
"Ayah, mereka itu siapa?" bisik Nashwa tepat di telinganya.
"Itu tamu Ayah, kita nanti bicara di rumah ya, kamu bisa lebih sopan tidak? Cepat beri salam pada Kya Emir!" titah Ayah sedikit memaksa.
Nashwa mendekat, tersenyum tanggung pada Kyai Emir lalu menatap Azmi lekat.
"Lo bukannya cowok yang di lantai dua puluh empat?" tanya Nashwa cukup bar-bar.
Azmi mengangguk ramah, sementara Nashwa mengamati dengan tanda tanya.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Bisma cukup keheranan.
"Belum, tahu nama saja," jawab Nashwa jujur.
"Owh ... Na, tolong bisa kamu antar Gus Azmi ke ruangannya Om Pandu?"
"Kok Nashwa, nggak mau!" tolak gadis itu begitu saja.
"Iya sayang, takutnya nyasar, 'kan baru di sini, atau kalau tidak kamu bisa bantu untuk tour ruangan yang akan digunakan untuk shooting, ada di lantai empat."
"Tapi Yah," selanya masih enggan.
"Na!" Ayah menyorot tegas. Membuat gadis itu tak bisa mengelak sedikit pun atau berakhir tanpa izinnya.
"Maaf Kyai Emir, anak saya ini kurang sopan, masih seperti itu, apa kira-kira pondok Kyai Emir bisa menerima anak seperti Nashwa, siapa tahu di sana bisa lebih tertib."
Kyai Emir tersenyum menanggapi temannya itu, sebenarnya jenis anak seperti apapun pasti diterima di pesantren Al Hasan.
"Boleh Pak Bisma, bisa saja asalkan anaknya berkenan," jawab Kyai Emir kalem.
"Terima kasih Kyai, rasanya saya sudah lama ingin sekali memasukkannya ke pesantren, tetapi sekarang saya lebih mantep kalau memasrahkan pada pondok Kyai Emir saja."
Sementara Nashwa dan Azmi berjalan canggung saling beriringan, dengan Nashwa sebagai petunjuk jalan.
"Hmm, Gus, nama kamu sebenarnya Bagus ya? Kok ayah manggil kamu Gus?" tanya Nashwa dengan polosnya.
Azmi hanya menanggapi dengan senyuman bersahaja. Menundukkan pandangan yang tidak semestinya menatap gadis berparas cantik nan imut itu.
"Bagus, dari tadi ditanya cuma senyam-senyum, kamu sariawan?" tanya Nashwa lagi.
"Adek 'kan sudah tahu, kenapa musti tanya lagi," jawab pria itu datar.
"Hish, lempeng amad nggak ada basa-basinya. Oke gue Nashwa, salam kenal nanti lo bisa panggil gue Nana, dan sepertinya kita akan jadi partner." Nashwa berhenti dan mengulurkan tangannya.
Azmi termangu di tempat, ia masih terdiam mengamati tangan yang menggantung meminta diraih, namun ia bingung.
"Lama ya, gini Gus biar afdhol." Gadis berseragam putih abu itu langsung mengambil tangan Azmi untuk bersalaman.
"Gue Nashwa Farah Kamila, salam kenal!" ucap gadis itu percaya diri, masih menggenggam tangan Azmi.
"Azmi Hasan Dilaver," jawabnya tersenyum kalem. Berusaha melepas tangan mereka yang bertautan, namun rupanya Nashwa malah tak sadar menahannya karena sibuk mengamati wajahnya.
"Astaghfirullah ... kamu kenapa menatap aku terlalu dekat?"
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Na, anak orang jangan dijailin!" tegur Om Pandu memergokinya.
"Om, siapa juga yang ngejailin bocah gede, yang ada gue yang dijailin. Om, bilang ke ayah, gue yang jadi co hostnya, awas kalau nolak!"
"Ini tuh temanya religi bocah ayu, kamu pakai kerudung aja buka tutup nggak beres, emang bisa?"
"Wah ... pelanggaran nih Om Pandu, masa cuma co host aja nggak bisa, ayah tuh lagi ada tamu, aku belum sempat ngomong, pokoknya kalau ini Nashwa mau, bakalan nurut deh."
"Ngomong sendiri sama ayah kamu, Om terima deal sama proses aja."
"Awas rekrut orang lain!" ancamnya nyengir.
"Ayo masuk, Gus Azmi 'kan? Maaf atas ketidak sopanan sambutannya, Nashwa emang super heboh, tetapi aslinya baik kok, kamu nggak diapa-apain 'kan?"
Azmi tersenyum dan menggeleng sebagai jawaban. Sementara Nashwa sendiri sudah melesat meninggalkan ruangan.
***
Di sisi lain, keluarga Ausky tengah melakukan perjalanan ke acara hajatan saudara. Mereka berangkat bersama dengan pakaian yang senada.
"Mom, rumahnya tante Raya jauh amad," keluh Shali sedikit tidak nyaman.
"Udah sampai kok, mobilnya parkir di sini, nanti kita masuknya jalan kaki karena gangnya cukup motor saja."
"Hah, beneran?"
Balada untuk Shali yang sedikit tidak nyaman berjalan jauh akibat suaminya merusuh semalaman.
"Nanti aku gendong, sayang, jangan pucet," bisik Aka tepat di telingannya. Sedikit menempel mencuri ciuman dan tersenyum mesra. Mereka masih di dalam mobil, tengah mengantri turun.
"Turun Mas, itu mommy sama daddy sudah turun semua."
"Sha, ayo!" Reagan melongok ke dalam mobil lagi dengan membungkukkan badannya."
"Kamu kenapa Sha, mabuk kendaraan?" tebak mommy begitu mendapati putrinya dengan raut muka tak semangat.
"Sedikit pusing Mom, jalannya berkelok-kelok, bikin eneg," jawabnya datar.
"Jalan pelan-pelan saja, ini sudah dekat kok."
"Sini Dek, peganga erat tanganku," ucap Aka sembari meraih tangan istrinya.
Aka menuntun Shali yang berjalan pelan di belakang mommy dan daddy. Heels yang perempuan itu kenakan cukup tinggi, beserta pakaian rok span yang senada dengan atasan Aka. Keduanya nampak serasi berjalan saling bergandeng tangan.
"Sayang, pakaian aku masih oke 'kan?" Itu suara Mommy Disya yang tengah sedikit mengoreksi pakaiannya.