Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 54


"Waalaikumsalam ... kamu habis maraton? Minum dulu." Aka berdiri dan menyodorkan minuman dalam kemasan.


"Mas, aku mau izin jenguk teman yang lagi—meriang," pamit Shalin to the point.


"Sama siapa?" tanya Aka cukup paham.


"Mmm ... Izza, Desta, dan Satya, boleh 'kan? Nanti aku langsung pulang ke pondok."


"Boleh," jawab Aka tenang.


"Alhamdulillah ... aku nebeng Satya ya Mas, soalnya Izza nggak bawa motor."


"Astaghfirullah, nggak boleh! Tidak baik istri orang berboncengan dengan yang bukan mahrom."


"Dih ... gimana sih, kok plin plan! Cuma ngebonceng doang juga, dosa ya Mas?" Shalin menggerutu.


"Hmm ... aku nggak kasih izin kalau boncengan sama cowok, jangan ngadi-ngadi kamu, Dek?" tegas Aka melarang.


"Ya 'kan sekalian, dia mau ke sana mereka kosong, masa kita ngangkot," sela Shalin ngeyel.


"Bawa mobil aku aja, hati-hati tapi bawanya."


"Nanti Mas pulangnya gimana?" Shalin mencoba bernego.


"Gampang, yang penting kamu dulu."


"Alhamdulillah ... makasih Mas," jawab Shalin berbinar.


"Kontaknya mana?"


"Ada, di bilik istirahat," jawab Aka menyeringai.


"Maksudnya?"


"Adek masuk ke dalam nanti nemu di atas nakas sebelah ranjang."


"Di ruangan ini ada ranjangnya? Emang Mas suka tidur di kantor?"


"Nggak juga, tapi pernah. Ada, kamu kalau mau istirahat juga boleh. Kamu adalah wanita pertama yang masuk ke sini."


Ruangan khusus Aka di lantai paling atas ini mendominasi ruang lainnya. Ruang rahasia yang dijadikan rumah kedua atau kantor tempat meriset pekerjaanya. Lebih dijaga ketat karena merupakan ruang rahasia. pria itu sering menghabiskan waktunya di sana, terutama bila sedang mengerjakan tugas serius.


"Mas, mana?"


Shalin terjingkat ketika Aka masuk lalu mengunci pintunya dengan cepat.


"Eh, kok dikunci? Nggak lucu ya, Mas mau ngurung aku di sini?" Gadis itu menyorot waspada.


"Nggak kok, cuma mau ngajakin ibadah bareng!" jawab Aka tenang.


Pria itu mengikis jarak, melepas satu kancing kemeja bagian atasnya, dan menggulung kemejanya hingga di atas siku.


"Tegang banget sih Dek? Rileks dong?" Aka mengelus pipi mulus istrinya dengan punggung jarinya.


"Mas, Mas mau ngapain? Aku lagi ditungguin teman-teman di bawah," kata Shali mengingatkan.


"Ayo Dek, ambil wudhu dulu!" Bukannya menjawab, Aka malah memerintah.


Pria itu mendekat, tangannya terulur melepas hijab istrinya.


"Lepas dulu nggak pa-pa, ini 'kan cuma berdua." Shali menahan tangannya. Aka tersenyum santai lantas menyambar bibir ranumnya sekilas.


"Kalau mau pergi, sholat dulu biar tenang. Setelahnya nanti aku kasih kunci mobilnya."


Shali baru sadar ternyata itu sudah waktu ashar, cukup masuk akal. Gadis itu menurut, mengambil wudhu lalu menempatkan diri di bagian yang sudah disiapkan suaminya. Empat rakaat mereka tunaikan bersama.


"Dek, aku menginginkan kamu malam ini, nanti, aku hanya mengabarimu saja," ujar Aka tersenyum sembari menangkup dua pipinya.


Gadis itu menunduk, malu lebih tepatnya. "Iya, Mas, aku mau kok, kamu sabar 'kan sampai nanti malam?"


"Pengennya sih nggak sabaran, tapi aku nggak mau membuat kamu nggak nyaman. Nanti pulangnya jangan sampai petang ya?" pesan Aka serius.


"Iya Mas, habis dari Molly aku langsung pulang," ujarnya yakin.


"Ini kunci mobilnya, bawanya hati-hati, turunnya lewat lift aja, udah diperiksa tadi."


"Makasih, Mas." Shali tersenyum melihat Aka menyodorkan kunci mobil di tangannya.


"Eits ... cium dulu!" Aka menjauhkan kontak itu ketika Shali hendak merebutnya. Karena gemas, gadis itu menyambar bibir suaminya dengan berani yang seketika membuat Aka terbelalak.


"Sekali-kali aku yang agresif boleh dong, Mas, aku jadi pintar semenjak gaulnya sama kamu," ujar gadis itu mengulum senyum. Merampas kontak mobil itu dari tangannya.


"Kamu sekarang nakal, Dek, nggak sabar nungguin nanti malam," jawab pria itu tersenyum devil.


Shali hanya tersenyum, lalu keluar dari ruangan itu dengan hati jedag jedug. Jujur gadis itu sangat gugup.


Sesampainya di lobi depan, terlihat Izza masih menunggu dengan setia bersama dua pria muda tersebut.


"Lama banget sih, Lin. jadi nggak?"


"Sorry, aku sholat dulu tadi, Satya sama Desta berangkat aja dulu, Izza biar sama aku," titah gadis itu percaya diri.


"Ngangkot? Kenapa nggak bareng aja?"


"Aku bawa mobil, dah ya kita ketemu di rumah Molly, share loc. Ayo Za, kok malah bengong."


"Shali, ini mobil siapa, kok parkir di wilayah dosen?"


"Mobil suami aku lah, jangan kaget dan jangan pingsan, oke deh masuk!"


"Lo beneran udah nikah? Sama siapa?" Izza benar-benar kepo maksimal.


"Ustadz Akara, dosen agama, kamu tahu 'kan?"


"What! Lo nikah sama Pak Aka? Gila, kok bisa?"


"Takdir yang menyatukan kita," jawab Shalin sekenanya.


"Sumpah demi apa lo nggak bohong 'kan? Dosa loh ya kalau ngibul?"


"Astaghfirullah ... enggak, aku udah nikah hampir tiga minggu, ya gitu deh. Kamu adalah orang pertama yang aku kasih tahu, aku harap mulutmu nggak ember."


"Omo ... ini sih amazing Lin, pasti banyak yang patah hati, yakin gue seratus persen."


"Btw ... gimana rasanya nikah sama ustadz plus dosen sendiri Lin, denger-denger kalau nikah sama Ustadz itu ... lebih ganas ya di ranjang walaupun dingin di luar dan anti perempuan?" tanya Izza yang membuat Shalin spontan mengerem mendadak.


"Astaghfirullah ... jidat gue, Lin, yang bener dong kalau nyetir, kira-kira ngeremnya!" protes Izza mengomel, hampir membentur dashboard.


"Eh, iya sorry, tadi kamu ngomong apa, kaget!"


"Ganas di ranjang, apa sih kaget banget, tebakan aku benar 'kan?"


.


. Tbc


Assalamu'alaikum teman2 maaf baru bisa up dikarenakan kesibukan yang melanda di dunia nyata. Semalam mau up ternyata aku ketiduran.🙏🙏🙏


Tunggu chapter selanjutnya ya aku perlu mikir yang pas untuk moment yang luwes Shalin dan Aka.