Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 86


Keesokan paginya, Aka terjaga menjelang subuh. Masih setia memeluk istrinya, bahkan satu tangannya terasa kesemutan sebab menjadi bantalan istrinya semalaman. Pria itu mengalihkan posisi istrinya, lalu menarik diri sedikit berjarak.


"Dek, bangun sayang ... mandi," gumam Aka seraya mengelus pipi mulusnya. Memberi kecupan hangat selamat pagi secara bertubi, membuat perempuan itu benar-benar terusik.


"Hmm ... Mas, ini jam berapa? Aku masih ngantuk," gumamnya malas seraya menarik selimutnya kembali. Entah jam berapa perempuan itu tertidur, suaminya benar-benar mengajaknya begadang semalaman. Alhasil Shali merasa masih mengantuk berat dan butuh istirahat. Tubuhnya teramat lelah, seperti habis maraton tiga kali putaran gelora Bung Karno.


Kasihan, tetapi karena harus melakukan ibadah sholat subuh, Aka langsung mengangkat tubuh istrinya ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Dek, mandi dulu ya, habis sholat boleh tidur lagi kalau emang capek dan ngantuk berat. Ayo sayang, istri sholehahnya Akara Emir yang canti dan imut, Mas bantuin jasa gosong punggung deh buat Adik yang paling manis."


Mereka alhasil mandi bersama cukup lama, setelahnya menunaikan dua rakaat wajib berjamaah di kamar juga. Ekspektasinya Aka hendak ke masjid, namun akhirnya memutuskan di rumah sebab khawatir istrinya tertidur lagi sebelum menjalankannya.


Usai salam, Shali yang masih merasa mengantuk, masih dengan posisi berbalut mukena langsung rebahan di atas sajadah, sambil menunggu suaminya doa dan wiridan.


"Astaghfirullah ... sayang, capek banget ya, boboknya pindah ranjang ayo!" seru Aka lembut mengusap kepalanya. Yang dibuai tidak merespon sebab sudah kembali ke alam mimpi.


Pria itu sampai geleng-geleng kepala melihat istrinya yang tidak merespon saat Aka pindah ke ranjang. Pria itu melepas mukena nya dan menyelimuti istrinya dengan sayang. Membiarkan kekasih halalnya kembali terlelap damai. Bahkan tak terasa Aka juga kembali tertidur memeluk dengan sayang.


Sementara Mommy Disya dan Daddy Sky pagi-pagi nampak heboh dan sibuk sendiri. Perempuan itu bahkan sudah mengundang MUA untuk mengubah penampilan dirinya dan juga Shali yang hendak kondangan pagi ini.


"Sayang, mereka kenapa belum keluar kamar, apa perlu kita ketuk saja, atau jangan-jangan masih tidur ya?"


"Biarin aja sayang, mungkin masih setia dengan bantal dan selimut," jawab Sky santai.


"Ya nggak bisa gitu dong Mas, kita 'kan ada acara pagi ini, bahkan diundang menjadi saksi acara ijab qobulnya.Kamu bangunin tolong Mad, selesai aku make up, gantian Shali."


Sky menurut titah istrinya yang selalu susah untuk dibantah, bapak dua anak itu mendekati kamar dengan daun pintu kecoklatan dengan rasa sungkan. Tentu saja Sky merasa tidak enak, masa baru menginap sehari di rumahnya menantunya dibuat tidak nyaman. Walaupun sudah pasti menantunya itu sudah bangun, siapa tahu mereka berdua masih ingin menghabiskan paginya penuh keromantisan.


Belajar dari pengalaman, Sky tentu pandai membaca situasi, dirinya pernah muda dan juga sering melakukan hal yang sana terutama saat hari libur tidak mewajibkan dirinya ke kampus. Sky yang sudah bermaksud mengetuk pintu, mengurungkan niatnya.


Pria itu hendak berbelok ketika pintu kamarnya terbuka dari dalam, rupanya Aka yang menyembul dari balik sana.


"Eh, Dadd, ada yang bisa Aka bantu?" sapa Aka bingung.


"Nggak ada, eh, Shali udah bangun?" tanya Daddy merasa tidak enak.


"Oke, tolong ya Ka, Shali ditunggu mommy katanya mau dirias, ada di kamar tamu," ujarnya menginterupsi.


"Siap Dadd, Aka mau ambil air putih dulu," pamit Aka menuju dapur.


Pria itu kembali lagi ke kamar dengan segelas air putih di tangannya. Menaruh di atas nakas, lalu duduk di bibir ranjang, membungkuk, mengecup gemas bibirnya beberapa kali, hingga menyatukan napas mereka untuk merespon dengan baik.


"Mas," gumamnya cukup berhasil.


"Ayo bangun sayang, ditunggu mommy sama tukang rias, katanya mau make up kamu."


Shali bangkit dari pembaringan, kedua tangannya ia renggangkan, merasa tubuhnya masih pegal-pegal setelah begadang semalaman.


"Minum dulu, Mas udah ambilin air putih," ujar oria itu menyambar gelas di nakas.


Shali menerimanya, lalu minum hingga isinya hampir habis, tersisa kurang dari sepertiganya.


Shali turun dari ranjang dengan hati-hati, walaupun sedikit kurang nyaman dan terasa berbeda di bawah perut sana, tidak boleh kentara atau akan malu ditanya-tanya orang rumah.


"Dek, sakit ya?"


"Nggak kok Mas, nggak pa-pa." Shali melempar senyum, malu lebih tepatnya untuk mengatakannya.


Aka langsung menghampiri, lalu mencium pucuk kepalanya dengan sayang.


"Maaf ya, semalam aku begitu bersemangat, khilaf banget kalau pagi ini ada acara, pingin banget gendong kamu ke tempat mommy."


"Nggak usah minta maaf Mas, udah jadi kewajiban aku kok buat nyenengin hati kamu, masih sedikit ngilu, nanti juga ilang," jawabnya santai.


Aka kembali tersenyum, kata-kata istrinya 'buat nyenengin hati kamu' itu sungguh membuat pria itu terharu, hingga tanpa kata menarik istrinya dalam pelukan.


"Ini yang bikin aku selalu jatuh cinta setiap pagi denganmu, Dek, selalu berusaha buat nyenengin aku."


"Kamu juga gitu 'kan Mas, makasih." Mereka saling mengecup gumus, mempertemukan bibir mereka sekilas, sebelum akhirnya mengantar Shali ke kamar tamu menemui tukang rias.