Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 69


Gadis itu melirik jam di tangannya sudah hampir pukul setengah empat sore. Ia pun bergegas menutup laptopnya dan meninggalkan ruang baca. Untuk berkunjung di hari sabtu dan minggu akan tutup lebih awal dari hari biasanya. Ia pun bergegas menuju lift yang lumayan lama mengantri.


Banyak orang yang berkunjung ke perpusnas ini, dalam sehari bisa mencapai ribuan orang. Namun, untuk sampai ke lantai dua puluh empat tergolong sepi, mungkin gadis ini dan satu orang cowok yang tengah berdiri di sampingnya cukup berjarak adalah pengunjung terakhir di sore ini.


Kedua manusia tak saling kenal itu harus segera meninggalkan ruang baca atau akan tertinggal di sana karena jam operasional telah usai untuk hari ini dan akan segera tutup. Saat menunggu di depan lift, vibrasi handphone di tas gadis itu berbunyi. Namun, anehnya Azmi malah yang kebingungan mencari-cari sumber suara telepon yang sangat familiar di telinganya.


Azmi baru tersadar itu bukan berasal dari handphone miliknya karena kini handphone di saku celananya tidak bergetar, atau berbunyi sedikitpun. Melainkan handphone gadis itu yang masih terlihat santai tidak berminat untuk menilik, apalagi melihatnya.


"Mbak, ponselnya bunyi!" tegur Azmi merasa terusik.


"Eh, iya kah?" Gadis itu nampak bingung namun segera merogoh ponselnya di tas. Sekilas ia memicing melihat id caller yang tertera di sana, bingung kapan ia memberi nama itu pada ponselnya.


"Mbak, kok cuma dilihatin doang, angkat dong berisik siapa tahu penting." Azmi menyahut lagi.


Gadis bermasker itu melirik sengit pria yang belum diketahui identitasnya itu. Menurut gadis itu, pria itu sangat cerewet dan terkesan ikut campur.


Azmi tak mau kalah, mengangkat dagunya dan memberi isyarat untuk segera mengangkatnya. Dengan sedikit tak minat akhirnya perempuan itu menggeser tombol hijau lalu mendekatkan benda pipih itu pada telinganya.


"Hallo assalamu'alaikum ...." sapa gadis itu datar.


Terdengar tak lekas menyahut, namun beberapa detik kemudian terdengar suara dari sebrang sana.


"Waalaikumsalam ... maaf, bisa bicara dengan Azmi? Ini nomor Azmi 'kan?"


"Bukan, saya Nashwa, Anda salah sambung." Nashwa menutup teleponnya begitu saja.


"Azmi? Siapa? Nggak kenal, ada-ada saja," gumamnya menggerutu.


Merasa namanya disebut, pria itu memperhatikan gadis di depannya yang tertutup oleh masker.


Nashwa yang cukup heran dengan pemuda di depannya pun berdiri waspada. Saat ini di lift hanya berdua, dan pria di depannya terus menatap tangannya. Lebih tepatnya handphone di tangan Nashwa. Cukup penasaran, Azmi pun merogoh ponsel miliknya di saku celananya. Ia membuka dengan sekali sentuhan, sayang sekali pola kunci pembuka layar tidak kunjung pas, padahal jelas Azmi tidak mungkin lupa.


Pria itu mengikis jarak sedikit lebih dekat. "Maaf, sepertinya handphone kita tertukar," ucap Azmi memberanikan diri. Ia memperlihatkan handphone di tangannya sama persis seperti di genggaman gadis itu.


Nashwa menatap handphone dalam genggamannya, memang sama merk, warna, dan type-nya.


"Kok bisa? Coba aku lihat?" tanya gadis itu tak sadar meraih tangan Azmi dan mencocokkan dengan ponsel dalam genggaman.


"Aku nggak bisa buka pola handphone ini, dan tadi tuh yang menghubungi ke ponsel aku nada deringnya sama persis kaya punyaku, makanya aku kira beneran ketukar, orang yang tadi telepon itu pasti cari aku, aku Azmi jadi tidak salah sambung," paparnya.


"Eh, ya ampun ... beneran ketuker, aku juga nggak bisa buka pola handphone ini. Sorry habisnya sama persis gini," sesalnya mendadak canggung.


"Nggak pa-pa juga sih, namanya juga tidak disengaja," ujar pria itu santai.


Mereka sama-sama keluar dari lift dengan meninggalkan senyuman dan mengangguk.


"Ada-ada saja, sungguh memalukan," gumam Nashwa menjadi canggung sendiri. Pasalnya dia yang salah ambil handphonenya tadi, kebetulan mereka duduk saling bersebelahan di ruang baca.


Nashwa berjalan keluar dengan gontai. Mereka sama-sama mengantri untuk melakukan check out kode QR di counter yang berada di Grha Literasi.


"Kamu duluan," kata Azmi memberi jalan untuk gadis itu.


"Makasih," jawabnya dengan mengangguk dan tersenyum ramah di balik maskernya.


Nashwa langsung menuju basemen dengan menyerahkan bukti cetak kode QR kepada petugas, lalu menuju kendaraan pribadinya yang terparkir. Tak jauh dari tempatnya, Azmi juga melakukan hal yang sama, menuju di mana tempat motornya terparkir. Mereka sempat saling bertukar pandang sebelum akhirnya meninggalkan lokasi masing-masing.