
Setelah dirawat kurang lebih empat puluh delapan jam, Shali diperbolehkan pulang dan melakukan pemulihan di rumah. Perempuan itu terlihat sudah sehat kembali, menggendong bayi mungilnya duduk di jok samping kemudi. Aka membawa mobil dengan sangat hati-hati. Para orang tua yang masih mendampingi terutama Mommy Disya dan Ummi Salma terlihat satu mobil yang sama.
Daddy Sky sendiri sudah pulang dari sehari yang lalu karena tuntutan pekerjaannya. Membiarkan Mommy Disya yang katanya ingin bermalam menemani sang putri yang masih sangat kerepotan mengurus bayi. Nenek muda itu sampai mendatangkan baby sitter khusus untuk cucunya demi membantu kerepotan putrinya.
"Turunnya pelan-pelan sayang, sini biar Tsabi Oma gendong," pinta Mommy Disya langsung menyapa begitu mobil mereka tiba dikediaman rumah menantunya.
"Terima kasih Mom," ujar perempuan itu merasa sangat bersyukur mempunyai orang tua dan mertua yang begitu baik dan perhatian.
Aka nampak sibuk mengeluarkan barang bawaan dari mobilnya. Pria itu mondar-mandir membawanya keluar masuk. Sementara Shali sendiri langsung ke kamarnya bersama Tsabi.
"Mom, nginep 'kan? Satu minggu ya?" pinta Shali penuh harap.
"Waduh, lama banget, kasihan daddy berisik kalau Mommy nggak pulang-pulang. Reagan ngruling, kamu kaya nggak tahu mereka aja. Ini aja nginep sehari di rumah sakit udah rempong. Dia nggak mau pulang kalau bukan harus ngajar. Hahaha, daddy kamu bucin!" Mommy Disya terkekeh geli membayangkan suaminya yang masih tidak mau lepas lama-lama dengan dirinya. Kalau kata orang, semakin tua itu semakin mesra dan sayang.
"Daddy tuh emang sweet Mom, beruntungnya Mommy punya daddy," ujarnya merasa bersyukur.
"Alhamdulillah, kamu juga mempunyai suami yang baik. Aka juga perhatian kan sama kamu."
"Banget Mom, iya kan By, kemarin di ruang persalinan sampai nangis lho, mungkin takut aku mati. Haha." Perempuan itu terlihat asyik sesi curhatnya.
"Namanya juga khawatir Dek, nggak tega aja lihat kamu kesakitan." Aka yang tengah sibuk sendiri menyahut.
"Itu namanya peduli, beruntungnya kamu ditemani terus, persis kaya daddymu juga gitu. Karena mereka para suami merasakan khawatir, merasakan takut, bahkan mungkin lebih takut dan ikut merasakan derita mereka para istri yang tengah berjuang melahirkan generasi penerus keluarga."
"Mommy pulangnya setelah aqiqah adek aja, Mom, biarin daddy nanti juga nyusul," ujar Aka sependapat dengan istrinya.
"Lihat nanti deh, kalau daddy bisa dinego."
"Nanti aku yang bilang deh, Mom, pinjam mommynya bentar ke daddy. Aku yang bilang."
"Lihat nanti sayang, jangan khawatir, nanti ada suster yang bantuin."
Perempuan itu sangat terbantu dengan adanya suster yang ikut menjaga Tsabi. Kendati demikian, bayi mungil itu lebih sering dalam buaian ibunya. Shali benar-benar memanfaatkan momen kedekatan mereka dengan baik sebelum cuti kuliahnya habis. Pertempuran itu juga rajin memompa ASI-nya untuk stok bila ditinggal nanti.
Walaupun masih terlihat kerepotan dan rempong saat belajar memandikannya sendiri, Shali begitu sangat bahagia menikmati perannya sebagai ibu baru. Aka juga merasakan hal yang sama, selalu pulang tepat waktu bahkan awal waktu bila memang sudah tidak ada jadwal mengajar.
"Anak Abi mandi ya, duh ... ummanya udah pinter sekarang," goda Aka di sore hari. Pria itu baru saja pulang dari kampus langsung mendekati Shali yang tengah sibuk.
"Iya dong, 'kan udah belajar sama suster," jawabnya sembari sibuk menyabuni badan Tsabi yang lembut.
Kebiasaan Aka apa bila baru pulang atau pergi selalu mendatangi dulu istrinya lalu menciumnya dengan sayang. Pria itu mengecup lembut puncak kepalanya yang tertutup hijab instan. Sementara Shali sendiri biasanya membalas dengan mencium punggung tangannya, namun karena tengah repot Shali tak mungkin melakukannya.
"By, tumben sampai sore, ada kelas tambahan?" tanya Shali sembari mengangkat tubuh Tsabi dari bak bayi.
"Ada bimbingan tadi buat anak-anak. Maaf, kamu terlihat capek, dan butuh aku ya?"
"Duh ... aku dikangenin Umma, Dek, seneng banget ya," adu Aka terhadap bayi mungilnya.
"Udah wangi udah bersih, sekarang minum susu dulu," ujar Shali mulai terbiasa.
"Abi-nya juga mau dong, Kira-kira udah boleh belum ya?" sindir Aka mengerling. Sudah lebih dari dua bulan semenjak launching baby Tsabi, Aka masih puasa.
"Abi-nya kapan-kapan dulu ya, aku masih sedikit takut," jawab Shali langsung paham.
"Masih sakit? Udah bersih 'kan?"
"Udah nggak sakit sih, tapi takut aja, lagian aku mau di KB dulu Mas, aku kan belum sempat."
"Ya sudah nanti konsul ke dokter aja mumpung belum aku jamah, takutnya kaya yang pertama. Atau kamu tidak ingin menundanya?"
"Eh, ngeri amad, jeda dulu lah, hamil tuh capek, melahirkan sakitnya masya Allah. Jeda dulu nunggu Tsabi pinter jalan dulu, pinter ngaji dulu, aku mau fokus selesaikan kuliah dulu. Azmi aja udah Wisuda lama. Aku skripsi aja belum. Mengsad.
"Jangan banding-bandingin dengan orang lain, kamu juga bisa kok lulus cepat, nanti bimbingannya sama aku aja."
"Bantuin ya, By. Suami idaman deh," ujarnya manis.
"Imbalannya apa?"
"Kunjungi aku sepuasmu malam ini," ujarnya tersenyum.
"We ... beneran? Katanya mau KB dulu."
"Pakai pengaman dong!"
.
tbc
Assalamu'alaikum semuanya. Akhirnya kita di penghujung episode. Tinggal uwu-uwunya aja, mungkin beberapa part lagi bakalan end.
Terima kasih banyak yang udah ngikutin cerita MNDU sampai hari ini. Luar biasa! Terima kasih buat teman2 yang sudah mendukung karya ini, baik like, vote, gift, dan juga tips iklan. Love you pull. 😍😍😍😍
Mohon maaf juga bila ada salah2 kata dalam menyajikan tulisan. Sesungguhnya kesempurnaan itu hanya milik-Nya.
Baca juga cerita on going aku satunya "Terjerat Pesona Dokter Tampan" 👍👍👍
Yang penasaran kisah Azmi silahkan merapat, dan jangan tinggalkan chanel ini karena author mau launcing novel baru lagi. Di sini, nanti diumumin ya ....! Tahap koreksi editor
Salam sayang 😍😍😍😍