
Shali mendatangi ruangan Aka, pria terlihat tengah sibuk menatap layar laptopnya, sepertinya tengah merekap nilai mahasiswa untuk tugas kemarin. Suara ketukan pintu yang menggema, mengalihkan dosen itu sebentar sebelum akhirnya kembali fokus pada layar laptopnya.
"Masuk!" titah pria itu dingin.
"Ada keperluan apa datang ke ruangan saya?" tanya Aka dingin, tetap fokus pada layar laptopnya.
"Mas, ini aku, mau ngomong," ujar Shali tak mau basa-basi.
"Ya, Shali, ada yang mau kamu sampaikan, kalau mau konsultasi tentang seputar materi, atau perbaikan nilai nanti saja, saya sedang sibuk," jawabnya datar.
Shali melongo seketika mendengar jawaban Aka yang sepertinya beneran ngambek. Karena kesal, perempuan itu hanya diam beberapa saat, mengamati suaminya yang memang terlihat sibuk, setelahnya berdiri dan pamit.
"Maaf, Pak Akara Emir Hasan, saya sudah mengganggu waktu Anda, saya permisi!" pamit Shali cukup menohok. Mendadak ia begitu sangat kesal dengan suaminya, bisa-bisanya ia tidak memberikan kesempatan untuk Shali menjelaskan.
Aka menghentikan kegiatannya sebentar, menghela napas sepenuh dada. Menatap punggung istrinya yang berjalan keluar ruangan, hatinya bergejolak hebat, namun ia sendiri masih tidak ingin membahas apapun tentang masalah yang sengaja diciptakan mahasiswanya.
"Shali!" pekik Izza menghampiri.
"Gimana? Beres?" tanya sahabatnya ikut waswas. Shali menggeleng pelan.
"Hah, maksudnya Pak Aka masih marah?" Izza memastikan.
"Maybe," jawabnya lesu.
"Udah, jangan sedih gitu dong, ini 'kan hari ulang tahun lo, gimana kalau kita ke kantin?" bujuk Izza cukup antusias.
"Oke lah, gas," jawabnya antusias. Merangkul sahabatnya lalu menuju ke kantin. Tak ingin mengambil pusing dengan kejadian tadi yang membuat moodnya amburadul Shali menghibur diri sendiri ke kantin.
Shali dan Izza baru saja mengambil duduk, lalu pesan makanan di sana. Keduanya tengah mengobrol asyik ketika Azmi datang. Pria itu datang bersama sahabatnya Fayyad, dan bergabung di bangku kantin.
"Mabruk alfa mabaruk barakallah fii umrik, Shalinaz Riely Ausky," ucap Azmi sembari mengambil duduk tepat di depannya.
"Aamiin ... waafiika baraakallah," jawab Shali terharu. Seketika senyum itu terbit begitu saja dari wajahnya.
"Aku orang ke berapa yang ngucapin?" tanya Azmi disertai gurauan.
"Walaupun bukan yang pertama, tetapi paling syahdu," celetuk Fayyad tiba-tiba.
"Pada pesen apa? Enaknya makan yang pedes-pedes. Traktir ya Lin?" todong Fayyad basa-basi.
Perempuan itu mengangguk saja dengan senyuman. Izza yang biasanya berisik, nampak kalem karena di hadapannya ada someone yang selalu mengusik hatinya.
Mereka berempat akhirnya makan bersama di kantin sembari bersenda gurau.
"Habis ini masih ada kelas nggak?"
"Ada lah, ya kali kosong, enak banget bisa jalan ke mana," jawab Izza datar.
"Main mulu pikiran kamu, Za," cibir Shali.
"Kenapa Lin, ditemani kok malah kabur?"
"Perutku sakit, aku tinggal bentar ya?"
Shali ke belakang, tiba-tiba ia merasa sesuatu tak nyaman terjadi pada dirinya. Benar saja, sesuatu yang sudah dicurigai dari kemarin terjawab sudah. Karena bingung, Shali menelepon sahabatnya Izza untuk menemuinya di toilet.
"Sorry, gue tinggal bentar ya, Shali butuh bantuan kayaknya," ujar Izza merasa berat meninggalkan acara makan di kantin dengan moment yang cukup langka. Namun, keadaan Shali tak bisa diabaikan.
"Shali kenapa, Za?" tanya Azmi mendadak cemas.
"Nggak pa-pa, ini cuma masalah wanita kok, aman," jawabnya santai.
Izza segera bergegas menyusul sahabatnya yang terdampar di toilet wanita. Perempuan itu sudah membawa pesanan Shali di tangannya.
"Lin, lo di dalam!" pekik Izza mendekati pintu demi pintu.
"Aku di sini, Za," jawabnya cukup keras. Membuka pintu kamar mandi lalu melongok sedikit keluar.
"Lo nggak pa-pa, buruan gih ganti, gangguin moment langka gue aja," protesnya memberengut.
"Berisik, nanti imbalannya nomor ponsel doi, aku mintain ke Azmi, sekalian ta'arufan," jawabnya ngasal.
"Aminin ah ... doanya bu Nyai biasanya manjur."
Saat sedang di kamar mandi dengan kerepotannya, handphone Shali bergetar. Perempuan itu sempat melirik sekilas sebelum panggilan itu berhenti. Ternyata suaminya yang menghubunginya.
"Udah?" Izza menunggu dengan setia.
"Perutku sedikit nyeri, aku izin aja Za, untuk kelas selanjutnya, tolong nitip absen," ujarnya merasa tak nyaman.
"Beneran sakit? Kebiasaan lo mah, kalau datang bulan pasti gini uring-uringan nggak jelas."
"Aku kira bakalan telat, udah mundur sekitar empat harian, eh, nggak tahunya malah palang merah."
"Efek kesel kali, biasanya 'kan gitu, hormon stress memicu lebih cepat, apalagi pakai emosi, keluarnya banyak, aku suka gitu soalnya."
"Ya udah ayo gue antar ke unit kesehatan kampus saja, kamu perlu istirahat sejenak," saran Izza yang seketika diiyakan perempuan itu.
"Lin, laki lo telepon itu ponsel lo getar terus!" lapor Izza melongok ponsel sahabatnya yang cukup mengusik.
Shali menerima dengan nada lemas, perempuan itu tengah tiduran di atas bed.
"Assalamu'alaikum ... Mas," jawab Shali lirih.
"Ke ruang privat room sekarang, Mas tunggu!"
"Mas, ak—" sambungan dimatikan sebelum Shali sempat menjawab, membuat perempuan itu gemas sendiri dan membanting ponselnya di atas bed.