
"What! Nikah?" Nashwa menatap tak percaya penuh tanda tanya.
"Iya, kamu—mau dinikahkan dengan Azmi karena insiden kemarin," jawab Shali lirih.
"Naas bener, seharusnya nikah tuh karena cinta, bukan karena insiden. Ngadi-ngadi nih netizen!"
"Kok bisa gitu? Emang Bagus mau nikah sama aku? Kita 'kan nggak ngapa-ngapain, udah jelasin juga sama mereka."
"Bukankah cinta itu akan tumbuh setelah terbiasa? Jadi, Nana bisa belajar mencintai nanti setelah menikah," saran Shali menyakinkan.
Mungkin memang Nashwa mengagumi sosok Azmi, dia pria yang baik dan sholeh walaupun suka galak menurut versi Nashwa. Namun, untuk menikah sendiri Nashwa menjadi galau sendiri.
"Na, kok melamun? Kamu nggak nolak 'kan?"
"Heheh, nikah ya? Hua ... ngadi-ngadi nih pasti, aku 'kan masih sekolah mana bisa? Lagian si Bagus galak beud sama aku, kelihatan banget dia tuh nggak suka sama aku, emang nggak ada cara selain selain nikah?"
"Kalau itu aku nggak tahu, tapi yang aku tangkap dari musyawarah kemarin, kalian bakal nikah secara agama. Kalau soal sekolah, ya biar abah yang urus itu 'kan Madrasah Aliyahnya keluarga Kyai Emir, jadi kamu nggak usah ikut mikir mumet sampai ke situ, yang penting udah sekolah aja."
"Terus, nanti kehidupan setelah nikah gimana? Maksud aku, apa berlaku juga seperti pernikahan pada umumnya. Aku sedikit ngeri?" ujar Nashwa jujur.
"Kamu bisa rembug sendiri dengan Azmi kalau yang itu, mau bagaimana?"
"Dek, dipanggil Ummi suruh gabung di ruang tengah." Seorang wanita cantik datang menginterupsi keduanya.
"Iya Mbak, titip Nashea dulu, Mbak, saya mau ganti kerudung," ucap Shali beranjak.
"Na, ini Mbak Aida, kakak pertama Mas Aka dan Azmi!" tunjuk Shali sebelum keluar.
"Iya Dek, saya Aida, ternyata kalian sudah akrab saja, syukurlah jadi Nashwa udah nggak canggung lagi. Ayo Dek, pakai hijabnya yang rapih. Ummi dan semuanya sudah menunggu."
Sementara di kediaman Kyai Emir, nampak keluarga besar dan juga keluarga Pak Bisma sedang bermusyawarah cukup serius. Azmi juga hadir di sana. Bisma tidak keberatan mengenai sosok calon suami dari anaknya, tetapi sebagai seorang ayah, ada rasa cemas tersendiri ketika mau melepas tanggung jawab itu.
"Saya minta maaf Pak Kyai, Nashwa sudah membuat repot warga pesantren. Saya juga minta maaf atas sikap Nana yang kurang berkenan, ataupun mungkin sembrono, kami merasa gagal menjadi orang tua, seandainya ini yang terbaik kami tentu akan sangat senang karena Nashwa berada dalam lingkungan yang baik dan juga orang yang tepat."
"Kami maklum Pak Bisma, ananda Nashwa itu masih sangat bisa dibentuk untuk menjadi perempuan yang baik, insya Allah nanti setelah menikah dengan Azmi, dia sendiri yang akan memantau dan mendidiknya dengan cara yang makruf. Jadi, bagaimana?"
"Maafin Nana Bun, udah buat Bunda dan Ayah kecewa, Nana mau nurut sama Ayah sama Bunda, dan semua keputusan Ummi, tapi—"
"Kenapa sayang?"
"Ummi, Azmi 'kan suka galak sama Nana, nanti kalau nikah?"
Ummi Salma melempar senyum pada Bu Nabila yang kebetulan mendengar curhatan calon menantunya itu.
"Kamunya yang bandel sayang, di mana-mana kalau salah, melanggar aturan ya ada sanksinya, dan itu berlaku untuk siapapun. Katanya mau berubah jadi wanita sholehah, jadi ya harus siap hijrah."
"Bunda setuju nih ceritanya?
"Bunda melihat dari kaca manusia yang terbatas, tetapi hati Bunda mengatakan, Azmi pria yang tepat untukmu," jawabnya kalem.
Shali yang baru saja bergabung menyalim satu persatu orang yang ada di sana. Bila sangat terkejut melihat putri dari sahabatnya juga ada di sana.
"Assalamu'alaikum Tante?" salamnya santun.
"Masya Allah, jadi mantunya Bu Nyai itu Shali anaknya Bu Disya, ya Allah ... itu sahabat saya Bu Nyai."
"Alhamdulillah ... jadi saling kenal ya, senang sekali bisa menjadi keluarga besar."
"Sayang, nikah kok nggak undang Tante, nggak fer nih Mommy Disya?" seloroh Tante Bila masih merasa speechless.
"Ceritanya panjang Tante, sepanjang sejarah. Hehehe."
Berdasarkan musyawarah bersama, akhirnya Nashwa dan Azmi akan dinikahkan secara agama atau siri. Pernikahan mereka sah secara agama, dan akan diresmikan setelah Nashwa memenuhi cukup umur atau lulus nanti. Keputusan telah dibuat, dan musyawarah dianggap selesai, kendati demikian pernikahan akan dilaksanakan besok.
"Bunda pulang dulu ya, besok datang sama uti dan juga Razik. Kamu baik-baik di sini sayang, nggak boleh bandel," pesan Bunda Bila serius.
Tepat di hari spesial mereka, juga menjadi hari yang dinanti-nanti Shali. Di mana suaminya kembali ke tanah air, menurut jadwalnya Aka akan sampai malam ini.