"
"Sumpah pingin dimesumin istri sendiri gimana rasanya."
"Mas, diem deh, nggak usah ngomong, aku geli dengernya."
"Dek, pulang dari rumah sakit, mau kasih aku apa?"
"Apa? Memangnya aku punya apa?" Shalin sepertinya belum jeli ke mana arah tujuan perkataan suaminya.
"Gini aja deh, aku bawa adek jalan-jalan ya, Adek mau ke mana?" Aka mencoba dengan perspektif lainnya.
"Aku mau di rumah aja, Mas, lagi nggak kepingin ke mana-mana," jawabnya yakin.
"Beneran? Adek boleh milih lho ya, ke suatu tempat yang bikin adek seneng? Gimana?" tawarnya.
"Ke puncak mau? Untuk minggu ini, setelah kamu benar-benar pulih, tiga hari saja," ujar pria itu penuh dengan permohonan.
"Ke puncak?" beo Shalin loading.
"Ya, setelah kamu sembuh nanti, biar pikiran dan hati kamu lebih damai."
"Pikiran dan hati aku, atau pikiran dan hati kamu?" Rupanya Shalin sedikit menangkap keinginan suaminya.
"Pikiran dan hati kita lebih tepatnya, karena pernikahan itu bukan tentang aku dan kamu saja, namun semua tentang kita. Cinta sejati itu baru dimulai setelah pernikahan. Ada satu lagi, biar ibadah kita makin khusuk," ujarnya tersenyum.