Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 113


"Katanya nggak mau bilang dulu, tapi ngadu ke mommy," cibir Aka geleng-geleng kepala.


"Mulutku keceplosan Om Ustadz," ujar Shali cuek.


"Udah nggak marah, 'kan?"


"Masih kesel lah, apa-apaan ngasih tugas banyak banget, nggak mau!" protes Shali tak terima. Perempuan itu tengah membuka emailnya dengan sederet pekerjaan rumah yang Aka beri.


"Salah siapa nggak masuk kelas saya, malah berduaan di perpus sama Azmi lagi, nanti aku bilangin Nana," seloroh pria itu.


"Ih, rese' banget jadi dosen, nggak usah fitnah!" kesal Shali menggerutu.


"Sedikit protes banyak bekerja sayang," ujar Aka sembari duduk di samping istrinya yang cemberut.


"Mas, aku nggak mau kalau tugasnya banyak gini." Shali masih protes dengan muka malas.


"Sayang, aku temani belajar ya, ini materi yang aku sampaikan tadi di kelas," jelas Aka membimbing istrinya.


"Bantuin ya, By, love you deh," rayu Shali mengerling.


"Boleh sih, tapi—" Aka menampilkan eye smilenya. Membuat Shali melirik gemas.


"Nggak jadi ah, aku bisa belajar sendiri!" Shali langsung berdiri dengan cepat menuju kasur memboyong laptopnya.


Sementara Aka terkekeh geli melihat istrinya yang akhirnya nurut. Keduanya akhirnya sama-sama sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Aka terlihat sibuk memasukkan nilai tugas mahasiswanya, Shali sibuk dengan tugas baru yang Aka beri. Cukup larut keduanya berkutat di depan laptopnya.


"Mas, aku udah ngerjain separonya, aku mau udah ya, capek mau tidur," kata Shali sembari bergelayut manja di pundak suaminya.


"Hmm, makasih sayang, istirahat sana, udah malam ini." Aka meraih pipinya lalu mengelus dengan sayang.


"Temenin Mas, udah juga dong kerjanya," protes Shali beranjak.


Memutar tubuhnya hingga menghadap suaminya dengan manja, sengaja menghalangi laptop yang masih terbuka, perempuan itu bermanja di pangkuan suaminya.


"Manja banget istriku, sayang, pengen ya?" selorohnya. Meraih punggung istrinya lebih merapat dalam dekapan.


"Nggak Mas, pengen dinina boboin aja." Shali menenggelamkan wajahnya dalam ceruk leher suaminya.


"Diem, Om Ustadz, aku mau gini nyaman," ujar Shali cuek.


Perempuan itu mendekap manja suaminya dengan kaki mengangkang duduk di pangkuan Aka. Tidur dengan nyamannya di saat Aka masih sibuk dengan layar laptopnya.


Aka tersenyum sembari melirik istrinya yang sudah terlelap. Seperti anak kecil dalam pangkuan orang tuanya. Pria itu membuai dengan sayang, tetap melanjutkan pekerjaannya hingga usai.


Pegel, capek, dan pastinya tidak nyaman itu yang Aka rasakan setelah memangku istrinya sambil bekerja. Menutup laptopnya lalu meranjak merebahkan Shali dengan hati. Pria itu tersenyum sembari membenahi posisi tidur Shali agar semakin nyaman. Meninggalkan jejak sayang di keningnya, barulah beranjak untuk bersih-bersih sebelum tidur.


Dini hari pria itu seperti biasa terjaga, sudah menjadi alarm alamiah ketika hatinya berucap ingin bangun jam sekian, secara lahiriah ia terbangun sesuai yang di batin dirinya. Membangunkan istrinya yang kali ini bahkan terlihat semangat sekali dari hari sebelumnya.


"Mas, aku masih mager, boleh ya tidur lagi," ujar Shali sehabis jamaah tahajud bersama. Aka mengangguk dengan senyuman, pria itu terlihat masih sibuk dengan banyak doa dan wirid.


Aka baru membangunkan istrinya saat subuh, lalu meninggalkan ke masjid. Perempuan itu sholat di rumah berjamaah dengan Ummi Salma.


Usai sholat subuh berjamaah, semua digegerkan dengan ambruknya Kyai Emir yang tiba-tiba pingsan tak sadarkan diri. Semua jamaah berhambur menolongnya, Aka dibantu santri putra menggotong tubuh Kyai Hasan membawa ke rumah. Karena tak kunjung sadar, pagi itu langsung dilarikan ke rumah sakit.


Ummi Salma langsung ikut mobil, sementara Aka melarang Shali untuk ikut serta pagi itu. Shali dan Naswha nampak saling menurut mengiyakan suami-suami mereka. Sementara Aka, dan Azmi mengantar ke rumah sakit.


"Na, berangkatnya bareng aku aja, nanti siang baru ke rumah sakit," ujar Shali menginterupsi.


"Kasihan abah, Kira-kira kenapa ya? Suami aku sampai panik gitu," imbuh Shali masih kepikiran.


"Paniklah, semua orang juga panik kali saat abah ambruk, duh ... semoga abah cepat sembuh," ujar Nashwa menengadahkan tangannya ke atas memohon doa.


Siang itu setelah dari kampus, Shali dan Nashwa langsung bertolak ke rumah sakit. Suami-suami mereka masih menunggu dengan muka tegang. Kyai Emir sudah ditangani tetapi masuk ruang ICU karena gejala serangan jantung. Kyai Emir dirawat di rumah sakit milik keluarga.


"Mas, gimana abah?" tanya Shali menghampiri suaminya yang tengah duduk di ruang tunggu.


"Masih dalam pantauan dokter, kamu kenapa ke sini?"


"Ish, aku khawatir lah, kamu juga dari pagi belum makan, ini aku bawain makanan buat semuanya."


"Belum lapar, Dek," tolaknya tak minat. Efek sedih menjadi lesu.


"By, aku suapin ya? Makan dulu!" ujarnya maksa.