Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 91


Gadis berparas ayu itu menatap sendu kala bunda dan ayahnya berpamitan. Wajahnya mendung, sudut matanya mengembun. Biar bagaimanapun ia belum pernah terpisah jauh sebelumnya.


"Sudah Nak Nashwa, nggak pa-pa, ayo masuk Ummi tunjukan kamarnya, habis itu siap-siap jamaah ashar ke masjid," ajak Ummi Salma menuntun ke dalam.


"Ummi, emang nggak bisa ya kalau sholatnya tuh entaran saja, Nashwa baru juga sampai, mau bebenah," ucapnya nyengir tanpa rasa berdosa.


"Sholat itu hukumnya wajib, maka harus disegerakan, nanti saja beberesnya," ucapnya lembut.


"Kamu taruh barang-barang kamu dulu di kamar, nanti segera menyusul dan bergabung dengan santri lainnya di shaf putri."


"Siap Ummi, siap!" jawab Nashwa semangat.


"Ini kamar Nashwa ya Ummi?"


"Iya Na, silahkan masuk!"


"Terima kasih Ummi," jawabnya sumringah.


Dari pertama keluar dari rumah utama, Nashwa sudah dibuat takjub dengan taman hijau yang berada di pinggir kolam dengan banyak ikan warna-warna di sana. Tak cukup sampai di situ, gadis itu juga menemukan akses keluar dari sana yang pastinya akan membuat ia bebas bergerak. Batinnya tersenyum lega, sepertinya ia akan betah di sana, ditambah ada si Bagus yang memang sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi Nashwa.


Nashwa memasuki kamar dengan langkah pasti. Netranya menyapu ke sepenjuru ruangan. Sibuk melihat-lihat apa yang tertangkap oleh matanya. Sebelumnya Ummi sudah meminta bantuan Bu Darmi untuk memindai sebagian barang Azmi ke kamar Zayyan. Ummi juga sudah mengabari Azmi lewat pesan, kalau kamarnya dipinjam sementara oleh santri baru.


Gadis itu tersenyum sendiri menatap ranjang, lalu menghempaskan tubuhnya di sana. Kedua tangannya mengusap-usap sprei, menghirup wanginya di sana. Kamarnya terlihat begitu bersih, wangi, dan rapih. Sepertinya pria itu sangat perfeksionis.


***


"Assalamu'alaikum ...." Suara sapa salam mengudara diiringi derap langkah kedua sejoli yang baru memasuki rumah kembali.


"Waalaikumsalam, sudah pulang Nak?"


"Iya Ummi, Mas Akanya rewel," jawab Shali sembari meraih tangan Ummi Salma, mencium punggung tangannya dengan takzim.


"Wah apa tuh?" Zayyan ikut nimbrung kedua kakanya yang baru saja masuk.


"Ini apa sayang?" tanya Ummi yang menerima bingkisan dari menantunya.


"Dari mommy buat Ummi, kalau itu buat semua orang deh kayaknya, makanan mungkin," jawabnya tersenyum.


"Terima kasih, Nak, repot-repot."


"Za, kami kok nggak ke masjid?"


"Ini mau berangkat," jawabnya santai.


"Kemarin Azmi jadi ikut abah nggak ya Mi?"


"Yang undangan itu?" Ummi memastikan.


"Iya, Azmi nggak nolak 'kan?"


"Owh ... syukurlah, ikut seneng kalau Azmi juga nggak merasa beban. Sekarang anaknya ke mana Mi?"


"Katanya ada acara kampus apa gitu lah, belum pulang dari tadi siang."


"Komunitas mungkin Ummi, biasanya libur teman-teman ngadain acara bersama."


"Iya mungkin, Ummi tidak begitu paham, dia hanya pamit pulang terlambat, begitu."


"Ya sudah, kami ke kamar dulu, belum sholat juga," pamit Aka sembari menggandeng tangan istrinya.


"Mas!" Shali mengerem kakinya begitu keluar dari rumah utama.


"Apa Dek, ayo cepetan, Mas belum sholat ashar."


"Gendong Mas, mumpung sudah sampai sini tidak ada yang lihat," ujarnya manja.


"Ish ish ish ... Shalinaz Riely Ausky, tumben manja banget," ucapnya sembari mengangkat tubuh istrinya dalam dekapan. Berjalan perlahan menuju kamarnya.


"Mas, aku pasti kangen banget nih kalau kamu pergi," ucapnya mrengut.


"Cuma enam hari doang kok, kamu kan kuliahnya masuk, jadi jangan rewel dan jangan macem-macem, aku punya banyak CCTV."


Aka menurunkan istrinya di undakan teras kamar, pria itu masih berjongkok melepaskan sendal istrinya, lalu menuntunnya memasuki kamar.


"Enggak sih, paling satu macem doang, katanya aku boleh nginep di rumah mommy, boleh main," ujarnya berbinar.


"Boleh nginep, tapi apa ya nggak capek bolak-balik rumah mommy ke kampus, 'kan lumayan jauh, kalau main ya boleh tapi di kampus sama di pesantren saja, jangan jauh-jauh, aku takut Morgan berulah."


"Nggak bebas banget sih hidupku. Pengen aku cekik tuh orang!" gerutunya kesal.


"Untuk sementara aku udah kasih peringatan ke dia, Dek, kalau dia berulah lagi, dengan bukti yang terkumpul mungkin aku tidak bisa tinggal diam lagi, walaupun ayahnya begitu baik tapi aku bakal laporin."


"Mas kenal keluarganya?"


"Iya sayang, ayahnya 'kan orang yang berpengaruh di kota ini, pantesan kamu nggak punya bukti di Gayatri, wong hotelnya punya dia sendiri."


"Beneran?"


"Iya, makanya jangan jauh-jauh, aku nggak mau terjadi sesuatu apapun sama kamu," ujarnya seraya membuai pipinya lembut.


"Katanya ke masjid Mas, kok nggak jadi?"


"Telat, jamaah di rumah sama kamu ya Dek, ayo sayang ambil wudhu."


Shali dan Aka baru saja merampungkan takhiyat akhir lalu salam, ia hendak mengangkat kedua tangannya ketika suara jeritan seorang perempuan menggegerkan senja mereka.