
"Makasih sayang, iya aku makan," jawab Aka tak bisa menolak jika istrinya berkehendak.
"Kamu udah makan?" tanya Aka sembari membuka nasi bungkus pemberian istrinya.
"Tadi udah di kantin, aku boleh ikut jaga di sini ya, Mas, nemenin kamu?" ujar perempuan itu perhatian.
"Biar Mas aja, kamu pulang aja sama Ummi sekalian, biar Mas sama Azmi yang jagain abah," tolak pria itu tak setuju.
Aka kasihan melihat istrinya ikut ngurusin abahnya, sementara ia juga tengah hamil muda yang cukup riskan.
"Tetapi Mas ... aku nggak mau tidur sendirian di rumah, aku mau nemenin kamu jagain abah, Azmi pulang saja sama Ummi dan Nana."
Ummi Salma tidak beranjak sama sekali dari rumah sakit, perempuan itu ditemani Ning Aida tengah berbincang serius tentang penyakit bapak, semua anak-anaknya sudah berkumpul karena abah dinyatakan kritis. Tentu saja itu pukulan terberat Aka saat-saat seperti ini. Walaupun berkali abah menyerahkan pesantren padanya, Aka masih terlalu dini mengemban tugas itu. Masih perlu banyak belajar dari ayahnya.
"Mas, aku pingin lihat keadaan abah, gimana masuknya," ujar Shali tak tenang.
"Abah di ruang ICU, sayang, nanti jam besuk boleh menjenguk tetapi bergiliran, tunggu ya kita doakan dulu dari sini, semoga abah lekas sembuh. Aamiin."
Sementara itu, semua kegiatan santri tetap berjalan di bawah arahannya Ustadz Edward selalu pengurus dan yang dituakan di pesantren. Beliau yang ikut menghandle management pesantren selama ini. Saat-saat seperti ini, tentu perannya sangat diharapkan dan dinanti.
Hampir semua jamaah yang sore itu melaksanakan sholat bersama, mendoakan serempak dari rumah santri secara bersama-sama agar pengasuh mereka cepat diberikan kesehatan kembali.
Sistem belajar mengajar juga sebagian santri putra dan putri dilimpahkan yang dituakan dan memang sudah khatam di sana, ikut membantu mengajar sebagian besar santri-santri sesuai jadwal dan kelasnya.
Berhubung Shali ngeyel sekali, perempuan itu akhirnya ikut bermalam menjaga abah. Hari itu ada Ummi Salma yang selalu standby, Aka, dan juga Shali. Mereka akan bergilir menjaga selama abah sakit.
Shali tidur di sofa dengan berbantal paha suaminya, tubuhnya ia miringkan menghadap perut. Perempuan itu memeluk posesif tubuh suaminya. Entahlah, rasa-rasanya Shali tidak suka berjauhan dengan suaminya.
"Dek, bangun sayang, sholat subuh dulu."
Aka mengusap pipinya dengan lembut, semalaman pria itu tertidur dengan posisi duduk itu pun hanya terpejam sesaat, lebih kepada menjaga dan membuai istrinya yang merengek alias mengeluh pegal.
"Udah subuh ya, Mas, tumben kamu nggak sholat tahajud?" tanya Shali tanpa dosa.
"Kamu tidurnya rusuh, sayang, di pangkuan aku, aku hampir tak bisa tidur semalaman."
"Rusuh gimanaa, orang aku merem juga, ngadi-ngadi!" sela Shali tak terima.
Perempuan itu sudah mengambil sikap duduk, lekas beranjak ke kamar mandi. Tiba-tiba perutnya merasa direm@s-rem@s dan merasa begitu tudak nyaman. Shali merasa mual, dan begah. Aka yang mendengar langsung menerobos masuk ke dalam kamar mandi.
"Mual, Mas," jawabnya sembari terduduk lemas.
"Kamu kemarin nggak bawa obat dan vitaminnya, astaghfirullah ... ini kenapa aku juga jadi lupa buat ingetin kamu. Ya udah habis ini kita pulang dulu, nunggu Mbak Aida ke sini biar kita gantian," ujar Aka merasa kacau.
"Nggak pa-pa, mual sedikit, mungkin masuk angin kali ya, semalam aku dingin banget," adunya sembari mengatur napas.
"Shali kenapa, Nak?" tanya Ummi Salma yang baru saja pulang dari mushola.
"Mual, Ummi, kasihan banget sampai lemes gitu."
"Morning sickness, biasa untuk ibu hamil muda, sebaiknya kamu antar Shali pulang, Nak, tidak usah khawatir biar Ummi yang jaga abah."
"Nunggu Mbak Aida datang Ummi," sela Aka merasa tak tega meninggalkan ibunya yang berjaga sendirian.
"Nggak pa-pa, kasihan istrimu, lagian ada jadwal mengajar, 'kan? Jadi kamu pulang saja sekarang."
Setelah sholat subuh dengan istrinya, akhirnya Aka pun pulang, namun di perjalanan perempuan itu mendafak menginginkan sesuatu.
"Mas, kita mampir di sana dulu yuk, itu ada penjual bubur manado, aku pengen makan di warung itu," tunjuk Shali.
Aka memarkirkan mobilnya dengan menghela napas sepenuh dada. Menyaksikan betapa mengularnya antrian yang hendak beli, rasanya ingin menolak, tetapi sungguh ia tidak tega membiarkan istrinya yang sudah semangat empat lima.
"Ngapain ikut ngantri, kamu tunggu di tempat duduk sayang, nanti capek dan pegel kaki kamu, biar Mas yang ngantri, atau tunggu di mobil saja, kita belinya dibungkus saja ya, makan di rumah."
Shali menurut saja, ia lebih memilih menunggu di kursi sembari mengamati muka suaminya yang terlihat lelah dan sayu.
"Ayo sayang, udah!" ajak Aka pulang.
"Biar aku yang bawa mobilnya, Mas, kamu duduk di jok penumpang. Kamu ngantuk nggak boleh nyetir."
"Nggak pa-pa, bisa kok, nggak terlalu jauh juga sampai."
"Ya udah aku nggak mau pulang, lagian kenapa sih, aku nggak pa-pa masih aman kok, orang hamilnya juga masih kecil. Tenang ya By," ujar Shali meyakinkan. Perempuan itu mengecup pipi suaminya sekilas dengan senyuman nakal.
"Jangan gitu Umma sayang, ini di jalan!" tegur Aka merasa gemas.
"Pulang, By, ceramahnya di rumah aja," jawab Shali masuk ke mobil duluan.