
"Tapi yang dimesumin seneng 'kan?" Pria itu terkekeh gemas.
"Apaan sih Mas, nggak usah ngadi-ngadi deh, bikin pagiku nggak aman aja." Gadis itu menggerutu sembari membenahi hijabnya, sedikit menambahkan liptint di bibirnya yang telah memudar akibat serangan fajar suaminya.
"Gimana-gimana? Apanya yang nggak aman?"
"Tauk ah, kamu nakal Mas, aku ke kelas dulu, assalamu'alaikum .... "
"Kamu lebih nakal lagi, udah bikin aku nahan selama ini, masih ... aja menggerutu," tegur Aka sebelum istrinya keluar dari mobil. Pria itu menahan tangan istrinya yang berpamitan.
"Apa Mas? Mau ke kelas ini, aku bisa telat," protesnya dengan muka tanda tanya.
"Setelah pulang ke ruangan aku ya, jangan lupa," ucapnya sekali lagi. "Ruangan pribadi aku nanti aku kirim pesan denahnya," imbuh pria itu.
"Hmm ...." jawab Shalin keluar dengan lega.
"Eh," gadis itu berbelok, membuat Aka menyorotnya penuh tanda tanya.
"Kenapa Dek, kurang ciuman aku?" seloroh pria itu yang membuat Shali mencebik kesal.
"Bukan lah, minta uang saku Mas, aku mau mampir kafe nanti sama teman-teman kelompok ngerjain tugas." Gadis itu mengulurkan tangannya, menengadah seperti anak yang tengah menunggu uang saku dari ayahnya.
"Nggak boleh main sayang, 'kan udah dibilangin usai kelas ke ruangan saya," tekan Aka gemas.
"Bukan main saβyang, tapi ngerjain tugas, cepetan dong Mas, aku mau ke kelas nih."
Pria itu menghela napas sepenuh dada, mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompetnya.
"Aku mantau kamu lho, Dek, jangan bikin ulah."
"Iya Mas, iya, aku datang sama teman-teman kok, lagian buat ngerjain tugas."
"Kenapa nggak di student lounge aja Dek, tempatnya 'kan nyaman buat belajar. Dekat juga sama kantin universitas," saran Aka yang sepertinya ada benarnya. Lebih tepatnya tidak ingin istrinya keluar dari halaman kampus.
"Oke baiklah, usul aku tampung, keputusan ada ditangan kelompok. Assalamu'alaikum ...."
"Waalaikumsalam .... " Aka harus banyak bersabar menikahi gadis yang masih muda memang gejolak emosinya masih belum stabil, tidak suka dikekang, ataupun terlalu diatur-atur. Kendati demikian, Aka tetap akan memantau pergaulan istrinya, dan dengan siapa saja istri kecilnya berteman.
Shali dan Izza sedang berkemas, mereka baru saja usai makul siang ini. Seperti yang sudah diagendakan, mereka akan belajar bersama mengerjakan tugas kelompok yang tertunda.
"Jadinya di mana? Kata Shalin di lounge aja?" Satya unjuk suara.
"Taman terbuka kampus aja gimana, duduk lesehan di rumput kayaknya menarik juga," usul Desta.
"Boleh sih, suasananya melting udara nggak begitu panas, dan kita dapat sensasi sejuk alami, gimana Sha?"
"Kuy lah, ngikut aja," jawab gadis itu sembari berjalan sejajar dengan Satya dan Izza.
"Sha, sini deh, udah aku bersihin ini rumputnya," ujar Satya perhatian. Mereka batu saja memilih tempat paling relevan.
"Makasih Sat," jawabnya cuek sembari memposisikan diri.
Shalin terkekeh, "Fokus gaes ... jaga jarak aman, ada pengintai," celetuk Shalin tepat setelah dirinya melihat suaminya tengah memperhatikan dirinya dari radius sekitar tiga puluh satu meter.
Mereka duduk santai di atas rumput Jepang sembari menatap layar laptop di depannya. Fokus dengan materi dan bahan yang sudah dirancang. Namun, dalam usahanya ada satu yang masih menjadi perdebatan, bahwa dari mereka berempat harus mendapat informasi atau wawancara khusus terhadap suatu perusahaan yang ditunjuk langsung, atau direkomendasikan oleh pihak kampus. Atau bisa juga merekomendasikan sendiri dengan laman yang jelas.
"Jadi siapa nih yang mau wawancara?" Izza menyeru.
"Lo aja gimana Lin, lo 'kan menguasai bahasa tingkat tinggi, resmi dan semi abal-abal, jadi kayaknya lo aja kali ya," usul Izza yang seketika langsung mendapat respon positif Satya dan Desta.
"Dih ... kok aku? Jangan deh, Molly aja anggota kita 'kan ada satu lagi," tolaknya tak beralaskan.
"Molly lagi meriang, merindukan kasih sayang, kurang belaian, dan putus harapan, jatuhnya sakit tak berkesudahan gara-gara di ghosting sama pacar," jelas Desta sok tahu.
"Dih ... najong, sok tahu lo!" Satya mencebik malas.
"Beneran, makanya lihat instastory-nya coba, ngenes doi pindah lapak, eh maksudnya pindah negara."
"Gimana kalau kita samperin ke rumahnya, nanti sore habis ini, kalau Molly tetap nggak mau, fiks, Shalin kandidat terakhir atau tugas kita didiskualifikasi."
"Sedang aku pikirkan, kasihan juga ya Molly, oke baik lah habis ini kita jenguk tuh bocah."
Mereka berempat memutuskan menjenguk Molly yang tengah sakit. Berhubung Izza dan juga Shalin tidak membawa motor, mereka sudah pasti nebeng. Soalnya dari kedua pria tersebut nggak ada yang bawa mobil jadi mereka akan berboncengan.
"Sha, kamu sama aku ya, biar Desta sama Izza," ujar Satya menginterupsi.
"Bentar gaes, aku ada urusan sekedap, kalian tunggu di depan atau di parkiran. Atau anter Izza beli buah tangan dulu."
Shalin harus berpamitan dengan Aka atau pria itu akan mengamuk.
"Assalamu'alaikum ... Mas," sapa Shalin dengan napas satu-satu. Perempuan itu berjalan tergesa ke ruangan suaminya dengan tangga, kebetulan lift macet, entahlah.
.
.
Tbc
Assalamu'alaikum all ... pembaca setia sahabat Asri Faris
Semoga dalam keadaan sehat selalu.
Selamat Hari raya idul fitri 1443 H untuk semua pembaca yang budiman. Minal aidin wal faidzin mohon maaf lahir dan batin. πππ
Semoga keberkahan selalu menaungi kita semua ... Aamiin ....
Mohon maaf jadwal up random dikarenakan author sibuk wira wiri ralat, maksudnya sibuk silaturahmi. Hehe ...
Selamat lebaran gaesss love you allπππ
nb: yang nungguin unboxing Shali dan Aka akan segera di up nanti malam ya biar kalian bacanya udah santai, see you all