Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 61


"Sayang, maem dulu kamu tidak boleh telat makan, nanti sakit," tegur Aka sembari membuai lembut perempuan yang masih setia menutup matanya.


"Hmm, aku ngantuk butuh istirahat bentar," gumam Shali sedikit kesal. Tidur cantiknya terusik begitu saja.


"Maem dulu, nanti bisa kok lanjutin istirahatnya," ujar Aka sedikit memaksa. Mengingat istrinya pernah sakit, Aka menjadi lebih protektif.


Perempuan itu mrengut, bangkit sembari mengucek matanya, menjatuhkan punggungnya menyender pada papan head board. Tidak berselera makan, sehingga hanya memperhatikan wadahnya tanpa minat membuka. Aka sampai geleng-geleng sendiri mengatasi istri kecilnya yang begitu cuek dengan kondisi dirinya.


"Buka mulutnya, biar aku suapi," titah pria itu sembari menyodorkan sendok yang telah terisi satu suapan.


"Aku belum lapar, Mas, aku bisa makan sendiri nanti, lagian kalau aku lapar udah pasti aku ke kantin tadi," ujar Shali kesal


"Buka mulutnya, atau harus dipaksa dulu!" tekan Aka sedikit memaksa.


Shali terdengar mendesah malas, namun ia menurut. Menerima suapan demi suapan hingga nasi bagian pria itu berpindah ke perut istrinya. Bahkan Aka baru mencicipi dua sendok tadi, semua akhirnya dihabiskan istrinya lewat tangan telatennya.


Usai makan, Shali masih duduk bersantai, jam dua nanti makul selanjutnya, masih ada kurang lebih satu jam lagi dan masih cukup waktu satu jam untuk hari ini bersantai.


Aka memperhatikan istrinya dengan mengulas senyum, berasa lucu dan gemas melihat tingkah istrinya yang kaya bocah. Istrinya itu pribadi yang manja, namun lembut dan penyayang hatinya.


Makan disuapin, tidur dinina boboin, dan uang saku minta disediain. Benar-benar mimpi apa dapat daun ting ting yang masih unyu dan begitu memesona. Keindahan tubuhnya bahkan masih melekat indah di memori otaknya. Hanya dengan membayangkan saja membuat pikiran pria itu terkontaminasi, mendadak tubuhnya menginginkan hal yang lebih. Syahwat pria itu berjalan aktif.


"Dek," panggilnya dengan suara mendadak berat.


Shali sudah lebih baik. Perempuan itu masih duduk di atas ranjang sembari selonjoran santai bersender pada papan head board tengah membalas chat Izza yang protes kenapa tidak kunjung menyusul dirinya.


"Dek, sayang!" Aka mengikis jarak, kembali mendekati ranjang, tangannya bergerak nakal menari di atas pangkuannya.


Shali melirik waspada, niat hati ingin menumpang istirahat dan cukup santai terancam gagal total karena suaminya mulai merusuh.


"Jamaah yuk, Dek, aku—menginginkan," ucap Aka tanpa basa basi sembari mengelus pipinya yang mulus dengan punggung jarinya.


"Hah! Di sini? Ini di kampus?" tanya Shali tak percaya.


"Nggak pa-pa ini 'kan ruangan private aku, tidak ada orang yang masuk tanpa seizinku, atau selain orang-orang aku," jawabnya santai. Mendadak Shali menelan saliva gugup.


"Nggak keburu Mas, aku ada kelas jam dua. Sekarang udah jam satu lebih, jangan ngadi-ngadi kamu," tolak Shali mencari alasan yang pas.


"Kamu kok bentak aku? Ya waktunya nggak tepat gini Mas, aku keluar aja lah, di sini percuma juga nggak bisa istirahat, lebih baik kumpul sama teman-teman," jawab Shali jelas membuat Aka marah. Istrinya lebih memilih bersama teman-teman, menghindari dirinya dengan nyata.


Siang ini Aka begitu uring-uringan. Cukup tidak sabaran, apalagi melihat istrinya yang susah diatur dan susah diajak kompromi. Sebagai pria dewasa yang matang, dan baru merasakan sekali tentu Aka ingin mengulangi lagi dan lagi, sayangnya Shali tidak mau mengerti. Perempuan itu bahkan bersiap untuk pergi dari ruangan.


"Dek, nanti aku pul—" ucap Aka cukup lembut, yang terpaksa tidak diteruskan karena perempuan itu mengabaikannya begitu saja. Shali tengah sibuk memakai sepatunya. Pria itu menatap kepergian istrinya penuh kecewa.


Ada rasa bersalah dan berdosa pada diri Shali ketika meninggalkan suaminya. Ia hanya butuh ruang dan waktu untuk sekedar melepas penat diri. Ekspektasi dalam dirinya, istirahat dengan tenang tanpa gangguan, agar siangnya bisa masuk sedikit dengan muka segar. Seharusnya memang hari ini perempuan itu tidak ke kampus, jadi begini 'kan hasilnya, Aka ngambek dan Shali merasa bingung.


Hingga menjelang sore hari, bahkan kemuning senja sudah menyapa sedari tadi. Namun, Aka belum kembali. Tadi sehabis materi selesai, Shali langsung pulang ke rumah, berharap suaminya cepat pulang, dia ingin meminta maaf dan memberikan yang terbaik untuknya. Sayangnya selepas maghrib, pria itu juga belum menampakkan batang hidungnya. Chat dari Shali juga tidak dibalas. Suaminya benar-benar merajuk gegara kejadian tadi siang.


Suara ketukan pintu yang menyambangi kamar membuat perempuan itu lekas beranjak dari tempat duduk. Ia baru saja menunaikan empat rakaat sendirian. Tidak datang ke mushola dalam, bahkan Aka juga belum pulang hingga menjelang malam.


"Ning, ditunggu umi makan malam," ujar Bu Darmi sampai mengunjungi kamarnya.


"Iya, Bu, sebentar lagi saya nyusul," ujarnya ramah.


Ini adalah makan malam pertama tanpa suaminya, mendadak ia tidak fokus dan terlalu memikirkannya. Seharusnya ia lebih memilih mengerti kebutuhan biologis suaminya.


"Aka belum pulang ya, Mi?" tanya abah sembari menyantap makan malam mereka.


"Belum, acaranya mungkin belum selesai, nak Shali istirahat saja, nggak usah nungguin Aka, dia pasti pulangnya malam," pesan Ummi yang membuat Shali beranya-tanya.


"Mas Aka ke mana ya Ummi?"


"Lho ... dia nggak ngabarin to, dasar tuh anak bikin istrinya cemas saja. Aka lagi ngisi kajian gantiin abah karena sore tadi abah ada acara lain," jelas Ummi kalem.


"Owh ... di mana ya Ummi, jauh ya kok sampai malam gini belum pulang?" tanya Shali harap-harap cemas.


"Ngisi kajian di pesantren Kyai Amar, Nak, pasti pulangnya malam, kamu istirahat saja."


Shali mendadak tidak tenang, Kyai Amar bukannya yang kemarin niat mau mengtaarufkan anaknya dengan Aka, bagaimana kalau obrolan mereka berlanjut?


Shali masih mondar-mandir nggak tenang menunggu suaminya pulang. Ponsel pria itu juga tidak bisa dihubungi.