Mendadak Nikah Dengan Ustadz

Mendadak Nikah Dengan Ustadz
Part 74


"Aku tuh ngerasa udah nggak nyaman sama tubuh aku, Mas, biasanya kalau kaya gini aku mau datang bulan, sedang aku tuh nggak ada stock di rumah, kalau tiba-tiba beneran kedatangan gimana?" curhat Shali gusar sendiri.


"Emang biasanya tanggal berapa, Dek?"


"Ya tanggal setengahan gini, makanya aku perlu persiapan," ujarnya dramatis.


"Kan bisa aja kamu telat, siapa tahu Allah sudah menitipkan zuriat di rahimmu," jawab Aka tenang dan cukup santai.


Seketika Shali terdiam, memikirkan perkataan Aka, sungguh dalam benaknya berdoa, ingin menundanya jika bisa. Masih terlalu muda untuk dirinya hamil, target Shali setelah lulus kuliah baru mau program, itupun kalau Aka setuju, entahlah Shali belum berani membicarakannya lebih spesifik pada suaminya.


"Lagian semua kebutuhan pribadi aku juga udah mau habis Mas, sampo, sabun, odol, semuanya udah tinggal sedikit," curhatnya sekali lagi.


"Kamu pingin banget jalan ya, duh ... jangan cemberut gitu, iya sayang, kita sekalian makan di luar ya, ayo kita pamitan sama orang rumah dulu," ujarnya sembari menuntun istrinya.


Shali tengah memakai kaus kaki, Aka menyiapkan sepatunya, lalu memasangkan pada istrinya. Mereka berjalan dengan menautkan tangannya.


"Dek, besok ada undangan di pesantren Ar rahman. Kamu mau ikut?" tanya Aka sembari berjalan.


"Ngisi kajian ya Mas?" tebaknya sok tahu.


"Bukan si, lebih tepatnya memimpin sholawatan, seru lho Dek, banyak banget yang datang biasanya ada komunitasnya, kamu ikut ya?"


"Acara sholawat bersama gitu, maksudnya By?"


"Panggil sekali lagi, Dek, aku suka dengernya," ujar Aka membawa jemari istrinya dalam kecupan.


"Hubby?" ulang Shali tersenyum.


"Sweet banget sih, banyak gulanya kalau natap kamu, subhanallah ... cantik banget senyumnya, bikin Mas gusar," ujar Aka jujur.


"Astaghfirullah ... mengganggu kesehatan mata saja, ini tuh bukan tempat kalian saja, bener-bener kamu, Bang!" tegur Zayyan sewot. Anak abegeh itu menggerutu sembari mendahului perjalanannya. Disusul Azmi dengan pasang mata tak ramah, berlalu diam.


"Eh, ada orang ternyata," sahut Aka spontan.


"Kamu suka nggak kenal tempat, Mas, gini 'kan jadinya, kalau pas ketemu sama yang sensian dan julid," celetuk Shali nyengir.


"Fix kita besok pindah rumah aja ya, biar lebih nyaman dan khusuk ibadahnya. Mau njerit juga bebas 'kan kalau cuma berdua," ujarnya menggoda.


"Mau, aku tunggu kejutannya," jawab Shali menggoda.


"Duh ... gemesh banget jadi pengen, tapi mau pergi nggak mungkin," ucapnya gemas sendiri.


"Besok, jangan dandan cantik gini, takutnya nanti bikin orang yang lihat kamu resah, terutama barisan para mata kurang hiburan," tegur pria itu sekaligus menasihatinya.


Aka masih setia menuntun istrinya sampai ruang makan. Biar Shali berkali melepas karena canggung, pria itu malam menggenggam semakin erat.


"Maaf Ummi, Abah, Aka dan Shali mau izin keluar, jadi tinggalkan saja untuk makan malam," pamitnya sopan.


"Bang awas tuh jagain istrinya, bila perlu ditali biar nggak ilang, nanti digondol orang!" tegur Zayyan sontak membuat semua orang pada tertawa, terkecuali Azmi.


"Ada-ada saja Gus Zayyan," celetuk Bu Darmi yang tengah sibuk wira-wiri menyiapkan makan malam.


Usai pamit, mereka langsung berangkat sesuai tujuan yang ditunjuk Shali, kalau cuma beli sesuai yang ditunjuk Shali nggak harus ke mall, Hasan mart juga lengkap tersedia di sana, namun karena sembari makan malam di luar, tentunya Aka ingin menjadikan moment langka ini spesial.


"Kita makan dulu ya Dek, takut asam lambung kamu naik lagi," interupsi Aka perhatian.


"Mas, kita ngebakso aja gimana?" ujar Shali semangat.


"Boleh, Dek, pengen juga," jawab Aka semangat.


Mereka memasuki kedai yang lumayan ramai, kebetulan malam ini malam minggu jadi suasananya semakin syahdu. Banyak jiga pasangan yang menghabiskan waktu berdua seperti dirinya.


Saat tengah asyik menyantap bakso, mereka berdua terpaksa menghentikan kegiatannya.


"Pak Aka!" tegur seorang perempuan menghampirinya"