
Aka merasakan tubuh dalam dekapannya semakin panas dan bergerak gelisah. Perlahan matanya terbuka, menemukan istrinya dalam pelukan bergerak resah masih dengan mata terpejam.
"Mommy ...." lirih Shali menggumamkan nama ibunya.
"Dek, kamu mimpi?" tanya Aka bingung, tangannya terulur menyentuh kening istrinya.
"Astaghfirullah ... panas, kamu demam, Dek." Pria yang belum lama terlelap itu kembali membuka matanya, lalu bergegas turun dari ranjang, pria itu bingung sendiri harus melakukan apa. Akhirnya Aka ke dapur berniat mengambilkan minuman hangat untuk istrinya.
Suasana rumah masih sangatlah sepi, jam di dinding ruang tengah baru menunjuk angka dua lewat lima belas menit dini hari. Itu artinya mereka baru terlelap dua jam yang lalu. Aka juga mengambil wadah dan mengisinya dengan air hangat, lalu membawanya ke kamar.
"Dek, badan kamu panas, kamu demam, minum dulu ya?" tawar pria itu sedikit menepuk pipi istrinya dengan lembut.
Shali menyipitkan matanya, gadis itu dibantu suaminya berhasil minum beberapa tegukan.
"Dingin Mas," keluh Shali gusar.
"Kamu tenang ya, aku di sini bakalan jagain kamu. Badan kamu panas, ini pasti kamu masuk angin."
Tiba-tiba Shali bangkit dari pembaringan, lalu turun dengan cepat dan berlari menuju kamar mandi, Aka yang bingung langsung mengikuti. Shali merasa ingin muntah, namun tidak ada yang bisa dikeluarkan, hanya rasa pahit yang tersisa. Gadis itu juga merasa tubuhnya tak bertenaga, perut kosong, kena air hujan malam-malam sangat mungkin kalau pada akhirnya masuk angin.
"Dek, kamu nggak pa-pa?" tanya Aka khawatir, ia berdiri tepat di belakangnya. Shalin hanya menggeleng sebagai respon.
Aka yang pintar membaca situasi langsung menggendong istrinya menuju ranjang. Terasa begitu panas kulit mereka yang bersentuhan, namun Shali merasa dingin.
Semalaman Aka mengompres istrinya hingga pagi menjelang, Gadis itu masih tertidur di ranjangnya, sementara Aka masih duduk tak jauh dari sana tengah membaca alquran dengan khusuk.
Shali merasa kepalanya terasa berat, ia merasakan ada benda yang menempel pada jidatnya yang ternyata sebuah handuk kecil, lekas mengambil seiring dirinya merubah posisi duduk. Muka Shali jelas pucat, walaupun panasnya sudah turun, gadis itu merasa kepalanya masih berdenyut.
"Sodaqollahulngadzim ...." Aka mengakhiri bacaanya lalu beralih menatap istrinya yang berjalan lambat ke arah luar, pria itu buru-buru turun dari ranjang dan menahan tangan istrinya yang hendak menekan handle pintu.
"Dek, mau ke mana? Celana kamu terlalu pendek, di luar 'kan ada Reagan dan daddy, kamu ganti dulu ya?" ujar Aka mencoba memberi pengertian.
"Aku cuma keluar sebentar Mas, aku haus," jawab Shali lemas.
"Ya udah, biar aku ambilkan saja, kamu tiduran aja di ranjang, kalau masih pusing banget, nanti agak siangan Mas antar ke dokter."
Shali menghela napas panjang mendengar teguran suaminya pagi-pagi. Ia paham itu untuk kebaikan dirinya, namun entah mengapa Shali merasa kadang Aka cerewet sekali.
Sementara Aka pergi ke dapur, pagi ini bertemu dengan asisten rumah tangga di sana.
"Maaf, Mbok, mau ambil minum," sapa pria itu kikuk.
"Eh, ada Den Ustadz, kapan sampai Den, monggo?" Asisten rumah tangga itu memberi ruang.
"Semalam, Mbok," jawabnya sungkan. Sibuk mencari gula dan teh yang tak tahu tempatnya di mana.
"Itu Den, gulanya, kalau tehnya ambil di lemari atas," tunjuk Mbok Santi. Aka mengangguk, bergerak sesuai instruksi penguasa dapur. Setelah selesai membuat teh hangat manis, Aka membawanya ke kamar.
Pria itu menaruh tehnya di atas nakas, lalu duduk di pinggir ranjang. Tangannya terulur mengecek kening istrinya yang masih anget, refleks Shali membuka matanya.
"Masih pusing ya?" tanya Aka khawatir.
"Iya," jawab Shali mengangguk pelan. Kembali menarik selimutnya hingga dagu untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin.
"Kamu masih terasa dingin? Minum dulu tehnya," titah Aka lembut.
Shali tidak menjawab, gadis itu meminum beberapa tegukan, dan menyudahinya.
"Makasih," gumamnya seraya kembali merebah pada posisi semula.
"Dek, pengen Mas hangatin nggak?" Shali yang merebah dengan muka sayu melirik waspada.
"Lihatin suaminya jangan gitu dong, Dek, ini cuma saran aja kok, bisa dicoba, bisa tidak, kaya metode bayi gitu dek, jadi transfer panas ke tubuh kita."
"Maksudnya?"
"Ya—aku dan kamu, maksudnya kita 'kan suami istri? Kita sama-sama lepas pakaian kita, terus aku peluk kamu, nanti tubuh kamu yang kedinginan tapi terasa panas, perlahan akan terbawa suhu tubuhku yang normal, cara alamiah itu terbukti manjur lho, untuk mengobati masuk angin ala pasutri," ujar Aka tersenyum.
"Ih mesum!" jawab Shali seraya menarik selimut dan menyembunyikan wajahnya ke dalam selimut.
"Kok mesum sih, kita 'kan suami istri, Dek, mau dicoba?" bisik Aka tepat di belakang tekuknya.