Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 60


Sepanjang perjalanan ke kampus, Shali hanya diam, jarak kampus dan pesantren sangat dekat sebenarnya, bahkan jalan pun jadi, tetapi Aka sering naik motor. Beberapa kali pakai mobil kalau mau sekalian ada kegiatan ke luar, atau pas suasana seperti sekarang, emang butuh.


"Dek, kok diem aja sih, nggak pengen gitu ngungkapin sesuatu," tanya Aka basa basi. Pria itu baru sampai di kampus, tengah memarkirkan mobilnya dengan benar.


"Aku turun dulu, Mas," pamit Shali mengulurkan tangannya. Namun, karena gemas Aka menariknya dan membawa istrinya dalam dekapan, kembali mereguk bibirnya yang ranum. Shali sampai mendorong dada Aka dan memukul-mukul kecil, nihil, pria itu tetap asyik menikmati dengan seksama, hingga akhirnya perempuan itu membalas dengan suka rela.


Keduanya memberi jarak, napas mereka saling berlomba. Aka tersenyum, ibu jarinya mengelap sisa saliva pada bibir istrinya.


"Maaf, Dek, makasih mood boosternya, selamat belajar," ucapnya lengkap dengan cengiran khas di wajahnya.


Shali hanya mengangguk lembut, membenahi tatanan hijabnya, lalu menambahkan liptint di bibirnya yang sedikit kacau akibat serangan suaminya.


"Udah cantik, Dek, cantik banget malah, nanti usai makul ke ruangan private aku ya, semangat dong sayang, aku semangat banget hari ini."


"Iya Mas," jawab Shali simpel. Jelas Shali merasa masih tidak nyaman dengan tragedi semalam.


Perempuan itu turun dari mobil, berjalan gontai menuju gedung fakultas. Jarak parkiran dosen dan fakultas ekonomi tidak begitu jauh. Setidaknya perempuan itu bisa berdiam di kelas mengikuti makul dengan seksama tanpa harus banyak drama.


Kelas belum terlalu ramai saat Shali memasukinya. Terlihat Nurma tengah mengobrol dengan Molly dan Satya.


"Pagi Sha, tumben lebih awal," sapa Satya tersenyum.


"Pagi semuanya," jawab Shali mengangguk dengan senyuman. Menjatuhkan bokongnya pada kursi yang tak berpenghuni.


Tak berapa lama kelas menjadi ramai. Semua mahasiswa memasuki ruangan untuk mengikuti makul pagi menjelang siang ini. Sembari menunggu dosen, mereka terlibat obrolan random antar sesama.


"Sha, lo kelihatan nggak semangat, kurang vitamin apa kurang duit," celetuk Izza basa-basi.


"Muka aku kucel ya, atau make up aku jelek, ada kantung matanya kah?" cerocos Shali dengan durasi beberapa detik.


"Hish! Bukan ... penampilan mah oke, tetapi aura kamu kaya redup aja hari ini. Sorot Netra kamu padam, biasanya 'kan kamu seperti aura bintang kalau di kelas, ini kamu terlihat nggak bersemangat, why? Ada masalah?" tanya Izza penuh selidik.


Shali hampir saja membuka mulutnya, setidaknya ingin jujur, namun urung demi mengingat hal itu sangat privasi. Bukan hanya itu, aktivitas ranjang bersama pasangan tidak boleh dibagi dengan orang lain, itu sama aja membuka aib sendiri. Jadi, perempuan itu pun memilih menyimpannya sendiri.


"Nah!" Pekik Izza berbarengan dengan dosen memasuki ruangan, membuat mulut yang hampir melemparkan pertanyaan itu pun tertutup rapet kembali. Memperhatikan dosen yang yang siap mengisi kelas mereka.


Sembilan puluh menit berlalu tanpa hambatan. Satu kelas menatap lega begitu salam perpisahan Bu Titi menyeru.


"Sha, kantin yuk ... cacing dalam perutku udah pada demo," ajak Izza sembari menarik tangan Shali.


"Aku belum lapar, Za, kamu duluan aja," tolak Shali jujur. Memang karena belum lapar, dan tentunya malas gerak.


"Sama aku aja, Za, laper nih ...." timpal Nurma.


"Kita tinggal ya, baik-baik lo di sini. Atau kalau nggak nyusul nanti, kita mau main ke student longue sambil ngadem."


"Nyusul deh nanti, bentar kalian duluan aja."


Sambil nunggu kelas selanjutnya mereka sering menghabiskan waktu di student longue, selain tempatnya nyaman, ada kursi dan mejanya juga untuk bersantai. Sayang sekali tempat itu selalu ramai, menjadi hampir favorit mahasiswa yang boring nungguin jam selanjutnya yang kadang jam kuliahnya dengan jeda yang sama. Mau balik rumah malas, solusi paling tepat ya cari tempat yang free wifi dan nyaman untuk sekedar mengisi waktu luang.


Shali bukannya menyusul kedua sahabatnya ke kantin, perempuan itu lebih memilih berdiam diri di kelas sembari menelungkupkan wajahnya ke meja.


[Dek, tunggu di private room aja, nanti kita sekalian makan siang bareng, aku masih ada kelas sampai jam dua belas, kamu tunggu Mas di sana]~ dostadz Aka


Mata Shali memicing, lalu clingukan seakan mencari sosok pengirim pesan. Aka tahu aja kalau dirinya tengah bermanja di meja kelas. Sepertinya pria itu selalu memperhatikan dirinya, atau lebih tepatnya, Aka selalu mengontrol aktivitas dirinya lewat banyak matanya.


Tak ingin pusing memikirkan banyak hal dari mana suaminya tahu. Yang jelas perempuan itu menurut menuju private room suaminya. Sepi, yang punya masih ngajar, tetapi perempuan itu masuk saja atas mandatnya.


Shali melepas sepatunya, ke bilik khusus yang tersedia ranjang. Perempuan itu melepas hijabnya sejenak dan ke kamar mandi karena waktu dhuhur. Setelahnya menunaikan empat rakaat di sana. Hingga hampir pukul setengah satu, Aka belum masuk ke ruangannya, sudah pasti pria itu langsung ke masjid kampus.


Shali memilih merebahkan tubuhnya sembari memainkan ponselnya. Bertemu dengan ranjang plus kasur merasa begitu nyaman, tanpa sadar perempuan itu tertidur begitu saja.


Aka yang memasuki ruangan sembari membawa dua bungkus nasi kotak, langsung pergi ke bilik istirahat dan benar saja, menemukan istrinya di sana yang sepertinya sudah beralih ke dunia mimpi.


"Dek, maem dulu sayang, aku bawa makan siang." Aka membelai lembut mahkota istrinya, lalu mengecupnya beberapa kali.