
Sepasang insan yang masih berseteru itu saling terdiam dalam ruangan sore itu. Aka menyorot istrinya yang masih setia mengunci mulutnya. Ia menanti penjelasan dari istrinya yang tak kunjung ada.
"Kamu mau terus diam begini sampai kapan?" tanya Aka gemas sendiri.
"Sampai kamu tahu, rasa sakit hatiku hilang," jawab Shali kesal.
"Terus, kamu mau mendiamkan aku terus begini, sama sekali tidak merasa bersalah, dengan tenangnya meninggalkan kuliah siang ini?"
"Ya, aku nggak mungkin mengikuti kuliah kalau lihat muka dosennya aja aku malas," jawab Shali cukup menohok.
Aka terdengar menghela napas panjang, berusaha menekan sabar yang sejatinya sudah membumbung angan.
"Kamu bisa nggak sih, jangan bawa masalah rumah tangga ke kampus. Di kampus aku adalah dosen kamu dan di rumah aku suami kamu, tolong, Dek, bedakan itu!" tekan Aka semakin bertambah kesal.
"Ya, aku paham, kalau Mas mau ngasih hukuman tugas tambahan aku terima kok, biasanya juga gitu 'kan? Di rumah suami aku, iya suami dengan semua aturan dan wajib aku patuhi tanpa melibatkan perasaan aku maunya bagaimana. Semua yang ada harus sesuai keinginan kamu, Mas, kamu nggak pernah ngerti!" Shali meluapkan kedongkolan hatinya yang membuncah. Seakan meledak hari itu juga, dan itu adalah kali pertama pertengkaran hebat mereka sepanjang menikah.
"Udahlah Mas, aku capek buat berdebat sama kamu, dan semuanya berujung aku harus selalu ngertiin kamu." Shali nampak ingin meninggalkan ruangan.
"Dek, aku belum selesai ngomong, tolong dengarkan!" ujar Aka menahan istrinya agar tidak keluar. Shali menepis tangan Aka yang menahannya.
"Kamu maunya gimana? Tolong, kita harus bicara!" Aka mengunci pintu di sana dan memasukkan kunci itu ke dalam saku celana bahannya. Tak peduli Shali menatapnya tak ramah.
"Aku belum siap hamil, Mas," jawab Shali pada akhirnya. Sungguh ia sudah membayangkan kerepotan yang akan terjadi nanti saat tiba-tiba hamil dalam keadaan dirinya masih kuliah. Bahkan Shali mendaftarkan dirinya S2 melalui jenjang prestasi di Swiss sebelum ia menikah, dan itu tentu sangat menjadi bahan pertimbangan dirinya untuk hamil.
"Oke, aku bisa paham kalau kamu belum mau hamil, tetapi kenapa masalah sebesar ini kamu mengambil keputusan sendiri? Kamu bahkan tidak menganggapku ada, atau lebih tepatnya mendiskusikannya dulu."
"Bukan tidak Mas, tapi belum, kamu tuh nggak ngerti-ngerti, aku bahkan baru berencana mengkonsumsi itu dan Mas udah marah banget kaya gini, gimana aku jelasinnya."
"Aku memang menginginkan seorang anak, Dek, dan aku harap kamu pun begitu, kita tidak menundanya. Tetapi kalau kamu belum siap, setidaknya kita bisa program untuk menundanya, tetapi tidak harus dengan meminum pil itu, kita bisa dengan cara yang alami misalnya, supaya tidak mengganggu reproduksi nantinya. Kontrasepsi hormonal ini nantinya akan mempengaruhi sistem hormon kewanitaan dan itu pasti kurang baik."
"Ribet, Mas, emangnya kamu bisa menjamin itu? Aku aja sanksi kamu bisa mengikuti aturannya."
"Kenapa tidak kita coba, bukankah itu lebih baik. Bagaimana kalau kita ke dokter saja," usul Aka cukup bijak.
"Jadi, kamu setuju untuk menundanya."
"Mungkin beberapa bulan ke depan," ujar Aka mulai memahami.
"Setidaknya sampai aku lulus, bahkan aku pinginnya setelah S2 nanti aku baru program hamilnya."
"Kalau itu aku tidak setuju."
"Bagaimana kalau beasiswa prestasi aku diterima? Aku bahkan sangat memimpikan itu."
"Kamu dalam masalah!" ucap Aka cukup serius.
"Tapi kita punya mimpi untuk mewujudkan bersama, dan aku tidak mau jauh darimu. Apalagi menunda sampai sejauh itu, aku tahu semua sudah digariskan masalah keturunan itu, tetapi aku tidak mau menundanya terlalu lama."
"Berapa bulan?"
"Kurang dari setahun lagi kamu lulus, berarti kita bisa menundanya tiga bulan saja."
"Mas, itu terlalu cepat, yang benar saja aku masih ingin menikmati masa pacaran dulu. Menghabiskan banyak waktu bermanja denganmu," ungkap Shali jujur.
"Benar begitu? Bukan berarti tidak menyukaiku 'kan?" tuduhnya penuh selidik.
"Awalnya iya, tapi sumpah sekarang sama sekali tidak, aku sudah menerima takdir ini dengan lapang."
"Sudah aku duga, kamu tidak pandai menyimpan rahasia apapun, dan tidak akan pernah ada rahasia diantara kita."
"Kita perlu konsultasi pada dokter kandungan, Dek?"
"Ya, kalau itu aku setuju."
"Jadi kita baikan ya?" Aka hendak memeluk istrinya namun Shali malah menghindar.
"Kenapa lagi?"
"Ini di kampus, di kampus kita adalah dosen dan mahasiswa, peluk dan ciumnya dipending saja."
"Sayang, ini di ruang private aku?" Aka nampak gemas sekali.
"Bodo amat, itu kan yang selalu didengung-dengungkan kamu, Mas!"
"Oke, fine, aku hanya bisa memahami separonya saja untuk makhluk PMS ini, unik dan selalu berhasil membuat jengkel di lain kesempatan. Aku ikuti permainanmu, Dek?"
"Tugasnya udah aku kirimkan ke alamat emailmu, selamat mengerjakan!"
"Kejam! Menyebalkan!"
"Salah siapa tidak hadir dalam kelas saya? Semua dapat sanksi tanpa terkecuali, termasuk Azmi."
"Hah, Azmi? Kenapa?"
"Nggak ngerti, dan nggak usah kepo urusan orang!" peringatnya galak.
"Kamu yang mulai, kenapa sih sensian banget."
"Ayo, Dek! Kita ke rumah sakit!" ujarnya semangat berkonsultasi.