
Azmi dan Shali mengerem kakinya kompak, lalu menoleh ke sumber suara. Aka terlihat menghampiri dengan mengambil posisi di tengah-tengah mereka.
"Ayo sayang, sini aku bawain laptopnya," ujar Aka tersenyum.
"Bang, kita cuma mlipir di sebrang kamar, beneran mau ikut?" tanya Azmi tak percaya.
"Ada yang salah?" Aka balik bertanya dengan percaya diri.
"Nggak Bang," jawab Azmi berjalan di belakang mereka.
Mereka bertiga duduk di gazebo pinggir kolam, sebenarnya memang ada tugas, namun mereka jelas tidak satu kelompok.
"Kalian belajar kok nggak saling diskusi?" tanya Aka serius menatap keduanya bergantian.
Aka berdiri di pinggir kolam sembari memberi pakan ikan. Tepat di samping Shali namun memunggungi laptop istrinya.
"Lagi fokus Mas," jawab Shali mendrama. Fokus menurut versinya.
Shali memberi kode pada adik iparnya, membuka laptopnya. Diikuti Azmi melakukan hal yang sama. Azmi terlihat sibuk mulai menulis sesuatu di sana, lalu mengirim pada alamat email Shali.
"Jadi kemarin aku seharian pergi, kamu tahu nggak aku ke mana?" tanya Azmi main tebak-tebakan. Obrolan mereka mulai terlihat asyik, walaupun terjadi natural entah mengapa Aka sedikit merasa cemburu.
"Ke danau?"
"Bukan, kita sama teman-teman sering main ke sana."
"Taman hijau terbuka?" Azmi menggeleng. "Tempat karate?" Azmi menggeleng lagi. "GOR?" Lagi-lagi Azmi menggeleng.
"Ish ... capek, apa dong, males aku main tebak-tebakan."
"Masa lupa, sering banget anak-anak ke sana. Apalagi kalau weekend."
"Basecamp, kafe, rooftop kampus, markas HMI, student center?"
"Bukan di area kampus."
"Nyerah!" jawab Shali geleng-geleng kepala.
"Aku sempat ngikutin workshop di lantai tiga."
"Ogh aku tahu, perpusnas!" seru Shali tepat sasaran.
"Jadi a—"
Ghem!
Deheman Aka membuat pembicaraan Azmi terpotong begitu saja. Pria itu memindai tatapan pada dua bocah yang tengah fokus menatap layar laptopnya.
"Ramai-ramai Bang, Shali 'kan mahasiswa aktif di kampus. Kita sering mengadakan kegiatan bareng, bakti sosial, sampai turun ke jalanan bersama anak FMN."
"Hari-hari tertentu doang, banyak dihabiskan di asrama yang begitu disiplin dengan aturan. Kita perginya juga ramai-ramai kok Mas," sahut Shali datar.
Pada dasarnya mereka itu seperti pemuda pemudi lainnya. Serius pada masanya, namun tak jarang menghabiskan waktu hang out bersama teman-teman untuk sekedar hiburan. Atau memang adanya agenda kelompok sesama komunitas. Azmi juga anak pecinta motor, dan juga manusia biasa, walaupun hidup di lingkungan pesantren plus cucu Pak Kyai, ia tidak pernah membatasi komunitas bergaulnya. Semua berbaur, asal masih dalam koridor tidak menyimpang.
"Bang Aka hidupnya terlalu serius, Bang, ya cocok sih sama passion Abang yang calon pemimpin pesantren. Aku aja pengen kaya Bang Aka, tetapi belum bisa, makanya abah tuh paling respect sama Abang," ujar Azmi.
"Itu menurut pikiranmu saja, Mi, pada kenyataannya tidak seperti itu, semua yang dilewati itu pasti berproses."
Aka mendekati mereka berdua. Saat itu waktu sore hari sekitar setengah lima. Alhasil mereka benar-benar belajar bersama dengan Aka yang menjadi tutornya, hingga menjelang senja. Berhubung waktu sudah hampir maghrib mereka menyudahinya.
Jujur sebenarnya Azmi ingin curhat juga, namun waktu tidak memungkinkan, di sana Aka terlihat terus menempel dengan istrinya, untung saja pemuda dua puluh satu tahun itu tipikal pria yang sabar, sudah pasti hanya memendam saja tanpa keributan.
"Nanti aku kirim lewat email ya?" ujar Azmi tersenyum.
Shali mengangguk sebagai respon, tidak banyak yang dibahas, hanya sebatas mengobrol random pada akhirnya. Mereka kembali ke kamar karena senja hampir petang.
"Dek, Mas mau ke masjid ya."
"Mas, tunggu Mas, aku mau ikut jamaah."
"Kamu nggak bareng ummi aja?"
"Pengen diimami kamu," jawab Shali tersenyum. Aka balas tersenyum.
"Ayo sayang!" Mereka jalan bersejajar dengan Shali sudah memakai mukena dari rumah.
Sehabis sholat maghrib berjama'ah semua santri ikut simaan, atau nderes quran. Semua kegiatan masih dilakukan di masjid sembari menunggu isya.
Usai berjamaah, terlihat Aka masih duduk di saf depan sambil wirid. Shali menunggu dengan sabar, kenapa suaminya tak kunjung keluar juga padahal jamaah sudah usai.
"Ning, nungguin Pak Ustadz ya?" tegur santri putri sopan.
"Eh, iya," Shali hanya menjawab dengan kikuk.
Bisik-bisik terdengar di barisan belakang, Shali mulai tak nyaman sepertinya anak-anak cukup memperhatikannya. Karena Aka terlalu lama, Shali akhirnya keluar duluan.
Cukup lama Shali menunggu di kamar, perempuan itu sesungguhnya ada yang mau disampaikan. Suara salam dan derit pintu yang terbuka langsung mengalihkan atensi Shali yang tengah sibuk di meja rias.
"Dek, tumben malam-malam dandan, sengaja siapin buat aku ya?" seloroh Aka senyum-senyum kurang kerjaan.
"Bukan! Anterin ke mall Mas, aku mau beli sesuatu," ujarnya sedikit maksa.
"Malam-malam begini? Besok saja sayang, kita sudah ditungguin di meja makan. Kamu mau beli apa sih, hmm?" Aka mencoba memberi pengertian istrinya.