
Adzan isya baru saja berkumandang. Shali dan Aka kompak keluar bersama. Mereka akan menunaikan jamaah di masjid. Saat melintas, terlihat Nashwa keluar dari kamar dengan tubuh sudah berbalut mukena.
"Kak bareng dong," seru gadis itu berlari kecil.
"Sayang, aku duluan ya," pamit Aka refleks mencium keningnya.
"Mas, aku udah wudhu!" tegur Shali merasa kesal.
"Maaf sayang, aku lupa." Aka sedikit berlari tanpa tanggung jawab.
"Kebiasaan kamu mah," gerutu perempuan itu menggeleng kecil.
"Ish ish ish Pak Ustadz bisa romantis juga," celetuk Nashwa yang terpaksa harus melihat adegan live mereka.
"Ustadz lebih romantis kali, dia tahu praktiknya dengan benar," jawab Shali yakin.
"Owh ya, kira-kira anak Kyai Emir yang lainnya romantis juga nggak ya?" gumamnya bertanya-tanya.
"Ngomong apa Na? Nggak jelas?" tanya Shali merasa mendengar gumaman kecil.
"Nggak ada Kak, ayo cepetan kak, nanti telat jamaah. Aku bisa kena tegur Ummi lagi, di sini tuh nggak boleh kalau nggak sholat. Sholat juga harus di awal waktu, kata Ummi begitu."
Mereka berdua mengikuti jamaah di masjid. Ummi juga nampak ikut di barisan perempuan. Setelah salam, nampak setiap malam sabtu ada siraman rohani, sebelum masuk kelas.
Semua orang tengah khusuk mendengarkan ceramah Kyai Emir. Shali sendiri sudah undur diri dari jamaah, dan lebih memilih di shaf paling belakang. Sementara Ummi kembali ke rumah utama. Seperti biasa, sehabis sholat mereka akan makan malam bersama setelahnya kembali mengajar untuk jadwal malam khususnya Gus Aka dan juga Azmi. Anak ketiga mereka sekarang lebih sering dilibatkan.
"Ning, permisi kenapa tidak di depan saja," tegur santri putri lainnya sopan.
"Sini saja, Dek, silahkan maju saja, merapat ke barisan depan," ucapnya sembari mempersilahkan yang lainnya. Shali sebenarnya mau meninggalkan ceramah, namun sungkan. Akhirnya duduk di barisan terakhir. Sambil mengamati gerak-gerik santri wati dalam barisan. Penglihatan Nana pun tak luput dari pengawasan Shali, gadis itu memang terlihat berbeda di antara yang lainnya.
Bisik-bisik terdengar suara sumbang dari shaf belakang. Rupanya mereka tengah memperhatikan Nana yang nampak asing baginya. Gadis yang paling menonjol di antara barisan perempuan itu sontak membuat perhatian santri putri lainnya.
"Hai, anak baru ya, kenalin aku Alma, aku Reya."
"Iya, gue Nashwa, panggil aja Nana." Mereka asyik bisik-bisik tetangga. Sibuk berkenalan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan karena sedang mendengarkan kajian.
"Na, kamu di block berapa kok kita baru lihat?"
"Block?" beo Nashwa belum maksud dengan arah perkataan mereka.
"Iya, kamar kamu di block berapa, nanti kita bisa main, apalagi kalau dekat."
"Owh gitu, gue tinggal di—block berapa ya?" Gadis itu bingung sendiri menjawab. Nashwa pikir ia akan kesulitan mendapatkan teman, tetapi ternyata mereka ada banyak juga yang baik mau berkenalan. Tapi tidak banyak juga dari mereka yang ketus, Nana tidak ambil pusing, cuek aja dan merasakan tidak ada urusan.
"Ya kan emang gitu, santri cewek dan cowok ada pembatas, Sshhttt diem Na, yang pasti yang ceramah di depan sana orang sholeh."
"Ish ish ish ...." Nashwa menggeleng kecil.
Gadis itu mendengar suaranya tapi tidak melihat orangnya. Ia pun menjadi gemas sendiri, karena merasa sangat penasaran, tanpa pikir panjang Nashwa membuka kain pembatas yang isinya sebelah berderet santri putra.
"Hallo Pak Ustadz, gini nih baru kelihatan!" celetuk gadis itu tanpa dosa. Menatap ke sepenjuru jamaah dengan percaya dirinya.
Sontak Kyai Emir menghentikan kajiannya, sementara barisan cowok menyorot sumber suara yang seketika membuat ricuh keadaan. Ini adalah tragedi pertama seorang santri berani menyapa dari shaf perempuan dengan membuka kain pembatas. Sungguh daebak, semua menatap Nana dengan pandangan berbeda-beda.
Sungguh luar biasa, anak baru berani sekali berulah. Ada yang geleng-geleng kepala, ada yang merasa takjub, dan ada yang menganga tak percaya. Sungguh, Nashwa adalah mahkluk pesantren paling unik yang pernah mereka jumpai.
Shali segera maju menerobos barisan, menguasai keadaan agar tak berisik.
"Dek, ikut kakak sebentar," tegur perempuan itu merasa gemas.
Para santri menyorot kepergian Ning Shali dan Nashwa dengan bertanya-tanya.
"Wah ... pasti mau dihukum itu anak baru, berani-beraninya nyapa Pak Kyai menerobos kain pembatas."
Seketika dalam sehari Nashwa menjadi bahan ghibah seantero pondok. Namun, buat Nana sendiri, itu bukan masalah. Apanya yang salah, dia hanya menyapa Pak Kyai, emang salah ya?
"Apa kak, aku lagi dengerin ceramah, nanti kena tilang Ummi kalau nggak ngikutin."
"Lain kali kalau mau menyapa abah jangan gitu, kamu dalam masalah."
"Masalah? Ah, kak Shali bisa saja, mana ada orang menyapa jadi masalah."
"Kamu melanggar kode etik adap sopan santun, ada sanksinya Na," ujar Shali menatap iba.
"Beneran?"
"Hmm," Shali mengangguk yakin.
"Semua pelanggaran pondok akan ditampung di Gus Azmi, nanti baru yang memberi hukuman masing-masing dari yang ditugaskan untuk bertanggung jawab."
"Kakak udah pernah?"
"Belum lah, aku kan bukan santri sini, kata suamiku aturannya begitu."
"Ish ... Bunda ... sepertinya gue harus minggat malam ini," batin Nashwa penuh ide.