Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 36


“Dan istri istri yang kalian khawatirkan akan nusyuz hendaklah kamu beri nasehat kepada mereka, tinggallah mereka di tempat tidur kalau perlu pukullah mereka”. (QS An Nisa : 34)


Maksud dari firman Allah tersebut ialah jika ada seorang istri yang sudah dinasehati berulang kali tetapi tetap saja tidak mengikuti suami, maka suami boleh mendiamkannya. Aka pun melakukannya dengan niat kebaikan agar istrinya tersebut jera dan dapat mengambil pelajaran.


Shalin tengah melipat mukena sehabis sholat maghrib ketika vibrasi ponselnya memekik. Gadis itu lekas melongok benda pipih itu dan ternyata id caller Reagan yang tertera di layar ponsel.


"Assalamu'alaikum ... abang kembaran," sapa Shalin antusias.


"Waalaikumsalam ... katanya mau main ke rumah, ditungguin mommy dari tadi lho kamu," jawab Reagan di sebrang sana.


"Maaf, Bang, suamiku baru selesai ngajar sampai sore pulang dari kampus, mungkin kalau nggak jadi malam ini besok, lagian 'kan libur juga si?"


"Oke, ditunggu. Bye, assalamu'alaikum ...." Reagan menutup ponselnya.


Shalin membalas salam setelah telepon itu ditutup, hatinya kok sakit ya, tetiba merasa sangat rindu dengan orang tuanya, tetapi mau keluar aja susah. Mungkin begitulah gambarannya, ia akan terlihat kangen dan rapuh, bahkan menjadi tak berselera makan. Shalin pun memilih tidur dan menangis seorang diri.


Sementara bakda maghrib sampai isya Aka akan sibuk di pondok. Pria itu akan kembali setelah sholat isya untuk makan malam, dan aktif kembali hingga malam sekitar pukul sepuluh.


"Umi, Shalin belum ke sini?" tanya Aka yang baru saja pulang dari masjid.


"Belum, mungkin masih di kamarnya," jawab Umi Salma seraya menyiapkan makan malam.


"Aku susul dulu, Umi," pamit Aka menuju kamarnya.


Pria itu menghela napas sepenuh dad@ mendapati istrinya sudah menuju peraduan termanisnya dengan selimut rapat hingga dagu. Aka mendekati ranjang, menemukan ponsel gadis itu dalam genggaman. Seketika pria itu mengambilnya, dan menaruh di atas nakas. Hatinya masih kecewa dan kesal, namun mendapati sekarang tertidur belum makan, jelas ia merasa kasihan.


"Dek, bangun aku tahu kamu belum tidur?" tegur Aka lembut tepat di sampingnya.


Shalin bergeming, benar kata Aka, gadis itu memang belum tidur, namun ia hanya malas dan ingin pulang ke rumah, rasanya hidupnya tertekan. Aka mendesah pelan, mendapati istrinya tidak meresponnya.


"Kalau nggak mau makan ya udah aku tinggal ya, aku mau bilang sama Umi dan yang lainnya kalau kamu udah tidur," ujar Aka sengaja berbicara demikian untuk memancing istri kecilnya.


Shalin tetap bergeming, hatinya tidak berminat makan bersama, padahal jelas ia lapar, dari tadi siang bahkan ia hanya makan di kantin kampus saja. Tetapi karena merasa kesal dan diabaikan suaminya, ditambah efek kangen keluarga jelas Shalin menjadi rapuh dan melow.


Ternyata Aka benar-benar meninggalkan kamar, dan tidak mencoba membujuknya seperti yang sudah-sudah kalau tengah merajuk, entah mengapa Shalin menjadi semakin kesal, diam-diam pelupuk matanya basah mengingat kepingan-kepingan kehidupan rumah tangganya yang baru seumur jagung. Dirinya tidak pernah menyangka akan mendapati pernikahan yang begitu menguras emosi jiwa dan raga. Ekspektasi dulunya melepas masa lajang, dengan orang yang saling mencintai, mengadakan syukuran besar dan tersenyum di atas panggung pengantin dengan bahagia, serta bulan madu indah hanya kamuflase saja yang tidak pernah terealisasi. Gadis itu mengusap buliran bening di pipinya dengan kasar.


"Umi, maaf ya Shalin pamit dulu, udah bilang ke Mas Aka kok, Umi, jangan khawatir Shalin pulang dengan sopir yang jemput," pamit gadis itu mencium punggung tangan mertuanya dengan takzim.


Umi Salma bingung sendiri melepas menantunya, namun karena bilang sudah pamit dengan Aka, Umi pun mengangguk mengizinkan serta menggumamkan hati-hati.


Gadis itu menenteng sling bag dan berjalan cepat menuju pintu gerbang. Terlihat pintu masih terbuka walau tertutup rapat, hendak digembok oleh pengurus pondok.


"Lho, Ning Shalin? Malam-malam begini mau ke mana Ning?" tanya salah satu santri yang memergokinya.


"Pak, jangan dikunci dulu, saya mau keluar," ujarnya sedikit memaksa.


"Kalau boleh tahu mau apa ya Ning, ini sudah malam, peraturan pondok tidak boleh keluar masuk jika sudah lewat pukul sembilan."


'Astaga, baru tahu ada aturan macam asrama saja, benar-benar seperti di penjara.'


"Saya udah izin sama Umi, dan suami saya, tolong dong Pak bukain," mohon gadis itu.


"Shalin, mau ke mana?"


"Ini Gus Azmi, minta keluar katanya udah izin sama ndalem," jawab salah satu santri yang bertugas di sana.


"Tinggalin aja Pak, biar sama aku," ujar Azmi tenang.


"Mau ke mana malam-malam begini keluar, bukannya Bang Aka masih ngajar?" tegur Azmi lembut.


"Azmi, aku udah pamit kok, aku mau pulang."


"Sendirian?"


"Iya, nggak usah khawatir, aku sama taksi kok di depan."


"Jangan, biar aku antar saja. Gimana? Atau kalau nggak nunggu Bang Aka, ini sudah malam."