Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 125


Shali terus berjalan mondar mandir setiap kontraksi menyapa. Mulutnya sibuk mengucapkan kalimah-kalimah Allah. Ia sebenarnya merasa takut, namun kepekaan suami yang besar memberi kekuatan sendiri baginya.


"Mas ...." panggil perempuan itu menyorot sayu. Mukanya terlihat tidak baik-baik saja.


"Iya sayang, sabar ya, kamu pasti bisa melewati ini dengan lancar."


"Aamiin," jawabnya merem melek sambil menikmati rasa yang semakin nyeri.


"Adek sayang, bekerja sama dengan Umma, Nak, kami di sini menantimu, semoga persalinan ini disegerakan, sehat-sehat Nak, Ummi melewati ini dengan susah payah, ayo bantu Umma Nak!" Aka mengelus perut istrinya. Menciumi dengan sayang.


"Ssshhh ... sakit ... Mas, semakin nyeri ya Allah," keluh Shali merangkul pada pundak suami. Perempuan itu membungkuk sementara Aka duduk di ranjang.


Shali terlihat gusar, raut mukanya merah padam menahan rasa dari sejuta rasa sakit yang pernah menyerang. Perut bagian bawah terasa begitu nyeri, punggungnya panas.


"Mas, tolong usap sini Mas, sini pegel banget ya Allah ....!" rengeknya membuat Aka tak tega. Berkali-kali mengecup pelan, memberikan dukungan penuh, tak sedikit pun pria itu beranjak dari sana, terkecuali untuk sholat. Berjam-jam sudah berlalu, pembukaan bertambah walau sangat lambat. Hingga malam menyapa, masih pembukaan empat.


Shali kembali beristighfar banyak-banyak kala nyeri yang sebentar-sebentar menyapa, sebentar ilang. Perempuan itu mendesis sakit, merasakan tubuhnya sudah tidak karu-karuan.


Pria itu sendiri duduk di sampingnya, tangannya terulur mengusap punggung istrinya terus-menerus. Sedang mulutnya sibuk berdoa kebaikan untuk kekasih halalnya.


Jarum jam terus merotasi, detik, menit berlalu, hingga berganti hari, Shali masih berjuang melawan rasa sakit yang kian terasa. Semua keluarga juga sudah nampak hadir di sana. Mommy Disya dan Daddy Sky terlihat tenang dan juga sedikit waswas menanti kelahiran cucu pertama mereka.


Sementara keluarga Kyai Emir nampak sudah hadir dari sejak sore dikabari. Awalnya ingin surprise memberi kabar setelah anak mereka lahir, namun kontraksi yang lama membuatnya memutuskan berbagi cerita dengan keluarga. Saat ini Shali sudah berada di ruang bersalin, sementara yang lainnya menunggu dengan sabar. Dua keluarga besar nampak kompak menanti keluarga baru mereka. Kebanggaan keluarga yang kelak akan menjadi perisai indah permata dunia.


Kalau tidak salah perkiraan, anak mereka berjenis kelamin perempuan.


"Mas, usapnya yang lebih kenceng dong, ini sakit banget, makin kerasa, astaghfirullah ... nyeri Mas ....!" desisnya menekan rasa sakit dan sabar secara bergantian.


"Bu Shali tiduran ya Bu, saya cek lagi."


Terlihat Dokter memakai sarung tangan steril lalu mengecek pembukaan di jalan lahir. Shali sampai meringis saat hal yang paling krusial harus terbuka-bukaan. Malunya disimpan, untung dokternya perempuan dan Aka memang merekomendasikan dokter perempuan. Ia sampai rela ganti rumah sakit terbaik untuk mendapatkan pekerja medis perempuan yang diinginkan.


Aka mengantar ke kamar mandi, menunggu dengan sabar, Shali sendiri sama sekali tidak protes saat pria itu tak ingin beranjak.


Kembali berjalan bak setrikaan kala nyeri itu kembali melanda.


Perempuan itu merasa sudah tidak karu-karuan, panas, pegel, sakit, ngantuk dan sedikit tak sabar menanti kehadirannya. Sekarang bahkan hari sudah pagi namun Shali baru pembukaan tujuh itu artinya masih belum lengkap dan bertambah semakin sakit dan semakin sering rasa nyeri dan mulas itu menyerang.


Aka terus merapalkan doa kebaikan dalam hatinya. Agar persalinan istrinya diberikan kelancaran dan kemudahan. Tak tega melihat istrinya terus merasa kesakitan, namun ia juga tidak bisa melakukan banyak hal selain berdoa tentunya.


"Mencium lembut, membelai dengan penuh perasaan, mengusap lembut dengan sabar. Walaupun berkali-kali perempuan itu mengeluh tak nyaman, namun sesekali tersenyum di tengah mengatur napas panjang pendek. Menghirup, merilekskan, semua berjalan beriringan, rasa sakit itu bercampur menjadi satu, seperti gulungan besar yang seakan mendesak keluar. Memaksa menerobos mencari jalan.


"Mass ... huh ... ssshhh...." Shali mendesis semakin gusar saat tiba-tiba nyeri semakin hebat dan begitu terasa. Ia berdiri menyandar di dinding dengan tangan kanan bertumpu pada dada bidang suaminya. Tangannya sibuk mere* mas kemeja yang suaminya pakai. Wajah merah padamnya ia sembunyikan di dada suaminya.


Matanya terpejam sejenak begitu menikmati rasanya yang luar biasa. Sakit, dari sejuta rasa sakit menjadi satu.


"Mas ... sakit banget, sshhh ... ini lebih sakit dari yang tadi," keluhnya merasa gamisnya telah basah. Air ketubannya pecah. Shali sendiri sudah bersiap di atas bed dengan Aka di sampingnya terus menggenggam tangannya erat-erat. Tim medis juga sudah bersiap dengan memakai apron dan sarung tangan steril. Semua perlengkapan sudah siap.


"Bu Shali, tahan dulu ya, Bu! Tolong ikuti aba-aba saya, jangan mengejan dulu. Ini sudah pembukaan lengkap, Bismillahirrahmanirrahim ... kalau terasa ada kencang ada dorongan dari dalam, ibu langsung ambil napas, mengejan Bu!"


"Bi!" panggil Shali ditengah rasa yang semakin dahsyat. Merasa kencang dan seakan terdorong dari dalam.


Aka menggenggam tangannya begitu erat, tangan lainnya sibuk menyeka keringat yang mampir di dahi istrinya. Mencium dan membisikkan doa kebaikan di sana.


"Allahu akbar ... sakiiit ....!" mulut mungilnya bergumam lirih.


"Sedikit lagi Bu, terus, dorong, ayo semangat! Dorong Bu ....!" Dokter terus mengarahkan dan nampak fokus.


Shali mengikuti instruksi dokter yang membimbingnya. Saat ini pasrah dengan dirinya dan semua yang terjadi. Napas lega terembus saat tangisan bayi merah keluar menggema memenuhi ruangan. Netra pria itu basah, mengucap syukur sembari mengecup kepala istrinya dengan penuh perasaan. Dirinya tidak pernah setakut ini, namu tangis itu berganti senyum nan haru kala melihat si mungil nan lucu telah datang menyapa dunia.


"Alhamdulillah ....!"