
"Eh, gue lagi pingin yang pedes Ga," sela Shali tak terima.
"Shali, itu terlalu berlebihan, nanti kamu bisa sakit perut," tegur pria itu lembut.
"Wah ... sweet banget kamu Ga, bener Shal, mending lo makan punya Morgan," ujar Molly nampak berbinar haru.
Shali bergeming, ia termasuk jenis manusia yang hati-hati dan menjadikan sesuatu yang telah berlalu menjadi pengalaman paling berharga, jadi ... tidak akan terperangkap ke dalam permainan yang sama, jelas pria seperti Morgan perlu diwaspadai dan dihindari.
"Kenapa, Sha? Takut banget aku kasih obat," ujarnya menatap dalam.
"Makan, aku nggak mungkin nyakitin kamu kok, seratus persen makanan ini bersih dan aman. Orang aku baru aja pesen dan masih anget gini. Makan Shali!" titah Morgan melembutkan suaranya.
"Ga, gue tuh lagi pengen yang agak pedes, jadi—makasih untuk basonya, gue nanti makan yang lain aja."
"Shali sayang ... makan!" tekan Morgan gemas.
"Udah-udah, sini beb tukeran, lo makan punya gue nih." Izza menyodorkan mangkuknya lalu mengambil mangkuk yang tadinya punya Morgan, masih sama-sama utuh belum ada yang makan.
"Makan Sha, punya Morgan kelihatanya enak juga, besok-besok perhatiannya ke gue aja, perhatianlah pada tempatnya, karena yang ono sudah disegel," selorohnya mencairkan suasana.
"Lo nggak takut makanan itu mengandung sesuatu, Shali aja takut," ujar Morgan penuh pertanyaan.
"Gue lebih takut mengandung anak lo. Hahaha, becanda, becanda Ga, nggak usah kaget gitu!" Izza makan dengan santainya. Morgan pun tersenyum melihat kekonyolan Izza pada dirinya. Mereka akhirnya makan bersama sambil mengobrol, dan dilanjutkan diskusi terkusus tugas mereka yang tertunda.
Shali sendiri merasa lega, Izza memang super heronya siang ini. Usai mengisi perutnya, Shali dan teman-temannya pun meninggalkan kantin. Mereka berganti mengobrol di longue student.
"Ngomong-ngomong gimana pembahasan tugasnya?" Molly nampak menyela.
Gimana Shali? Lo wawancara ya?" Izza meyakinkan.
"Ganti Satya aja lah, please jangan gue."
"Gini aja deh, kita cari kandidat di sekitar kita aja, kaya pengusaha sukses muda di sekitar kita, atau teman-teman kating yang kuliah sambil usaha atau kerja, atau siapapun itu yang mempunyai jiwa kewirausahaan dan sukses di bidangnya." Usul Nurma cukup brilian.
"Gimana kalau Pak Aka, dia cocok tuh jadi target kita."
"Nah ... boleh juga tuh, Shali malah lebih mudah wawancara sua—"
"Eh, apaan sih, nggak-nggak, lainnya saja!" tolak Shali cepat.
Izza pun terdiam.
"Kenapa tidak Molly saja sih, udah lah Mol, elo aja," tunjuk Izza tanpa bisa dinego.
"Cowok tuh nggak pada mau, iya Mo, gue udah yang edit semuanya lo yang cari bahannya, habis itu merdeka."
"Dih ... masalahnya tidak sesimple itu?"
"Halah, drama banget sih lo! Fiks ya?"
"Eh, kelas yuk, habis ini masih ada kelas siang, kan?"
"Iya bener, kelasnya Pak Aka, serem kalau telat," jawab Molly membenarkan.
"Gaes, gue ke toilet dulu ya?" Shali izin memisahkan diri saat teman-temannya kembali ke kelas.
Hingga Dosen Aka memasuki kelas untuk memulai materi, Shali tidak hadir di kelasnya dan jelas itu sangat disengaja. Membuat Aka semakin kesal saat mengetahui istrinya tidak hadir dalam kelasnya.
"Siang semuanya, assalamu'alaikum wr wb. Materi kita lanjutkan dari pertemuan yang kemarin."
"Waalaikumsalam ....!" jawab semua mahasiswa yang mengikuti kelasnya.
Sementara Shali sendiri lebih memilih ke perpustakaan ketimbang menghadiri kelas suaminya. Ia masih begitu kesal dan sakit hati tentang kejadian tadi pagi. Menurut Shali, Aka tidak memahami dirinya dan sangat menyeramkan hingga membuat perempuan dua puluh tahun itu merasa sakit hati lantaran dibentak-bentak begitu saja. Jangankan mengikuti kelasnya, melihatnya orangnya saja Shali benar-benar malas untuk siang ini. Shali merajuk.
"Kamu tidak ada kelas?" tanya Azmi yang kebetulan tengah menghuni perpus juga siang itu.
"Ada kelasnya Mas Aka," jawab Shali datar.
"Kenapa malah di sini? Nanti Bang Aka nyariin?" Azmi malah yang merasa khawatir kalau sampai sesuatu terjadi dalam rumah tangga kakaknya.
"Lagi males aja ngikutin kelasnya, udah kamu pergi sana, jangan di sini, aku lagi pengen sendiri," usir Shali bertambah kesal.
"Kamu ada masalah? Nggak biasanya kamu ninggalin kelas kaya gini."
"Aku yang pergi, atau kamu pergi dari sini!" usir Shali tak ramah.
"Oke, aku pergi, aku juga ada kelas siang ini. Please ... selesaikan baik-baik jangan menghindar," pesan Azmi siang itu. Ia yakin sekali kakak iparnya sedang ada masalah.
Berkali-kali Aka menghubunginya, namun Shali tidak mengangkatnya. Ia sengaja silent ponselnya, hingga sore menyapa Shali masih betah menyendiri di perpustakaan seorang diri dengan earphones di telinganya dan menghadap buku.
"Pulang!" suara dingin Aka menginterupsi ruangan. Shali sama sekali tidak terusik. Pria itu menarik tangan Shali agar beranjak, seketika perempuan itu menghempaskannya dan menatap tajam suaminya.