Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 56


Detik berikutnya, pria itu mencium kening, kedua pipi, dan berakhir menyatukan napas mereka penuh dengan damba. Memagut lembut dengan gairah penuh semangat. Mengajak lidah mereka saling berdansa. Sentuhan lembutnya mampu membawa gadis itu berdesir hebat, hingga seperti bagai dihinggapi kupu-kupu di perutnya.


Aka tahu istrinya bergetar, ini adalah pengalaman pertama untuk keduanya. Meski masih sama-sama belajar, insting mereka bekerja sangat cepat dalam mempelajari anatomi tubuh mereka yang berbeda.


"Rileks sayang, aku akan melakukannya dengan lembut, maafkan aku bila nanti sedikit menyakitimu," ucap Aka meyakinkan.


Pria itu kembali mendatangi bibirnya yang ranum, tempat pahala setiap kali memagut, mencecap lembut, mel*matnya tanpa sisa, mengeksplorasi di dalamnya. Membuat bidadarinya tersengal hingga terlepas untuk memasok beberapa oksigen ke rongga dadanya.


Petualangan bibirnya berlanjut dengan mengabsen setiap permukaan kulitnya tanpa sisa. Hingga menimbulkan banyak lukisan indah berkerlip bintang di semua lekuk tubuhnya. Di bagian tubuh mana pun yang pria itu kehendaki.


Shali menjerit tertahan saat sesuatu yang lembut itu bermain di pusat intinya. Aka benar-benar mencumbu tanpa sisa, penuh gairah dan memabukkan. Dalam sekejap mampu membuat bibir mungilnya melenguh panjang. Menikmati setiap sentuhan yang mampu membuat jiwanya melayang jauh.


Pria itu kini telah menguasai separuh dari dirinya. Jiwanya melambung jauh penuh gelora. Aka benar-benar membuat pengenalan tubuh mereka begitu sempurna. Hingga gadisnya merasa terkesan dan begitu terlena dengan sentuhannya. Saat itu lah pria itu siap untuk mengarungi nikmat selanjutnya. Menyatukan perlahan, hati-hati dan penuh irama.


Shali menjerit lebih keras, gadis itu bergerak gelisah, tubuhnya bergetar hebat, merasa sesuatu yang asing bertandang pada dirinya. Aka paham istrinya sedang berjuang menahan sesuatu yang paling baru dalam dirinya. Pria itu kembali mereguk bibirnya, menyentuh setiap sisi sensitif yang menciptakan lenguhan kecil nan memabukkan. Hingga membuat keduanya bagai medan magnet yang saling tarik menarik hingga akhirnya saling melengkapi dan menyatu tak terpisahkan.


Suara-suara erotis Shali manambah semangat tubuh mereka dalam balutan selimut tipis mereka. Lenguhan kecil dan desah@n yang lolos dari mulut mungilnya membakar semangat penuh gairah jiwa mereka yang tengah berpetualang. Menciptakan peluh yang membuat suasana ruangan semakin panas.


"Pelan-pelan Mas ...." ucapnya dengan sedikit menahan dada bidang suaminya.


Aka tersemyum sembari mengatur ritme yang paling pas untuk keduanya hingga menimbulkan kenyamanan di tengah rasa nikmat, dari sejuta rasa luar biasa yang pernah ia temukan.


Kedua tangannya saling bertaut memberi kekuatan saat hati pria itu berbisik doa indah demi ibadah yang sempurna. Melepas ribuan benih yang menyirami lahan istrinya. Lepas sudah semua yang membumbung gelora, menjadikan dua anak Adam itu bagai di pusara nikmat surga dunia. Menyelami penuh damba dan dalam sekejab saja berhasil membuatnya begitu candu.


Berkali-kali pria itu mengulang adegan yang sama, membawa bidadari sholehahnya melambung ke puncak pusara kenikmatan yang nyata. Hingga pria itu merasa ingin mengulang, lagi dan lagi. Semua terasa begitu indah dan nikmat. Jika mungkin, pria itu tidak ingin memungkasi untuk hari ini. Membawa gadisnya berpetualang indah untuk menyusuri kenikmatan tanpa sisa.


Cup


Satu kecupan pria itu sematkan tepat dibibirnya, membelai lembut perempuan yang masih setia di bawah selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Membawa dalam dekapan penuh syukur dan haru.


"Terima kasih, duhai bidadari solehahnya Akara, aku mencintaimu Shalinaz," ucapnya lalu menghujani dengan ciuman gemas di wajahnya.


Shalin hanya pasrah, menikmati dengan mata terpejam. Tubuhnya terasa begitu lelah, nyeri, dan sesuatu itu terasa masih tertinggal di sana. Ia terdiam lemas di bawah selimut yang membungkus dirinya. Samar-samar suaminya mengutarakan perasaannya penuh pujian, perempuan itu hanya mampu menjawab dengan gumamam samar, karena kini separuh dari raganya sudah seperti di ambang mimpi.


Pria itu membenahi selimutnya lalu menarik tubuh itu dalam dekapan. Keduanya membuai mimpi indah bersama setelah melewati malam panjang yang cukup melelahkan.


Keesokan paginya, Aka terjaga saat menjelang subuh. Pria itu membuka matanya dengan syukur, beralih menatap istrinya yang masih terlelap damai. Sudut bibirnya membuat lengkungan indah tanpa permisi, kembali mengecup bibirnya sekilas lalu beranjak dari pembaringan.


Aka lebih dulu membersihkan tubuhnya, lalu menyiapkan air hangat untuk istrinya. Setelahnya beranjak menyambangi ranjang kembali. Dengan hati-hati pria itu memagut lembut, memberikan respon perempuan itu agar membuka matanya.


"Mas, kamu udah bangun?" tanyanya dengan mata sayu.


"Pagi-pagi gini udah keramas?" sambung Shali dengan polosnya.


Aka tersenyum dan langsung meraba bahu polosnya, merem@s lembut sembari menyunggingkan bibirnya, membuat gadis itu tersadar dirinya tanpa sehelai benang pun. Mendadak pipinya merona teringat kejadian panas semalam. Gadis itu menarik selimut dan menyembunyikan wajahnya di sana.


"Bangun sayang, bisa jalan nggak, mandi dulu kita harus sholat," ucapnya lembut. Mengelus puncak kepalanya, Aka benar-benar gemas melihat wajah malu-malu istri kecilnya.


"Kenapa harus ditutup, ayo bangun, nggak usah malu sayang, aku sudah melihat semuanya, bahkan mencicipinya tanpa sisa," bisiknya lembut.


Ah, rasanya begitu berbeda pagi ini untuk Shalin. Ucapan Aka malah menambah rona di pipinya semakin kentara.


"Kamu sana aja Mas, aku bisa sendiri," tolak Shalin begitu Aka bermaksud membantunya ke kamar mandi.


Shali bangkit dengan hati-hati, menahan selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos, turun dari ranjang dengan pelan, perempuan itu berdiri, terasa ngilu dan berdenyut di bawah sana. Ia menggigit bibir bawahnya saat mencoba melangkah merasakan sedikit nyeri yang tertinggal.


"Awwsshh ...." desis perempuan itu kesulitan berjalan. Benar kata Izza suaminya itu ternyata cukup garang di atas ranjang, terbukti dirinya sampai kesulitan untuk berjalan.


"Dek, sakit banget ya?" Aka langsung mendekat dengan muka khawatir.


Perempuan itu bergeming, mengigit bibir bawahnya dengan mata terpejam.


"Maafkan aku sayang, aku terlalu bersemangat semalam," ucapnya dengan nada prihatin. Dengan sekali hentakan mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi.


Shali bersembunyi membenamkan wajahnya di da*da bidang suami, saat tubuh itu terasa melayang dalam gendongan. Masih tertinggal jelas di memori otaknya bagaimana suaminya menjelajahi seluruh tubuhnya. Malu, namun sangat berkesan.