
Aka bertambah kesal karena Shali tak kunjung datang menemuinya. Pria itu pikir, Shali benar-benar marah karena tadi merasa diabaikan, padahal memang kenyataannya dia tengah sibuk, namun emang sedikit keterlaluan sih karena menggunakan bahasa formal.
"Lin, ponsel lo bunyi terus ini, suami lo ngamuk deh kayaknya!" pekik Izza dari luar. Shali tengah di dalam kamar mandi.
"Biarin aja, Za, biarin! Nanti capek sendiri!"
"Lin, lo nggak pa-pa? Obatnya minum dulu," ujarnya perhatian.
"Iya Za, makasih."
Handphone Shalin terus memekik membuat Shali ingin melenyapkan saja.
"Azmi?"
"Assalamu'alaikum ... Mi?" jawab Shali seraya menahan rasa sakit.
"Waalaikumsalam, kamu di mana, Bang Aka sampai telepon aku nanyain, kamu nggak mau angkat teleponnya."
"Duh ... Sshhss," desis Shali menahan sakit, menjauhkan ponselnya. Azmi yang masih terhubung merasa cemas, pria itu memekik dari tempatnya memanggil nama kakak iparnya.
"Hallo Mi, ini gue Izza, Shali di unit kesehatan kampus. Bilangin gih ke Pak Aka," jawab Izza gemas sendiri."
"Gue tinggal sendiri nggak pa-pa?" Izza harus kembali ke kelas untuk mengikuti makul selanjutnya.
"Iya tinggal aja, Za, santai aja nggak pa-pa."
Sepeninggalan Izza, Azmi langsung datang menemui Shali karena merasa cemas.
"Shali, kamu nggak pa-pa, sakit apa? Perlu ke dokter nggak?"
"Nggak pa-pa Mi, kamu ke sini? Aman kok udah minum obat, kamu bukannya ada kelas?" Sungguh Shali merasa tidak nyaman kedatangan Azmi.
"Iya bentar lagi, kamu kalau ada apa-apa telepon ya, aku tinggal dulu."
Azmi sebenarnya merasa kasihan ingin menunggunya, namun Bang Aka lebih berhak, apalagi tadi sempat meneleponnya karena Shali tak kunjung mengangkat, dari pada salah paham pria itu menghubungi kakaknya.
Shali masih tiduran meringkuk di bed ketika Aka datang dengan wajah cemas.
"Dek, kamu sakit?" tanya Aka sembari meneliti tubuh istrinya.
"Apanya yang sakit?" Aka cemas sendiri melihat istrinya diam saja dengan wajah sayu.
Shali bangkit dari bed, duduk dengan lemas, menyorot Aka tanpa minat. Kedua tangannya menekan perutnya sendiri dengan muka muram.
"Perut kamu sakit?"
"Iya Mas, sakit?" adunya dengan nada lemas.
"Belum makan?" tanya Aka khawatir.
"Nyeri haid, Mas, aku tadi udah minta obat, tetapi masih nyeri aja ini." Shali tiduran dengan muka cemberut.
"Ya udah, istirahat saja, apa perlu ke dokter? Sakit banget ya?" Aka menyorot prihatin, mendekat dan menciumi puncak kepalanya dengan sayang.
Shali hanya diam, namun perempuan itu mengangguk kecil. Tidak tahu harus bersikap seperti apa. Aka menemani saja sembari memeluknya dari belakang. Sesekali mengelus perutnya yang katanya nyeri.
"Emang kalau mens pasti nyeri gini ya, Dek? Pulang aja gimana, atau ke dokter saja?" Shali menggeleng.
"Di sini sempit, pindah ke ruangan aku aja, aku gendong ya?" ujarnya perhatian. Aka bersiap menggendong istrinya, namun Shali menolak.
"Aku bisa jalan Mas." Shali turun dari bed, sedikit membungkuk seraya berjalan cepat menuju lift. Untung di lift mereka cuma berdua, setelah pintu terbuka, Aka langsung menggendongnya dan membawa ke ruangannya. Membaringkan istrinya dengan pelan.
"Istirahat dulu, ini pakai ini, Dek, sedikit lebih nyaman." Aka membantu melepas hijab, dan memberikan kayu putih pada perut istrinya.
Shali terdiam, ia menurut saja. Hingga menjelang sore hari, perempuan itu masih terlihat uring-uringan di kamar. Terlihat Aka sibuk sendiri memesan susu jahe, teh hangat, makanan yang hangat-hangat untuk mengisi perut istrinya, namun hanya dimakan sedikit tanpa minat.
"Dek, makan dulu, ini burjonya masih hangat, biar perut kamu terisi."
"Aku nggak lapar, Mas, tadi udah sempat makan di kantin."
"Sama Azmi dan Fazzad ya?" tebaknya tepat sasaran.
"Izza juga, Mas kenapa seringnya ngikutin aku?"
"Aku nggak ngikutin kamu kok, bukannya bujuk suaminya malah asyik makan-makan di kantin," protesnya curhat.
"Mas serem banget tadi, Izza ngajak ke kantin bermaksud menghibur aku, ya udah aku iyaiin aja, sekalian makan, eh tahunya Azmi dan Fayyad datang pada gabung. Kamu marah?"
"Jangan terlalu dekat dengan lawan jenis, Dek, aku itu orangnya pecemburu, untungnya tadi lagi puasa, kalau nggak pasti lain ceritanya."
"Kamu bakalan gabung di kantin terus ikut makan 'kan Mas?" tebaknya berseloroh.
"Mungkin, habis itu kurungin kamu kaya gini, sayang lagi nggak bisa dilewati, padahal tadi udah nahan aja pingin banget aku seret kalau lagi ngeselin kaya tadi."
"Kamu mesum banget sih, KASIHAN!"
"Laki-laki normal, Dek, sama istri sendiri ya pasti gini."
"Owh ... serem ya Pak, dibalik ngambeknya seorang suami cukup meresahkan!"
Aka langsung ******* bibir istrinya setelah mendengar suara adzan. Memagut lembut penuh perasaan. Setelahnya beranjak mengambil air putih dan minum dengan tenang.
Shali hanya terdiam, menurut dan menyambutnya dengan sedikit tak percaya. Aka selalu punya kejutan.
"Mas, udah adzan, kamu nggak makan?" tanya Shali menjadi merasa kasihan sendiri terhadap suaminya.
"Udah minum, Mas sholat dulu ya?" pamit Aka bergegas.
"Mas, aku nggak mau ditinggal sendirian, kamu sholat di sini saja," rengek Shali merasa takut.
Aka menurut, sholat di kamar. Setelahnya terlihat pria itu masih duduk sedikit lebih lama. Mendekati istrinya seraya bersenandung sholawat.
"Masih sakit?" tanyanya lembut.
"Sedikit lebih baik dari pada tadi siang. Kita nggak pulang Mas?"
"Pulang dong, nanti ditanyain orang rumah, ini saja ummi sudah nanya-nanya."
"Mas udah nggak marah sama aku?" tanya Shali sedikit lebih baik.
"Nggak bisa marah sama kamu, Dek, tadi sedikit kesal saja, maaf ya nambah-nambahin mood kamu yang berantakan."
"Aku kesel banget, saking keselnya aku hampir banting ponsel aku. Habisnya kamu malah cuek gitu," curhat Shali sembari menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Hadiahnya aku kasih ke Izza kok, mana mungkin aku terima, Mas ... maaf ya?"
"Aku tahu kok, aku juga minta maaf, kalau udah baikan kita pulang ya?"
"Kamu makan dulu, Mas, bukannya puasa kok malah nggak makan. Itu bungkusan sudah dibeli."
"Nggak enak makan, kalau lihat kamu sakit gini."
"Dih ... gimana sih, aku tuh cuma nyeri datang bulan, ya walaupun sakit banget sih, sini bawa sini aku suapin," ujar Shali menengadah.
"Kamu udah baikan?"
"Hmm, makan Mas." Shali gantian yang menyuapi suaminya. Mereka akhirnya menghabiskan satu porsi nasi bungkus secara bersamaan, dengan saling menyuap.