Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 42


"Reagan itu emang suka rese' bisa-bisanya berpikiran hamil, nikah juga baru kemarin nggak mungkin banget hamil, lagian buat kikuk orang aja, mana Mas Ustadz pakai acara senyum-senyum segala, apa ya nggak buat aku jadi keki, duh ... ancaman nih."


Shali hanya bisa menunduk tanpa menimpali, sementara mommy dan daddy mengaminkan perkataan ngawur bocah itu.


"Mom, Shali ke kamar dulu ya?" pamit gadis itu merasa masih sedikit pening dan merasa nyeri dada bagian bawahnya.


"Iya sayang, kamu istirahat saja, nanti biar diantar ke kamar, muka kamu pucet," ujar Mommy peka.


Perempuan itu mendadak berasa kliyengan, dan sedikit gemetar. Tiba-tiba terasa berputar dan—semuanya menjadi gelap. Shali yang baru beranjak beberapa langkah, tubuhnya ambruk tak sadarkan diri, Aka yang melihat itu langsung menangkap tubuh istrinya agar tidak menyentuh lantai.


"Astaghfirullah ... Dek, bangun Dek?" ujar Aka panik. Pria itu menggendongnya ke kamar.


"Bawa ke rumah sakit saja, sepertinya Shali bukan hanya masuk angin." Mommy Disya cemas sendiri.


Akhirnya pagi itu, keluarga melarikan Shali ke rumah sakit terdekat. Gadis itu terdeteksi asam lambungnya kumat. Seketika Aka sangat merasa bersalah, malam itu ia membiarkan saja istrinya melewati makan malam begitu saja, ia tidak tahu kalau istrinya mempunyai riwayat asam lambung pada dirinya.


Mungkin karena telat makan, ditambah kehujanan malam, dan sedikit tekanan membuat gadis itu banyak pikiran sehingga sangat mungkin bila asam lambungnya naik.


"Maafkan Mas, Dek? Tolong bangun!" gumam Aka khawatir. Gadis itu memang belum lama hadir dalam hidup Aka, namun kehadirannya sudah mampu menguasai hatinya saat ini, bahkan Aka sangat takut kehilangannya. Pria itu menemani dengan setia di sampingnya. Tangan yang terasa dingin itu menggenggam begitu erat, merasakan sedikit bergerak dan tak lama mata itu terbuka.


Sayup-sayup Shali merasa baru terbangun dari tidur. Namun, dengan ruangan yang serba putih dan terasa asing, serta tercium khas obat. Perempuan itu sedikit memicing, mengembalikan nyawanya dalam raga, berusaha tersadar sempurna, menemukan tangan kiri yang terbalut selang infus.


"Alhamdulillah ... Dek, kamu sudah sadar," kata Aka yang pertama tertangkap di telinganya.


"Aku kok di sini?" tanya Shali lirih.


"Iya Dek, kamu pingsan tadi, maafin aku ya, gara-gara aku kurang peka kamu jadi kaya gini."


"Kenapa minta maaf, Mas, mommy ke mana?" tanya Shali dengan polosnya.


"Ada di luar, kamu mau ketemu? Biar Mas panggil ya?"


"Mas, kenapa aku bisa pingsan? Emangnya aku sakit apa?" Shali menahan lengan Aka yang hendak beranjak.


"Asam lambung kamu naik Dek, badan kamu lemah makanya pingsan, dari kemarin 'kan tidak makan, ditambah kehujanan malam, ini salah aku sih, maaf ya?" sesalnya.


"Nggak usah minta maaf juga Mas, bukan salah kamu kok," ujar Shali lembut. Aka tersenyum tipis merespon.


"Sayang, kamu udah sadar?" Mommy Disya dan Daddy langsung menuju kamar begitu Aka mengatakan putrinya siuman.


"Lain kali jangan bandel ya, jadi gini 'kan akibatnya," sesal Mommy tidak mengingatkan.


"Aku nggak pa-pa kok Mom, jangan khawatir gitu dong," ujar Shali menenangkan.


"Iya Abang ganteng, maafin kembaranmu ini yang ngeyelan," sesalnya nyengir.


"Sudah jangan ribut di rumah sakit, biarkan adikmu istirahat Reagan, jangan ngebayol terus."


"Siap Mom, cuma kasih wejangan sedikit, biar besok-besok nggak asal hidup aja, heran deh suka banget bikin orang cemas," ujar Reagan berapi-api.


"Emang kamu mencemaskan aku?" tanya Shali tersenyum.


"Menurut lo, kembaran nakal!" sentil Reagan pada hidungnya.


"Aduh Abang ... aku 'kan lagi sakit, tuh Mom nakal," adu Shali manja.


"Reagan, dibilangin jangan ngebayol terus kok malah ngeyel, kamu pulang aja sana, tugas kuliah numpuk 'kan?"


"Astaga gue diusir, iya Mom, emang nggak kira-kira tuh dosen, main ngasih tugas aja, udah tahu mau libur buat persiapan UAS, masa iya harus ngumpulin tugas, wewenang siapa sih, kalau aku jadi rektornya nanti mau aku ganti kebijakan itu, biar mahasiswa tentram damai sentausa," ujarnya seraya melirik ayahnya.


"Nggak usah nyindir, bagus dikuliahin di situ, atau kamu pindah aja ke Universitas Islam, biar banyak ngajinya juga, biar sedikit sopan kalau ngomong sama orang tua."


"Nah ... mulai 'kan, Daddy mah tukang tersinggung, aku dikirim aja ke London, Mom, aku mau kuliah di sana."


"Kalian kalau mau pada ribut di rumah, jangan di rumah sakit, mengganggu pasien yang sedang butuh ketenangan!" Suara Mommy memang paling efektif membuat kedua cowok itu mingkem, terbukti tidak ada yang menyela kembali setelahnya.


Aka tersenyum menimpali keakraban ayah dan anak itu, sementara Shali merasa bertambah pusing saja mendengar perdebatan dua cowok kesayangannya.


"Sayang, istirahatlah—Daddy sama Mommy pulang dulu, nanti malam gantian jaga kami balik lagi," pamitnya.


Disya sebenarnya ingin masih di sana, namun Aka menyuruh mertuanya itu ikut istirahat di rumah saja. Dirinya akan menjaga istrinya. Suasana mendadak sepi, tinggal mereka berdua, kecanggungan nampak begitu terasa, apalagi pas saat Shali hendak ke kamar mandi, gadis itu merasa sungkan dan tidak berani bicara, alhasil turun sendiri dengan membawa infus di tangannya.


"Mau ke mana, sini biar aku bantu?" Aka langsung mendekat, begitu melihat pergerakan istrinya.


"Kamar mandi Mas," jawab Shali lirih. Pria itu langsung menggendongnya, membuat tubuh mereka sangat dekat.


"Mas, kamu keluar dulu, aku malu," ujar Shali dengan pipi merona.


"Sebenarnya nggak pa-pa juga kalau aku di sini, tetapi kalau buat kamu nggak nyaman ya udah Mas tunggu di luar, jangan dikunci ya?" ujar pria itu beranjak.


Setelah beberapa menit, Shali kembali digendong menuju ranjang. Aka membaringkan dengan perlahan. Posisi mereka masih sangat dekat.


"Kenapa Mas?" tanya Shali bingung, suaminya tidak lekas beranjak.


"Nggak pa-pa, cepat sembuh ya?" ujar Aka meninggalkan satu ciuman sedikit lama pada bibirnya.