
Hari ini keluarga Akara Emir nampak sibuk satu sama lain. Halaman pesantren yang luas disulap menjadi tempat resepsi pernikahan putra kedua mereka yakni Akara Emir Hasan dan Shalinaz Riely Ausky yang sebenarnya sudah berlangsung kurang lebih selama tiga bulan. Keluarga besar baru mengadakan syukuran akbar hari ini karena suatu alasan tertentu.
Banyak tamu-tamu penting yang diundang pada acara kali ini. Semua keluarga besar Pak Ausky turut serta diundang ke walimatul urs kali ini. Semua yang mereka kenal, mulai dari sahabat, saudara, kerabat, pejabat struktural tempat bekerja, para tamu undangan dari kolega besar Pak Ausky dan juga Kyai Emir, dan orang-orang penting lainnya.
Termasuk teman-teman kampus Shali yang tidak percaya dengan hubungan mereka. Lebih kepada shock, menghadiri pernikahan orang yang sangat berpengaruh di kotanya dan juga cucu dari kyai Hasan orang yang mendirikan kampus mereka belajar.
"Ommo ... gue masih berasa mimpi bisa di tengah-tengah acara ini, please grogi. Haha." Nurma, sahabat Shali mengutarakan Ketakjubannya begitu sampai dilokasi mendapati banyaknya manusia yang berbahagia atas pernikahan mereka.
"Selamat Shali, ya ampun ... akhirnya go public juga, gue nggak harus mendem rahasia yang sesungguhnya pengen gue ceritain betapa beruntungnya dan bahagianya dirimu. Semoga gue cepet nyusul ya. Aamiin!" Izza nampak heboh dengan wajah sumringah naik ke atas panggung pengantin disusul Nurma dan Molly di belakangnya menyalami mereka.
"Aamiin yang paling kenceng, terima kasih sudah pada datang," balas Shali begitu bahagia.
Rasanya masih seperti mimpi bisa menjadi ratunya Akara Emir orang yang sangat disegani di lingkungan tempat tinggalnya. Shali benar-benar sudah siap dengan dunia luar yang mengakui hubungan mereka. Kedua pengantin itu nampak bahagia menyambut seluruh tamu yang datang.
Mommy Disya Dan Daddy Sky berada di samping kiri pengantin, sementara Kyai Emir dan Nyai Salma di sebelah kanan. Mereka bersahaja menyambut tamu-tamu mereka yang datang.
"Ya ampun ... kita beneran punya besan yang sama bestie, anak-anak kita udah pada nikah aja," bisik Nabila menyalami Disya best friend yang paling solid. Keduanya seakan tidak percaya bisa dipertemukan dalam majlis yang sama dengan status meningkat sebagai keluarga.
Bisma dan Ausky nampak saling berjabat tangan haru. Beberapa sahabat Pak Sky nampak hadir di sana. Flora beserta rombongan keluarga besarnya, termasuk eyang Amar dan istrinya. Rayyan, Barra, dan juga Gerald beserta istri-istrinya. Serta keluarga besar dari Oma Yuki yang lebih awal menyambangi area resepsi karena berbagi sesi foto yang panjang.
Semua bersuka cita memberikan selamat untuk mempelai berdua yang tengah berbahagia. Acara yang begitu dinantikan untuk keluarga besar Pak Ausky dan Kyai Emir.
"Mas, kakiku capek, aku mau lepas heelsnya," rengek Shali merasa pegal. Berdiri berjam-jam menyambut tamu sungguh membuatnya tak nyaman, namun sehari ini dirinya harus terlihat sempurna sehingga agak memaksakan walau sebenarnya lelah.
Aka yang perhatian, langsung mengiyakan. Sempat membantunya dan meneliti kaki istrinya yang sedikit memerah karena lelah.
"Sakit?" tanya pria itu di sela-sela mengambil sikap duduk.
"Dikit, tapi pegel banget, ternyata menjadi pengantin itu sangat melelahkan!" Shali meneliti sekitar yang nampak masih ramai orang sedang menikmati jamuan prasmanan.
"Mas, aku mau rujak yang ada di prasmanan dong, kayaknya enak, seger," pinta Shali mulai heboh sendiri.
"Bentar sayang, tuh banyak tamu yang mau nyalamin kita, bentar ya nanti Mas ambilin habis ini," ujar Aka menenangkan istrinya yang nampaknya sudah mulai menunjukkan kerempongannya.
Hari itu jelas Aka dan Shali yang menjadi pusat perhatian. Walaupun lelah melanda, tentu bahagia dan rasa syukur jelas mendominasi.
"Na!" panggil Shali lirih ketika adik iparnya duduk tak begitu jauh dengan panggung pengantin. Putri dari Bu Bila ini juga tampil begitu cantik, dengan balutan brokat modern yang senada dengan pakaian Azmi dan seluruh keluarga besar inti Kyai Emir.
"Apa Kak?" Nana mendekat.
"Tolong ambilin rujak dong, ngiler nih nanti ponakan kamu," tunjuk Shali pada perutnya sendiri.
"Owh, kakak mau rujak. Oke!" Nana menurut dengan senang hati. Setelah mengambilkan untuk pengantin mode ngidam itu, Nashwa juga keliling stand prasmanan mencicipi makanan yang ia suka.
"Es krimnya enak nggak Za?" tanya Nana pada Zayyan yang tengah duduk bersantai menikmati hidangan dingin itu.
"Enak lah, mau, ambil aja!"
"Za, sekalian baso dong, yang pedes ya?" pinta gadis itu ingin mencicipi semua menu dalam acara itu.
"Jangan banyak-banyak sambalnya?" tegur Zayyan ketika Nashwa menuang cabe ke dalam mangkuknya lebih dari cukup. Mereka nampak akrab satu sama lain. Selain menjadi keluarga, Nashwa dan Zayyan satu sekolahan, jadi kenal dalam satu sekolahan.
"Iya ih, pedes banget kayaknya, buat kamu aja, Za?"
"Nggak mau, ganti aja, ini pedes banget," tolak Zayyan tak setuju.
"Ish, pokoknya buat kamu, habisin Za!"
"Nggak mau, Na!"
"Ghem! Apaan sih malah berebut baso, sini biar aku yang makan kalau pada nggak mau," ujar Azmi menyambar mangkuk istrinya.
"Bagus, jangan! Kamu 'kan nggak begitu suka pedes!" tegur Nashwa yang tidak ditanggapi sama sekali oleh Azmi.