
Kedua pasangan halal itu kembali mereguk manisnya madu pernikahan. Rasa rindu yang menggebu membawa mereka dalam malam yang begitu syahdu. Melewati dengan penuh semangat nan menggebu. Tak butuh waktu lama hingga membuat sprei mereka nampak acak-acakan.
"Sayang, sampai keringetan gini," ucap Aka sembari mengelap peluh di kening istrinya.
"Kamunya semangat banget aku harus bisa mengimbangi dong," jawabnya malu-malu.
"Ih ... gemes, makin pinter aja. LDR itu ternyata nggak enak banget ya Dek, kamu ngerasa gitu nggak?"
"Nggak sih, biasa aja," jawab Shali datar.
"Eh, beneran nggak kangen? Bohong dosa loh, nggak ditanggung suami."
"Berat banget lah, nggak telepon kangen, giliran telepon makin rindu. Nggak bisa nyentuh, kaya gitu lah pokoknya, gemes sendiri tapi pas kerasa kesiksa banget tuh pas mau tidur, nggak ada temannya nggak asik banget."
"Nggak jadi nginep di kamar Nana?"
"Nggak lah kan kamu nggak ngebolehin, tapi sering main sih."
"Eh, besok mereka nikah menurut Mas gimana?"
"Aman," jawab Aka santai.
"Aman? Maksudnya?"
"Azmi pasti udah memikirkan yang terbaik untuk dirinya dan ke depannya. Walaupun dadakan juga kali tetep memerlukan pemikiran yang matang."
"Kamu juga gitu berarti Mas, waktu mau nikahin aku tapi kok kamu kaya nggak mikir, langsung gini, 'saya akan menikahi putri bapak' padahal itu awal kita bertemu, apa nggak ektrem tuh."
"Aku mikir juga kali Dek, sebelum bilang gitu."
"Apa coba, sungguh aku penasaran. Kenapa langsung mau?"
Aka menatapnya lekat, dan dalam. Posisi mereka masih di atas ranjang dalam balutan selimut tipis yang sama. Tak ada pembatas yang membatasi pandangan mereka. Semuanya yang indah nampak oleh mata keduanya.
"Mungkin, itu cara Tuhan menginginkan kita bersama. Antara aku dan kamu menjadi kita," jawab Aka tenang, kembali memagut bibirnya tanpa sisa.
Keduanya saling memberi rasa. Menciptakan aura panas kembali yang semakin tercipta. Saling menguasai medan, membelit sengit bergumul seduktif.
"Mas, udah, istirahat saja, besok kita ada acara penting," sanggah Shali melepas pagutan mereka dengan napas memburu.
"Nggak pa-pa, kan acara di rumah nggak harus jalan jauh, aku pelan-pelan kok sayang."
"Ih ... besok aku nggak nyaman, kalau diledekin orang-orang gimana? Kentara banget kan habis LDR, udah ya istirahat saja, udah malam banget."
"Kamu nggak kasihan sama aku yang masih begitu bersemangat. Aku aja kasihan sama diriku sendiri. Kamu terlalu sayang untuk aku biarkan malam ini."
Tangan Aka kembali nakal menyusuri tubuh sensitif istrinya, hingga membuat wanita itu gemas sendiri karena tak bisa menolak keinginan suaminya yang meminta lagi dan lagi.
"Engh ... Mas, please ....!" Shali memohon dengan mata terpejam.
"Kamu diem aja nggak pa-pa, biar aku yang bekerja," ucapnya santai.
Rasanya tubuh itu begitu lelah, namun tak bisa menghentikan keinginan suaminya yang begitu menginginkan dirinya. Bahkan entah di jam berapa mereka tertidur, untuk pertama kalinya keduanya sama-sama kesiangan. Aka terjingkat kaget begitu mendapati jam di dinding kamarnya sudah jam lima pagi.
"Astaghfirullah, Dek, bangun Dek, kita kesiangan. Cepetan mandi!" ucap Aka tanpa drama langsung menggendong istrinya ke kamar mandi.
Mereka mandi berdua dan setelahnya jamaah subuh yang sudah tertinggal. Ini adalah pertama kalinya Aka terlambat sholat semenjak menikah, keduanya masih duduk di atas sajadah sambil berdzikir menyambut pagi. Shali menjatuhkan keningnya pada punggung Aka yang masih duduk di shaf depannya. Pria itu pun menyudahi wiridnya.
"Ngantuk Mas, aku boleh tidur dulu sebentar lagi, rasanya tubuhku begitu lelah," keluh Shali jujur.
Aka tersenyum tipis menanggapi itu, mereka tidak ada kuliah karena hari sabtu, jadi praktis bisa istirahat sampai siang. Tetapi berhubung siang nanti ada acara penting untuk keluarga besar Kyai Emir, Shali tentu saja tidak boleh tidur, hanya rebahan saja.
Aka mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke ranjang. Membuka mukena yang masih Shali kenakan. Shali sendiri langsung merebah begitu bertemu dengan kasur, rasanya begitu lelah setelah semalaman begadang.
"Jangan Mas, geli, nggak mau nanti kamu nakal," sanggah perempuan itu ketika Aka bergerak memijitnya.
"Biar capeknya ilang, nggak sayang aku cuma mijit kok, janji."
Shali merangkul pinggang Aka yang terduduk, sementara dirinya merebah dengan menyembunyikan wajahnya pada perut suaminya. Suara ketukan pintu yang menggema memberi jarak keduanya.
"Kak, Kak Shali!" Itu suara Nashwa. Rupanya bocah itu yang menyambangi kamar mereka.
"Iya, bentar Dek!" sahut Shali bangkit dari pembaringan. Berjalan pelan menuju pintu.
"Apa Na? Ada yang bisa aku bantu?"
Bukannya menjawab, Nashwa malah dibuat melongo dengan penampilan Shali yang cukup membuat otak bocah itu berkelana jauh entah ke mana.
"Kak!" Nashwa menunjuk leher dirinya yang tertutup hijab dengan kikuk.
"Hem, astaghfirullah ... kamu jeli banget," jawab Shali langsung menali hijabnya yang sebelumnya hanya tersampir menutupi kepalanya. Mereka masih diambang pintu, sedang Shali masih di dalam.
"Aku ganggu waktu kalian ya?" ujarnya kikuk sedikit melongok ke dalam. "Pak Ustadz mana?"
"Ada kok di dalam, kamu ada perlu sama suami aku?" tanyanya bingung.
"Nggak lah, kerajinan amat pagi-pagi nemuin ustadz, ketemu kakak, ada yang pengen aku omongin. Bisa?"
Shali yang sebenarnya masih enggan beranjak dari kamar pun akhirnya mengangguk.
"Aku pamit suami aku dulu ya?"
"Mau ke mana sayang?" tegur Aka tiba-tiba sudah muncul di belakangnya sambil membawa hijab instan yang agak besar.
"Ini Mas, ditungguin bocil," jawab Shali menunjuk Nashwa.
"Pak, pinjam istrinya sebentar ya?" pinta Nashwa nyengir.
"Ya sudah, aku tunggu di kamar," ujar gadis itu berlalu.
"Ganti kerudungnya Dek kalau mau keluar, aku juga mau nemuin abah."
Aka melepas kerudung yang tersampir tak beraturan, lalu memakaikan hijab yang lainnya.
"Masya Allah cantiknya, senyum kamu bikin aku susah move on."
"Gombal, pagi-pagi ngegombal," seloroh Shali menggeleng kecil. Mereka berjalan keluar dari kamar bersama.
"Aman kan sayang," ucap Aka meneliti istrinya dengan senyuman di matanya.
"Aman sih, tapi sedikit gimana ya, kamu seneng banget bikin aku susah berjalan," ujar Shali mencubit pinggang suaminya gemas.
"Jangan gitu, sakit sayang, adoh ....!"