
"Ummi, Ummi marah sama Azmi? Kenapa tidak berpendapat ketika abah memberikan mandat, apa Ummi juga kecewa sama aku?" tanya Azmi gelisah. Sebelumnya ia memang sempat ingin menikah muda, lebih tepatnya menginginkan pernikahan bersama Shali, namun takdir memisahkan mereka, kalau pada akhirnya ia juga harus menikah di usianya sekarang juga, rasanya seperti mimpi apalagi calon istrinya itu gadis remaja yang masih SMA.
"Cukup abah yang mewakilkan, kali ini Ummi percaya saja apa yang menjadi keputusannya. Apa kamu merasa ragu?"
"Aku hanya kurang yakin, apa lagi Nana masih terlalu kecil, apa ia mau menikah di usia sekarang, bahkan setelah Azmi teliti Nana belum genap tujuh belas tahun."
"Bisa jadi itu takdir yang baik untukmu, jangan menduga-duga sesuatu yang bahkan kita tidak tahu. Sholat sayang, kamu bisa mengadukannya pada-Nya," pesan Ummi siang itu.
Azmi sendiri terlihat tidak bersemangat di kampus. Ia diliputi gelisah yang tak menentu. Entahlah, rasa ragu tidak bisa menjadi suami yang diinginkan menjadi kendala dalam hatinya. Azmi akui, Nashwa itu secara fisik sangat cantik, bahkan semenjak pertama pertemuannya ia sudah merasa mengagumi mahkluk ciptaan Tuhan itu. Namun, untuk menikah dengan dia dalam waktu dekat ini, entah mengapa banyak pertimbangan.
"Ngalamun aja, Mi? Kalau mau curhat, aku siap dengerin." Shali tiba-tiba datang menghampiri dan duduk tepat di samping Azmi dengan jarak satu meter. Mereka tengah di longue student. Ramai, tetapi Azmi duduk menepi seorang diri. Perempuan itu menyodorkan satu cup boba chocolate kesukaan pria itu.
"Makasih," jawabnya tenang. Kembali mode silent.
Azmi bergeming, cukup lama pria itu terdiam, hanya menatap sekilas dengan senyuman kala kakak iparnya menyeru, lalu kembali menatap bimbang tak tentu arah.
"Aku malah khawatir Nana nggak bakalan setuju, dan kamu galau karena memikirkan itu, atau lebih tepatnya memikirkan kehidupan setelah menikah," ujar Shali santai.
"Ada banyak hal yang aku pertimbangkan, ya mungkin salah satunya kamu benar."
"Apa yang pertama membuat kamu ragu, jangan bilang kamu masih cinta sama aku terus menunggu jandaku," seloroh Shali tersenyum.
"Maybe," jawabnya serius.
"What! Ish ... Ustadz Aka pasti kesel kalau denger ini," keluhnya dengan gelengan kecil.
"Kamu serius banget sih nanggepinnya, mana boleh aku berpikiran seperti itu, selain dosa aku juga mempertaruhkan saudara aku, dan aku tidak ingin menyakiti diantara keduanya, walaupun pada akhirnya aku yang sakit sendirian."
"Jangan terlalu jujur, Azmi, aku sangat mencintai suamiku sekarang. Semoga kamu bisa lebih bahagia setelah melewati ini."
"Insya Allah, terima kasih sudah memberikan aku pengalaman sakit dan luka, sampai aku susah move on karena selalu berada dalam bayang kalian. Apa tidak pa-pa kalau aku menikah nanti?"
"Sama-sama, maaf ya Azmi sejarah mengatakan, mencintai kenangan itu boleh, tetapi cukup dikenang saja, jangan diulang untuk hal yang bahkan menimbulkan kemadhorotan. Semangat!" ucap Shali sambil mengangkat kepalan tangannya.
Azmi memegang ujung bolpoint, kemudian menyodorkan pada Shali, gadis itu juga memegang ujung bolpoint itu kemudian saling melempar senyum. Seperti itulah cara mereka bersalaman.
"Aku mau balikin ini, sudah habis waktu titipnya. Ada yang lebih berhak dari pada aku." Shali menyodorkan cincin cantik berwarna putih yang pernah Azmi berikan atau titipkan pada Shali.
"Kamu masih menyimpannya, aku pikir kamu udah menjualnya saat sedang tidak punya uang untuk jajan," seloroh Azmi ngasal.
Azmi ikut tertawa menanggapi itu, seakan sedikit beban terhempas bersama sautan kata demi kata yang terlontar dari cuitannya.
"Aku balik ya, masih ada kelas," pamit Shali beranjak.
"Terima kasih untuk waktunya," ucap pria itu meninggalkan senyuman.
"Nanti aku bantu buat ngomong sama Nana, semangat!" ucapnya sembari melambaikan tangan. Azmi mengangguk dengan senyuman.
Saat sore hari Shali pulang, nampak rumah utama sedang ada tamu. Perempuan itu pun melewati pintu belakang untuk sampai ke kamarnya. Shali menaruh tasnya terlebih dahulu, sebelum akhirnya berkunjung ke kamar sebrang.
"Assalamu'alaikum ...!" sapa Shali menghampiri gadis itu.
"Waalaikumsalam," jawabnya sembari menengadah. Menemukan mantu dari anak Pak Kyai menyambangi kamar yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Nashwa terlihat sibuk mengemas barang.
"Kamu mau ke mana, Na? Ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Shali menatap gadis itu bingung.
"Nggak ke mana-mana kak, mau pindah ke asrama pondok putri. Alhamdulillah Nana udah siap," jawabnya kalem.
"Kamu yakin?"
Gadis itu mengangguk, menatap Shali tanpa ragu lalu kembali mengemas barang-barang pribadinya.
"Dikit aja Na, sisain lebih banyak di sini, karena cepat atau lambat kamar ini juga akan menjadi kamar kamu dan Azmi," kata Shali yang membuat gadis itu menghentikan kegiatannya.
"Maksud kak Shali?"
"Di depan, ada Tante Bila sama Om Bisma, orang tua kamu."
"Mereka ke sini? Mau jemput aku? Alhamdulillah," ucapnya girang namun detik berikutnya merasa sedih.
"Pasti Bunda dan Ayah mau marahin aku, karena aku udah bikin kecewa dan malu mereka," ucapnya sendu.
"Mungkin, tetapi lebih tepatnya sedang membahas pernikahan kamu," ucap Shali serius.
"What!"