
"Munduran Mas, aku perlu energi untuk mengganjal perutku, aku lapar," kata Shali memberi jarak.
"Iya, ayo kita sarapan, aku rasa ummi dan abah sudah menunggu. Besok-besok kurangi gugup kamu kalau dideketin sama aku, aku nggak gigit kok, cuma nyesep doang," bisik pria itu tersenyum.
"Sama aja, meresahkan!" jawab Shali membuang muka.
"Perlu digendong atau jalan sendiri nih ke ruang makan? Punggungku cukup kuat untuk menyambut tubuhmu." Shali mendelik kesal merespon suaminya yang tak henti-hentinya menggoda.
"Iya deh iya, aku diem. Gemes nih lama-lama natap muka jutek kamu, pingin aku kurung seharian di kamar, berpetualang ke sisi singgasana sampai kamu minta ampun, memintaku untuk berhenti."
"Tuh 'kan kamu tuh nyeremin, Mas," tegur Shali begidik ngeri.
"Astaghfirullah ... aku salah ngomong ya, ralat ya adek sayang. Jadi gini konsepnya, ibadah bareng, penuh kejutan dan keromantisan, biar jiwa-jiwa kita adem, aku senang kamu lebih baha—" Shali membungkam mulut pria itu dengan bibirnya agar berhenti mengoceh. Memagut lembut hingga pria itu membalasnya dan terlena, lalu melepas begitu saja dan meninggalkan tanpa tanggung jawab.
"Sarapan Mas, lapar," ujar perempuan itu terkekeh geli melihat suaminya yang menyorotnya dengan kecewa.
"Kamu dosa loh kalau mancing-mancing aku terus lari dari tanggung jawab, nggak kasihan banget sama suamimu," tegur Aka mrengut. Shali bergeming dengan batin tersenyum. Berjalan keluar dari bilik kamar.
"Dek, jalannya lucu, lomba lari yok, kalau kamu menang nanti malam bebas, tetapi kalau kalah aku bakalan merepetisi kejadian semalam dua pusaran," tantang Aka menaik turunkan alisnya.
Woe ... pembaca yang budiman, nimpuk suami model kaya gini dosa nggak sih!
Shali berhenti, menyorot suaminya tajam.
"Eh, kok melotot, nggak boleh gitu natap suaminya adek sayang, sini-sini Mas minta maaf." Aka mengelus puncak kepalanya lembut.
"Teduhkan pandanganmu, lalu tersenyumlah, datangi aku dengan raut wajah menyenangkan agar senantiasa membahagiakan suamimu."
"Hmm," jawab Shali lalu kembali berjalan senormal mungkin.
Seandainya tidak ngampus ingin rasanya Shali tidak keluar seharian dari kamar dan beristirahat saja, rasanya tubuhnya terlalu lelah dan masih meninggalkan sisa ngilu akibat pergulatan sengit semalam.
"Nak Shali kenapa makannya sedikit sekali, kamu sakit?" tanya Ummi memperhatikan gerak gerik menantunya yang sepertinya tak nyaman menempati kursi.
"Iya, Ummi, sedikit capek, sepertinya Shali harus banyak istirahat," jawab Aka begitu saja. Mulut perempuan itu yang sudah berkedut ingin menjawab akhirnya mingkem kembali dan hanya mengangguk mengiyakan.
"Kalau sakit istirahat saja, tidak usah ke kampus," usul Azmi perhatian.
Ghem!!
Aka dan Azmi saling melirik, terus pria yang umurnya lebih tua satu tahun dari istrinya itu menangkap pertanyaan yang siap dilontarkan.
"Shali kelihatan tidak baik-baik saja, kamu apakan?" bidik Azmi memicing.
Aka mendesah panjang, "Nanti kalau kamu sudah menikah, baru kamu tahu jawabannya," jawab Aka tersirat.
Sarapan telah usai, mereka berdua berangkat ke kampus bersama. Melewati pintu belakang.
"Pakai mobil saja ya, biar duduk kamu nyaman, atau mau izin saja, aku nggak tega lihat kamu gini."
"Nggak pa-pa Mas, aku hanya kurang istirahat, udah lebih baik kok dari pada tadi," jawab Shali tenang.
"Beneran, maaf ya bikin harimu kurang nyaman," ucap Aka sembari mendaratkan satu kecupan sayang di keningnya.
"Nanti kalau udah beberapa kali nggak sakit kok, aku aja nagih, nanti bisa kita ulang lagi, biar kamu terbiasa, dan lebih menginginkan hingga minta duluan."
Krik krik
Sunyi sembari menatap horor.