Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 106


"Assalamu'alaikum ....!" sapa Razik tersenyum.


"Waalaikum salam ... hallo Zik, lama ya nggak ketemu, kamu apa kabar?" tanya Shali beramah tamah.


"Baik alhamdulillah, selamat ya ternyata kamu juga udah menikah. Ikut senang, semoga bahagia selalu."


"Aamiin ... makasih Zik, jodohnya udah datang cepet, alhamdulillah aja."


"Sha, kebetulan kamu ada di sini? Aku titip adikku yang bandel ini ya, tolong bantu sentil kalau nakal," ujar Razik serius.


"Siap, tuh Na, nggak boleh bandel lagi, aku boleh cubit kamu nanti kalau nakal, iya 'kan Zik?"


"Iya Bang, aku nggak nakal lagi," jawab Nashwa mrengut.


Mereka tengah berbincang akrab sembari menyantap jamuan makan-makan syukuran setelah acara ijab qobul selesai. Azmi dan Nashwa pun sudah dipertemukan namun mereka masih belum banyak berinteraksi lagi setelah keduanya bersalaman layaknya pengantin baru. Keduanya nampak malu-malu dan canggung satu sama lain.


"Foto dong, Zayyan ambil gambar kita Za, tolong!" seru Shali menginterupsi.


Setelah mengambil gambar acara sakral itu, Zayyan tak ubah juru kamera handal yang mengambil gambar anggota keluarga satu persatu. Mereka mengabadikan moment itu bersama-sama.


"Za, tolong ambilin gambarnya aku sama Shali, yang bagus ya?" pinta Aka menempel pada istrinya. Seketika semua mata tertuju pada mereka berdua.


"Mas, jangan terlalu dekat, kita jadi pusat perhatian," tegur Shali berbisik.


Mengambil beberapa gambar romantisme mereka lalu sibuk kembali mengambil gambar yang lainnya.


"Hmm, pingin lebih dekat. Makan yuk Dek, sayang tolong ambilin," bisiknya lirih. Shali mengiyakan dengan senyuman.


"Gantian dong pengantin kecilnya sini, Na, Bang Azmi, coba jangan jauh-jauh duduknya tuh contoh Bang Aka sama Mbak Shali nempel mulu kaya amplop dan isinya. Hehe." Zayyan berseru sibuk sendiri.


Azmi pun merubah posisi duduknya lebih dekat, Nashwa nampak diam saja, hari ini ia tak banyak bicara. Sedang mode kalem lebih tepatnya.


"Nah, gitu kan enak diambil gambarnya," ucap Zayyan girang. Saat dengan percaya dirinya, Azmi meraih tangan Nashwa lalu tersenyum ke arah kamera.


"Tangan kamu dingin banget Na," ucap Azmi sembari menumpuk jari-jemarinya. Nashwa melirik bingung, ia menarik tangan itu dengan grogi. Entah mengapa, ia masih berasa belum percaya kalau sekarang statusnya sudah sah menjadi istri.


"Nggak pa-pa, mungkin karena cuaca hari ini mendung, jadi berasa dingin," ucap Nashwa ngasal dan tidak masuk akal.


"Owh gitu, kamu hari ini beda, aku suka," celetuk Azmi jujur. Nashwa pun tidak menanggapi, ia hanya tersenyum kikuk dan lebih banyak berinteraksi dengan kakaknya.


Razik dan Azmi sudah terlihat lebih akrab, walaupun ini pertemuan perdana mereka, keduanya nampak seperti sudah mengenal lama. Mengobrol sefrekuensi tentunya.


"Kamu manja banget hari ini," ucap Shali sembari menggeleng kecil.


"Kangen aja pingin di servis lahir batin, harap maklum di sana kesepian, tidak ada yang ambilin makanan, tidak ada yang buatin minum, dan tidak ada yang nemenin begadang setiap malam."


"Balas dendam nih ceritanya, kita baru berpisah kurang dari seminggu, nanti kalau sebulan lebih gimana ya?"


"Semoga nggak ada lagi acara yang memisahkan kita. Rindu itu berat."


"Sayang, kamu terlihat akrab dengan Razik, kalian pernah dekat?" tanya Aka penuh selidik.


"Waktu kecil sering main bareng, tante Bila, Om Bisma, dan juga mommy 'kan sahabatan Mas, mereka sering ketemu acara main bareng, silaturahmi kekeluargaan, jadi aku dan Razik memang sudah akrab saja, termasuk dengan Nana."


"Owh ... pantesan ya ngobrolnya lancar, bikin gemes yang lihat," tanggapnya datar.


"Kenapa sih, kok aneh gitu, jangan bilang kamu cemburu?"


"Nggak sih, tapi senyum kamu itu terlalu manis buat orang lain, bikin aku gemes aja lihatnya. Ngobrolnya asyik banget lagi."


"Kamu nggak boleh gitu dong sayang, aku kan cuma milikmu seorang, dibungkus saja kalau manis, biar aman," selorohnya terkekeh pelan. Hingga tanpa sadar membuat perempuan itu tersedak. Aka langsung menenangkan istrinya sembari menyodorkan gelas untuknya.


"Hati-hati sayang, pelan-pelan saja." Aka mengusap punggung istrinya lembut.


"Nggak pa-pa, udah kan makannya?"


"Lagi Dek, ambil basonya, kamu baru makan sedikit, gantian aku yang suapin kamu," ujarnya antusias.


"Ish ish ish ... malah mojok di sini, ngalah-ngalahin penganti baru saja!" tegur Zayyan merusuh.


Usai makan-makan, Shali bergabung dengan Ummi Salma, Ning Aida, dan juga Tante Nabila. Sementara Azmi sendiri tengah berbincang akrab dengan Ayah Bisma, keluarga besar Kyai Emir dan juga Aka. Hingga menjelang sore keluarga besar Pak Bisma pamit, dan di situ Nashwa tak tahan tidak menangis. Bocah yang biasa petakilan itu berurai air mata sembari melepas kepulangan orang tua mereka.


"Mi, titip Nana ya, Ayah serahkan semuanya padamu," pesan Bisma sebelum beranjak. Azmi mengangguk mantap. Setelah bersalaman dan peluk perpisahan, Azmi nampak menenangkan Nashwa yang terlihat begitu sedih.


"Baik-baik di sini sayang, Bunda pulang dulu. Azmi titip anak Bunda ya?"


"Siap Bun, hati-hati di jalan." Pria itu menyalim punggung tangan mertuanya dengan takzim.


Untuk Bisma dan Bila sendiri, lebih sering ketemu dengan Azmi semenjak ada kerja sama pekerjaan. Jadi mereka sudah mulai akrab dan mengerti karakter menantunya. Tentunya bisa sedikit lebih tenang, karena yang mempersunting anaknya berada pada orang yang tepat.


"Sudah Dek, jangan nangis terus, nanti cantiknya luntur," kata Azmi sembari mengelap lelehan bening di pipi istrinya lembut.