Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 65


"Mas!"


"Iya sayang, kenapa? Mau minta sekarang?" ledek Aka tersenyum.


Astaga ... itu mulu dipikirannya.


"Bukan, apaan sih mesum banget jadi orang." Shali menatap jengkel suaminya.


"Ya terus? Kenapa manggil-manggil?" tatap Aka penuh tanda tanya.


"Bukan manggil Mas, itu namanya peringatan," jawab Shali mrengut.


"Waduh ... kenapa musti diperingatkan segala, emangnya aku sesuatu yang berbahaya?" tanya Aka belum menyerah


"Sangat berbahaya untuk hati dan perasaanku, Mas."


Shali bangkit dari ranjang, berjalan perlahan menuju jendela kamar yang terbuka langsung menghadap ke kolam. Hawa sejuk langsung menerpa kulitnya. Aka mengikuti langkah istrinya, pria itu ikut menumpukan kedua tangannya di palang jendela menatap lurus ke depan.


"Bagaimana perasaan kamu untuk hari ini, Dek, apa ada sesuatu yang telah merubah hidupmu?" tanya Aka nampak serius, menatap sekilas istrinya sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke depan.


"Lebih baik dari hari kemarin, dan semalam. Aku hanya perlu untuk beradaptasi dengan keadaan yang sesungguhnya, biar bagaimanapun aku sudah menjadi seorang istri, ridhomu sangat penting bagi aku, Mas, dan murkamu membuat aku takut," jawab Shali jujur.


Aka tersenyum, menumpuk kedua tangan kanannya pada tangan kiri Shali yang juga tengah bertumpu pada palang jendela. Keduanya saling bertukar pandang, lalu sama-sama tersenyum penuh makna.


"Makasih sudah belajar mencintaiku, terima kasih sudah menjadi perisai di masa-masa transisiku. Kamu bagai matahari yang menjadi penerang saat aku mencari sesuatu dalam kegelapan. Percayalah namamu selalu aku sisipkan dalam setiap tangis doaku, love you," ucap Aka lalu membawa tangan itu dan mengecupnya.


"Sebenarnya aku sih Mas, yang harus berterima kasih karena kamu udah sabar banget sama aku, rela menghabiskan waktu-waktu berhargamu untuk memilih hidup bersamaku."


"Bang, pacaran mulu, ditungguin tuh sarapan bareng," tegur Zayyan yang memergoki mereka dari arah sebrang. Keduanya masih berdiri di depan palang jendela.


"Otw Zan, sebentar nyusul," sahut Aka sembari mengacungkan jari jempolnya.


"Ayo Dek, keluar, udah ditungguin nggak enak," ajak Aka menuntun istrinya.


Aka menggandeng Shali, berjalan beriringan menuju ruang makan. Perempuan itu sedikit canggung bertemu dengan Ummi yang nampak memperhatikan dirinya.


"Nak Shali udah sembuh?" Pertanyaan Ummi sukses mencuri atensi semua orang di ruang makan.


"Shali sakit?" Azmi ikut bertanya dengan raut kepo.


"Nggak kok, iya alhamdulillah Ummi sudah lebih baik," jawab Shali duduk dengan tenang. Aka bukannya ikut bantu menjawab malah melirik dengan senyuman.


"Emang kak Shali sakit apa?" tanya Zayyan serius ikut memperhatikan Shali.


"Sakit nikmat kok, nggak pa-pa aman," jawab Aka ngasal saja.


Karena gemas Shali menghadiahi satu cubitan di pahanya cukup keras.


"Kenapa Ka, kok teriak?" Ummi sidak ke wajah tampan putranya yang paling besar.


"Nggak pa-pa, Ummi. Ini tadi sepertinya ada yang mampir di kulitku, menimbulkan efek panas, entahlah itu, nanti biar kuperiksa," jawab Aka santai.


"Maksudnya gimana Bang? Kak Shali beneran menikmati sakitnya? Kakak terlihat lelah." Zayyan nampak memperhatikan kakak iparnya.


Aduh ... Zayyan, please deh jangan pada bahas itu lagi. Batin Shali resah dan malu tentunya. Walaupun mungkin mereka tidak ngeh dengan apa yang terjadi, namun tetap saja itu sesuatu yang tabu bagi Shali.


"Iya, itu karena kami begadang semalaman," jawab Aka jujur, sontak membuat Azmi sampai tersedak dan terbatuk-batuk.


"Mi, hati-hati kalau makan, pelan-pelan saja," tegur Ummi seraya menyodorkan segelas air putih.


"Sepertinya saya sudah kenyang, duluan ya," pamit Azmi bangkit sedikit memundurkan kursinya. Sebelum benar-benar beranjak, sempat melirik Shali yang sama halnya tengah menatapnya sungkan.


"Habisin sarapannya, Dek," tegur Aka mengelus lengannya.


"Iya Mas," jawab Shali cepat.


Mereka merampungkan sarapan dengan obrolan santai antara abah dan juga Aka. Sementara Zayyan langsung mengikuti jejak Azmi melesat entah ke mana.


"Kamu istirahat saja, Nak, kamu terlihat kurang istirahat," ucap Ummi yang cukup paham, menolak ketika menantunya bersiap membantunya merapikan sisa piring kotor.


"Nggak pa-pa Ummi, Shali sudah lebih baik kok," jawabnya yakin.


"Udah, tinggalin aja, biar nanti diberesin Bu Darmi yang siap membantu."


Sepertinya Ummi begitu paham dan pengertian, Ummi bahkan tidak membolehkan menantunya membantu di dapur. Malah menyuruhnya untuk istirahat saja.


Shali menurut, kembali ke bilik rumahnya lalu beranjak ke kamar mandi. Ia tengah merendam beberapa pakaian Aka yang pasti siap untuk dicuci.


Ini adalah pengalaman pertama dirinya mencuci pakaian, walaupun badan masih terasa kurang nyaman dan pegal, namun kegiatan harus tetap berjalan. Perempuan itu duduk perlahan di kursi kecil lalu siap mengucek dengan jari jemarinya yang mulus.


"Dek, ngapain?" Rupanya pria itu langsung menyusul istrinya setelah menyelesaikan obrolan akrab dengan abah. Aka melongok ke kamar mandi menemukan istrinya yang tengah menyikat kemeja dirinya.


"Ngerjain ini Mas," jawab Shali enteng.


"Masya Allah ... istri sholehahnya Akara Emir ... semoga menjadi ladang pahala di setiap satu gerakan tanganmu, sayang." Aka ikut berjongkok lalu memasukan tangannya ke ember.


Sebenarnya ada ruang laundry yang siap menggiling pakaian mereka dan biasanya dikerjakan Bu Darmi yang bekerja pada keluarga Ummi Salma, namun untuk kemeja-kemeja tertentu Aka selalu merendamnya, dan biasanya mencuci sendiri. Tentu Shali tidak bisa tinggal diam.


"Mas, ngapain?"


"Bantuin Adek, boleh kan?"


Mereka mengucek bersama, tangan mereka saling bekerja, namun tatapan keduanya saling bertemu sembari tersenyum.