
Satu kedipan saja sudah bisa dipastikan pipi itu basah. Gadis itu terdiam tanpa kata, menatap nanar suaminya yang murka. Takut ... bahkan sorot matanya yang dingin dan tajam itu seakan menenggelamkan diri Shali saat itu juga. Sakit, sangat sakit dibentak hingga membuatnya kaget bukan main.
"Jelasin Dek! Kamu membuat Mas kecewa," takannya sekali lagi. Shali. Aka meninggalkan Shali begitu saja dengan kesal, sementara Shali tak mampu berkata apapun saking shocknya dibentak-bentak suaminya.
Ini adalah kali pertama Aka sebegitu marahnya pada Shali, jelas perempuan itu kaget dan ketakutan. Tanpa sadar buliran bening itu membasahi pipi. Sementara Aka langsung pergi ke kamar ganti, ia sama sekali tidak memakai pakaian yang dipilihkan istrinya. Harga dirinya sebagai lelaki merasa terkoyak, tidak dilibatkan dalam masalah sepenting ini. Tentu saja ia sakit hati, istrinya bahkan tidak sudi mengandung anaknya.
Aka keluar dari ruang ganti dengan muka muram, mendapati istrinya yang tengah menangis di atas ranjang. Pria itu membiarkan saja, berlalu keluar tanpa kata.
"Mas!" panggil Shali tak mendapat respon apapun. Pria itu terlalu sakit hati, sementara Shali sendiri mau menjelaskan sudah ketakutan lebih dulu melihat betapa murkanya suaminya. Pagi-pagi matanya sembab, membuat ia tak sampai hati mendatangi ruang makan, atau semua penghuni rumah akan bertanya-tanya, tentu saja Shali malu.
Jangan tanyakan Aka di mana, karena Shali juga tidak tahu sekarang pria itu di mana. Apakah ikut bergabung di meja makan atau malah sudah berangkat mengajar. Ini kali pertama Aka begitu murka hingga lebih tepatnya mengabaikan istrinya begitu saja.
Shali memang salah, ia tidak melibatkan Aka dan mengambil keputusan itu sendiri. Perempuan itu hanya tidak sampai hati mengatakan itu pada suaminya, karena suaminya begitu semangat mendambakan kehadiran seorang anak. Sementara Shali sendiri belum mau punya anak makanya ia memutuskan untuk meminum alat kontrasepsi pencegah kehamilan yang bahkan belum sempat ia minum, dan naasnya sudah kepergok Aka terlebih dahulu.
Shali terpaksa ke kampus lewat belakang dan berjalan kaki, sementara Aka sendiri mungkin sudah berangkat karena motornya sudah tidak ada di garasi. Perempuan itu hanya bisa pasrah, tentang masalahnya pagi ini. Rasanya ia malas mengikuti makul hari ini, mungkin sama sekali tidak akan masuk ke otaknya karena saat ini pikiran Shali juga sedang buntu alias kacau.
Perempuan itu tiba di kelas dengan wajah kusut dan malas. Pemandangan itu sontak mencuri atensi Izza dan Molly sahabatnya. Namun, baru saja Izza hendak kepo dengan muramnya sahabatnya itu, dosen yang akan mengisi materi keburu masuk kelas dan terpaksa Izza urung menanyakannya.
Masih dengan penasaran yang sama, Molly sampai mengirim pesan ke ponsel Shali namun gadis itu tidak merespon sehingga membuat perempuan itu gemas sendiri. Selama sembilan puluh menit berlangsung pembelajaran, Shali tidak fokus, alias hanya hadir tanpa minat. Untungnya ia sok-sok jadi pendengar yang baik dan tidak mendapat teguran yang berarti.
Suara dosen yang mengakhiri pertemuan langsung disambut antusias seisi kelas terutama duo orang yang sedari tadi sudah gatal ingin cuap-cuap manja menginterogasi sahabatnya yang kusut abis kaya baju kering belum disetrika.
"Lo nggak usah ngomong apapun kalau lo nggak sanggup, bahu gue cukup nyaman buat sandaran," cerocos Izza sok tahu.
"Kentara banget ya kalau gue lagi ada masalah?" Shali menjatuhkan kepalanya menempelkan keningnya pada meja. Tidak mungkin juga ia harus ember masalah rumah tangganya pada orang lain. Biar bagaimanapun aibnya aib pasangan juga.
"Gue laper, kantin yuk!" ucap Shali bergegas berdiri dari kursi. Molly, Izza, dan Nurma yang mengerubungi perempuan itu saling melirik dengan tanda tanya.
"Kenapa? Pada nggak lapar? Ya udah gue kantin dulu, dari pagi gue belum sarapan, sedangkan curhat juga butuh energi kan?"
"Oke gue setuju, gue juga lapar, lagian bener juga berbicara itu memerlukan energi," ujar Nurma setuju.
"Aman," jawab Shali mengacungkan dua jempolnya. Perempuan itu jelas menyembunyikan masalahnya sendiri. Akhirnya mereka menuju kantin sejenak meninggalkan penat, dan memanjakan perutnya yang memang sudah menjerit sedari tadi minta diisi. Shali tidak sempat sarapan karena meninggalkan rumah tanpa menghadiri meja makan yang pastinya akan menjadi pertanyaan mertuanya.
"Beb, pesen apa?"
"Baso Za," jawab Nurma dan Molly kompak.
"Lo apa Bu Ustadz?" tanyanya pada Shali.
"Samain Za," ujarnya tak sabar.
Sembari menunggu pesanan mereka mengobrol bersama. Shali sengaja mengabaikan hatinya yang sebenarnya tidak baik-baik saja. Perempuan itu hanya pandai menyamarkan walaupun temannya menaruh curiga.
"Astaga! Beb, kamu masukin sambal sebanyak ini?" Izza geleng-geleng kepala melihat Shali tak biasanya berselera pedas.
"Kamu nggak boleh makan sepedas ini dalam keadaan perutmu kosong, nanti yang ada sakit, ganti aja ini biar aku yang habisin," kata Morgan yang muncul secara tiba-tiba. Mengambil mangkuk yang penuh dengan saus dan sambel dan menukar miliknya yang masih utuh.
Sontak pemandangan itu membuat siapapun yang ada di sana tak percaya, kaget, dan juga bingung. Terkecuali Molly yang nampak begitu terkesima dengan aksi saudaranya itu.
.
Tbc
Hallo all ... selamat membaca sahabat Asri Faris bagaimana kabarnya hari ini? Semoga sehat selalu ya. Terima kasih yang masih setia dengan MNDU semoga tetap konsisten sampai akhir. Aamiin.
Ada yang penasaran kenapa Azmi dan Nana tidak muncul di part ini, jadi gini gaes berdasarkan permintaan beberapa pembaca kisah mereka akan dipisah di judul yang berbeda, dan pastinya akan tayang setelah novel ini rampung. Untuk menjawab rasa penasaran kalian semua insya Allah akan launching awal bulan depan ya. Jadi yang kepo abis sama keseruan rumah tangga Azmi dan dedek Naswha yang masih unyu2 dan babarnya nggak ketulungan, sabar ya nanti dibuatkan ceritanya sendiri.
Oke, see you all 😍😍